ANALISIS HUKUM TERHADAP PENGGUNAAN HAK RECALL OLEH PARTAI POLITIK
DI SEKTOR JASA PERBANKAN
D. Bentuk Perlindungan Konsumen yang diberikan Lembaga OJK
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mempunyai fungsi menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegia-tan di sektor jasa keuangan dan mempu-nyai tugas melakukan pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keu-angan di sektor Perbankan, sektor Pasar Modal, dan sektor IKNB. Untuk melak-sanakan tugas pengaturan dan pengawa-san di sektor Perbankan OJK mempu-nyai wewenang untuk melakukan pen-gaturan dan pengawasan mengenai ke-lembagaan bank yang meliputi:60
1. Perizinan untuk pendirian bank, pembukaan kantor bank, angga-ran dasar, rencana kerja, kepemi-likan, kepengurusan dan sumber daya manusia, merger, konsoli-dasi dan akuisisi bank, serta pencabutan izin usaha bank 2. Kegiatan usaha bank, antara lain
sumber dana, penyediaan dana, produk hibridasi, dan aktivitas di bidang jasa.
Otoritas Jasa Keuangan adalah lembaga yang independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, yang mempunyai fungsi, tugas, dan wewe-nang pengaturan, pengawasan, pemerik-saan, dan penyidikan sebagaimana di-maksud dalam Undang-Undang OJK ini.61 sehingga diketahui bahwa OJK dibentuk dengan tujuan agar keseluru-han kegiatan di dalam sektor jasa keua-ngan dapat terselenggara secara teratur, adil, transparan, dan akuntabel, mampu mewujudkan sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan stabil,
60 Pasal 7 UU OJK
61 Pasal 1 UU OJK
dan mampu melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat, yang diwu-judkan melalui adanya sistem pengatu-ran dan pengawasan yang terintegrasi terhadap keseluruhan kegiatan di dalam sektor jasa keuangan. OJK melaksana-kan tugas pengaturan dan pengawasan terhadap kegiatan jasa keuangan di sek-tor perbankan, pasar modal, perasuran-sian, dana pensiun, lembaga pem-biayaan dan lembaga jasa keuangan lainnya, antara lain melakukan penga-wasan, pemeriksaan, penyidikan, per-lindungan konsumen, dan tindakan lain terhadap Lembaga Jasa Keuangan, pela-ku, dan/atau penunjang kegiatan jasa keuangan sebagaimana dimaksud dalam peraturan perundang-undangan di sector jasa keuangan, termasuk kewenangan perizinan kepada Lembaga Jasa Keua-ngan.
Secara umum, kewenangan OJK terkait dengan perlindungan konsu-men/Nasabah di sektor jasa perbankan terbagi menjadi dua bentuk yaitu pence-gahan dan penaggulangan. Bentuk per-lindungan berupa pencegahan berdasar-kan UU OJK adalah meliputi:62
1. memberikan informasi dan edukasi kepada masyarakat atas karakteristik sektor jasa keua-ngan, layanan, dan produknya;
2. meminta Lembaga Jasa Keua-ngan untuk menghentikan ke-giatannya apabila kegiatan ter-sebut berpotensi merugikan masyarakat; dan
3. tindakan lain yang dianggap perlu sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan di sektor jasa keuangan.
Untuk menjamin hubungan anta-ra pelaku usaha jasa keuangan dengan
62 . Pasal 8 UU OJK
pihak konsumen, maka Perlindungan Konsumen menerapkan prinsip:63 a.
transparansi; b. perlakuan yang adil; c.
keandalan; d. kerahasiaan dan keama-nan data/informasi Konsumen; dan e.
penanganan pengaduan serta penyele-saian sengketa Konsumen secara seder-hana, cepat, dan biaya terjangkau.
