• Tidak ada hasil yang ditemukan

BELANJA JASA – PENANGANAN PANDEMI COVID-19

BAB VIII BELANJA PENANGANAN PANDEMI COVID-19

B. BELANJA JASA – PENANGANAN PANDEMI COVID-19

PMK mengenai Pelaksanaan Kebijakan Keuangan Negara Untuk Penanganan COVID-19 dan/atau Menghadapi Ancaman Yang Membahayakan Perekonomian Nasional dan/atau Stabilitas Sistem Keuangan. Contoh pembelian menggunakan akun 522192 sebagai berikut:

1. Pembayaran biaya jasa penyemprotan disinfektan menggunakan jasa pihak ketiga yang berkompeten.

2. Biaya Tes COVID-19.

Biaya tes COVID-19 (Rapid Test Antibody, Rapid Test/Swab Antigen, atau Test PCR) dengan menggunakan jasa pihak ketiga yang berkompeten menggunakan tarif tertinggi mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh Kementerian terkait.

Kelengkapan Pertanggungjawaban:

1) Surat dinas dari kantor; dan

2) Kuitansi/Tagihan dari pihak ketiga (Rumah Sakit, Puskesmas, Klinik, dst).

- 77 -

SIMULASI 4

1. Pertanyaan:

Akun apa yang digunakan untuk pembelian peralatan seperti webcam, soundcard, video card, kamera, beberapa mic condenser dan expansion mic dalam rangka Penanganan Dampak Pandemi COVID-19?

Jawaban:

Berdasarkan Kepdirjen Perbendaharaan Nomor 211/PB/2018 tentang Kodefikasi Segmen Akun pada Bagan Akun Standar dan Kepdirjen Perbendaharaan Nomor 135/PB/2020 tentang Pemutakhiran Kodefikasi Segmen Akun pada Bagan Akun Standar, pembelian peralatan seperti webcam, soundcard, video card, kamera, beberapa mic condenser, expansion mic dan yang lainnya yang dapat dikenali dengan BMN tersendiri merupakan perolehan aset tetap bagi suatu entitas sehingga apabila memenuhi kriteria sebagai aset tetap dan satuan minimum kapitalisasi maka dapat dialokasikan dan dibebankan dengan menggunakan akun perolehan aset tetap berupa peralatan dan mesin yaitu akun 532111 (bukan menggunakan akun khusus COVID-19). Namun apabila nilainya tidak memenuhi satuan minimum kapitalisasi maka pengalokasian dan pembebanannya menggunakan akun 521111 (Belanja Keperluan Perkantoran).

Adapun untuk penggunaaan BMN tersebut yang ditujukan bagi pegawai yang sedang melakukan Work From Home (WFH), pelaksanaannya berpedoman pada ketentuan mengenai penatausahaan BMN.

Dapat disampaikan pula, pengeluaran yang memenuhi pengertian dampak pandemi adalah yang berkaitan langsung dengan dampak penanganan pandemi, misalnya pemberian sembako bagi masyarakat yang terkena dampak (pengeluaran ini hanya dapat dilaksanakan oleh Satker KL tertentu).

- 78 -

2. Pertanyaan:

Dalam rangka pencegahan COVID-19, Perwakilan Ombudsman F sudah melakukan penyemprotan disinfektan seluruh area kantor namun menggunakan akun biaya fumigasi (pembasmi hama) di 521111. Apakah sudah tepat?

Jawaban:

Akun yang digunakan belum tepat. Pembelian cairan disinfektan dalam rangka pencegahan COVID-19 di lingkungan kantor, dapat menggunakan akun 521131 (Belanja Barang Operasional – Pencegahan Pandemi COVID-19).

