• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II Tinjauan Pustaka

5. Metode Pengukuran Efesiensi

Terdapat beberapa metode untuk mengukur kinerja suatu organisasi agar lebih efesiensi, antara lain dengan analisis rasio.

a. Analisis Rasio FDR

Financing to Deposit Ratio (FDR) adalah perbandingan antara pembiayaan yang diberikan oleh bank dengan dana pihak ketiga yang berhasil dikerahkan oleh bank (Muhammad, 2007).

Rasio FDR atau yang disebut dengan Loan to Deposit Ratio (LDR) pada bank konvensional ini menyatakan kemampuan bank dalam membayar kembali penarikan dana yang dilakukan deposan dengan mengandalkan kredit yang diberikan sebagai

17 sumber likuditasnya, atau dengan kata lain seberapa jauh pemberian kredit kepada nasabah dapat mengimbangi kewajiban bank untuk segera memenuhi permintaan deposan yang hendak menarik kembali dananya yang telah disalurkan oleh bank berupa kredit. Rasio ini dirumuskan sebagai berikut (Rivai, 2010)

LDR = Total Volume Kredit Total Penerimaan Dana

Dalam tata cara penilaian tingkat kesehatan bank syariah, berdasarkan Surat Edaran Bank Indonesia No 26/5/BPPP tanggal 29 Mei 1993, besarnya Financing to Deposit Ratio ditetapkan oleh Bank Indonesia telah menetukan ketetapan sebagai berikut (Riyadi, 2004):

1. Untuk rasio FDR sebesar 110% atau lebih diberi nilai kredit 0, artinya likuiditas bank tersebut dinilai tidak sehat.

2. Untuk rasio FDR dibawah 110% diberi nilai kredit 110%, artinya likuiditas bank tersebut dinilai sehat.

Hal ini berarti bahwa Bank Indonesia memperbolehkan bank dibawah naungannya untuk memberikan kredit atau pembiayaan melebihi jumlah dana pihak ketiga yang berhasil dihimpun bank–

bank tersebut dengan syarat tidak boleh melebihi 110%. Rasio FDR ini pada umumnya memiliki beberapa kelemahan yaitu (Pandia, 2012)

18 1. Investasi dana bank ke dalam earning assets bukan hanya ke dalam bentuk loan (pinjaman), tetapi juga dalam bentuk surat berharga (jangka pendek maupun jangka panjang). Dalam teori ini jenis-jenis investasi non loan diabaikan.

2. Dana yang dapat digunakan dalam bentuk kredit tidak hanya bersumber dari dana pihak ketiga (simpanan masyarakat) tapi juga berasal dari sumber dana lainnya misalnya modal sendiri, dana yang berasal dari pinjaman antarbank (pasar uang) dan lain sebagainya.

3. Kurang memperhatikan liquid assets yang segera dapat dicairkan dalam bentuk uang kas.

4. Kurang mempertimbangkan security daripada pinjaman.

5. Tidak memperhitungkan stabilitas titipan.

6. Mengabaikan assets yang lain. Dua bank mempunyai rasio sama besar, tetapi 20% dari titipan bank yang satu berbentuk uang kas atau surat berharga jangka pendek, sedangkan bank yang lain mengiventasikanke dalam saham, tentu kedua bank tersebut tidak mempunyai tingkat likuiditas yang sama.

19 Semakin tinggi rasio FDR memberikan indikasi bahwa semakin rendahnya kemampuan likuiditas bank yang bersangkutan. Hal ini disebabkan karena jumlah dana yang diperlukan untuk membiayai pembiyaan periode selanjutnya semakin kecil. Berdasarkan penjelasan diatas maka dapat dikatakan FDR berpengaruh terhadap pembiayaan bagi hasil yang disalurkan bank syariah kepada masyarakat.

b. Analisis Rasio NPF

Non Performing Loan (NPL) atau Non Performing Finance (NPF) adalah kredit bermasalah yang terdiri dari kredit yang berklarifikasi kredit kurang lancar, kredit diragukan, dan kredit macet. Termin NPL diperuntukan untu bank umum, sedangkan NPL untuk bank syariah. Non performing finance menunjukkan kemampuan manajemen bank dalam mengelola pembiayaan bermasalah yang diberikan oleh bank. Sehingga semakin tinggi rasio ini maka akan semakin buruk kualitas kredit bank yang menyebabkan jumlah pembiayaan bermasalah semakin besar, kemungkinan suatu bank dalam kondisi bermasalah semakin besar.

