• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Arsitektur Jembatan Gantung Ujung Gading

Dalam dokumen IMAM BONJOL PADANG 1438H 2017M (Halaman 49-55)

BAB III SEJARAH PEMBANGUNAN JEMBATAN GANTUNG

B. Bentuk Arsitektur Jembatan Gantung Ujung Gading

Kata arsitek berasal dari Yunani berarti ahli bangunan, jadi arsitektur berarti seni bangunan yang di ciptakan untuk memenuhi keperluan manusia yang berbudaya.3

Tipe jembatan gantung yang lebih konvensional adalah jembatan gantung yang menggunakan kabel menerus yang ditahan oleh menara pada setiap ujung Jembatan. Kabel tersebut digunakan untuk menahan atau sebagai penyangga batang penggantung lantai jembatan. Jembatan gantung terdiri dari 4 buah tiang penyangga, makna yang terkandung dalam tiang penyangga itu tidak hanya sebagai penyangga saja tetapi setelah sistim pemerintahan Belanda berupa Hoofd Van di Ujung Gading terjadi perubahan bentuk pemerintahan penghulu Adat dengan satu pimpinan yaitu Pulu Palu (Kepala

3

Departeman Pendidikan dan kebudayaan, Arsitektur Tradisional Minangkabau Selayang Pandang, (Jakarta: Proyek Media Kebudayaan, 1982-1993), h. 11

40

Penghulu) sebagai pimpinan Nagari yang diajukan dari kesepakatan semua penghulu antara lain: Sultan Kelebihan, Jasah Tan Oloan, Regen (Gelar Rajo Bulu), Muhammad Said.4 Dan terdapat 2 kabel yang berfungsi sebagai penopang, terdapat disisi kanan dan kiri dan setiap sisi terdapat 28 kabel yang berfungsi sebagai penjaga keseimbangan, dan dibawah lantai dasar terdapat 4 buah kabel besi yang berfungsi sebagai penahan berat.

Sketsa tipe jembatan ini dapat dilihat pada Gambar 1. Lantai jembatan dapat lentur atau kaku, tetapi harus cukup kuat menahan beban lalulintas antara kabel dan juga untuk menahan beban angin. Bagian ujung menara harus cukup tinggi untuk memungkinkan kabel utama melengkung, dengan rasio antara 1 : 8 dan 1 : 11.

Gambar I

Skema Jembatan Gantung Ujung Gading.

Sumber : Arsip TU Pasaman Barat

Beberapa kegiatan yang dilakukan dalam perancangan jembatan gantung. Tahapan-tahapan dalam pembangunan Jembatan Gantung Ujung Gading, terdiri atas:

1. Menetapkan lokasi jembatan dengan mempertimbangkan aspek teknik.

4

Yunaldi, Wawancara, Di Ujung Gading pada tanggal 04 Juni 2017

2. Melakukan pengukuran dan pembuatan peta lokasi jembatan.

3. Melakukan pengukuran bentang sungai ditambah 50 m ke setiap sisi dengan koridor 15 m ke arah hulu dan hilir rencana lokasi jembatan.

4. Melakukan identifikasi kondisi hidrolik, elevasi air banjir, tinggi tebing, serta kondisi geoteknik setempat.

5. Membersihkan lapangan dan membuat lintasan kabel untuk mengangkut bahan-bahan ke setiap sisi jembatan.

6. Melakukan pengukuran jembatan, yang meliputi menara, angkur, dan fondasi, penentuan ketinggian lantai jembatan, ketinggian blok angkur, fondasi menara, serta fondasi gelagar pengaku jembatan.

7. Membuat blok angkur, fondasi menara, dan fondasi gelagar pengaku. 8. Memberi tanda-tanda lokasi batang penggantung, sumbu pelana, dan

angkur pada kabel utama sesuai hasil perhitungan dan pengukuran lapangan.

9. Membuat menara, kabel, dan pelana. 10.Memasang dan menyetel awal kabel utama.

11.Menempatkan dan mengikat kabel-batang penggantung.

12.Memasang gelagar melintang, memanjang, dan pengaku secara bertahap. 13.Memasang lantai jembatan dan sandaran.