Penyemprotan disinfektan menggunakan jasa pihak ketiga merupakan pekerjaan yang dikategorikan sebagai jasa, dimana komponen yang tercantum didalamnya meliputi pengadaan bahan baku disinfektan, alat yang digunakan untuk penyemprotan serta jasa orang yang melakukan penyemprotan. Akun yang digunakan adalah akun 522192 (Belanja Jasa – Penanganan Pandemi COVID-19) sesuai dengan BAS. Apabila pada satker Saudara tidak terdapat akun tersebut, Saudara dapat melakukan revisi penambahan akun 522192 sesuai ketentuan pada PMK tentang Tata Cara Revisi Anggaran tahun anggaran berkenaan.

3. Pertanyaan

Bagaimana ketentuan dalam Anggaran dan batasan biaya swab test?

Jawaban

Sesuai Surat Dirjen Perbendaharaan Nomor S-308/PB/2020 tanggal 09 April 2020 tentang penegasan Biaya/Belanja yang dapat dibebankan pada DIPA Satker dalam Masa Darurat COVID-19 dan S-369/PB/2020 Tgl 27 April 2020 hal Pemutakhiran Akun Dalam Rangka Penanganan Pandemi COVID-19, bahwa Satker dapat melakukan swab test terhadap pegawai melalui jasa pihak ketiga dan dapat dibebankan pada APBN dengan ketentuan bahwa KPA/Kepala

- 79 -

Satker melakukan penilaian kewajaran dan pengendalian atas biaya pelaksanaan swab test dimaksud serta memperhatikan prinsip efisiensi, efektivitas dan ketersediaan anggaran pada DIPA Satker.

Pembebanan swab test tersebut pada akun 522192 (Belanja Jasa - Penanganan Pandemi COVID-19). KPA bertanggung jawab terhadap penggunaan DIPA.

Tidak ada batasan maksimal penggantian biaya swab test dan rapid test, namun demikian KPA/Kepala Satker melakukan penilaian kewajaran dan pengendalian atas biaya pelaksanaan swab test dimaksud serta memperhatikan prinsip efisiensi, efektivitas dan ketersediaan anggaran pada DIPA Satker. Atau dapat mengikuti aturan tentang tarif tertinggi biaya tes COVID-19 yang telah ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan.

- 80 -

BAB IX

BELANJA MODAL

- 81 -

BAB IX BELANJA MODAL

A. UMUM

1. PENGERTIAN

Belanja modal merupakan pengeluaran yang dilakukan untuk pembentukan modal seperti pembelian, pengadaan atau pembangunan aset tetap berwujud atau barang inventaris yang mempunyai nilai manfaat lebih dari 12 (dua belas) bulan serta melebihi batasan minimal kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang ditetapkan oleh pemerintah yang mana aset tersebut digunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari dan tidak untuk dijual.

Belanja modal, termasuk di dalamnya menambah belanja yang bersifat rutin seperti biaya pemeliharaan yang sifatnya mempertahankan kondisi aset dalam keadaan normal dan tidak menambah masa manfaat, meningkatkan kapasitas dan kualitas aset.

Bentuk belanja modal seperti pembelian tanah, peralatan mesin, pembangunan gedung, bangunan, jalan, irigasi dan pembelian aset tetap lainnya.

Pengeluaran yang dikapitalisasi merupakan biaya minimum atas perolehan suatu aset tetap yang dapat dikapitalisasi. Batasan minimal nilai kapitalisasi aset untuk belanja modal peralatan dan mesin adalah Rp1.000.000,00 (satu juta rupiah) tiap unit aset dan untuk belanja modal gedung dan bangunan adalah Rp25.000.000,00 (dua puluh lima juta rupiah) tiap pekerjaan sampai dengan aset tersebut siap digunakan. Pengeluaran setelah perolehan awal suatu aset tetap dapat dilakukan kapitalisasi apabila memenuhi salah satu kriteria sebagai berikut:

1. Menambah masa manfaat/umur ekonomis; atau

- 82 -

2. Memberi manfaat ekonomi dimasa yang akan datang dalam bentuk kapasitas, mutu produksi, atau peningkatan standar kinerja.

Jika nilai belanja tidak mencapai batas nilai kapitalisasi, maka aset tersebut tidak dapat diakui sebagai belanja modal yang menambah nilai aset tetap dalam laporan keuangan.

