Salah satu areal yang oleh sementara pihak dianggap sulit untuk diwujudkan adalah masalah yang berkenaan dengan Law Enforcement dan penerapan sanksi-sanksi hukum terhadap tindak pidana Pasar Modal. Walaupun sebenarnya, pekerjaan tersebut bukanlah sulit-sulit sekali. Asal saja penegak hukum bersungguh-sungguh untuk menegakkan aturan yang ada di Pasar Modal, dalam artian mempunyai political will, integritas dan komitmen yang kuat untuk menegakkan aturan yang ada. Penggunaan upaya “penal” (Sanksi/hukum pidana) dalam mengatur masyarakat melalui Peraturan Perundang-undangan pada hakekatnya merupakan bagian dari satu langkah kebijakan (policy). Mengingat berbagai keterbatasan dan kelemahan hukum pidana, maka dilihat dari sudut kebijakan, penggunaan atau intervensi “penal” seharusnya dilakukan dengan hati-hati, cermat hemat, selektif dan limitatif.110
Tentunya pertumbuhan Pasar Modal perlu didukung oleh sistem dan mekanisme yang berpijak pada aturan main yang jelas. Rule of Game harus direfleksikan kedalam bentuk ketentuan hukum yang mengatur gerak dan langkah pelaku dalam menjalankan aktivitas Pasar Modal. Setiap pelaku pasar, atau mereka yang menundukkan diri kepada ketentuan yang berlaku di Pasar Modal, diperkenankan menciptakan atau melakukan berbagai metode dan strategi
110
Barda Nawawi Arief, Beberapa Aspek Kebijakan Penegakan dan Pengembangan
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
investasi. Kebebasan dalam menjalankan aktivitas di Pasar Modal tentunya perlu dan bahkan harus dibatasi oleh rambu-rambu hukum dan tata cara yang ditentukan oleh perangkat Perundang-undangan serta ketentuan pelaksana lainnya.111
111
M.S. Tumanggor, Kajian Hukum Atas Insider Ttrading Di Pasar Modal Suatu
Antisipasi Terhadap Pengembangan Ekonomi Indonesia,
Bila terdapat pelanggaran, konsekuensinya akan berhadapan dengan sanksi hukum susuai dengan jenis dan kualitas pelanggaran. Upaya untuk melakukan penegakan hukum harus berlangsung secara konsisten dengan tetap memperhatikan kepentingan perkembangan Pasar Modal itu sendiri. Badan Pengawas Pasar Modal (Bapepam) berdasarkan Undang-Undang No. 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal memiliki kewenangan yang sangat besar untuk melakukan pembinaan, pengaturan dan pengawasan kepada industri Pasar Modal diharapkan mampu menjalankan fungsinya sesuai dengan yang diamanatkan oleh Undang-Undang Pasar Modal.
Memang harus diakui bahwa tindak pidana di bidang Pasar Modal tidak mudah untuk ditemukan, apalagi untuk diselesaikan. Oleh karenanya perlunya adanya payung hukum yang jelas dan adaya suatu pertimbangan suatu harmonnisasi ketentuan hukum yang ada dengan perkembangan akan hukum itu sendiri agar kegiatan di Pasar Modal dapat berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan oleh orang-orang yang bergerak dalam bisnis Pasar Modal. Hal tersebut dapat dimungkinkan mengingat bahwa sistem hukum terus berubah.
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
Dalam rangka meningkatkan penegakan hukum di bidang Pasar Modal, regulator mempertimbangkan untuk menerapkan konsep civil remedy. Dimana dalam konsep civil remedy ini, regulator menetapkan sanksi kepada pihak yang melakukan pelanggaran Peraturan Perundang-undangan untuk membayar semua kerugian pada pihak yang dirugikan. Konsep ini telah mulai diterapkan oleh banyak negara mengingat konsep ini telah mulai dinilai efektif sebagai efek jera. Namun terlepas dari penerapan konsep civil remedy tersebut, di Indonesia bentuk dan besaran sanksi bagi pelaku kejahatan dan pelanggaran di Pasar Modal telah diatur secara jelas dalam Undang-Undang yang mengatur mengenai Pasar Modal.
