BAB II MAHAR DALAM HUKUM ISLAM
3. Macam-macam dan Bentuk-bentuk Mahar
Mahar itu adalah suatu yang wajib diadakan meskipun tidak dijelaskan bentuk dan harganya pada waktu akad. Dari segi dijelaskan atau tidaknya mahar itu pada waktu akad, mahar itu ada dua macam (Syarifuddin 2006, 88):
25
Pertama: Mahar yang disebutkan bentuk, wujud atau nilainya secara jelas dalam akad disebut mahar musamma (ىًسي رٓي). Inilah mahar yang umum berlaku dalam suatu perkawinan.
selanjutya kewajiban suami untuk memenuhi selama hidupnya atau selama berlangsungnya perkawinan. Suami wajib membayar mahar tersebut yang wujud atau nilainya sesuai dengan apa yang disebutkan dalam akad perkawinan itu (Syarifuddin 2006, 88).
Kedua: Bila mahar tidak disebutkan jenis dan jumlahnya pada waktu akad, maka kewajibannya adalah membayar mahar sebesar mahar yang yang diterima oleh perempuan lain dalam keluarganya. Mahar dalam bentuk ini disebut mahar mitsil (مثًنارٓي) (Syarifuddin 2006, 88).
Ulama fikih sepakat bahwa mahar itu ada dua macam, yaitu mahar musamma dan mahar mitsil (sepadan) (Ghozali 2008, 92).
3.1.1. Mahar Musamma
Mahar musamma yaitu mahar yang sudah disebut atau dijanjikan kadar dan besarnya ketika akad nikah (Ghozali 2008, 92).
Mahar yang telah ditetapkan bentuk dan jumlahnya dalam shiqad akad. Mahar musamma ada dua macam, yaitu (1) mahar musamma mu’ajjal, yakni mahar segera diberikan oleh calon suami kepada calon istrinya. Menyegerakan pemberian mahar hukumnya sunnat; (2) mahar musamma ghair mu’ajjal, yaitu mahar yang pemberiannya ditangguhkan (Saebani 2001, 276).
Ulama Fikih sepakat bahwa dalam pelaksanaannya mahar musamma harus diberikan secara penuh apabila (Ghozali 2008, 92-93).
3.1.1.1. Telah bercampur (bersenggama). Tentang hal ini Allah SWT berfirman:
Artimya: Dan jika kamu ingin mengganti isterimu dengan isteri yang lain, sedang kamu telah memberikan kepada seseorang di antara mereka harta yang banyak, Maka janganlah kamu mengambil kembali dari padanya barang sedikitpun. Apakah kamu akan mengambilnya kembali dengan jalan tuduhan yang dusta dan dengan (menanggung) dosa yang nyata? (Q.S An-Nisa’: ayat 20) (Depertemen Agama RI 1998).
3.1.1.2. Salah satu dari suami istri meninggal. Demikian menurut ijma’.
Mahar musamma juga wajib dibayar seluruhnya apabila suami telah bercampur dengan istri, dan ternyata nikahnya rusak dengan sebab-sebab tertentu, seperti ternyata istrinya mahram sendiri, atau dikira perawan ternyata janda, atau hamil dari bekas suami lama. Akan tetapi, kalau istri dicerai sebelum bercampur, hanya wajib di bayar setengahnya, berdasarkan firman Allah SWT (Ghozali 2008, 93):
Artinya: Jika kamu menceraikan Isteri-isterimu sebelum kamu bercampur dengan mereka, padahal Sesungguhnya kamu sudah menentukan maharnya, Maka bayarlah seperdua dari mahar yang Telah kamu tentukan itu, kecuali jika Isteri-isterimu itu mema'afkan atau dima'afkan oleh orang yang memegang ikatan nikah, dan pema'afan kamu itu lebih dekat kepada takwa. dan janganlah kamu melupakan keutamaan di antara kamu. Sesungguhnya Allah 27
ayat 237).
