BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.2 Hasil Penelitian
4.2.1.3 Bentuk Lokutif Kalimat
PNB1/Kal
Pemerintah Indonesia hanya pentingkan duit.
Konteks tuturannya:
Tuturan tersebut ditemukan pada portal berita @SINDOnews yang diunggah pada tanggal 12 Maret 2020. Postingan tersebut ada dalam berita yang berjudul “Cegah Virus Corona, Presiden Duterte Isolasi Total Filipina.”
Tuturan sindiran di atas merupakan tuturan yang berbentuk kalimat.
Kalimat adalah satuan gramatik yang dibatasi adanya jeda panjang dan disertai nada akhir. Dalam tuturan lisan, nada akhir bisa berbentuk nada yang naik dan nada yang turun. Tetapi, dalam tuturan tulis kita tidak mengenal nada naik dan nada turun. Nada akhir dalam tuturan tulis menggunakan tanda baca. Tanda baca yang dapat digunakan adalah titik, koma, seru, dan Tanya. Biasanya kalimat memiliki beberapa fungsi yaitu subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap.
Akan tetapi, kalimat bisa saja tidak memiliki fungsi-fungsi tersebut. Kalimat tidak harus selalu terdiri atas beberapa fungsi. Kalimat bisa saja terdiri atas satu kata.
Yang penting adalah kalimat tersebut diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan intonasi akhir.
Tuturan di atas dapat dikatakan sebagai kalimat karena diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan intonasi akhir. Tuturan yang berupa kalimat tersebut memiliki beberapa fungsi. Pemerintah kedudukannya sebagai subjek,
hanya pentingkan sebagai predikat, dan duit sebagai objek. Jika dianalisis secara satuan gramatikalnya, kalimat tersebut terdiri atas satu frasa dan dua kata. Frasa tersebut adalah hanya pentingkan. Kata yang terdapat dalam kalimat tersebut adalah pemerintah dan duit.
Kalimat dalam tuturan tersebut termasuk dalam kalimat tunggal. Kalimat tunggal adalah kalimat yang mempunyai satu subjek dan satu predikat. Jika dianalisi secara bentuk kalimat tersebut adalah kalimat tunggal karena hanya memiliki satu predikat dan satu subjek. Satu predikat adalah hanya pentingkan.
Satu subjek adalah pemerintah.
Tuturan 6 PNB2/Kal
Presidennya budge, MenKesnya sombong Pak… percuma diperingatin juga.
Konteks tuturannya:
Tuturan tersebut ditemukan pada portal berita @Merdeka.com yang diunggah pada tanggal 14 Maret 2020. Postingan tersebut ada dalam berita yang berjudul “Surati Jokowi, WHO Minta RI Umumkan Darurat Nasional Virus Corona.”
Tuturan di atas juga termasuk kalimat. Dalam tuturan lisan, nada akhir bisa berbentuk nada yang naik dan nada yang turun. Tetapi, dalam tuturan tulis kita tidak mengenal nada naik dan nada turun. Nada akhir dalam tuturan tulis menggunakan tanda baca. Tanda baca yang dapat digunakan adalah titik, koma, seru, dan Tanya. Biasanya kalimat memiliki beberapa fungsi yaitu subjek, predikat, objek, keterangan, dan pelengkap. Akan tetapi, kalimat bisa saja tidak memiliki fungsi-fungsi tersebut. Kalimat tidak harus selalu terdiri atas beberapa fungsi. Kalimat bisa saja terdiri atas satu kata. Yang penting adalah kalimat tersebut diawali dengan huruf kapital dan diakhiri dengan intonasi akhir.
Tuturan diatas merupakan kalimat karena memiliki beberapa kedudukan sebagai fungsi subjek dan predikat. Subjek dalam kalimat tersebut adalah Presiden dan MenKesnya. Predikat pada kalimat tersebut adalah percuma diperingati.
Kalimat tersebut juga sudah memiliki intonasi akhir dan ditulis menggunakan
huruf kapital diawal kalimat. Kemudian, jika dikelompokkan kalimat tersebut termasuk kalimat majemuk bertingkat.