Namun bentuk dan besaran sanksi yang diatur dan diterapkan selama ini dinilai masih terlalu kecil dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh oleh pelaku maupun kerugian yang diderita oleh masyarakat atau investor. Oleh karena itu, dengan tetap menaati sistem hukum yang berlaku, bentuk dan besaran sanksi yang diberikan dalam suatu proses penegakan hukum perlu diarahkan kepada suatu sanksi yang lebih dapat memberikan efek jera.
Saat ini Bapepam, berdasarkan Undang-Undang Pasar Modal, memiliki kewenangan untuk mempertimbangkan konsekuensi dari pelanggaran yang terjadi dan wewenang untuk meneruskannya ke tahap penyidikan berdasarkan pertimbangan jenis, modus operandi dan kerugian yang ditimbulkannya. Untuk itu, Bapepam akan mengkaji ketentuan yang berkaitan dengan sanksi administrasi dan sanksi pidana dalam Uudang-Undang Pasar Modal yang selanjutnya diterapkan sebagai upaya peningkatan penegakan hukum di bidang Pasar Modal.
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
Pelanggaran dan kejahatan Pasar Modal pada umumnya bersifat multidimensi sehingga tidak dapat ditangani hanya oleh penegak hukum dari Bapepam. Peningkatan kerjasama yang efektif perlu dilakukan dengan penegak hukum lainnya dalam suatu rangkaian sistem peradilan pidana baik dengan kepolisian, kejaksaan, pengadilan maupun penegak hukum lainnya. Kerjasama yang harmonis, serta komitmen dan integritas seluruh penegak hukum menjadi prasyarat bagi tegaknya hukum di Pasar Modal.
Disamping itu, dalam rangka mengurangi dan memerangi kejahatan di Pasar Modal diperlukan peningkatan kerjasama yang efektif dengan regulator Pasar Modal dan sektor keuangan lainnya baik di dalam maupun di luar negeri. Kerjasama tersebut diharapkan dapat meminimalkan faktor-faktor penghambat dalam memerangi tindak pidana.
Adapun jenis-jenis sanksi yang terdapat dalam Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal sebagaimana dijelaskan dalam beberapa Pasalnya yaitu adalah sebagai berikut :
1. Penerapan Sanksi Pidana di Pasar Modal
Salah satu kelebihan Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995 dibandingkan dengan undang-undang Pasar Modal sebelumnya, yaitu Undang-Undang No. 15 Tahun 1952 adalah pengenaan sanksi yang lebih beragam dengan ancaman hukuman yang lebih berat. Langkah yang diambil oleh Undang-undang No. 8 Tahun 1995 ini sangat penting artinya dalam hal dapat lebih menegakkan hukum di Pasar Modal ini.
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
Yakni agar para pelaku pidana dapat lebih jera. Walaupun faktor hukuman ini bukanlah jaminan satu-satunya agar di hukum Pasar Modal dapat tegak. Masih banyak faktor lain, seperti aplikasinya ke dalam praktek hukum, faktor penegak hukum, dan lain-lain sebagainya.
Seperti juga tindak pidana secara umum yang berdasarkan kepada KUHAP, maka Undang-Undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, vide Pasal 103 sampai dengan Pasal 110, juga mengkategorikan tindak pidana kedalam dua bagian, yaitu (1) tindak pidana kejahatan, dan (2) tindak pidana pelanggaran.112
3. Membuat pernyataan tidak benar mengenai fakta yang material atau tidak menggunakan fakta yang material agar pernyataan Apabila dilihat dari beratnya ancaman hukumannya, maka ke dalam golongan tindakan pidana di Pasar Modal (kejahatan maupun pelanggaran) kita ketemukan kategori sebagai berikut:
Kejahatan dengan Ancaman Hukuman maksimum 10 (sepuluh) tahun Penjara dan Denda Maksimum 15 (Lima belas) Miliar Rupiah.