Hendaknya yang dijadikan mahar itu barang yang halal dan dinilai berharga dalam syariat Islam. Jadi, kalau mahar musamma itu berupa khamr, babi atau bangkai dan benda-benda lain yang tidak dimiliki secara sah, maka maliki mengatakan bahwa bila belum terjadi percampuran, akadnya fasid. Tetapi bila telah terjadi percampuran, maka akad dinyatakan sah dan si istri berhak atas mahar mitsil (Mughniyah 2010, 365).
3.1.2. Mahar Mitsil
Mahar mitsil ialah mahar yang jumlahnya ditetapkan menurut jumlah yang biasa diterima oleh keluarga pihak istri karena pada waktu akad nikah jumlah mahar belum ditentukan bentuknya (Saebani 2001, 277). Atau, mahar yang tidak disebut besar kadarnya pada saat sebelum ataupun ketika terjadi pernikahan. Atau mahar yang diukur (sepadan) dengan mahar yang pernah diterima oleh keluarga terdekat, agak jauh dari tetangga sekitarnya, dengan mengingat status sosial, kecantikan dan sebagainya (Ghozali 2008, 93).
Maksud mahar mitsil (mahar yang sama) adalah mahar yang diputuskan untuk wanita yang menikah tanpa menyebutkan mahar dalam akad, ukuran mahar disamakan dengan mahar wanita yang seimbang ketika menikah dari keluarga bapaknya seperti saudara perempuan sekandung, saudara perempuan tunggal bapak dan seterusnya (Azzam.
Hawwas 2014, 186).
Para Ulama mazhab sepakat bahwa mahar bukanlah salah satu rukun akad, sebagaimana halnya jual-beli, tetapi merupakan suatu konsekuensi adanya akad. Karena itu, akad nikah boleh dilakukan tanpa (menyebut) mahar, dan bila terjadi percampuran ditentukan mahar mitsil (Mughniyah 2010, 365).
Mahar mitsil diwajibkan dalam tiga kemungkinan:
Pertama: Dalam keadaan suami tidak ada menyebutkan sama sekali mahar atau jumlahnya.
Kedua: Suami menyebutkan mahar musamma, namun mahar tersebut tidak memenuhi syarat yang ditentukan atau mahar tersebut cacat seperti maharnya adalah minuman keras.
Ketiga: Suami ada menyebutkan mahar musamma, namun kemudian suami istri berselisih dalam jumlah atau sifat mahar tersebut dan tidak dapat diselesaikan (Syarifuddin 2006, 89).
Demikian juga dalam pernikahan yang rusak (fasid), misalnya seorang menikahi perempuan tanpa wali dan saksi kemudian ia mencampurinya, maka wajib baginya membayar mahar mitsil pada hari percampuran. Seolah-olah hari kejadian rusak bukan hari akad karena tidak ada penghargaan bagi akad yang rusak. Sebagaimana sabda Nabi saw (Azzam. Hawwas 2014, 188-189).
نَعَو
Artinya: Dari 'Aisyah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Perempuan yang nikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil. Jika sang laki-laki telah mencampurinya, maka ia wajib membayar maskawin untuk kehormatan yang telah dihalalkan darinya, dan jika mereka bertengkar maka penguasa dapat menjadi wali bagi wanita yang tidak mempunyai wali." Dikeluarkan oleh Imam Empat kecuali Nasa'i. Hadits shahih menurut Ibnu Uwanah, Ibnu Hibban, dan Hakim (al-Asqalany 2013, 214).
Dalam Undang-undang Kompilasi Hukum Islam (KHI) mengatur mahar secara panjang lebar terdapat dalam pasal-pasal yang hampir keseluruhannya mengadopsi dari kitap fiqh menurut jumhur ulama 29
sebagai seperti yang terdapat dalam pasal 30, yaitu: Calon mempelai pria wajib membayar mahar kepada calon mempelai wanita yang jumlahnya, bentuk, dan jenisnya disepakati oleh kedua belah pihak (Syarifuddin 2006, 97).