2. KRITERIA BELANJA MODAL

Suatu belanja masuk dalam kategori belanja modal apabila memenuhi syarat sebagai berikut:

a. Pengeluaran tersebut mengakibatkan adanya perolehan aset tetap atau aset lainnya yang menambah masa umur, manfaat dan kapasitas.

b. Pengeluaran tersebut melebihi minimum kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang telah ditetapkan oleh pemerintah.

c. Perolehan aset tetap tersebut diniatkan bukan untuk dijual.

d. Pengeluaran tersebut dilakukan sesudah perolehan aset tetap atau aset lainnya dengan syarat pengeluaran mengakibatkan masa manfaat, kapasitas, kualitas dan volume aset yang dimiliki bertambah serta pengeluaran tersebut memenuhi batasan minimum nilai kapitalisasi aset tetap/aset lainnya.

3. JENIS BELANJA MODAL

Jenis belanja modal adalah sebagai berikut:

NO JENIS URAIAN

a. Belanja Modal Tanah

Digunakan untuk pengadaan, pembebasan atau penyelesaian balik nama dan sewa tanah, pengosongan, pengurugan, perataan, pematangan tanah, pembuatan sertifikat dan pengeluaran lainnya yang berhubungan dengan perolehan hak atas tanah sampai dengan tanah

- 83 -

yang dimaksud dalam kondisi siap pakai.

Contoh: Pengurugan tanah yang nantinya akan dibangun gedung/bangunan.

b. Belanja Modal Peralatan dan Mesin

Digunakan untuk pengadaan, penambahan atau penggantian dan peningkatan kapasitas peralatan mesin serta inventaris atau aset kantor yang memberikan manfaat lebih dari satu periode akuntansi 12 (dua belas) bulan sampai dengan peralatan dan mesin yang dimaksud dalam kondisi siap pakai.

Contoh: belanja laptop, komputer, printer, meja, kursi, lemari, kendaraan, dll.

c. Belanja Modal Gedung dan Bangunan

Digunakan untuk pengadaan, penambahan atau penggantian termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan pembangunan gedung dan bangunan yang menambah kapasitas sampai dengan gedung dan bangunan yang dimaksud dalam kondisi siap pakai.

Contoh: pembangunan gedung kantor, menambah luas bangunan gedung, dll.

d. Belanja Modal Jalan, Irigasi, dan Jaringan

Digunakan untuk pengadaan, penggantian, peningkatan, pembangunan, pembuatan serta perawatan, termasuk pengeluaran untuk perencanaan, pengawasan dan pengelolaan jalan, irigasi dan jaringan yang dimaksud sampai dengan kondisi siap pakai.

- 84 -

Contoh: pembuatan jalan masuk gedung, pembuatan trotoar, dll.

e. Belanja Modal Aset Lainnya

Digunakan untuk memperoleh aset tetap lainnya dan aset lainnya yang tidak dapat dikategorikan dalam Belanja Modal Tanah, Belanja Modal Peralatan dan Mesin, Belanja Modal Gedung dan Bangunan, serta Belanja Modal Irigasi, Jalan, dan Jaringan. Digunakan untuk mencatat perolehan Aset Tetap Lainnya dan Aset Lainnya sampai dengan kondisi siap pakai.

Belanja Modal Lainnya dapat digunakan untuk pengadaan software, pengembangan website, pengadaan lisensi yang memberikan manfaat lebih dari satu tahun baik secara swakelola maupun dikontrakkan kepada Pihak Ketiga.

Contoh: belanja lisensi website, windows, barang-barang kesenian, koleksi perpustakaan dll.