Bentuk perlindungan berupa pe-nanggulangan berdasarkan UU OJK me-liputi penyiapan perangkat, mekanisme dan sarana untuk pengaduan konsumen yang dirugikan oleh pelaku usaha di lembaga jasa keuangan. OJK juga men-fasilitasi penyelesaian pengaduan kon-sumen antara lain berupa verivikasi dan pemeriksaan khusus atas pengaduan.64
Upaya penaggulangan kerugian konsumen sebenarnya bisa dilakukan OJK melalui dua cara yaitu secara per-data dan secara pidana. Secara perper-data, OJK dapat memerintahkan atau mela-kukan tindakan tertentu kepada lembaga keuangan untuk menyelesaikan penga-duan konsumen.65 OJK juga bisa men-jadi “advokat” (pembelaan hokum) bagi pihak konsumen yang dirugikan dengan mengajukan gugatan perdata kepada lembaga keuangan untuk memperoleh kembali harta kekayaan milik konsumen yang dirugikan dan/atau memperoleh ganti rugi dari lembaga keuangan yang telah merugikan konsumen.66 Untuk kemudian di salurkan kepada pihak yang dirugikan.
Secara pidana, OJK berwenag melakukan pemeriksaan dan penyidikan terhadap lembaga jasa keuangan yang telah melakukan tindak pidana keua-ngan. OJK bertindak sebagai Penyidik
63 Pasal 2 Peraturan OJK 1/POJK.07/2013
64 . Pasal 9 UU OJK beserta penjelasannya.
65 . Pasal 30 ayat (1) huruf a UU OJK
66 Pasal 30 ayat (1) huruf b dan ayat (2) UU OJK
Pegawai Negeri Sipil (PPNS) yang ber-wenag menyidik, memblokir, menyita dan menggrledah serta mengumpulkan keterangan-keterangan terkait tindak pidana dibidang keuangan, yang kemu-dian dilimpahkan ke kejaksaan untuk kepentingan penuntutan.67
Apabila terdapat satu ka-sus dengan dua dimensi penanggulan-gan yaitu pidana dan perdata, maka pe-nyelesaian dan penanggulangan kasus yang bersangkutan sebaiknya diesele-saikan secara perdata dahulu dengan asas prejudicial geschiil, dan jika kasus perdatanya selesai kemudian dilanjutkan dengan penyelesaian kasus pidana.68
Lebih lanjut pengaturan tentang perlindungan konsumen jasa keuangan dipertegas dengan diterbitkannya Pera-turan Otoritas Jasa Keuangan Nomor:
1/POJK.07/2013 Tentang Perlindungan Konsumen Sektor Jasa Keuangan. Pera-turan OJK tersebut merupakan amanah dari Pasal 31 UU Nomor 21 Tahun 2011 Tentang OJK, sehingga diharapkan re-gulasi ini akan lebih melindungi
67 Pasal 49 dan Pasal 50 UU OJK
68 Dalam Kamus Istilah Hukum Fockema Andreae, prejudicie geschiil berarti sengketa yang diputuskan lebih dahulu dan membawa surat keputusan untuk perkara dibelakang. Lihat Penerapan prjudiciel geschiil dalam Perkara Privat,, Http://www.hukumonline.com diakses tanggal 2 Desember 2015. Sedangkan di dalam kamus istilah hokum latin Indonesia Mr. H.R.W Gokkel dan Mr.N. Van Der Wal (yang diterje-mahkan S Adiwinata), Prejudicieel berarti mengikat untuk kejadian-kejadian kemudian, mendahului keputusan-keputusan kemudian.
Dalam istilah Indonesia , Prejudecieel adalah sama dengan prayudisial dimana hal ini diatur di dalam Peraturan Mahkamah Agung No.
I/1956 tanggal 18 Maret 1956 dan Surat Mah-kamah Agung No. 4/1980 tentang pasal 16 UU No. 14/1970 dan perducieel Gesdchif. Dapat
diakses pada
http//www.pasumedang.go.id/uploads/arsip/294 SELB_ma-1980-$-Pasal 16 UU No. 14_Pdf.
tingan konsumen jasa keuangan atas tindakan pelaku usaha yang dapat meru-gikan konsumen khususnya nasabah perbankan.
