BAB VII PENUTUP
Foto 6 Benda-Benda Yang Digunakan Dalam Pengobatan
Benda-benda Yang Digunakan Dalam Pengobatan
Sumber: Dokumen pribadi 2016.
“ ia Nang, semua alat-alat biar bisa berobat harus dipake dalam mengobati orang, apalagi memanggil opung, enggak bisa kalau enggak ada alat- alatnya. Semua benda yang jadi alat berobat ini ada disini semua, ada yang langsung kita bawa dari Samosir pas penerimaan masuknya roh opung, seperti lonceng kecil pemanggil bunyi roh opung, tempat kotak tembakau dan batu. Kalau yang lainnya rata-rata ku belinya itu semua, apa lagi sirih buat demban ini, mana mau opung kalau enggak segar lagi atau udah layu-layu daun nya, bisa nantik marah opung itu kalau enggak bagus kita buat semuanya” (Pak Sitinjak 56 tahun, suami Inang Hotang).
Benda-benda atau alat wajib yang dipakai Inang Hotang setiap mengobati pasien terdiri dari ulos Batak, ulos Batak ini terdiri dari dua buah, yang pertama digunakan sebagai penutup kepala atau tudung, yang kedua digunakan sebagai penutup kaki atau sarung. Ulos Batak yang dipakai dalam setiap pengobatan merupakan ulos khusus yang bernama ulos sibolang. Ulos sibolang merupakan ulos yang sangat jarang dipakai dalam acara-acara pesta di dalam Suku Batak
Toba, ulos ini sangat sering digunakan pada acara-acara khusus kematian yang digunakan sebagai tudung (penutup) kepala bagi keluarga yang anggota keluarganya meninggal dunia atau yang sering disebut mabalu (janda/duda). Selanjutnya, benda lain yang digunakan berupa lonceng kecil berwarna kuning emas, lonceng ini digunakan sebagai penanda bunyi dan arah ketika roh opung datang, lonceng didapat pada saat Inang Hotang sudah menerima roh opung masuk di Samosir. Lonceng dibunyikan ketika mantra atau doa pemanggilan roh telah selesai diucapkan oleh Inang Hotang dan suami beliau, sambil menunggu roh datang dan masuk ke dalam tubuh Inang Hotang lonceng dibunyikan sesekali. Alat wajib yang selanjutnya digunakan Inang Hotang dalam melakukan pengobatan adalah batu kecil dan 21cawan, cawan ini berfungsi untuk wadah menampung air yang dicapur bersamaan dengan batu kecil. Batu kecil yang dipakai berjumlah satu dan berbentuk bulat hampir sempuna berwarna putih perak, yang didapatkan langsung dari Samosir. Selanjutnya, dimasukan bersama jeruk purut yang dibawa oleh pasien pada saat berobat, wadah ini selain berfungsi menampung air dan semua bahan pengobatan, juga berfungsi untuk melihat penyakit yang ada pada pasien ketika semua bahan sudah tercampur. Alat lain yang digunakan adalah kotak persegi berwarna kuning emas, kotak ini berfungsi untuk menyimpan tembakau yang akan digunakan sebagai bahan menyirih. Kotak ini dibeli langsung berdasarkan permintaan dari roh opung sebelum Inang Hotang bisa mengobati. suami Inang Hotang, Bapak Sitinjak mendapatkan kotak ini
langsung dari desa Tara Bintang, Kecamatan Parlilitan. Selain benda-benda tersebut, semua alat yang digunakan dalam proses pengobatan ada yang menggunakan barang pribadi seperti pisau, piring, sendok, kaleng dan lainnya. Selanjutnya barang lain yang dipakai ada yang dibeli dipasar seperti 22tandok, sirih, merica, tembakau, kapur, sendok, piring dan lainnya.
4.3 Mantra/Doa
Pengobatan yang dilakukan oleh seorang dukun atau datu sering sekali menggunakan teknik-teknik ilmu gaib dan ucapan mantra-mantra untuk mengobati pasiennya. Dalam pengobatan non medis yang tidak berhubungan dengan ilmu kesehatan di bidang kedokteran, pengobatan melalui dukun dengan menggunakan ramuan mantra ataujampi-jampi tidak dapat dijelaskan sama sekali.
Mantra adalah kata-kata yang mengandung kalimat dan kekuatan gaib atau magis dan hanya diucapkan oleh orang-orang tertentu saja seperti dukun atau pawang. Mantra adalah ucapan – ucapan dukun atau pawang yang mengandung magis bahasa. Mantra berisi tantangan terhadap suatu kekuatan gaib, tetapi dapat juga berisi bujukan kepada kekuatan gaib agar tidak merusak manusia atau alam. Mantra merupakan kalimat – kalimat yang biasanya bersajak ada rima atau persamaan pertentangan bunyi (http://www.blogmamen.com/2013/01/apa-itu- mantra-pengertian-mantra-dan.html).