4. KODE AKUN BELANJA MODAL

Kode Akun (MAK) yang digunakan untuk belanja modal di lingkungan Ombudsman RI menggunakan kelompok kode akun belanja 53 dengan rincian sebagai berikut:

NO KODE

AKUN URAIAN

1 532111 Belanja Modal Peralatan dan Mesin

2 532121 Belanja Penambahan Nilai Peralatan dan Mesin 3 533111 Belanja Modal Gedung dan Bangunan

- 85 -

4 533121 Belanja Penambahan Nilai Gedung dan Bangunan 5 534111 Belanja Modal Jalan dan Jembatan

6 534141 Belanja Penambahan Nilai Jalan dan Jembatan 7 536111 Belanja Modal Lainnya

8 536121 Belanja Penambahan Nilai Aset Tetap Lainnya dan/atau Aset Lainnya

B. ALUR PROSES PENGAJUAN BELANJA MODAL

Alur proses pengajuan Belanja Sewa di Ombudsman RI adalah sebagai berikut:

C. TATA CARA PERTANGGUNGJAWABAN BELANJA MODAL

Pelaksanaan belanja modal dapat menggunakan mekanisme UP/TUP atau LS pihak ketiga (mengikuti prosedur pengadaan lewat Unit Layanan Pengadaan) dengan melampirkan kelengkapan dokumen pertanggungjawaban sebagai berikut:

- 86 -

1. Belanja Modal Peralatan dan Mesin

No Jenis Dokumen

Belanja Modal Peralatan dan Mesin s.d. 50

9. Permintaan penawaran

harga X X X

10. Permintaan harga X X X

11. Berita Acara Evaluasi Penawaran Harga X X X

12. Surat Undangan

Negosiasi/Berita Acara

Negosiasi X X X

- 87 -

No Jenis Dokumen

Belanja Modal Peralatan dan Mesin s.d. 50

21. Usulan Penetapan

Penyedia barang/jasa X

22. Print Out Daftar Pesanan/cetak

pesanan X

23. Surat Pesanan X X X X

- 88 -

2. Belanja Modal Gedung dan Bangunan

No Jenis Dokumen Belanja Modal Gedung dan Bangunan s.d. 200 juta > 200 juta

1. Nota Dinas X X

2. Surat penunjukan

penyedia X

3. Kuitansi/Bukti Pembayaran/Faktur Pembelian

X X

4. HPS (Harga

Perhitungan Sendiri) X X

5. Kuitansi Garuda/Surat Perintah Bayar (SPBy) X X

6.

Dokumen Penyedia (SIUP/NIB/NPWP/copy rekening PT/copy KTP Direktur)

X X

7.

Faktur Pajak*

*Perorangan tidak menggunakan faktur

X X

8. Routing Slip X X

9. Permintaan penawaran harga X X

10. Penawaran harga X X

11. Berita Acara Evaluasi Penawaran Harga X X

12. Surat Undangan

Negosiasi X X

- 89 -

No Jenis Dokumen Belanja Modal Gedung dan Bangunan s.d. 200 juta > 200 juta

13. Pakta Integritas X X

14. Surat pernyataan kesanggupan X X

16. Penetapan penyedia

barang/jasa X X

17. Surat Perintah Kerja X X

18. Berita Acara Serah

Terima Barang/Jasa X X

19. Surat Permohonan Pembayaran X X

20. Berita Acara Pembayaran X X

21. Berita Acara Serah

Terima Pekerjaan X X

3. Belanja Modal lainnya

No Jenis Dokumen

Belanja

Modal Lainnya (536111) Sd. 50

juta

50 – 200 juta (seleksi

Sederhana

>200 juta (lelang sederhana)

1. Nota Dinas X X X

2. Kuitansi/Bukti

Pembayaran/ Faktur Pembelian

X X X

- 90 -

4. Kuitansi Garuda/Surat

Perintah Bayar (SPBy) X X X

8. Permintaan penawaran harga/ Surat

Undangan Negosiasi X X X

9. Berita Acara Evaluasi Penawaran Harga X X X

10. Pakta Integritas X X X

11. Surat pernyataan

kesanggupan X X X

12. Penetapan penyedia barang/jasa X X X

15. Surat Perintah Kerja X X X

16. Surat Permohonan Pembayaran X X X

17. Berita Acara Pemeriksaan X X X

- 91 -

No Jenis Dokumen

Belanja

Modal Lainnya (536111) Sd. 50

juta

50 – 200 juta (seleksi

Sederhana

>200 juta (lelang sederhana)