Ancaman maksimum 10 (sepuluh) tahun penjara dan denda maksimum Rp15.000.000.000,- (Lima belas miliar Rupiah) ini dikenakan kepada kejahatan-kejahatan di bidang Pasar Modal sebagai berikut:
a. Barangsiapa secara langsung baik tidak langsung:
1. Menipu atau mengelabui pihak lain dengan menggunakan; Sarana atau cara apapun;
2. Turut serta menipu atau mengelabui orang lain; dan
112
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
yang dibuat tidak menyesatkan mengenai keadaan yang terjadi pada saat pernyataan dibuat dengan maksud untuk menguntungkan atau, menghindarkan kerugian diri sendiri atau pihak lain atau dengan tujuan mempengaruhi pihak lain. b. Barangsiapa melakukan tindakan, baik langsung maupun tidak
langgsung, dengan tujuan untuk menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di Bursa Efek;
c Barangsiapa baik sendiri-sendiri maupun bersama-sama dengan pihak lain, dilarang melakukan 2 (dua) transaksi efek atau lebih langsung maupun tidak langsung, sehingga menyebabkan harga efek di bursa efek tetap, naik, atau turun dengan tujuan mempengaruhi pihak lain untuk membeli, menjual, atau menahan efek;
a. Barangsiapa dengan cara apapun membuat pernyataan atau memberikan keterangan yang secara materi tidak benar atau menyesatkan sehingga mempengaruhi harga efek di Bursa Efek pada saat pernyataan dibuat atau keterangan diberikan.
1. Dia mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa pernyataan atau keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan, atau
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
2. Pihak yang bersangkutan tidak cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran materil dari pernyataan atau keterangan tersebut.
b. Barangsiapa yang merupakan orang dalam dari emiten atau perusahaan publik yang mempunyai informasi orang dalam melakuakan pembelian atau penjualan atas efek:
1. Emiten atau perusahaan publik dimaksud, atau
2. Perusahaan lain yang melakukan transaksi dengan emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan.
c. Barangsiapa yang merupakan orang dalam dari emiten atau perusahaan publik yang mempunyai informasi orang dalam tersebut:
1. Mempengaruhi pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek yang dimaksud, atau
2. Memberi informasi orang dalam kepada pihak manapun yang patut diduganya dapat menggunakan informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek
d. Barangsiapa yang berusaha untuk meperoleh informasi orang dalam dari orang dalam secara melawan hukum (misalnya secara mencuri, membujuk, atau dengan memakai kekerasan atau ancaman) dan diperolehnya, kemudian:
1. Melakukan pembelian atau penjualan di bursa efek emiten, atau perusahan publik yang dimaksud, ataupun perusahaan
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
lain yang melakukan transaksi dengan emiten atau perusahaan publik yang bersangkutan, atau
2. Mempengaruhi pihak lain untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek dimaksud, atau memberi informasi orang dalam kepada pihak manapun yang patut diduganya dapat mengunakan informasi dimaksud untuk melakukan pembelian atau penjualan atas efek.
e. Perusahaan efek yang memiliki informasi orang dalam mengenai emiten atau perusahaan publik melakukan transaksi efek emiten atau perusahaan publik dimaksud, kecuali apabila:
1. Transaksi tersebut dilakukan bukan atas tanggungannya sendiri, tetapi atas perintah nasabahnya; dan
2. Perusahahan efek tersebut tidak memberikan rekomendasi kepada nasabahnya mengenai efek yang bersangkutan.
f. Barangsiapa yang melakukan pelanggaran terhadap ketentuan bahwa yang dapat melakukan penawaran umum hanyalah emiten yang telah menyampaikan pernyataan pendaftaran kepada Bapepam untuk menawarkan atau menjual efek kepada masyarakat dan pernyataan pendaftaran tersebut telah efektif, kecuali dalam hal-hal yang dimaksud dalam Pasal 70 ayat (2) undang-undang Pasar Modal.
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
Berdasarkan ketentuan Pidana tersebut, maka terhadap Pelanggaran
insider trading akan dikenakan ketentuan yang berlaku dalam Pasal 104
Undang-Undang Pasar Modal, yaitu dengan ancaman pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling banyak Rp. 15.000.000.000,- (lima belas miliar Rupiah).
