• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG VARIASI BAHASA,

2.3 Campur Kode

2.3.3 Bentuk Campur Kode

Berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, Suwito dalam skripsi “Analisis Campur Kode pada komik “Gals! Jilid 1” Karya Mihona Fujii” (2014:9) membedakan campur kode menjadi beberapa macam, antara lain sebgai berikut :

1. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata

Kata adalah satuan bebas paling kecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti. Gorys Keraf dalam Harimusti Kridalaksana (1990:25) membagi kata atas empat bagian yaitu kata nomina, verba, adjektiva dan kata tugas (kata tugas terdiri dari: preposisi, konjungsi, artikula, kata seru dan adverbial).

2. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa

Frasa adalah satuan gramatik yang terdiri dari dua kata atau lebih yang tidak melampaui batas fungsi unsur klausa, Ramlan (1995:151). Berdasarkan jenis dan kategori, frasa dibagi menjadi, frasa nominal, frasa verbal, frasa adjektival, frasa adverbial dan frasa preposisi.

3. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud bentuk baster

Menurut Suwito (1985:76). baster merupakan hasil perpaduan dua unsur bahasa yang berbeda, membentuk satu makna. Baster adalah bentuk yang tidak asli, artinya bentuk ini terjadi karena perpaduan antara afiksasi bahasa Indonesia dengan unsur-unsur bahasa dari bahasa lain, atau sebaliknya afiksasi dari bahasa lain yang dipadukan dengan unsur-unsur bahasa dari

bahasa Indonesia. (https://sastrapuisi.wordpress.com/2011/12/11/kode-alih- kode-dan-campur-kode-disusun-untuk-disajikan-dalam-diskusi-mata-kuliah-sosiolinguistik-dosen-pengampu-prof-fathurahman-dan-dr-ida-zulaida/ )

4. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud pengulangan kata

Penyisipan unsur-unsur yang berwujud pengulangan kata memiliki arti yaitu suatu penyisipan unsur dari bahasa asing yang kemudian digunakan secara berulang-ulang lalu menjadi suatu kata atau bahasa inti yang berbeda dari bahasa awalnya. Dalam hal ini perulangan bahasa asing yang kemudian menjadi kata atau bahasa inti bahasa Jepang.

5. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud ungkapan atau idiom

Menurut Alwasih (1993:165), idiom adalah grup kata-kata yang mempunyai arti tersendiri yang berbeda dari makna tiap kata dalam grup itu, idiom juga tidak bisa diterjemahkan ke dalam bahasa asing.

6. Penyisipan unsur-unsur yang berwujud klausa

Menurut Ramlan (1995:89) klausa adalah satuan gramatik yang terdiri dari subjek dan predikat baik disertai objek, pelengkap dan keterangan ataupun tidak.

2.3.4 Faktor Penyebab Campur Kode

Nababan (1991:32) mengatakan bahwa faktor-faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode yaitu :

1. Faktor kesantaian (situasi informal),

2. Faktor kebiasaaan,

3. Faktor tidak adanya ungkapan yang tepat dalam bahasa yang

digunakan,

4. Faktor penutur ingin memamerkan “keterpelajarannya” dan/atau

“kedudukannya”.

Keempat hal tersebut hampir serupa dengan yang diungkapkan oleh Weinreich (1963) dalam skripsi Maulidini (2007:69) yang kemudian penulis kutip dan tinjau kembali. Weinreich menjelaskan mengapa seseorang harus meminjam kata-kata dari bahasa lain. Hal ini pada dasarnya memiliki dua faktor yaitu faktor internal dan faktor eksternal.

a. Faktor Internal

Faktor ini menunjukan bahwa sesorang meminjam kata dari bahasa lain karena dorongan yang ada dalam dirinya. Adapun faktor tersebut meliputi tiga macam yaitu:

1. Low Frequency of Word (Kata dengan Tingkat Penggunaan yang Rendah)

Hal ini berkaitan dengan bagaimana posisi suatu kata berada di dalam masyarakat, apakah masuk ke dalam tingkat penggunaan yang tinggi atau rendah. Seseorang melakukan campur kode karena kata-kata

Seseorang tersebut pun akan cenderung memilih untuk menggunakan kata yang umum atau populer meskipun bukan dari bahasanya sendiri ketimbang menggunakan kata-kata dari bahasa aslinya sendiri yang tidak umum digunakan.