18. Berita Acara Pembayaran X X X

19. Laporan Pekerjaan X X X

20. Berita Acara Serah Terima Pekerjaan X X X

D. LAIN-LAIN

Pelaksanaan belanja modal yang dilakukan bertujuan untuk menunjang kegiatan operasional perkantoran di lingkungan Ombudsman RI. Belanja modal dapat menambah nilai aset yang dimiliki Ombudsman RI. Namun, bersamaan dengan belanja modal tersebut menyebabkan adanya beban yang timbul dalam laporan keuangan, seperti beban pemeliharaan atas aset, beban penyusutan, dan beban penyesuaian nilai aset. Pengelolaan atas aset yang berasal dari belanja modal menjadi tanggung jawab Bagian PRTLP atau Unit Kerja terkait sebagai pengelola/pengguna aset tersebut.

Untuk belanja aset berupa peralatan dan mesin dibawah nilai kapitalisasi (< Rp1.000.000) dapat menggunakan akun selain akun belanja modal (53) misalnya menggunakan akun Belanja Keperluan Perkantoran (521111).

- 92 -

SIMULASI 5 1. Pertanyaan:

Perwakilan Ombudsman X melakukan pembelian aset di PT. Selalu Sejahtera berupa 1 set peralatan kantor senilai Rp5.000.000 dengan rincian 1 unit meja senilai Rp1.100.000, 4 unit kursi senilai Rp2.000.000, 1 unit papan tulis elektronik senilai Rp900.000, dan seperangkat pengeras suara termasuk didalamnya microphone dan amplifire senilai Rp1.000.000 yang terdapat dalam 1 kuitansi belanja.

Bagaimana perlakuan atas belanja aset tersebut?

Jawaban:

Barang yang dapat dikategorikan sebagai Aset Tetap berupa Peralatan dan Mesin hanya 1 unit meja dengan nilai perolehan yang telah melebihi batas kapitalisasi aset sebesar Rp1.000.000. Untuk aset lain berupa kursi, papan tulis elektronik, dan seperangkat pengeras suara tidak dapat dikategorikan sebagai Aset Tetap karena nilai satuan perolehan per unit barang di bawah nilai kapitalisasi.

Untuk pertanggungjawaban belanja, tidak dapat menggunakan 1 kuitansi yang sama/dokumen pertanggungjawaban belanja terpisah antara belanja aset yang memiliki nilai di atas nilai kapitalisasi (menggunakan akun 532111) dengan aset di bawah nilai kapitalisasi (menggunakan akun 521111).

2. Pertanyaan:

Ombudsman RI melakukan pengadaan lisensi Zoom Meeting yang digunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari demi menunjang tugas dan fungsi selama masa tatanan normal baru (new normal) pada bulan April tahun 2021 dan masa berlaku lisensi berakhir pada 31 Desember 2021. Apakah pengadaan tersebut dapat menggunakan akun 536111 dan diakui sebagai belanja modal lainnya?

Jawaban:

Tidak bisa. Karna salah satu syarat untuk belanja modal adalah memiliki nilai manfaat lebih dari satu periode akuntansi 12 (dua

- 93 -

belas) bulan serta melebihi batasan minimal kapitalisasi aset tetap atau aset lainnya yang ditetapkan oleh pemerintah yang mana aset tersebut digunakan untuk operasional kegiatan sehari-hari dan tidak untuk dijual. Untuk belanja tersebut, masa manfaat dari lisensi Zoom Meeting selama 9 (sembilan) bulan (April s.d Des) dan belanja tersebut menggunakan akun Belanja Keperluan Perkantoran (521111).

3. Pertanyaan:

Ombudsman RI memiliki aset berupa gedung dan bangunan di Perwakilan Ombudsman Z dengan kondisi rusak sedang sehingga perlu dilakukan perbaikan atas aset tersebut untuk dapat digunakan kembali dalam operasional kegiatan di Perwakilan Ombudsman Z.