2. Penerapan Sanksi Administratif di Pasar Modal
Selain dari sanksi pidana dan perdata, hukum Pasar Modal mengintrodusir juga sanksi-sanksi lain, yakni dalam kelompok yang disebut Sanksi Administratif. Pihak yang mempunyai wewenang untuk menjatuhkan sanksi administratif terhadap pelanggaran hukum di bidang Pasar Modal adalah Bapepam, karena oleh Undang-undang Pasar Modal No. 8 Tahun 1995, vide Pasal 102, telah diberikan kewenangan tersebut.
Sementara itu, pihak yang dapat dijatuhi sanksi administratif tersebut adalah: 113
(1) Pihak yang memperoleh izin dari Bapepam;
(2) Pihak yang memperoleh persetujuan dari Bapepam; dan (3) Pihak yang melakukan pendaftaran kepada Bapepam.
Sementara itu, sanksi administratif yang dapat dijatuhkan oleh Bapepam adalah sebagai berikut:114
(1) Peringatan tertulis;
(2) Denda pembayaran sejumlah uang tertentu (bukan denda pidana); (3) Pembatasan kegiatan usaha;
113
Ibid, hal. 143. 114
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
(4) Pembekuan kegiatan usaha; (5) Pencabutan izin usaha; (6) Pembatalan persetujuan; (7) Pembatalan pendaftaran.
Sedangkan PP No. 45 Tahun 1995 memperinci tentang hukuman denda administrasi, yaitu terdiri dari empat kategori sebagai berikut:115
(1) Denda Rp. 500.000,- (lima ratus ribu Rupiah) perhari dengan maksimum Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta Rupiah);
(2) Denda Rp. 100.000,- (seratus ribu Rupiah) perhari dengan maksimum Rp. 100.000.000,- (seratus juta Rupiah);
(3) Denda maksimum Rp. 500.000.000,- (lima ratus juta Rupiah); (4) Denda maksimum Rp. 100.000.000,- (seratus juta Rupiah).
Jika dilihat, dari jenis sanksi yang terdapat dalam tindak pidana Pasar Modal, dimana terdapat sanksi pidana dan sanksi administratif, jika kita melihat adanya dua jenis hukuman tersebut, berarti Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 Tentang Pasar Modal dalam pemidanaannya menganut Double Track System, yaitu sistem dua jalur mengenai sanksi pidana, yakni jenis sanksi pidana di satu pihak dan jenis sanksi tindakan di pihak lain.116
Dimana keduanya bersumber dari ide dasar yang berbeda, sanksi pidana bersumber pada dasar “mengapa diadakan pemidanaan” sedangkan sanksi tindakan dari ide dasar “untuk apa diadakan pemidanaan itu”. Jelaslah bahwa sanksi pidana lebih menekankan unsur pembalasan, sedangkan sanksi tindakan
115
Ibid, hal.145. 116
M. Sholehuddin, Sistem Sanksi Dalam Hukum Pidana, (Jakarta : PT. Raja Grafindo Persada, 2004), hal. 17.
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
bersumber dari ide dasar perlindungan masyarakat dan pembinaan atau perawatan si pembuat.
Berbicara tentang Double Track System bermakna berbicara tentang gagasan dasar mengenai sistem sanksi yang menjadi dasar kebijakan dan penggunaan sanksi dalam hukum pidana. Dengan perkataan lain, sanksi pidana sesungguhnya bersifat reaktif terhadap suatu perbuatan, sedangkan sanksi tindakan lebih bersifat antisipatif terhadap pelaku perbuatan tersebut. Dimana fokus sanksi pidana ditujukan pada perbuatan salah yang dilakukan seseorang melalui pengenaan penderitaan agar yang bersangkutan menjadi jera, sedangkan fokus sanksi tindakan lebih terarah pada upaya memberi pertolongan pada pelaku agar ia berubah.
