• Tidak ada hasil yang ditemukan

PENANAMAN MODAL

B. Bentuk Insentif dan Kemudahan

Pada dasarnya bentuk insentif di daerah terbagi atas insentif fiskal dan insentif non fiskal. Insentif fiskal ialah berupa kemudahan yang diberikan oleh pemerintah/negara dalam rangka mengundang investasi, antara lain berupa: PPh, PPN dan PPnBM, PBB, bea masuk atas impor dengan tarif yang lebih rendah atau

diberikan fasilitas pembebasan sedangkan insentif non fiskal ialah kemudahan yang diberikan oleh Pemerintah/Negara dalam rangka mengundang investasi, antara lain dalam bentuk: jaminan keamanan dalam berusaha, penghapusan perda yang dapat menciptakan high cost economy dan tekanan-tekanan sosial politik dan kemudahan pelayanan perizinan. Insentif non fiskal sesungguhnya adalah kemudahan penanaman modal, adapun salah satu contoh insentif non fiskal ialah seperti perizinan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), Sistem Pelayanan Informasi Perizinan Investasi Secara Elektronik (SPIPISE).117

Berdasarkan Pasal 10 Ayat (1) Perda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal mengatur bahwa bentuk insentif ialah berupa pengurangan keringanan atau pembebasan pajak daerah dan/atau retribusi daerah. Insentif berupa pengurangan, keringanan atau pembebasan pajak dapat berupa:

a. Tax Holiday

Tax Holiday adalah pajak yang diberikan kepada perusahaan yang baru dibangun disebuah negara dalam periode tertentu, biasanya perusahaan dibebaskan dari pajak penghasilan badan selama 10 (sepuluh) tahun paling lama dan minimal 5 (lima) tahun sejak dimulainya produksi komersial. Setelah itu perusahaan akan diberikan potongan pajak penghasilan dari pajak terutang selama 50% selama 2 tahun. Dasar fasilitas pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan, PMK Nomor 130/PMK.011/2011 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan

117 http://m.bisnis.com/finansial/read/20130823/9/158344/kamus-ekonomi-apa-arti-insentif-fiskal/.

Pajak Penghasilan Badan (selanjutnya disebut PMK Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan). Berdasarkan salah satu kriteria di dalam Perda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal Pasal 19 Huruf j yakni melakukan industri pioner, maka sesuai dengan Pasal 3 PMK Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan, penanam modal yang juga merupakan wajib pajak berhak diberikan fasilitas pembebasan atau pengurangan pajak penghasilan badan. Kelima sektor industri pionir itu mencakup:118

1) Industri logam dasar;

2) Industri pengilangan minyak bumi dan/atau kimia dasar organik yang bersumber dari minyak bumi dan gas alam;

3) Industri permesinan;

4) Industri di bidang sumber daya terbarukan; dan/atau 5) Industri peralatan komunikasi.

Selain itu, penanam modal harus melakukan minimum investasi sebesar Rp.1000.000.000.000,00 (satu trilliun rupiah) dan berbentuk badan hukum indonesia yang telah ditetapkan setidaknya 12 bulan sebelum PMK Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan ditetapkan dan harus melakukan deposit minimal 10% (sepuluh persen) dari investasi di perbankan di Indonesia

Fasilitas yang diberikan selain yang disebutkan di atas antara lain:

1) Pembebasan pajak 5 – 10 tahun setelah perusahaan/proyek mulai produksi komersial

118 Peraturan Menteri Keuangan Nomor 130/PMK.011/2011 tentang Pemberian Fasilitas Pembebasan atau Pengurangan Pajak Penghasilan Badan, Pasal 3 Ayat (2)

2) Setelah periode tersebut berakhir, wajib pajak atau penanam modal dapat di berikan pengurangan PPh 50% (lima puluh persen) dari PPh terutang selama 2 tahun setelah masa bebas pajak.

b. Tax allowances

Tax Allowances adalah pengurangan pajak yang dihitung berdasarkan besar jumlah investasi yang ditanamkan, Tax allowences merupakan fasilitas pajak penghasilan untuk penanaman modal bidang usaha tertentu dan/atau di Daerah tertentu. Dasar pemberlakuan Tax Allowances ialah Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha Tertentu Dan/Atau Di Daerah Tertentu yang telah mengalami perubahan dua kali yakni Peraturan Pemerintah Nomor 62 Tahun 2008 dan Peraturan Pemerintah Nommor 52 Tahun 2011.