NPF merupakan rasio penunjang dalam menentukan kualitas aset bank syariah. Penilaian kualitas aset dimaksudkan untuk menilai kondisi aset bank, termasuk antisipasi atas risiko gagal bayar dari pembiayaan yang akan muncul.

20 Bagi bank, semakin dini menganggap pembiayaan yang disalurkan menjadi bermasalah, maka akan semakin baik karena akan berdampak semakin dini pula dalam upaya penyelamatannya sehingga tidak terlanjur parah yang berakibat semakin sulit penyelesaiannya. Pinjaman yang dikucurkan perbankan, tetapi mampu ditagih oleh perbankan karena bisnis dunia usaha sedang lesu, bangkrut atau sebab lainnya (Pandia, 2012). Dalam pembiayaan bermasalah atau resiko kredit adalah resiko akibat kegagalan debitur atau pihak lain dalam memenuhi kewajiban bank. Risko dalam konteks perbankan merupakan suatu kejadian potensial, baik yang dapat diperkirakan maupun yang tidak diperkirakan dan juga akan berdampak negatif pada pendapatan dan permodalan bank (Rivai, 2010). Dengan kata lain resiko ini timbul karena tidak adanya kepastian tentang pembayaran kembali oleh debitur. Maka dari itu bank harus berhati – hati , cermat dan teliti dalam menilai calon debitur.

Dalam melakukan kegiatan penanaman dana, bank yang melakukan kegiatan usaha mampu menjalankan usahanya berdasarkan prinsip syariah dan mengatasi atau meminimalisir resiko kerugian atas kegagalan penanaman dananya. Dalam menghitung rasio NPF adalah sebagai berikut:

NPF = Total NPF x 100%

Total Kredit

21 c. Dana Pihak Ketiga

Sumber dana bank adalah usaha bank dalam menghimpun dana dari masyarakat. Perolehan dana ini tergantung dari bank itu sendiri, apakah dari simpanan masyarakat atau dari lembaga lainnya. Secara garis besar sumber dana bank dapat di peroleh dari:

1. Sumber dana dari bank itu sendiri.

2. Sumber dana dari masyarakat luas (dana pihak ketiga).

3. Sumber dana dari lembaga lainnya.

Dana sebagai uang yang disimpan dibank mengandung arti bahwa dana tersebut ditempatkan dalam bentuk simpanan.

Biasanya jenis simpanan (rekening) yang dikelompokakan di sisi adalah rekening giro (demand deposit) dan rekening tabungan (saving deposit).

Sumber dana dari masyarakat luas atau dana pihak ketiga merupakan sumber dana yang terpenting bagi kegiatan operasi bank dan merupakan ukuran keberhasilan bank jika mampu membiayai operasinya dari sumber dana ini. Untuk memperoleh dana dari masyarakat luas bank dapat menggunakan tiga macam jenis simpanan. Masing – masing jenis simpanan memiliki keunggulan tersendiri, sehingga bank harus pandai dalam menyiasati pemilihan sumber dana. Sumber dana yang dimaksud adalah sebagai berikut :

22 1. Simpanan Giro.