3.2. Bentuk - Bentuk Mahar
Pada umumnya mahar itu dalam bentuk materi, baik berupa uang atau barang berharga lainnya, namun syari’at Islam memungkinkan mahar itu dalam bentuk jasa melakukan sesuatu. Ini adalah pendapat yang dipegang jumhur ulama. Mahar dalam bentuk jasa ini ada landasannya dalam Al-Qur’an dan demikian pula dengan hadis Nabi (Syarifuddin 2006, 97).
Contoh mahar dalam bentuk jasa dalam Al-Qur’an ialah menggambalakan kambing selama 8 tahun sebagai mahar perkawinan seorang perempuan. Hal ini dikisahkan Allah dalam surat al-Qashash ayat 27 (Syarifuddin 2006, 97):
Artinya: Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya Aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu. Maka Aku tidak hendak memberati kamu, dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik".
Dalam hadist juga sebagaimana mahar terdapat dalam hadist nabi yang diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad.
َّنُىُؤَر قَ ت : َلاَقَ ف اَىَدَّدَع , اَذَك ُةَروُسَو , اَذَك ُةَروُس يِعَم : َلاَق ? ِنآ رُق لا َنِم َكَعَم اَذاَم : َلاَق مَعَ ن : َلاَق ? َكِب لَ ق ِر هَظ نَع ) ِنآ رُق لا َنِم َكَعَم اَمِب اَهَكُت كَّلَم َدَقَ ف , بَى ذِا : َلاَق ,
ٌقَفَّ تُم
ِنآ رُق لا َنِم اَه مِّلَعَ ف , اَهَكُت جَّوَز دَقَ ف , قِلَط نِا ( : ُوَل ٍةَياَوِر يِفَو ٍمِل سُمِل ُظ فَّللاَو , ِو يَلَع يِفَو )
َّنَك مَأ ( : ِّيِراَخُب لِل ٍةَياَوِر ) ِنآ رُق لا َنِم َكَعَم اَمِب اَهَكا
Artinya: "Apakah engkau mempunyai hafalan Qur'an?" Ia menjawab: Aku hafal surat ini dan itu. Beliau bertanya: "Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?" Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda:
"Pergilah, aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur'an yang engkau miliki." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim. Dalam suatu riwayat: Beliau bersabda padanya:
"berangkatlah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia al-Qur'an." Menurut riwayat Bukhari: "Aku serahkan ia kepadamu dengan (maskawin) al-Qur'an yang telah engkau hafal" (al-Asqalany 2013, 213).
Penyebutan mahar dan jumlah serta bentuknya termasuk di dalamnya tunai atau tangguhnya, diucapkan pada saat akad nikah, yaitu pada saat ijab oleh wali mempelai wanita, dan diterima dengan jawaban qabul mempelai laki-laki. Oleh karena sifatnya bukan rukun dalam perkawinan, maka kelalaian menyebut jenis dan jumlah mahar pada pada akad nikah, tidak menyebabkan batalnya perkawinan (Rofiq 2013, 87).
Fuqaha’ sepakat bahwa harta yang berharga dan maklum dan patut dijadikan mahar. Oleh karena itu emas, perak, uang, takaran, timbangan, uang kertas, dan lain-lain sah dijadikan mahar karena itu bernilai material dalam pandangan syara’. Sebagaimana juga mereka sepakat bahwa suatu yang tidak ada nilai material dalam pandangan syara’
tidak sah dijadikan mahar seperti babi, bangkai dan khamar (Azzam, et al 2015, 183).