Pengurangan pajak berupa Tax allowance diberikan kepada perusahaan dengan nilai investasi tinggi atau nilai ekspor yang tinggi, bisa menyerap banyak tenaga kerja, serta memanfaatkan sumber daya lokal yang tinggi.119 Hal ini sesuai dengan kriteria dalam Pasal 19 Perda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal.

Fasilitas yang diberikan ialah:120

119 http://accounting.binus.ac.id/2015/10/13/perbedaan-tax-holiday-dan-tax-allowance/. (diakses pada 3 Maret 2017, pukul 13.03 WIB).

120 Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 1 Tahun 2007 tentang Fasilitas Pajak Penghasilan untuk Penanaman Modal di Bidang-Bidang Usaha tertentu Dan/Atau Di Daerah-Daerah tertentu, Pasal 2 Ayat (2).

1) Pengurangan pendapatan bersih 30% (tiga puluh persen) dari total investasi, dibebankan dalam 6 tahun dengan masing-masing 5% (lima persen) per tahun;

2) Pembebanan biaya penyusutan dan armotisasi yang dipercepat (bangunan non bangunan); dan

3) Kompensasi kerugian diperpanjang dari 5 tahun menjadi paling lama 10 tahun.

c. Fasilitas Impor Mesin, Barang Modal dan Bahan

Insentif ini merupakan pembebasan bea masuk atas impor mesin, barang dan bahan untuk pembangunan atau pengembangan industri dalam rangka penanaman modal. Fasilitas insentif ini diberikan berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.010/2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 176/PMK.011/2009 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Mesin Serta Barang dan Bahan Untuk Pembangunan atau Pengembangan Industri dalam Rangka Penanaman Modal. Bambang menjelaskan, revisi PMK tersebut dilakukan dengan tujuan untuk memberikan kepastian pengembangan usaha di bidang penanaman modal, dan untuk lebih memberikan kepastian hukum kepada pelaku usaha.121

Pembebasan bea masuk dapat diberikan terhadap mesin, barang dan bahan yang berasal dari kawasan pelabuhan bebas dan perdagangan bebas, kawasan

121 http://m.cnnindonesia.com/ekonomi/20151009114006-78-83906/pemerintah-bebaskan-bea-masuk-mesin-dari-kawasan-khusus/. (diakses pada 3 Maret 2017, pukul 15.04 WIB).

ekonomi khusus, dan tempat penimbunan berikat.122 Pembebasan bea masuk diberikan sepanjang mesin, barang dan bahan tersebut:

1) Belum diproduksi di dalam negeri;

2) Sudah di produksi di dalam negeri namun belum memenuhi spesifikasi yang dibutuhkan; atau

3) Sudah diproduksi di dalam negeri namun jumlahnya belum mencukupi kebutuhan industri.123

d. Pengurangan tarif PPh

Pengurangan tarif Pajak Penghasilan diberikan berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2013 tentang Penurunan Tarif Pajak Penghasilan Bagi Wajib Pajak Badan Dalam Negeri Yang Berbentuk Perseroan Terbuka.

Pengurangan tarif pajak penghasilan 5% (5 persen) dari tingkat tertinggi apabila jumlah kepemilikan saham publiknya 40% (empat puluh persen) atau lebih dari keseluruhan saham yang disetor dan saham tersebut dimiliki paling sedikit oleh 300 (tiga ratus) pihak.124 Insentif ini sesuai dengan kriteria dalam Perda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal karena turut serta memberikan kontribusi bagi peningkatan pendapatan masyarakat.

122 Republik Indonesia, Peraturan Menteri Keuangan Nomor 188/PMK.010/2015 tentang Perubahan Kedua atas Peraturan Menteri Keuangan Nomor 176/PMK.011/2009 tentang Pembebasan Bea Masuk Atas Impor Mesin Serta Barang dan Bahan Untuk Pembangunan atau Pengembangan Industri dalam Rangka Penanaman Modal, Pasal 2A

123 Ibid, Pasal 2 Ayat (3)

124 Republik Indonesia, Peraturan Pemerintah Nomor 77 Tahun 2013 tentang Penurunan Tarif Pajak Penghasilan Bagi Wajib pajak Badan Dalam Negeri yang berbentuk Perseroan Terbuka, Pasal 2

Pemberian insentif berupa pengurangan, keringanan atau pembebasan pajak daerah juga diberikan kepada jenis-jenis pajak yang telah dicantumkan dalam lampiran Perda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal yakni:

1) Pajak Kendaraan Bermotor (PKB);

2) Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB);

3) Pajak Bahan Bakar Kendaraan Bermotor (PBBKB);

4) Pajak Air Permukaan; dan 5) Pajak Rokok.