2. Simpanan Tabungan 3. Simpanan Deposito d. Analisis Rasio Bopo

BOPO adalah rasio perbandingan antara Biaya Operasional dengan Pendapatan Operasional semakin rendah tingkat rasio BOPO berarti semakin baik kinerja manajemen bank tersebut, karena lebih efisien dalam menggunakan sumber daya yang ada di perusahaan (Riyadi, Banking Asset and Liability Management, 2004) Rumus:

BOPO = Biaya Operasi x 100%

Pendapatan Operasi

Besaranya ratio BOPO yang dapat ditoleransi oleh perbankan di Indonesia sebesar 93.52%, hal ini sejalan dengan ketentuan yang dikeluarkan Bank Indonesia. Dari rasio ini dapat diketahui tingkat efesiensi kinerja manajemen suatu bank, jika angka ratio menunjukan di atas 90% dan mendekati 100% ini berarti bahwa kinerja bank tersebut menunjukkan tingkat efesiensi yang sangat rendah. Tetapi jika rasio ini rendah, misalnya mendekati 70% ini berarti kinerja bank yang bersangkutan menunjukan tingkat efesiensi yang tinggi.

23 6. Penelitian Terdahulu

No Judul Penulis Hasil Persamaan Perbedaan

1 Analisis 94,7%, hal ini karena Bank X cabangY sudah mampu

memenuhi 18 dari 19 indikator efektivitas sekedar bank bebas

Konversi

24

25 ekonomi syariah di Indonesia lebih pesat

26 Sesudah

Konversi

perusahaan, yaitu pada keuntungan atau laba yang didapat oleh pihak Bank Aceh mengalami

peningkatan di setiap periodenya.

Table 2.1 Penelitian Terdahulu

7. Kerangka Pemikiran

Perumusan hipotesis dari teori dilakukan berdasarkan argumentasi tertentu yang dituangkan peneliti dalam kerangka berpikir.

27 Gambar 2.1 Kerangka Berpikir

8. Keterkaitan antar Variabel

a. Hubungan FDR terhadap efesiensi

FDR menunjukkan kemampuan perbankan dalam menyalurkan dana kepada debitur sekaligus membayarkan kembali kepada deposan dengan mengandalkan kredit yang disalurkan sebagai sumber likuiditas (Munir, 2018)

Kondisi ideal, Bank yang mampu menyalurkan lebih banyak pembiayaan dapat meningkatkan pendapatannya sekaligus meningkatkan tingkat efisiensinya (Muljawan, 2014)

FDR

NPF DPK

Kinerja Keuangan (Efesiensi)

BOPO Dummy

(Konversi)

28 b. Hubungan NPF terhadap efesiensi

Risiko bank syariah dalam pemberian fasilitas pembiayaan adalah tidak kembalinya pokok pembiayaan dan tidak mendapat imbalan, ujrah, atau bagi hasil sebagaimana telah disepakati dalam akad pembiayaan antara bank syariah dan nasabah penerima fasilitas.

Disamping itu juga, terdapat risiko bertambah besarnya biaya yang dikeluarkan oleh bank dan bertambahnya waktu untuk penyelesaian non performing finance (NPF). Serta turunnya kesehatan pembiayaan bank (kolektibilitas pembiayaan menurun).

Non Performinng Financing ini sangat memengaruhi pendapatan operasional bank, karena pendapatan bunga kredit dari debitur merupakan pendapatan operasional bank. Jika terjadi masalah dalam pemberian kredit, misalnya terjadi kemacetan pengembalian pokok dan bunga dalam jumlah relatif besar, maka hal tersebut tidak hanya merugikan bank melainkan juga akan merugikan nasabah penyimpan dana (Santoso, 2010)

Non Performing Financing (NPF) merupakan rasio keuangan yang menunjukkan risiko pembiayaan yang dihadapi bank akibat pemberian pembiayaan dan investasi dana bank pada portofolio yang berbeda. Semakin tinggi rasio ini semakin buruk kualitas pembiayaan.

(Rustam, 2013)

29 c. Hubungan DPK terhadap efesiensi

Dana pihak ketiga adalah dana yang bersumber dari deposito, tabungan dan giro. Dana tersebut dikelola sangat baik dan efesien agar para nasabah mempercayai kinerja bank dalam mengelola dana tersebut. Maka dari itu perusahaan bank harus mampu tetap menjaga kualitas dan kinerja terhadap efesiensi bank agar mampu bersaing dengan yang lainnya sehingga kepercayaan nasabah terjaga.

d. Hubungan Konversi terhadap efesiensi (BOPO)

Konversi adalah perubahan bentuk badan hukum / perubahan suatu sistem ke sistem yang lain dengan tujuan yang lebih baik.