Mantra adalah perkataan atau ucapan yang memiliki kekuatan gaib, misalnya dapat menyembuhkan, mendatangkan celaka, dan sebagainya. Upacara dimulai dengan pembacaan. Mantra bisa diartikan sebagai susunan kata yang berunsur puisi (seperti rima dan irama) yang dianggap mengandung kekuatan gaib, biasanya diucapkan oleh dukun atau pawang untuk menandingi kekuatan gaib yang lain (Depdiknas, 2008 : 876). Mantra adalah ayat yang suci, yang biasanya digunakan atau diucapkan pada waktu-waktu dan tempat tertentu, dengan tujuan untuk menimbulkan kemampuan tertentu kepada orang yang mengucapkannya atau kepada orang yang membaca mantra tersebut. Mantra merupakan susunan kata-kata atau kalimat-kalimat khusus yang mengandung kekuatan ghaib, digunakan atau diucapkan pada waktu-waktu dan tempat tertentu, dengan tujuan untuk menimbulkan kemampuan tertentu kepada orang yang mengucapkannya atau kepada orang yang membaca mantra tersebut. Mantra biasanya dikuasai oleh orang-orang tertentu, seperti dukun dan pawang. Mantra merupakan susunan kata-kata atau kalimat-kalimat khusus yang mengandung kekuatan gaib. Digunakan atau diucapkan, pada waktu-waktu dan tempat tertentu dengan tujuan untuk menimbulkan kemampuan kepada orang yang mengucapkannya atau kepada orang yang membaca mantra tersebut.
Mantra biasanya dikuasai oleh orang-orang tertentu, seperti dukun dan pawang. Dalam sastra Melayu lama, kata lain untuk mantra adalah jampi, serapah, tawar, sembur, cuca, puja, seru dan tangkal. Mantra termasuk dalam genre sastra lisan yang populer di masyarakat Melayu, sebagaimana pantun dan
syair. Hanya saja, penggunaannya lebih eksklusif, karena hanya dituturkan oleh orang tertentu saja, seperti pawang dan bomoh (dukun). Menurut orang Melayu, pembacaan mantra diyakini dapat menimbulkan kekuatan gaib untuk membantu meraih tujuan-tujuan tertentu (repository.usu.ac.id/bitstream).
Dari segi penggunaan, mantra sangat eksklusif dan tidak boleh dituturkan sembarangan, karena bacaannya dianggap keramat dan tabu. Mantra adalah suatu kata khusus yang mempunyai arti tersendiri bahkan, menyimpan kekuatan dahsyat yang terkadang sulit diterima akal sehat.
Dalam melakukan pengobatan, Inang Hotang selalu mengundang roh leluhurnya yang dipanggil “opung” untuk masuk ke dalam tubuh Inang Hotang. Opung ini lah yang nantinya akan melihat penyakit dan memberi obat kepada pasien yang datang. Pemanggilan roh opung hanya bisa dilakukan oleh Inang Hotang dibantu dengan suaminya. Dalam melakukan pemanggilan roh, Inang Hotang beserta suami menggunakan doa permohonan khusus pemanggilan roh opung agar roh mau datang, doa ini dianggap sebagai mantra khusus atau teknik berdoa untuk memanggil kedatangan roh.
Mantra/doa pemanggilan roh opung yang dilakukan Inang Hotang beserta suami beliau, merupakan doa perpohonan khusus yang berisi kerendahan hati dan kerendahan diri terhadap roh opung, tujuannya agar roh tersebut mau datang dan masuk ke dalam tubuh Inang Hotang.
“Songonan ma, opung na huhaholongi hami, opung ni sahalak namboru nami, ngadison hami marpungu sian inang nami, inang ni bere nami, boru nami nai huta, pomparan nami, keturunan ni opung ta. Opung roh ma ho
tu anggimu na, naing mangido do hami tu ho opung, nion ma palean nami opung” (Doa permohonan pemanggilan roh opung).
Koentjaraningrat, mengatakan dalam buku beberapa pokok antropologi sosial, sistem religi dan ilmu gaib menggunakan teknik berdoa. Berdoa adalah suatu unsur yang banyak terdapat dalam berbagai upacara keagamaan di dunia, berdoa merupakan suatu ucapan dari keinginan manusia yang diminta daripada leluhur dan juga ucapan-ucapan hormat dan pujian kepada leluhur itu. Biasanya doa diiringi dengan gerak-gerak dan sikap-sikap tubuh yang pada dasarnya merupakan gerak dan sikap-sikap menghormat dan merendahkan diri terhadap para leluhur, terhadap para dewata atau terhadap Tuhan. Doa ialah kepercayaan bahwa kata-kata yang diucapkan mempunya akibat yang gaib dan seringkali kata yang diucapkan dianggap mengandung kekuatan sakti. Doa seringkali diucapkan dalam suatu bahasa yang sulit dipahami dan tidak difahami oleh sebagian besar dari orang-orang dalam masyarakat.