Selain pengurangan, keringanan atau pembebasan pajak daerah. Bentuk insentif juga berupa Pengurangan, keringanan atau pembebasan retribusi daerah sebagaimana yang di atur dalam Pasal 10 Perda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal. Pengurangan, keringanan atau pembebasan retribusi daerah adalah pemberian insentif investasi baik berupa keringanan, pengurangan dan pembebasan yang disesuaikan dengan kemampuan keuangan dan kebijakan daerah diantaranya:

a. Retribusi jasa umum meliputi:

1) Retribusi pelayanan kesehatan;

2) Retribusi pengujian kendaraan bermotor;

3) Retribusi pengantian biaya cetak peta;

4) Retribusi pelayanan Tera/Tera ulang;

5) Retribusi pelayanan pendidikan; dan

6) Retribusi pengendalian menara telekomunikasi.

b. Retribusi jasa usaha meliputi:

1) Retribusi pemakaian kekayaan daerah;

2) Retribusi tempat penginapan/ persanggahan/ villa;

3) Retribusi tempat rekreasi dan olahraga;

4) Retribusi penyeberangan di air; dan 5) Retribusi penjualan produk usaha daerah.

c. Retribusi perizinan tertentu meliputi:

1) Retribusi izin trayek; dan

2) Retribusi izin usaha perikanan.125

Pemberian insentf dalam bentuk pengurangan atau keringanan pajak daerah dan/atau retribusi daerah tersebut dapat diberikan oleh Gubernur dan ditetapkan dengan Keputusan Gubernur. Sedangkan untuk pemberian kemudahan berbentuk:

a. Penyediaan data dan informasi peluang penanaman modal

Pemberian kemudahan dalam bentuk penyediaan data dan informasi peluang dilakukan dengan akses yang diberikan Gubernur, Gubernur yang memberikan kemudahan akses dalam memperoleh data dan informasi melalui sarana dan prasarana yang tersedia. Penyediaan data dan iformasi peluang penanaman modal berupa:

1) Peta potensi ekonomi daerah;

125 Republik Indonesia, Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2015 tentang Pemberian Insentif dan kemudahan Penanaman Modal, Lihat lampiran

2) Rencana tata ruang wilayah provinsi, kabupaten/kota; dan/atau 3) Rencana strategis dan skala prioritas daerah.

b. Penyediaan sarana dan prasarana

Pemberian kemudahan dalam bentuk penyediaan sarana dan prasarana yang dimaksud adalah:

1) Memfasilitasi penyambungan jaringan listrik dan gas;

2) Memanfaatkan jalan provinsi;

3) Memfasilitasi penyambungan jaringan telekomunikasi; dan/atau 4) Memfasilitasi penyambungan jaringan air bersih

c. Pemberian bantuan teknis

Pemberian kemudahan berupa bantuan teknis dapat dilakukan melalui Pelayanan Terpadu Satu Pintu, Pemberian kemudahan tersebut dapat berupa:

1) Menyediakan bantuan teknis/konsultasi/layanan untuk memperluas akses pasar; dan/atau

2) Fasiltiasi pengaduan dan penyelesaian masalah dalam kegiatan usaha.

d. Percepatan pemberian perizinan

Pemberian kemudahan berupa percepatan pemberian perizinan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Ayat (2) Huruf D Perda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal:

1) Mengikutsertakan dalam pameran yang diselenggarakan di Provinsi Sumatera Utara;

2) Mengikutsertakan dalam pameran yang diselenggarakan di tingkat nasional dan international; dan/atau

3) Memberikan fasilitas tempat untuk menyelenggarakan promosi

Berdasarkan Pasal 17 Perda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara dapat memberikan satu atau lebih insentif dan kemudahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 10 Perda Pemberian Insentif dan Kemudahan Penanaman Modal.