Untuk mengukur tingkat efisiensi dan kemampuan bank dalam melakukan kegiatan operasionalnya, Setelah bank melakukan pengkonversian terdapat perubahan sistem secara menyeluruh dan berpengaruh kepada tingkat efesiensi bank.

9. Hipotesis

Sesuai dengan tujuan penelitian dan kerangka berfikir di atas, maka rumusan hipotesis ini adalah sebagai berikut:

H1: Dummy Konversi berpengaruh secara parsial terhadap tingkat efesiensi (BOPO).

H2: FDR berpengaruh secara parsial terhadap tingkat efesiensi (BOPO)

30 H3: DPK berpengaruh secara parsial terhadap tingkat efesiensi

(BOPO)

H4: NPF berpengaruh secara parsial terhadap tingkat efesiensi (BOPO)

31

BAB III

Metodologi Penelitan

A. Ruang Lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini difokuskan kepada dampak Bank Aceh Syariah sesudah dan sebelum konversi yaitu FDR, NPF dan DPK sebagai variable terkait, terhadap dampak konversi Bank Aceh Syariah. Penelitian ini bersifat kuantitatif atas data sekunder menggunakan model variable dummy.

Penelitian ini dilakukan pada Bank Aceh Syariah. Adapun periode yang digunakan dalam penelitian ini adalah pada tahun 2010 sampai dengan tahun 2018. Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data laporan keuangan dan laporan tahunan Bank Aceh Syariah melalui website www.bankaceh.co.id.

B. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data merupakan suatu hal yang penting dalam penelitian, karena metode ini merupakan strategi untuk mendapatkan data yang diperlukan. Keberhasilan penelitian sebagian besar tergantung pada teknik-teknik pengumpulan data yang digunakan. Pengumpulan data dalam penelitian ini dimaksudkan untuk memperoleh bahan-bahan, keterangan, kenyataan-kenyataan, dan informasi yang dapat dipercaya (Bambang, 2002).

Dalam penelitian ini metode pengumpulan data yang digunakan adalah dengan cara cara membuka skripsi, tesis, jurnal dan metode

32 dokumentasi dengan mengumpulkan, mencatat dan mengkaji data sekunder yang berupa laporan bulanan yang dipublikasikan oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK), data statistik lainnya yang dipublikasikan oleh Bank Indonesia (BI) dan laporan keuangan Bank Aceh, triwulan I-IV tahun 2010-2018.

C. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional Variabel

Variabel penelitian merupakan suatu atribut atau sifat atau nilai orang, obyek atau kegiatan yang mempunyai variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik kesimpulannya (Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, 2010).

Adapun variabel pada penelitian ini terdiri dari :

a. Variabel Independen (x)

Variabel independen adalah variabel yang mempengaruhi atau yang menjadi sebab perubahannya atau timbulnya variabel dependen (terikat).Variabel ini sering disebut sebagai variabel bebas. Dalam suatu persamaan regresi, variabel bebas bisa lebih dari satu (multiple regression). Jika variabel bebas lebih dari satu, mungkin selain yang sifatnya kualitatif tersebut biasanya menunjukan ada tidaknya suatu attribute, yaitu suatu cara untuk membuat kuantifikasi (berbentuk angka) dari data kualitatif (tidak berbentuk angka) ialah dengan memberi nilai 1 (satu) dan 0 (nol).

Angka 0 (nol) jika atribut yang dimaksud tidak ada (tak terjadi) dan diberi angka 1 (satu) jika terjadi. Variabel yang mengambil

33 nilai 0 dan 1 tersebut dinamakan variabel boneka (dummy variable). Di dalam penelitian ini yang menjadi variabel

independen berupa:

1) Dummy Konversi, yang diukur dengan menggunakan

variabel dummy, dimana bernilai 0 untuk periode sebelum melakukan kebijakan konversi dan bernilai 1 untuk periode setelah adanya kebijakan konversi.