Contoh : “Ini adalah case Samsung S8 versi terbaru”

Kata case di atas memiliki arti sarung yang melindungi telepon genggam dari lecet dan kerusakan. Ada pula masyarakat yang menyebutnya dengan casing. Kalimat di atas timbul dari istilah-istilah pada handphone yang banyak mengandung istilah dari bahasa Inggris.

Dengan demikian peminjaman kata dari bahasa lain bertujuan untuk menghindari pemakaian kata yang jarang didengar orang. Atau dengan kata lain menggunakan kata yang biasanya dipakai sehingga lawan tutur mudah memahami makna yang ingin disampikan penutur.

2. Pernicious Homonymy (Kehomoniman yang Buruk)

Homonim yang merupakan kata-kata yang berbunyi sama namun memiliki makna yang berbedaadang dapat menyebabkan kerancuan atau keambiguan dan juga konotasi buruk. Maksudnya adakalanya jika penutur menggunakan kata daam bahasanya sendiri, maka kata tersebut dapat menimbulkan masalah homonim yaitu makna ambigu. Sehingga untuk menghindari keambiguan makna penutur menggunakan kata dari bahasa lain.

3. Need for Synonim (Kebutuhan untuk Sinonim)

Seorang penutur sengaja menggunkan kata dari bahasa lain yang bersinonim dengan bahasa penutur dengan tujuan untuk menghaluskan ungkapan dan menyelamatkan muka lawan tutur.

b. Faktor Eksternal

Faktor eksternal adalah suatu dorongan yang berasal dari luar penutur, yang menyebabkan penutur meminjam kata dari bahasa lain. Terdapat empat faktor eksternal yaitu:

1. Perkembangan atau perkenalan dengan budaya baru.

Faktor ini terjadi karena adanya perkembangan budaya baru misalnya perkembangan teknologi di Indonesia, mau tidak mau orang Indonesia banyak menggunakan bahasa Inggris karena banyak sekali alat-alat teknologi yang berasal dari negara asing. Atau pemakaian bahasa Jawa oleh para mahasiswa yang notabene tidak berasal dari Jawa.

2. In Sufficiently Differentiated (Kurangnya Pembedaan)

Penutur mencampurkan kata atau istilah bahasa lain atau bahasa daerah ke dalam bahasa sendiri, karena kata atau istilah tersebut lebih cocok atau mengena daripada kata atau istilah dalam bahasa aslinya sendiri. Menunjukkan makna tertentu yang memiliki maksud tertentu misalnya karena kebiasaan.

3. Social Value (Nilai Sosial)

Penutur mengambil kata dari bahasa lain dengan mempertimbangkan faktor sosial, sehingga diharapkan dengan penggunaan kata-kata tersebut dapat menunjukan status sosial dari penutur.

Contoh : “Total semua payment yang harus dibayar kali ini biar saya yang

bayar, ya.”

Dalam hal ini payment berarti pembayaran dan biasa digunakan oleh kalangan menengah ke atas.

4. Oversight (Kealpaan)

Maksudnya ada keterbatasan kata-kata yang dimiliki oleh bahasa penutur dalam kaitannya dengan topik yang disampaikan sehingga penutur harus mengambil kata dari bahasa lain. Contohnya terbatasnya kata dalam bidang kedokteran dalam bahasa Indonesia maka banyak istilah kedokteran yang dimabil dari bahasa latin yang mempunyai istilah yang tepat dalam bidang kedokteran.