Syari’at Islam tidak memberi batas mahar minimal dan maksimal bagi seorang wanita, dan juga tidak menentukan bentuk-bentuk barang yang dapat dijadikan mahar. Dalam suatu perkawinan suami boleh 31
memberikan apa saja yang akan dijadikan mahar sesuai dengan kemampuannya, mahar itu ada dua macam:
3.2.1. Barang berharga;
fuqaha’ sepakat bahwa harta yang berharga dan maklum patut dijadikan mahar. Oleh karena itu emas, perak, uang, takaran, timbangan, uan kertas dan lain-lain sah dijadikan mahar karena ia bernilai material dalam pandangan syara’. Sebagaimana juga mereka sepakat bahwa sesuatu yang tidak ada nilai material dalam pandangan syara’ tidak sah untuk dijadikan mahar (Azzam 2015, 183). Bila mahar itu berbentuk barang , maka syaratnya:
3.2.1.1. Jelas diketahui bentuk dan sifatnya.
3.2.1.2. Barang itu miliknya sendiri secara pemilikan penuh dalam arti dimiliki zatnya dan dimiliki pula manfaatnya. Bila salah satunya saja yang dimiliki, seperti manfaatnya dan tidak zatnya umpama barang yang dipinjam, tidak sah dijadikan mahar.
3.2.1.3. Barang itu sesuatu yang memenuhi syarat untuk diperjualbelikan dalam arti barang yang tidak boleh diperjualbelikan tidak boleh dijadikan mahar, seperti minuman keras, daging babi,dan bangkai.
3.2.1.4. Dapat diserahkan pada waktu akad atau pada waktu yang dijanjikan dalam arti barang tersebut sudah berada di tangannya pada waktu diperlukan. Barang yang tidak dapat diserahkan pada waktunya tidak dapat dijadikan mahar, seperti burung yang terbang di udara (Syarifuddin 2006, 95).
Dalam hadist juga dijelaskan tentang mahar yang berbentuk barang.
نَعَو ََ
Artinya: Dari Jabir Ibnu Abdullah Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Barangsiapa memberi maskawin berupa tepung atau kurma, maka ia telah halal (dengan wanita tersebut)." Riwayat Abu Dawud dan ia memberi isyarat bahwa mauqufnya hadits itu lebih kuat (al-Asqalany 2013, 226).
َحاَكِن َزاَجَأ ملسو ويلع للها ىلص َّيِبَّنلَا َّنَأ ( ِويِبَأ نَع , َةَعيِبَر ِن ب ِرِماَع ِن ب ِوَّللَا ِد بَع نَعَو ََ
) ِن يَل عَ ن ىَلَع ٍةَأَر مِا ِذِم رِّ تلَا ُوَجَر خَأ
َكِلَذ يِف َفِلوُخَو , ُوَحَّحَصَو ي
Artinya: Dari Abdullah Amir Ibnu Rabi'ah, dari ayahnya, Radliyallaahu 'anhu bahwa Nabi Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memperbolehkan nikah dengan seorang perempuan dengan (maskawin) dua buah sandal. Hadits shahih riwayat Tirmidzi, dan hal itu masih dipertentangkan (al-Asqalany 2013, 226).
Beberapa Hadits di atas menunjukkan pentingnya nilai mahar tersebut tanpa melihat besar kecilnya jumlah. Islam tidak menetapkan jumlah besar atau kecilnya mahar. Karena adanya perbedaan kaya dan miskin, lapang dan sempitnya rezki. Selain itu tiap masyarakat mempunyai adat dan tradisinya sendiri. Karena itu, Islam meyerahkan masalah jumlah mahar itu berdasarkan kemampuan masing-masing orang atau keadaan dan tradisi keluarganya (Sabiq 1981, 52).