Kalimat majemuk bertingkat adalah kalimat majemuk yang dibangun atas dua, yaitu anak kalimat dan induk kalimat. Letak anak kalimat dapat berada setelah induk kalimat atau boleh juga mendahului induk kalimat. Kalimat majemuk terdiri atas unsur anak kalimat dan unsur induk kalimat. Induk kalimat merupakan inti gagasan, sedangkan anak kalimat adalah gagasan yang dipertalikan kepada gagasan induk kalimat. Induk kalimat tersebut adalah Presiden budge, Menkesnya sombong pak. Dan anak kalimatnya adalah percuma diperingatin.
Berdasarkan teori-teori tersebut, peneliti telah menemukan data-data dan mengelompokkannya kedalam tiga bentuk tuturan sindiran. Setelah mengelompokkannya, peneliti memeroleh data tuturan sindiran berbentuk frasa, tuturan berbentuk klausa, dan tuturan berbentuk kalimat. Dengan demikian, bentuk penanda tuturan sindiran yang paling banyak ditemukan di sosial media Line Today adalah tuturan sindiran berbentuk kalimat, yang kedua klausa, dan terakhir frasa.
4.2.2 Makna Tuturan Sindiran
Postingan dan komentar di Line Today memiliki tuturan sindiran yang ditujukan untuk berbagai macam lembaga, orang, maupun instansi-instansi pemerintahan. Berdasarkan data-data yang telah diklasifikasikan, peneliti menemukan tujuh makna tuturan sindiran yang terkandung dalam data tersebut.
Berikut adalah tabel makna tuturan sindiran.
Tuturan sindiran memiliki berbagai macam makna. Makna yang terkandung tidak hanya menyinggung. Terdapat beberapa makna yang lain, misalnya menghina, merendahkan, dan mencemarkan nama baik. Untuk menganalisis makna tuturan sindiran, peneliti menggunakan teori Syafyahya (2018). Syafyahya membagi tuturan tersebut menjadi tujuh (7) makna. Akan tetapi, ada dua tuturan yang bermakna sama sehingga peneliti menggabungkan tuturan tersebut menjadi satu makna. Makna tuturan sindiran tersebut menurut
Syafyahya (2018:9) yaitu (1) penghinaan, (2) pencemaran nama baik, (3) penistaan, (4) perbuatan tidak menyenangkan, (5) memprovokasi, (6) menghasut, (7) menyebarkan berita bohong. Menghasut dan memprovokasi memiliki makna yang sama sehingga kedua kata tersebut digabung. Salah satu makna menurut Syafyahya tidak dicantumkan karena data yang ditabulasi tidak ada tuturan yang menunjukkan penyebaran berita bohong. Peneliti juga menemukan beberapa makna yaitu (1) mencaci maki, (2) meremehkan, dan (3) merendahkan. Ketiga makna tersebut dianalisis menurut pengertian dari Kamus Besar Bahasa Indonesia.
Dalam penelitian ini, peneliti menemukan tujuh makna kebencian, yaitu:
(1) Pencemaran nama baik, (2) menghina, (3) mencaci maki, (4) provokasi, (5) meremehkan, (6) perbuatan tidak menyenangkan, (7) menista. Selanjutnya, peneliti akan membahas makna-makna tuturan sindiran yang sudah ditemukan.
Makna yang pertama dibahas adalah makna pencemaran nama baik. Berikut contoh data dan pembahasannya.
4.2.2.1 Pencemaran Nama Baik Tuturan 1
PNB3/Kal
Youtuber paling idiot se-Indonesia.
Konteks tuturannya:
Tuturan sindiran tersebut terdapat pada portal berita yang diunggah oleh
@InsertLive pada 25 Maret 2020. Berita tersebut berjudul “Diminta Warganet Ikut Berdonasi Lawan Corona, Ini Jawaban Menohok Ria Ricis.”
Pencemaran berarti proses, cara, perbuatan mencemari, atau mencemarkan, pengotoran (KBBI V Departemen Pendidikan Nasional, 2016). Pencemaran nama baik artinya mengotori atau menodai nama baik seseorang. Nama baik disini berarti kehormatan atau pribadi seseorang. Apabila nama baik orang tersebut tercemar, masyarakat akan mengecap orang tersebut tidak baik. Pengertian lain pencemaran nama baik adalah tuturan yang menodai nama baik dengan tuduhan yang buruk dan tidak faktual, serta membuat orang lain tidak nyaman.