Contoh : “Kata Dokter, ia mengidap kanker serviks stadium awal”‟

2.4 Sinopsis Komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya

Komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya ini menceritakan tentang Shinichi Chiaki yang merupakan mahasiswa Akademi Musik Momogaoka yang sangat berbakat. Shinichi adalah putra dari pianis ternama bernama Chiaki Masayuki. Meskipun ia masuk di Jurusan Piano, namun

ia sebenarnya memiliki cita-cita menjadi konduktor. Ia lalu bertemu dengan Megumi Noda atau sering disapa dengan Nodame, merupakan gadis sederhana yang sangat mencintai piano, namun meskipun begitu, ia tidak bisa membaca partitur dan belum serius dalam bermusik. Belakangan Chiaki lah yang membuka matanya untuk masuk kedunia musik yang sesungguhnya. Berkat keahlian mereka berdua, akhirnya pun mereka memiliki kesempatan untuk melanjutkan proses belajarnya ke Perancis.

Pada pembahasan dalam penelitian ini, komik Nodame Cantabile Jilid 10 mengangkat kisah saat kedua tokoh utama dan teman-temannya yang baru saja pindah ke negara Perancis. Setting cerita yang diambil di Perancis menimbulkan banyak bermunculan campur kode berbahasa asing Inggris maupun Perancis dalam komik tersebut.

BAB III

ANALISIS CAMPUR KODE PADA KOMIK NODAME CANTABILE JILID 10 KARYA TOMOKO NINOMIYA

Pada penelitian ini, sesuai dengan ruang lingkup pembahasan yang telah dipaparkan sebelumnya, penelitian ini berfokus pada komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya. Berdasarkan penelitian yang telah penulis lakukan, telah ditemukan bentuk campur kode yang terdapat dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya berdasarkan unsur-unsur kebahasaan yang terlibat di dalamnya, yaitu adanya penyisipan unsur-unsur kebahasaan.

Menurut Suwito dalam skripsi “Analisis Campur Kode pada komik “Gals!

Jilid 1” Karya Mihona Fujii” (2014:9), ia membedakan bentuk campur kode menjadi 6 bentuk yaitu penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata, frasa, baster, perulangan kata, ungkapan atau idiom dan berwujud klausa. Namun, pada penelitian ini beberapa bentuk campur kode yang ditemukan adalah penyisipan unsur-unsur yang berwujud kata (terdiri atas kata nomina, verba dan adjektiva), penyisipan unsur-unsur yang berwujud frasa dan penyisipan unsur-unsur yang berwujud baster. Untuk penyisipan unsur-unsur yang berwujud perulangan kata, idiom dan klausa tidak ditemukan dalam penelitian ini.

Pada bentuk penyisipan unsur-unsur tersebut juga tidak hanya melibatkan unsur sosiolinguistik yaitu campur kode saja, namun dikarenakan terdapat

juga erat hubungannya dengan ilmu Morfologi atau ilmu bentuk kata adalah cabang linguistik yang mengidentifikasi satuan-satuan dasar bahasa sebagai satuan gramatikal. Morfologi mempelajari seluk-beluk bentuk kata serta pengaruh perubahan-perubahan bentuk kata terhadap golongan dan arti kata.

(https://id.wikipedia.org/wiki/Morfologi_(linguistik)).

Berikut di bawah ini adalah analisis penyisipan unsur-unsur campur kode pada komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya.

3.1 Penyisipan Unsur-unsur Berbentuk Kata

Kata adalah satuan bebas paling kecil yang dapat berdiri sendiri dan mempunyai arti. Jenis-jenis kata yang terdapat dalam komik Nodame Cantabile Jilid 10 Karya Tomoko Ninomiya ini yaitu kata nomina, verba dan adjektiva.

Berikut di bawah ini tabel analisis cuplikan percakapan yang disisipi unsur-unsur berwujud kata tersebut.

1. Bentuk Nomina

Tabel Campur Kode Bentuk Nomina

No Data Campur Kode Wujud

(Nodame Cantabile Jilid

てくださいよ~

10 hal 93)

10 フ ラ ンク :今 年は プ

リ ゴ ご ろ 太の ショ ー もやるんだよ!