2) Financing to Deposit Ratio (FDR), digunakan untuk indikasi

tingkat kemampuan sebuah bank dalam menyalurkan dana yang berasal dari masyarakat. Penyaluran dana ini didapat dari tabungan, giro dan deposito. Apabila FDR menunjukkan rasio yang tinggi, artinya bank tersebut menyalurkan dana yang dimilikinya dan apabila rasio rendah, maka bank itu kelebihan kapasitas dana yang siap dipinjamkan.

3) Non Performing Financing (NPF), digunakan untuk

memberikan gambaran tentang masalah suatu bank yang harus diatasi dengan segera agar tidak menimbulkan dampak yang merugikan pihak bank tersebut. Apabila masalah tersebut tidak diselesaikan, maka akan menimbulkan masalah atau dampak dalam penyaluran kredit pada periode berikutnya.

34 4) Dana Pihak Ketiga (DPK), dana yang dipercayakan oleh

masyarakat kepada bank atas kesepkatan dalam bentuk tabungan, giro dan deposito.

b. Variabel Dependen (y)

Variabel dependen merupakan variabel yang dipengaruhi atau yang menjadi akibat, karena adanya variabel bebas (Sugiyono, Metode Penelitian Bisnis, 2010). Variabel ini sering disebut juga sebagai variabel terikat. Dalam penelitian ini yang menjadi variabel dependennya adalah Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional (BOPO) Bank Aceh dari sebelum dan sesudah konversi dari tahun 2010-2018. BOPO mempunyai tujuan sebagai untuk menjadi tolak ukur sebagai efektik / efesiensi perusahaan dalam mengelola biaya operasional.

Apabila rasio menunjukkan nilai yang cenderung meningkat, artinya perusahaan tersebut tidak mampu mengelola biaya operasionalnya. Sedangkan apabila rasio menunjukkan nila yang cenderung kecil, artinya semakin efektif perusahaan tersebut dalam mengelola biaya operasional.

D. Metode Pengolahan Data

Metode pengolahan data ini menggunakan perangkat program

komputer yaitu dengan menggunakan software microsoft excel IBM SPSS 2020.

35

E. Metode Analisis Data

Teknik analisis data dalam penelitian ini adalah menggunakan analisis model variable dummy. Variable dummy adalah variable yang digunakan untuk mengkuantitatifkan variable yang bersifat kualitatif. Variable dummy merupakan variable yang bersifat kategorikal yang diduga

mempunyai pengaruh terhadap variable yang bersifat kontinue. Variable dummy sering juga disebut variable boneka, binary, kategorik atau dikotom (Basuki, 2016).

Dalam penelitian ini yang terjadi adalah perbedaan situasi, yaitu sebelum dan sesudah Bank Aceh melakukan konversi, oleh karena itu penulis menggunakan regresi linier berganda dengan variabel dummy.

Dalam penelitian ini adapun yang menajdi variable dependen adalah FDR, NPF, DPK sedangkan yang menjadi variable independen yaitu BOPO sebelum dan sesudah Bank Aceh melakukan konversi.

F. Teknik Analisis Data

a) Analisis Regresi linear Berganda

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode analisis linier berganda. Analisis regresi linier berganda merupakan suatu teknik analisis statistik yang mempelajari hubungan antara sebuah variabel terkait (dependent variabel) dengan beberapa variabel bebas (independent variable) melalui suatu persamaan statistik, yang sering dijuga disebut dengan model statistik yang berdasarkan prinsip hubungan atau fungsi statistik (Abuzar Asra, 2017).

36 Keguanaan dari analisis ini untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah masing-masing variabel independen berhubungan positif atau negatif.

Bentuk persamaan modal regresi berganda dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

Keterangan :

BOPO : Beban Operasional terhadap Pendapatan Operasional.