Perbaikan aset berupa gedung tersebut menghabiskan biaya sebesar Rp20.000.000. Perbaikan tersebut ditujukan untuk menjaga masa manfaat atas aset. Akun apakah yang dapat digunakan untuk mengakomodasi pelaksanaan perbaikan atas aset tersebut?

Jawaban:

Akun yang digunakan untuk pelaksanaan perbaikan/renovasi aset berupa gedung tersebut menggunakan akun Beban Pemeliharaan Gedung dan Bangunan (523111) dan tidak dikapitalisasi dalam nilai aset gedung dan bangunan.

Jika pelaksanaan renovasi menghabiskan biaya lebih dari Rp25.000.000 (sudah melebihi nilai kapitalisasi aset gedung dan bangunan), maka atas pelaksanaan belanja tersebut menggunakan akun Belanja Penambahan Nilai Gedung dan Bangunan (533121).

4. Pertanyaan:

Perwakilan Ombudsman Z melakukan pemeliharaan lemari berukuran besar sebanyak 3 (tiga) unit dengan total harga sebesar Rp5.000.000. Belanja tersebut menggunakan akun Belanja Pemeliharaan Gedung dan Bangunan (523111). Bagaimana perlakuan atas pelaksanaan transaksi belanja tersebut?

- 94 -

Jawaban:

Belanja barang berupa lemari masuk kedalam kategori peralatan dan mesin. Belanja tersebut telah melebihi nilai kapitalisasi sehingga aset tersebut diakui sebagai aset yang menambah nilai peralatan dan mesin.

Penggunaan akun belanja 523111 tidak tepat karena aset tersebut merupakan kategori peralatan dan mesin, bukan berupa gedung dan bangunan. Selain itu, belanja atas pemeliharaan aset tersebut juga telah melebihi nilai kapitalisasi peralatan dan mesin. Akun yang seharusnya digunakan adalah akun Belanja Penambahan Nilai Peralatan dan Mesin (532121) dan dikapitalisasi ke nilai aset (sudah melebihi nilai kapitalisasi).

5. Pertanyaan:

Perwakilan Ombudsman C terdapat aset berupa laptop dengan kondisi baterai rusak sehingga perlu dilakukan penggantian atas baterai laptop tersebut. Akun belanja apa yang harus digunakan untuk mengakomodasi belanja tersebut?

Jawaban:

Belanja pembelian baterai laptop tersebut digunakan untuk mempertahankan kondisi aset agar berada dalam kondisi normal.

Penggunaan akun atas belanja tersebut menggunakan akun Beban Pemeliharaan Peralatan dan Mesin (523121) jika nilai belanja di bawah nilai kapitalisasi aset Rp1.000.000. Jika belanja melebihi nilai kapitalisasi, menggunakan akun Belanja Penambahan Nilai Peralatan dan Mesin (532121) dan atas transaksi tersebut dilakukan kapitalisasi aset dicatat kedalam aplikasi SIMAK-BMN.

- 95 -

6. Pertanyaan:

Ombudsman RI melakukan pembelian buku untuk menambah koleksi di Perpustakaan. Akun apa yang digunakan untuk belanja tersebut dan bagaimana perlakuan pencatatannya?

Jawaban:

Atas belanja buku untuk keperluan penambahan koleksi perpustakaan termasuk dalam kategori belanja yang menambah aset berupa Aset Tetap Lainnya, sehingga akun yang harus digunakan untuk belanja tersebut menggunakan akun 536111 (Belanja Modal Lainnya) dan dicatat dalam aplikasi SIMAK BMN.