(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 95)

ショー Nomina Frank : Tahun ini juga menampilkan pertunjukkan Purigorota, lho!

Analisis 1

学生1:坪井先輩ステキ~

Murid 1 : Kak Tsuboi hebat, ya~

学生2:マラドーナ∙コンクールで4位だったんだよねー

Murid 2 : Mendapat peringkat 4 di Kompetisi Maradona, lho.

学生1:オレ見に行った~~

うちの学校で他にもすごい先輩いたんだよ!野田っていう女の

人!!4年生らしいんだけど。。。

Murid 1 : Aku sudah pergi melihatnya~~

Ada senior hebat juga di sekolah lain dari sekolah kita! Perempuan

yang bernama Nodame!! Tapi sepertinya dia murid tahun ke 4.

学生2:あ~私もその噂聞いた!なんか強烈なインパクトだったっていう。

Murid 2 : Ah, saya juga mendengar kabar itu! Ada suatu dampak yang kuat.

(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 13)

Pada cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “インパクト”, yang merupakan kata bahasa Inggris berjenis nomina yang menyisip ke dalam tuturan bahasa Jepang dan dalam bahasa Indonesia memiliki makna „dampak‟ atau „akibat‟. Dalam tuturan ini kata impact disini bermakna dampak. Dalam bahasa Jepang, padanan kata yang cocok dengan kata impact adalah 影響(えいきょう)yang bermakna sama yaitu „dampak‟ atau „akibat‟.

Situasi yang melatarbelakangi terjadinya percakapan ini adalah adanya situasi santai atau informal yang dilakukan oleh dua orang murid di Akademi Musik Momogaoka. Mereka berdua tengah melihat sesi latihan dari senior mereka yang bernama Tsuboi. Oleh karena mereka saling akrab dan mengenal satu sama lain, maka mereka pun saling menggunakan ragam bahasa santai. Hal ini sama seperti pendapat yang dikemukakan oleh Nababan (1991:32), ia mengatakan bahwa campur kode adalah suatu keadaan berbahasa apabila orang mencampur dua atau lebih bahasa atau ragam bahasa dalam suatu tindak bahasa (speech act atau discourse) tanpa ada sesuatu dalam situasi berbahasa itu yang menuntut pencampuran bahasa tersebut, dalam keadaaan demikian, hanya kesantaian penutur atau kebiasaannya yang dituruti.

Pada konteks percakapan ini, penutur melakukan campur kode dengan memasukkan kata „impact‟ ke dalam percakapan bahasa Jepangnya dikarenakan

situasi mereka yang sedang menikmati musik dan cenderung sedang bersantai tanpa adanya tekanan. Ditambah lagi kata yang diucapkan oleh penutur cenderung lebih memadai dan terlihat keren dan populer apabila digunakan dibanding padanan kata yang lain.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa penyisipan unsur campur kode pada analisis 1 terjadi karena adanya faktor ragam kesantaian antara penutur dan petutur, dan juga adanya faktor padanan kata asing yang lebih memadai dan populer.

Analisis 2

のだめ :ヴィエラ先生に会わなくていいんですか?楽屋に行けば入れて

もらえるんじゃ。。。

Nodame : Kenapa tidak bertemu dengan guru Vierra, bukankah bagus? Kalau

pergi ke ruang ganti, akan dipersilakan masuk...

千秋 :いいんだまだ会わなくて。会っても。。。すぐ弟子にしてもら

えるなんて思ってないし、オレまずは指揮者コンクールに出て、

自分の力を試す!

Chiaki : Bagus kalau belum bertemu. Meskipun bertemu... Saya pikir saya

tidak akan langsung dijadikan sebagai murid, saya pertama-tama akan mengikuti kompetisi dirijen dan menguji kemampuan saya sendiri!