Tuturan di atas memiliki indikator pencemaran nama baik. Hal ini terlihat pada kata idiot. Dalam KBBI V (Departemen Pendidikan nasional, 2016), idiot berarti kecerdasaan berfikir yang sangat rendah. Tuturan tersebut mencemarkan nama baik seorang Yutuber terkenal di Indonesia yang bernama Ria Ricis. Peneliti mengintrepretasikan bahwa tuturan tersebut mencemarkan nama baik Ria Ricis sebagai seorang yutuber yang memiliki tingkat kecerdasaan yang rendah.
Tuturan ini dilatarbelakangi oleh postingan yang berjudul “Diminta Warganet Ikut Berdonasi Lawan Corona, Ini Jawaban Menohok Ria Ricis.”
Setelah membaca berita tersebut muncul rasa tidak suka terhadap pernyataan Ria Ricis sehingga orang yang membaca tergerak untuk berkata idiot kepada yutuber tersebut sehingga peneliti menganggap bahwa tuturan tersebut bermakna pencemaran nama baik.
Tuturan 2 PNB7/Fr Habib abal abal Konteks tuturannya:
Tuturan sindiran tersebut terdapat pada portal berita yang diunggah oleh
@Liputan6.com pada 29 Juli 2020. Berita tersebut berjudul “Langgar PSBB Habib Umar di Bangil Jatim Cekcok dengan Petugas.”
Pencemaran berarti proses, cara, perbuatan mencemari, atau mencemarkan, pengotoran (KBBI V Departemen Pendidikan Nasional, 2016). Pencemaran nama baik artinya mengotori atau menodai nama baik seseorang. Nama baik disini berarti kehormatan atau pribadi seseorang. Apabila nama baik orang tersebut tercemar, masyarakat akan mengecap orang tersebut tidak baik. Pencemaran nama baik juga diartikan sebagai tuturan yang menodai nama baik dengan tuduhan yang buruk dan tidak faktual, serta membuat orang lain tidak nyaman.
Tuturan di atas memiliki indikator pencemaran nama baik. Hal ini terlihat pada kata abal-abal. Abal-abal merupakan bahasa tidak baku dari ecek-ecek.
Dalam KBBI V (Departemen Pendidikan nasional, 2016), ecek-ecek berarti pura-pura; tidak sungguh-sungguh. Tuturan tersebut mencemarkan nama baik seorang Habib yang melanggar aturan PSBB. Habib sendiri memiliki arti panggilan
kepada orang Arab yang berarti tuan atau bisa juga seorang yang ahli bidang religi terutama agama Islam. Peneliti mengintrepretasikan bahwa tuturan tersebut mencemarkan nama baik seorang Habib di Jawa Timur sebagai seorang yang ahli dalam bidang religi tetapi keahliannya dinilai abal-abal atau pura-pura.
Tuturan ini dilatarbelakangi oleh postingan yang berjudul “Langgar PSBB Habib Umar di Bangil Jatim Cekcok dengan Petugas.” Setelah membaca berita tersebut muncul rasa tidak suka terhadap sikap Habib tersebut yang tidak terima ditegur saat melanggar PSBB sehingga orang yang membaca tergerak untuk menilai habib tersebut sebagai habib abal-abal sehingga peneliti menganggap bahwa tuturan tersebut bermakna pencemaran nama baik.
Makna selanjutnya yang ditemukan oleh peneliti dalam tuturan sindiran adalah makna menghina. Menghina adalah tuturan yang menyinggung perasaan orang atau lembaga dan tuturan tersebut merendahkan martabat orang atau lembaga tersebut. Dalam KBBI V (Departemen Pendidikan Nasional, 2016), menghina memiliki makna proses, cara, perbuatan hina dan menistakan.
Menghina berasal dari kata hina. Hina berarti rendah kedudukannya, keji, tercela, tidak baik (KBBI V, Departemen Pendidikan Nasional, 2016). Oleh karenanya, menghina adalah kata-kata yang bermakna merendahkan dan mencela orang lain.
4.2.2.2 Menghina