3.2.2. Jasa atau pekerjaan yang dilakukan suami kepada isteri yang bermanfaat.
Mahar tentang jasa atau manfaat, apakah sah jika dijadikan mahar, seperti seseorang laki-laki yang ingin menikahi perempuan dengan bekerja seperti yang dikisahkan dalam al-Qura’an dalam surat al-Qashash ayat 27;
33
Artinya: berkatalah dia (Syu’aib): “sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anak perempuanku ini dengan ketentuan bahwa engkau bekerja kepadaku selama delapan tahun dan jika engkau sempurnakan sepuluh tahun maka itu adalah (suatu kebaikan) darimu, dan aku tidak bermaksud memberatkan engkau. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang yang baik.
Sedangkan dalam bentuk pemberian mahar jasa kepada isteri juga diperbolehkan dalam syara’, seperti mengajarkan al-Quran kepada isteri sebagai mahar, dalam hal ini terdapat dalam hadist Nabi saw:
نَعَو
َلاَق ?
Artinya: Sahal Ibnu Sa'ad al-Sa'idy Radliyallaahu 'anhu berkata: Ada seorang wanita menemui Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam dan berkata: Wahai Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam, aku datang untuk menghibahkan diriku pada baginda. Lalu Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam memandangnya dengan penuh perhatian, kemudian beliau menganggukkan kepalanya. Ketika perempuan itu mengerti bahwa beliau tidak menghendakinya sama sekali, ia duduk. Berdirilah seorang shahabat dan berkata:
"Wahai Rasulullah, jika baginda tidak menginginkannya, nikahkanlah aku dengannya. Beliau bersabda: "Apakah engkau mempunyai sesuatu?" Dia menjawab: Demi Allah tidak, wahai Rasulullah. Beliau bersabda: "Pergilah ke keluargamu, lalu lihatlah, apakah engkau mempunyai sesuatu." Ia pergi, kemudian kembali dam berkata: Demi Allah, tidak, aku tidak mempunyai sesuatu. Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
"Carilah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi." Ia pergi, kemudian kembali lagi dan berkata: Demi Allah tidak ada, wahai Rasulullah, walaupun hanya sebuah cincin dari besi, tetapi ini kainku -Sahal berkata: Ia mempunyai selendang -yang setengah untuknya (perempuan itu). Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda: "Apa yang engkau akan lakukan dengan kainmu?
Jika engkau memakainya, Ia tidak kebagian apa-apa dari kain itu dan jika ia memakainya, engkau tidak kebagian apa-apa." Lalu orang itu duduk. Setelah duduk lama, ia berdiri. Ketika Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam melihatnya berpaling, beliau memerintah untuk memanggilnya. Setelah ia datang, beliau bertanya: "Apakah engkau mempunyai hafalan Qur'an?" Ia menjawab: Aku hafal surat ini dan itu. Beliau bertanya: "Apakah engkau menghafalnya di luar kepala?" Ia menjawab: Ya. Beliau bersabda: "Pergilah, aku telah berikan wanita itu padamu dengan hafalan Qur'an yang engkau miliki." Muttafaq Alaihi dan lafadznya menurut Muslim. Dalam suatu riwayat: Beliau bersabda padanya:
"berangkatlah, aku telah nikahkan ia denganmu dan ajarilah ia al-Qur'an." Menurut riwayat Bukhari: "Aku serahkan ia kepadamu dengan (maskawin) al-Qur'an yang telah engkau hafal" (al-Asqalany 2013, 212-213).
35
Hadits ini merupakan dasar hukum dan dalil bahwa kedudukan mahar dalam perkawinan hukumnya wajib bagi laki-laki yang harus dibayarkan kepada perempuan yang hendak dinikahinya (Saebani 2001, 270). Mahar yang diberikan oleh laki-laki kepada perempuan boleh apa saja seperti jasa sebagaimana hadits yang di atas, karena Islam tidak menetapkan mahar yang akan diberikan kepada mempelai wanita.
Di dalam Hadits ini juga Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam memerintahkan laki-laki tersebut agar memberikan sesuatu barang kepada wanita yang akan dinikahi itu, baik berupa baju, cincin, atau apa saja. Dengan demikian, mahar berupa mush-haf al-Quran juga dibolehkan.