(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 32)

Pada cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “コンクール” (concours) yaitu sebuah kata bahasa Inggris berjenis nomina yang menyisip ke dalam tuturan bahasa Jepang dan dalam bahasa Indonesia memiliki makna „kompetisi‟. Dalam bahasa Jepang, padanan kata yang cocok dengan kata concours adalah 競争(きょうそう)yang bermakna sama yaitu

„kompetisi‟.

Situasi yang melatarbelakangi terjadinya percakapan ini adalah ketika sang penutur dan lawan bicaranya sedang berada di Prancis dan baru saja melihat penampilan dari seorang yang dikagumi oleh tokoh Chiaki, lalu mereka terlihat sedang membicarakan suatu hal. Kata concours yang berarti kompetisi ini digunakan karena faktor kebiasaan dari pemusik sepeti mereka dalam mengatakan suatu istilah padanan kata. Berdasarkan hasil penelitian penulis pada komik ini, istilah ini lebih sering dipakai di dunia permusikan sepanjang komik tersebut.

Bagi keduanya yaitu penutur dan petutur yang sama-sama mampu memahami dua bahasa terkhusus dalam istilah musik seperti ini bukanlah hal yang baru lagi.

Seperti menurut Nababan (1991:32), yang mengatakan bahwa situasi yang menuntut pencampuran bahasa yaitu adanya kesantaian penutur dan kebiasaan yang dituruti.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyisipan unsur campur kode pada analisis 2 terjadi karena adanya faktor kebiasaan yang dituruti oleh segenap pemusik yang mampu memahami istilah kedwibahasaan dalam dunia permusikan.

Analisis 3

Chiaki : Apa itu?

のだめ:かたつむり。。。?

Nodame : Siput...?

千秋 :こんなの頼んだ?

Chiaki : Apakah saya memesan (makanan) semacam ini?

店員 :はい、先ほど

マドモアゼル

が、タルタルステーキがなかったので

かわりに

Pelayan : Ya, Nyonya yang (memesan) sebelumnya, karena steak tartar tidak ada,

maka saya (menyarankan) untuk mengganti.

(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 35)

Berdasarkan cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “

マドモアゼル

”. Kata yang telah menyisip kedalam bahasa Jepang tersebut berasal dari bahasa Prancis yaitu Mademoiselle yang berarti Nyonya.

Dalam bahasa Jepang, padanan kata yang cocok dengan kata ini adalah 様(さ ま)‟sama‟ atau さん‟san‟ yang bermakna „tuan‟ atau „nyonya‟ sesuai dengan nama yang mengikutinya.

Situasi yang melatarbelakangi terjadinya percakapan ini adalah situasi yang cenderung lebih sedikit formal, hal tersebut karena kedua tokoh utama terlihat sedang berada di suatu restoran berbintang terbaik yang ada di kota Paris

tersebut, dan mereka berdua mulai melakukan interaksi dengan sang pelayan, lalu muncullah kata ini yang disisipkan oleh penulis komik tersebut dan diucapkan oleh seorang pelayan di restoran Prancis tersebut. Dengan kata lain, campur kode bisa saja terjadi saat situasi agak formal, seperti yang dikatakan oleh Nababan (1991:32) yaitu dalam situasi berbahasa yang formal jarang terdapat campur kode, kalau terdapat, hal itu disebabkan karena tidak ada ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai itu, sehingga perlu memakai kata atau ungkapan dari bahasa asing.

Pada awalnya situasi bahasa yang digunakan antara Pemeran utama dengan pelayan adalah bahasa Prancis, namun sang penulis komik ini mengubah bahasa yang dituangkan pada komik menjadi bahasa Jepang agar lebih mudah untuk dibaca. Namun sang penulis menyisipkan istilah Prancis pula ke kalimat pelayan. Hal ini didasari agar jati diri pelayan yang seorang warga Prancis asli tidak hilang. Sesuai dengan pendapat sebelumnya, bahwasanya yaitu sang penulis berusaha menemukan kata yang tepat dalam bahasa Prancis tersebut yang kemudian diubah ke bahasa Jepang, dengan cara tetap menyisipkan satu kata dalam padanan yang pas dari bahasa Prancis ke bahasa Jepang.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyisipan unsur campur kode pada analisis 2 terjadi karena suasana yang agak cenderung formal namun disebabkan oleh sang penulis komik yang memiliki tujuan untuk menyisipkan padanan kata yang pas dalam bahasa yang sedang digunakan oleh karakter asing tersebut dan ditambah lagi karena tidak adanya ungkapan yang tepat dalam bahasa yang sedang dipakai.