- 96 -

BAB X

BELANJA KONSUMSI RAPAT

- 97 -

BAB X

BELANJA KONSUMSI RAPAT

A. UMUM

Satuan biaya konsumsi rapat merupakan satuan biaya yang digunakan untuk perencanaan kebutuhan biaya pengadaan makan dan kudapan termasuk minuman untuk rapat/pertemuan baik untuk rapat koordinasi tingkat menteri/eselon I/setara maupun untuk rapat biasa yang pesertanya melibatkan satker lainnya/eselon II lainnya/eselon I lainnya/Kementerian Negara/Lembaga lainnya/Instansi Pemerintah/ Masyarakat dan dilaksanakan secara langsung (offline) minimal selama 2 (dua) jam. Rapat koordinasi tingkat menteri /eselon I/setara adalah rapat koordinasi yang pesertanya menteri /eselon I/pejabat yang setara.

Catatan:

1. Yang dimaksud satker lainnya adalah kantor vertikal berdasarkan struktur organisasi.

2. Pemberian konsumsi rapat berupa makan hanya dapat diberikan jika melibatkan eselon I lainnya/Kementerian Negara/Lembaga Lainnya/Instansi Pemerintah/Masyarakat.

B. TATA CARA PERTANGGUNGJAWABAN

Pembelian konsumsi rapat menggunakan uang muka UP/TUP, staf Subbbagian Rumah Tangga, mengajukan permintaan uang muka UP/TUP kepada BP sebelum pelaksanaan rapat dengan melampirkan Surat Perintah Bayar (SPBy) lengkap dengan tanda tangan PPK dan BP.

Jika konsumsi rapat menggunakan mekanisme reimbursment, maka pertanggungjawaban dengan melampirkan dokumen sebagai berikut:

1. Memo/surat undangan kegiatan rapat;

2. Daftar hadir;

- 98 -

3. Bukti Pembayaran (kuitansi/bon/nota/struk) lengkap, benar dan telah diverifikasi oleh PPK; dan

4. Kuitansi Garuda/Surat Perintah Bayar (SPBy)/Kuitansi Pembayaran yang telah ditandatangani oleh PPK dan BP/BPP.

C. KELENGKAPAN TAGIHAN

Biaya konsumsi rapat dapat dibayarkan dengan memenuhi kelengkapan sebagai berikut:

1. Memo/undangan rapat;

2. Daftar hadir peserta rapat; dan 3. Bukti pembayaran/kuitansi:

a. Jika belanja kurang dari Rp5.000.000:

Kelengkapan:

a. Kuitansi/Bon/Nota/Struk * b. Stempel toko

c. Nama jelas dan tanda tangan PPK b. Jika belanja lebih dari Rp5.000.000:

Kelengkapan:

a. Kuitansi/Bon/Nota/Struk * b. Materai 10.000

c. Stempel toko

d. Nama jelas dan tanda tangan PPK Catatan:

* Terdapat Identitas Toko (nama, alamat, nomor telepon) dan Tanggal Transaksi

- 99 -

SIMULASI 6 1. Pertanyaan:

Pada tanggal x Januari 2021, Biro Perencanaan dan Keuangan melaksanakan rapat koordinasi dengan mengundang peserta dari unit kerja lain (eselon II lainnya) sebanyak 20 orang. Konsumsi snack sudah disediakan sesuai dengan jumlah undangan. Bagaimana teknis pertanggungjawaban pada kuitansi?

Jawaban:

Kelengkapan tagihan:

Memo/surat undangan kegiatan rapat;

Daftar hadir peserta rapat;

Notulensi/hasil rapat/laporan naratif kegiatan;

✓ Bukti pembayaran/kuitansi/nota/struk yang dicap dan ditandatangani oleh Pejabat Penerima Barang/Jasa telah diterima (di belakang kuitansi); dan

SPBy.

2. Pertanyaan:

Dalam Standar Biaya Masukan (SBM) untuk snack maksimal

@Rp22.000 dan makan maksimal @Rp48.000. Dalam Petunjuk Operasional Kegiatan (POK) yang telah disahkan terdapat belanja konsumsi makan 1 kali @Rp48.000 dan snack 1 kali Rp22.000.

Apakah diperbolehkan pada saat pengajuan pembayaran makan 1 kali

@Rp44.000 dan snack @Rp24.000, secara total biaya konsumsi masih di bawah SBM?