α : Bilangan Konstant

β1 – β4 : Koefisien Regresi dari masing-masing variabel independen

D_Konversi

Dummy 1 : Sesudah Konversi Dummy 0 : Sebelum Konversi

FDR : Financing to Deposit Ratio NPF : Non Performing Financing DPK : Dapa Pihak Ketiga

ᵋ : Variabel Residual

37 G. Teknik Pengolahan Data

1. Pengujian Asumsi Klasik a) Uji Normalitas

Uji Normalitas adalah untuk melihat apakah nilai residual terdistribusi normal atau tidak. Model regresi yang baik adalah memiliki nilai residual yang terdistribusi normal. Jadi uji normalitas bukan dilakukan pada masing-masing variabel tetapi pada nilai residualnya. Sering terjadi kesalahan yang jamak yaitu bahwa uji normalitas dilakukan pada masing masing variabel. Hal ini tidak dilarang tetapi model regresi memerlukan pada nilai residualnya bukan pada masing-masing variabel penelitian (Ghozali, 2011). Tujuan Uji normalitas adalah ingin mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi data dengan bentuk lonceng (bell shaped).

Data yang baik adalah data yang mempunyai pola seperti distribusi normal, yakni distribusi data tersebut tidak menceng ke kiri atau ke kanan (Santoso S. , 2010).

Uji normalitas pada multivariate sebenarnya sangat kompleks, karena harus dilakukan pada seluruh variabel secara bersama sama.

Namun, uji ini bisa juga dilakukan pada setiap variabel-variabel tersebut juga bisa di anggap memenuhi asumsi normalitas (Santoso S. , Statistik Multivariat (Konsep dan Aplikasi dengan SPSS), 2010).

38 Untuk mendeteksi apakah residualnya berdistribusi normal atau tidak dengan membandingkan nilai Jarque Bera (JB) dengan X2 tabel, yaitu :

a) Jika probabilitas Jarque Bera (JB)> 0,05, maka residualnya berdistribusi normal

b) Jika probabilitas Jarque Bera (JB)< 0,05, maka residualnya berdistribusi tidak normal (Basuki, Pengantar Ekonometrika (Dilengkapi Pengguna Eviews), 2016).

b) Uji Multikolienieritas

Multikoliniearitas adalah persoalan derajat (degree) dan bukan persoalan jenis (kind). Artinya bahwa masalah Multikoliniearitas bukanlah masalah mengenai apakah korelasi di antara variabel-variabel bebas negatif atau positif, tetapi merupakan persoalan mengenai adanya korelasi di antara variabel-variabel bebas.

Multikoliniearitas pada hakekatnya adalah fenomena sampel.

Dalam model fungsi regresi populasi (Population Regression Function = PRF) diasumsikan bahwa seluruh variabel bebas yang termasuk dalam model mempunyai pengaruh secara individual terhadap variabel tak bebas Y, tetapi mungkin terjadi bahwa dalam sampel tertentu.

39 Masalah Multikoliniearitas hanya berkaitan dengan adanya hubungan linier di antara variabel-variabel bebas Artinya bahwa masalah Multikoliniearitas tidak akan terjadi dalam model regresi yang bentuk fungsinya berbentuk non-linier, tetapi masalah Multikoliniearitas akan muncul dalam model regresi yang bentuk fungsinya berbentuk linier di antara variabel-variabel bebas.

Multikonearitas adalah adanya hubungan eksak linier antar variabel penjelas. Multikonearitas diduga terjadi bila nilai R2 tinggi, nilai t semua variabel penjelas tidak signifikan, dan nilai F tinggi.

c) UjiAutokolerasi

Autokorelasi adalah adanya hubungan antar residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain. Konsekuensi autokorelasi adalah biasnya varians dengan nilai yang lebih kecil dari nilai sebenarnya, sehingga nilai R kuadrat dan F-statistik yang dihasilkan cenderung sangat berlebih (overestimated). Cara mendeteksi adanya autokorelasi adalah d dengan membandingkan nilai Durbin Watson statistik hitung dengan Durbin Watson (DW).