Analisis 4

ターニャ:マダム∙セイコの息子でしょ!?お金持ちね~

ねぇねぇ、ちょっと見に行かな~~い。。。

Tania : Anaknya Ibu Seiko ya!? Sepertinya kaya ya~

Hey Hey, tidakkah kau mau untuk melihat-lihat sedikit...

フランク:ターニャ。。。まだ君は

Frank : Tania... Kau mulai lagi,

ターニャ:いいじゃなーい!ココはアムールの国なんでしょ?!

Tania : Tidakkah bagus! Disini adalah negara cinta, kan?!

(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 53)

Berdasarkan cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “アムール” yang merupakan kata dari bahasa Prancis yaitu Amour berarti „cinta‟ dan menyisip kedalam bahasa Jepang. Dalam bahasa Jepang, padanan kata yang cocok dengan kata amour adalah 恋(こい)atau 愛(あい)

yang keduanya bermakna „cinta‟.

Situasi yang melatarbelakangi terjadinya penyisipan campur kode tersebut yaitu situasi non formal ketika Tania yang merupakan warga negara Prancis, ia berbicara dengan salah seorang temannya bernama Frank yang juga warga negara

Prancis. Mereka berdua tinggal di penginapan yang sama dengan Chiaki dan Nodame. Faktor yang menyebabkan terjadinya campur kode pada situasi tersebut yaitu adanya faktor penggunaan bahasa yang pas dan juga faktor kepopuleran bahasa.

Hal yang sama terjadi lagi, yaitu penulis komik menggunakan bahasa Jepang pada percakapan kedua orang tersebut agar terlihat mudah untuk dipahami, bukan menggunakan bahasa Prancis, namun penulis komik tetap menyisipkan bahasa Prancis di dalamnya agar tidak terlepas bahwa keduanya memang orang Prancis asli dan penggunaan istilah dari bahasa tersebut juga sudah menjadi faktor kebiasaan dalam bertutur. Selain itu, ditambah lagi istilah amour ini memang sangat familiar dan populer.

Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa penyisipan unsur campur kode pada analisis 4 dikarenakan faktor penempatan padanan bahasa yang sesuai dengan kewarganegaraan penutur dengan lawan bicaranya dan juga faktor kebiasaan dan kepopuleran kata tersebut.

Analisis 5

千秋 :その本なんか変だろう!?

Chiaki : Bukankah buku itu aneh!?

のだめ:そうですか~?

Nodame : Begitu ya~?

千秋 :もっと基礎の基礎からやってくれ!

Chiaki : Lakukanlah dari dasar dulu!

のだめ:じゃあ先輩、個人レッスンしてくださいよ~

Nodame : Jadi kak, tolong ajarkan (saya) secara private~

(Nodame Cantabile Jilid 10 hal 68)

Pada cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “レッスン” (lesson) yaitu sebuah kata bahasa Inggris berjenis nomina yang menyisip ke dalam tuturan bahasa Jepang dan dalam bahasa Indonesia memiliki makna „ajar‟ atau „pengajaran‟. Dalam percakapan di atas lebih terlihat lagi

Pada cuplikan percakapan di atas, terdapat peristiwa campur kode pada kata “レッスン” (lesson) yaitu sebuah kata bahasa Inggris berjenis nomina yang menyisip ke dalam tuturan bahasa Jepang dan dalam bahasa Indonesia memiliki makna „ajar‟ atau „pengajaran‟. Dalam percakapan di atas lebih terlihat lagi

Dokumen terkait