Jawaban:

Jika belanja kategori satuan, yang dapat dibayarkan hanya belanja atas pembelian makan sebesar @Rp44.000. untuk snack tidak dapat dibayarkan karena melebihi batas maksimal berdasarkan PMK Nomor 119/PMK.02/2020 tentang Standar Biaya Masukan Tahun 2021, satuan biaya konsumsi rapat terdapat dalam Lampiran II dan tidak boleh melakukan subsidi silang karena masing-masing merupakan

- 100 -

item tersendiri. Namun, jika belanja konsumsi rapat tersebut dalam kategori paket, maka transaksi belanja tersebut diperbolehkan sepanjang didalam POK tidak dirinci antara makan dan snack.

3. Pertanyaan:

Jika pembelian konsumsi rapat dilakukan di warung makan dengan nominal diatas Rp1.000.000, bagaimana perhitungan pajaknya? dan bagaimana perlakuan jika warung tersebut tidak mempunyai NPWP?

Jawaban:

Atas kegiatan pengadaan konsumsi (makanan dan minuman) oleh BP/BPP melalui pembelian langsung ke warung/rumah makan terutang PPh Pasal 22 (nilai pengadaan diatas Rp1.000.000) sehingga bendahara wajib memungut dan menyetorkan PPh Pasal 22 dengan tarif pajak 1,5 % x nilai pembelian makanan atau minuman, apabila rekanan tidak memiliki NPWP maka tarif PPh Pasal 22 sebesar 3% x nilai pembelian makanan atau minuman.

4. Pertanyaan:

Jika pembelian konsumsi rapat dilakukan oleh jasa katering atau jasa boga di atas Rp2.000.000, bagaimana perhitungan pajaknya dan rekanan tersebut tidak mempunyai NPWP?

Jawaban:

Atas kegiatan pengadaan konsumsi (makanan dan minuman) oleh Bendahara Pemerintah melalui penyedia jasa katering atau jasa boga terutang PPh Pasal 23 sehingga bendahara wajib memotong dan menyetorkan PPh Pasal 23 dengan tarif 2% x Jumlah jasa katering atau jasa boga, apabila rekanan tidak memiliki NPWP maka tarif PPh Pasal 23 sebesar 4% x Jumlah Jasa Katering atau Jasa Boga.

Catatan:

• Atas kegiatan pengadaan konsumsi (makanan dan minuman) oleh Bendahara Pemerintah melalui pembelian langsung ke warung /

- 101 -

rumah makan maupun ke penyedia jasa katering tidak terutang PPN sehingga tidak ada kewajiban pemungutan PPN.

• Berdasarkan pasal 4 huruf A ayat (3) huruf (q) Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2009 tentang PPN dan disebutkan bahwa jasa katering atau jasa boga adalah termasuk dalam jasa tertentu yang tidak dikenakan PPN.

• Berdasarkan Pasal 1 ayat 2 huruf (aa) Peraturan Menteri Keuangan No. 244/PMK.3/2008 disebutkan bahwa jasa katering atau jasa boga adalah termasuk dalam jenis jasa lain yang kenakan PPh Pasal 23.

5. Pertanyaan:

Apabila ada kegiatan rapat di kantor yang dilaksanakan pada jam kerja apakah bisa dibayarkan biaya konsumsi rapatnya?

Jawaban:

Sesuai dengan PMK Nomor 119/PMK.02/2020 tentang SBM TA 2021, mengenai konsumsi rapat diatur sebagai berikut :

Satuan biaya konsumsi rapat merupakan satuan biaya yang digunakan untuk perencanaan kebutuhan biaya pengadaan makan dan kudapan termasuk minuman untuk rapat/pertemuan baik untuk

Satuan biaya konsumsi rapat merupakan satuan biaya yang digunakan untuk perencanaan kebutuhan biaya pengadaan makan dan kudapan termasuk minuman untuk rapat/pertemuan baik untuk