Untuk medeteksi adanya serial korelasi dengan membandingkan nilai X2 hitung dengan X2 tabel (probabilitasnya), yakni:

40 a. Jika probabilitas F statistic > 0,05, maka hipotesis yang menyatakan bahwa model bebas dari masalah serial korelasi diterima.

b. Jika probabilitas F statistic < 0,05, maka hipotesis yang menyatakan bahwa model bebas dari masalah serial korelasi ditolak. Analisis Hasil Ouput : karena Jika probabilitas F statistic 0,75 > 0,05, maka hipotesis yang menyatakan bahwa model bebas dari masalah serial korelasi diterima.

d) Uji Heterokedastisitas

Uji heteroskedasitas adalah untuk melihat apakah terdapat ketidaksamaan varians dari residual satu ke pengamatan ke pengamatan lainnya. Model regresi yang memenuhi persyaratan adalah dimana terdapat kesamaan varians yang memenuhi persyaratan adalah dimana terdapat kesamaan varians dari residual satu pengamatan ke pengamatan yang lain tetap atau disebut homoskedastisitas (Slamet, 2017). Beberapa alternatif solusi jika model menyalahi asumsi heteroskedasitas adalah dengan mentrasnformasikan ke dalam bentuk logaritma, yang hanya dapat dilakukan jika semua data bernilai positif, atau dapat juga dilakukan dengan membagi semua variabel dengan variabel yang mengalami.

41 2. Hipotesis

a) Uji Statistik t (parsial)

Uji t diguakan untuk mengetahui adakah variabel-variabel independen secara parsial berpengaruh nyata atau tidak terhadap variabel dependen. Derajat signifikansi yang digunakan adalah 0,005. Apabila nilai signifikansi nilai signifikan lebih kecil dari derajat kepercayaan maka kita menerima hipotesisi alternatif, yang menyatakan bahwa suatu variabel independen secara parsial mempengaruhi variabel dependen. Uji t, pada dasarrnya menunjukan seberapa jauh pengaruh suatu variabel independen secara parsial dalam menerangkan variabel dependen. Pengujian ini dilakukan uji dua arah dengan hipotesis:

H0 : β1 = 0

Artinya tidak ada pengaruh dari variabel independent terhadap variabel dependen.

Ha : β1 < 0 atau β1 > 0

Artinya ada pengaruh dari variabel independen terhadap variabel dependen (Mulyono, 2018).

a. Koefisien Determinasi

Koefisien Determinasi (R2) merupakan suatu ukuran yang menunjukan besar sumbangan dari variabel penjelas terhadap

42 variabel reason. Dengan kata lain, koefisien determinasi menunjukan ragam (variasi) naik turunnya Y yang diterangkan oleh pengaruh linier X (berapa bagian keragaman dalam variabel Y yang dapat dijelaskan oleh beragamnya nilai-nilai observasi yang diperoleh. Dalam hal ini koefisien determinasi sama dengan satu berarti ragam naik turunnya Y seluruhnya disebabkan oleh X. Dengan demikian, bila nilai X diketahui, nilai Y dapat diramalkan secara sempurna (Sugiarto, 2006).

Jadi, kegunaan koefisien determinasi adalah:

1. Sebagai ukuran ketepatan atau kecocokan garis regresi yang dibentuk dari hasil pendugaan terhadap sekelompok data hasil observasi. Makin besar nilai R2 semakin bagus garis regresi yang terbentuk. Sebaliknya tersebut dalam mewakili data hasil observasi.

2. Mengukur besar proporsi (persentase) dari jumlah ragam Y yang diterangkan oleh model regresi atau untuk mengukur besar sumbangan variabel penjelas X terhadap ragam variabel respon Y.

b) Uji Statistik F (Simultan)

Pengujian Hipotesis secara simultan (Uji Statistik F) Uji F digunakan Untuk Menguji apakah variabel independen secara bersama-sama mempengaruhi variabel dependen (Hartono, 2018).

43 Dasar pengambilan keputusan dalam uji F berdasarkan nilai F hitung dari F table :

a. Jika nilai Fhitung > Ftabel maka variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen.

b. Jika nilai Fhitung < Ftabel maka variabel independen secara simultan berpengaruh terhadap variabel dependen.

Dasar pengambilan keputusan dalam uji F berdasarkan nilai

Dasar pengambilan keputusan dalam uji F berdasarkan nilai

Dokumen terkait