Dalam pengobatan yang berorientasi pada dukun, ada berapa jenis mantra yang biasa digunakan untuk menyembuhkan penyakit, jenis mantra tersebut Ditunjau dari segi bentuk dan isinya, dapat diklasifikasikan menjadi beberapa jenis, yakni:
a) Mantra pengobatan. b) Mantra penjagaan diri. c) Mantra kekebalan. d) Mantra sihir. e) Mantra jimat.
f) Mantra pengasih-asih.
g) Mantra penghidupan (pertanian).
Dalam melakukan pengobatan, Inang Hotang tidak ada menggunakan mantra atau doa-doa lain selain yang digunakan untuk awal pemanggilan roh opung, sebab ketika roh opung sudah datang dan masuk ke dalam tubuh Inang Hotang roh itu sendiri lah yang melihat, menuntun pasien dan menyembuhkannya penyakit yang diderita atau yang sedang dikeluhkan sang pasien.
Pemanggilan doa khusus permohonan dilakukan bersama Pak Sitinjak suami beliau, pemanggilan roh dilakukan sambil Inang Hotang memakan sirih atau demban agar roh opung mau datang dan masuk kedalam tubuh Inang Hotang. Demban yang dimakan adalah demban yang sudah diracik khusus oleh Inang Hotang sebelum melakukan acara pemanggilan roh, demban diracik dengan kapur yang dioleskan di seluruh permukaan dalam daun sirih, kulit pinang, tembakau dan merica.
Berdoa dengan tujuan memanggil ke datangan roh opung, wajib dilakukan Inang Hotang sebagai pangobati sambil menyirih atau yang sering disebut dengan mardemban. Menyirih atau mardemban memiliki makna khusus menurut Inang Hotang dalam teknik mengundahn roh yang berkaitan dengan pasien sebagai manusia yang hidup.
“menyirih itu ada maknanya Nang, kapur itu yang dioleskan di seluruh permukaan dalam daun sirih itu kita anggaplah itu seperti tulang manusia, kulit pinang seperti daging manusia, tembakau yang murni berasa pahit dan merica yang berasa pedas dianggap seperti kehidupan manusia yang tidak pernah selalu merasa bahagia. Merica itu juga harus tiga biji atau harus ganjil Nang, ya karena kita itu manusia selalu ga
pernah puas, permintaan kita itu sebagai manusia banyak kali ga pernah genap-genap makanya ganjil lah merica itu sama kek manusia ada ajah yang kurang ga pernah genap keinginannya. Terus dari semua itu ada yang paling besar dan lebar, itulah daun sirih yang merupakan bagian tubuh yang menutupi semua yang tadi itu, sehingga tercipta air liur berwarna merah yang dikatakan sebagai darah” (Inang Hotang, 54 tahun).
Ketika melakukan pemanggilan dan pengucapan doa permohonan kedatangan roh opung, setiap pasien yang berobat diharapkan berdoa dalam hati dan harus yakin dalam dirinya bahwa setiap pengobatan yang dilakukan akan berhasil, sebab bila tida ada keyakinan dalam diri pasien akan kesembuhan penyakit sulit akan sembuh.
4.4 Kesurupan
Menurut Kamus besar Bahasa Indonesia kesurupan ialah kemasukan roh setan sehingga bertindak yang aneh-aneh. Kesurupan merupakan sebuah fenomena tentang mahluk halus yang menguasai pikiran dan perasaan, keserupan menjadikan seseorang sanggup untuk melakukan dan membuat suatu keputusan pada diri seseorang dengan menyatu pada kesadarannya, hasilnya mahluk halus bisa menguasai tindakan seseorang. Oleh karena itu, tingkah laku seseorang yang kesurupan akan dikuasai oleh mahluk halus.
Prof. Dr. Dadang Hawari, psikiater dari Universitas Indonesia, menjelaskan kesurupan adalah reaksi kejiwaan yang dinamakan reaksi disosiasi atau reaksi yang mengakibatkan hilangnya kemampuan seseorang untuk menyadari realitas di sekitarnya, yang disebabkan oleh tekanan fisik maupun
mental (berlebihan). Tetapi, kalau kesurupannya massal, itu melibatkan sugesti. Kesurupan dalam istilah medis disebut dengan Dissociative Trance Disorder (DTD). Menurut laporan Eastern Journal of Medicine, kesurupan lebih banyak terjadi di negara dunia ketiga dan negara-negara bagian timur daripada di negara bagian barat. Di India yang kultur dan budayanya mirip Indonesia, sering sekali ditemukan orang-orang yang kesurupan atau sering disebut dengan possesion syndrome atau possesion hysterical. Angka kejadiannya adalah sekitar 1 sampai 4 persen dari populasi umum. Dunia kedokteran, khususnya psikiatri fenomena kesurupan itu adalah kondisi yang ditandai oleh perubahan identitas pribadi (Kompasiana.com).