Dengan sistem dua jalur ini (Double Track System), maka membuka peluang bagi di fungsikannya sanksi-sanksi yang bersifat retributif dan teleologis secara seimbang dan proporsional.117 Double Track System ini juga dimuat dalam KUHP yang merupakan peninggalan Belanda. Selain pidana yang bersifat penderitaan, dalam hal-hal tertentu dan dengan syarat-syarat tertentu dapat diterapkan tindakan.118
Namun setelah perhatikan lagi, didalamnya Undang-Undang Nomor 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal pada dasarnya bentuk penerapan sanksi yang dianut adalah Single Track System, yaitu suatu sistem pemidanaan atau sistem sanksi yang hanya menyebutkan hanya sanksi pidana saja, Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) telah menetapkan jenis-jenis pidana sebagaimana yang
117
Ibid. hal. 19. 118
Niniek Suparni, Eksistensi Pidana Denda Dalam Sistem Pidana dan Pemidanaan¸ (Jakarta : Sinar Grafika, 1993), hal. 13.
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
termaktub dalam Pasal 10, diatur 2 (dua) jenis pidana, pidana pokok dan pidana tambahan.119
a. Pidana Pokok :
Adapun jenis-jenis sanksi pidana menurut Pasal 10 KUHP ialah sebagai berikut : 1. Pidana Mati; 2. Pidana Penjara; 3. Pidana Kurungan; 4. Pidana Denda; b. Pidana Tambahan :
1. Pencabutan Hak-hak tertentu; 2. Perampasan barang-barang tertentu; 3. Pengumuman keputusan hakim.
Meskipun suatu hukuman dapat dibedakan dengan suatu pidana, namun keduanya mempunyai sifat yang sama, yaitu keduanya berlatar tata nilai (value) dalam masyarakat, mengenai baik dan tidak baik, bersusila atau tidak bersusila, diperbolehkan atau dilarang.120
Memang dijelaskan dalam Undang-Undang tersebut terdapat sanksi pidana pada Pasal 103 -110 dan sanksi administratif pada Pasal 102 Undang-Undang tentang Pasar Modal, dan dengan adanya penerapan dua sanksi itu dapatlah menggambarkan bahwa sistem yang dianut adalah sistem dua jalur, namun pada dasarnya sistem yang dianut hanyalah sistem dengan satu jalur,
119
Bambang Waluyo, Pidana dan Pemidanaan, (Jakarta : Sinar Grafika, 2004), hal. 10. 120
Andi Hamzah, Sistem Pidana dan Pemidanaan Indonesia, (Jakarta : PT. Pradnya Paramita, 1993), hal. 4.
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
meskipun dijelaskan ada sanksi tindakan berupa sanksi administratif, tetapi Pasal ini tidak dapat diintegrasikan dalam pertanggungjawaban pidana, karena sanksi administratif ini hanya dapat dijatuhkan oleh Bapepam.121
Walaupun dengan demikian, adanya pengenaan sanksi pidana maupun sanksi tindakan, pada dasarnya pengenaan sanksi yang diberikan, baik itu berupa sanksi pidana maupun sanksi tindakan berupa sanksi admnistratif, merupakan suatu wujud yang konkret untuk memberikan suatu efek jera maupun shock therapy bagi para pelaku tindak pidana khususnya di bidang Pasar Modal, yang bertujuan untuk pembalasan atau untuk memuaskan pihak yang dendam baik masyarakat sendiri maupun pihak yang dirugikan atau menjadi korban.
122
Jadi efektivitas pemidanaan dapat diartikan sebagai tingkat dimana telah tercapainya tujuan yang ingin dicapai dengan adanya pemidanaan. Suatu pemidanaan dapat dikatakan efektif apabila tujuan yang ingin dicapai dengan adanya pemidanan itu tercapai.
Sehingga dengan demikian, penerapan sanksi-sanksi tersebut diharapkan akan mampu memberikan andil yang besar dalam rangka mewujudkan masyarakat, yang aman bebas dari adanya tindak pidana.
123
121
Barda Nawawi Arief, Kapita Selekta Hukum Pidana, Op. , Cit, hal. 21. 122
Andi Hamzah, Op. , Cit, hal. 24. 123
M. Budi Ibrahim : Tinjauan Juridis Atas Tindak Pidana Pasar Modal, 2007. USU Repository © 2009
BAB V