Dari urain di atas dapat diambil kesimpulan bahwa harta benda dan jasa boleh dijadikan mahar selagi tidak bertentangan dengan Syari’at Islam dan memenuhi syarat yang telah ditentukan.
3.3. Cara Pemberian Mahar
Menurut Hanafi, mahar tidak boleh usaha dan urusan bermanfaat untuk dijadikan mahar, karena Hadist yang menetapkan sekurang-kurangnya mahar ialah 10 dirham, meskipun Hadis itu dlaif, tetapi ada hadis lain yang menguatkannya. Namun berdasarkan kepada hadist itu berikut ini tampak bahwa usaha dan urusan yang bermanfaat boleh dijadikan mahar (Shomad 2012, 286). Pembayaran mahar dapat dilakukan dengan:
3.3.1. Membayar kontan dan menghutang mahar.
Dalam pemberian mahar boleh dibayar kontan dan boleh pula dihutang, baik sebagian maupun seluruhnya, dengan syarat harus diketahui dengan detail. Misalnya, si laki-laki mengatakan, “saya mengawinimu dengan mahar seratus, yang lima puluh saya bayar kontan, sedang sisanya saya bayar dalam waktu setahun. Atau, bisa diketahui 36
secara global, misalnya pengantin laki-laki mengatakan, “mahar saya hutang, dan akan saya bayar pada saat kematian saya atau pada saat saya menceraikanmu (Mughniyah 2010, 368).
Dalam hal penundaan pembayaran mahar (dihutang) terdapat dua perbedaan pendapat dikalangan Ulama fikih. Segolongan ahli fikih berpendapat bahwa mahar itu tidak boleh diberikan dengan cara dihutang keseluruhan. Segolgan lain mengatakan bahwa mahar itu boleh ditunda pembayarannya, tetapi menganjurkan agar membayar sebagian mahar di muka manakala akan mengauli isteri. Dan diantara fuqaha yang membolehkan penundaan mahar (diangsur) ada yang membolehkan hanya untuk tenggang waktu terbatas yang telah ditetapkannya. Demikian pendapat Imam Malik. Ada juga yang membolehkannya karena atau perceraian, ini adalah pendapat Al-Auza’i. perbedaan pendapat tersebut karena apakah pernikahan itu dapat disamakan dengan jual beli dalam hal dalam hal penundaan, atau tidak dapat disamakan dengannya. Bagi fuqaha yang mengatakan bahwa disamakan dengan jual beli, mereka berpendapat bahwa penundaan itu tidak boleh sampai terjadinya kematian atau perceraian. Sedangkan yang mengatakan tidak dapat disamakan dengan jual beli, mereka berpendapat bahwa penundaan membayar mahar itu tidak boleh dengan alasan bahwa pernikahan itu merupakan ibadah (Ghozali 2012, 92).
3.3.2. Separuh mahar.
Para Ulama mazhab sepakat bahwa, apabila akad dilaksanakan dengan menyebutkan mahar, kemudian si suami menjatuhkan thalak sebelum melakukan hubungan seksual dan khalwat (bagi yang mengakuinya), maka gugurlah separuh mahar. Tetapi bila akad tersebut dilaksanakan tanpa menyebut mahar, maka si wanita tidak memperoleh apa pun, kecuali mut’ah, berdasarkan firman Allah SWT yang berbunyi (Mughniyah 2010, 374):
37
Artinya: Jika kamu menceraikan mereka sebelum kamu sentuh (campur), Padahal kamu sudah menentukan maharnya, Maka (bayarlah) seperdua dari yang telah kamu tentukan, kecuali jika mereka (membebaskan) atau dibebaskan oleh orang yang akad nikah ada ditangannya. Pembebasan itu lebih dekat kepada takwa. Dan janganlah kamu lupa kebaikan diantara kamu. Sungguh, Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan. (Q.S Al-Baqarah: ayat 237)