14.Menyetel akhir kabel utama pada blok angkur.

15.Memasang dan menyetel kabel angin, serta Membuat jalan masuk ke jembatan dan tembok pengaman.

42

16.Pembuatan blok angkur, terdiri atas: Membuat blok angkur pada lokasi dan ketinggian yang tepat terhadap menara.

17.Menyesuaikan sumbu blok angkur dengan sumbu pen yang menjadi hubungan akhir antara baut angkur yang tertanam dalam blok dan kabel utama.

18.Mempertahankan tanah asli pada waktu penggalian tanah untuk blok angkur.

19.Membuat acuan untuk baut angkur dengan kedalaman minimum 30 cm pada waktu pengecoran blok angkur.

20.Menyetel baut angkur sebelum mortar mulai mengeras dan mengisi acuan dengan mortar yang menggunakan campuran dengan perbandingan air : semen : pasir adalah 0,4 : 1 : 1, sampai penuh dan tidak terjadi kantong udara dalam mortar.

21. Pembuatan fondasi menara, terdiri atas: Memastikan dasar fondasi tertanam dalam tanah asli.

22.Memeriksa kembali ketinggian perletakan kemudian mengisikan mortar kering dengan komposisi semen dan pasir dengan perbandingan 1 : 2 di bawah pelat.

23.Pemasangan kabel utama dan pelana, terdiri atas: Melindungi kabel utama terhadap korosi dengan galvanisasi atau bungkus selubung polietilena yang diberi pelumas. Membuat dan memasang pelana sehingga dudukan arah kabel ke blok angkur dapat membentuk sudut yang tepat sesuai

rencana. Menggunakan kabel semu mendahului kabel utama untuk menarik kabel utama melintasi sungai.

24.Memberi tanda pada kabel utama penempatan pada sumbu pelana (sumbu perletakan atas menara) dan posisi batang penggantung dan angkur pada kondisi kabel diletakkan lurus di atas tanah dan belum ditegangkan. Mengurangi panjang kabel dengan perpanjangan yang diperhitungkan sesuai dengan tegangan kabel akibat beban mati jembatan dan ditambah dengan lengkungan kabel di pelana. Memasang kabel utama pada satu sisi dan selanjutnya memasang pada sisi lainnya. Melaksanakan pemasangan kabel dengan bantuan kabel semu untuk menarik kabel perlahan-lahan ke kiri atau ke kanan agar berada pada titik pusat menara. Pemasangan batang penggantung, memasang batang penggantung dengan klem-klem agak longgar sehingga batang-batang tersebut mudah ditempatkan pada lokasi yang tepat.

25.Pemasangan gelagar melintang dan memanjang, memasang gelagar melintang dan memanjang secara bersamaan kemudian dilanjutkan dengan pemasangan lantai papan dan sandaran.

26.Memperkuat bangunan atas jembatan dengan kabel-kabel penahan yang diikatkan ke dalam tebing untuk mengurangi goyangan jembatan dalam arah horizontal. Melengkapi kabel penahan dengan mur pengencang untuk

44

penyetelan, dengan sambungan profil dan baut harus memenuhi persyaratan kekuatan dengan kawat.5

27.Memasang ikatan angin untuk memperkuat gelagar-gelagar. Ilustrasi ikatan angin ditunjukkan padaGambar 2.

Gambar II

Kabel-kabel Ikatan Angin

Sumber : Arsip TU Pasaman Barat

Sebagai studi kasus dibuat suatu Detail Engineering Design (DED) Jembatan Gantung Ujung Gading Pasaman Barat. Berdasarkan hasil survei topografi diperoleh peta lokasi Jembatan Gantung yang akan dibuat, seperti ditunjukkan pada Gambar 3.

5

Edifrizal, Perencanaan Struktur Jembatan. Pusat Pengembangan Bahan

Ajar. Jakarta: Universitas Mercubuana, 2012, h. 65

Gambar III

Hasil Pengukuran Topografi

Sumber : Arsip TU Pasaman Barat

C. Sejarah Perkembangan Wilayah Nagari Ujung Gading Pasca

Dalam dokumen IMAM BONJOL PADANG 1438H 2017M (Halaman 49-55)

Dokumen terkait