Sesuai dengan visi, misi, fungsi dan tugasnya, otoritas Jasa Keuangan (OJK) memiliki wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidi-kan serta menepenyidi-kanpenyidi-kan pada perlindun-gan kepentinperlindun-gan konsumen dan masya-rakat, khususnya konsumen produk jasa keuangan. Berdasarkan Peraturan Otori-tas Jasa Keuangan No 1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen, per-lindungan konsumen menerapkan 5 prinsip, yaitu: (1) transparansi, (2) per-lakuan yang adil, (3) keandalan, (4) ke-rahasiaan dan keamanan data/informasi Konsumen dan (5) penanganan penga-duan serta penyelesaian sengketa Kon-sumen secara sederhana, cepat, dan bi-aya terjangkau.
Ketidak tahuan nasabah akan produk secara menyeluruh mengaki-batkan konsumen mengalami kerugian akibat penjelasan yang tidak akurat dan transparan, bahkan dalam perjanjian kredit atau pembiayaan sering kali di-jumpai klausul eksonerasi atau pembe-basan tanggung jawab kepada pelaku usaha diantaranya prihal suku bunga yang mengalami kenaikan termasuk pencantuman ketentuan pelunaan diper-cepat yang kurang memberikan kepas-tian nilai bunga kredit yang harus di-tanggung nasabah.
Pelaku Usaha Jasa Keuangan seharusnya wajib menyediakan dan/atau menyampaikan informasi mengenai produk dan/atau layanan yang akurat, jujur, jelas, dan tidak menyesatkan ke-pada konsumen jasa keuangan sehingga meminimalisir terjadinya kerugian bagi konsumen.
Bentuk informasi produk jasa dapat dituangkan dalam dokumen atau
sarana lain yang dapat digunakan seba-gai alat bukti dan Informasi wajib dis-ampaikan pada saat memberikan penje-lasan kepada Konsumen mengenai hak dan kewajibannya; disampaikan pada saat membuat perjanjian dengan Kon-sumen; dan dimuat pada saat disampai-kan melalui berbagai media antara lain melalui iklan di media cetak atau elek-tronik.69
Pelaku Usaha Jasa Keuangan wajib memenuhi keseimbangan, keadi-lan, dan kewajaran dalam pembuatan perjanjian dengan Konsumen. Keten-tuan ini sangat berkaitan dengan perin-tah UU Perlindungan Konsumen dalam rangka melindungi hak-hak konsumen nasabah perbankan.
Terkait dengan perjanjian baku yang umumnya digunakan pihak per-bankan dalam perjanjian kre-dit/pembiayaan kepada nasabah, OJK telah memberikan perlindungan, seba-gaimana dimaksud dalam Pasal 22 Pe-raturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor:
1/POJK.07/2013 yaitu:
1. Dalam hal Pelaku Usaha Jasa Keuangan menggunakan perjan-jian baku, perjanperjan-jian baku terse-but wajib disusun sesuai dengan peraturan perundang-undangan.
2. Perjanjian baku sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat berbentuk digital atau elektronik untuk ditawarkan oleh Pelaku Usaha Jasa Keuangan melalui media elektronik.
Perjanjian baku yang digunakan oleh Pelaku Usaha Jasa Keuangan dila-rang:70
69 Pasal 4 ayat (3) 1/POJK.07/2013
70 Pasal 22 ayat (2) UU OJK
a. menyatakan pengalihan tang-gung jawab atau kewajiban Pelaku Usaha Jasa Keuangan kepada Konsumen; menyatakan bahwa Pelaku Usaha Jasa Keuangan ber-hak menolak pengembalian uang yang telah dibayar oleh Konsumen atas produk dan/atau layanan yang dibeli; menyatakan pemberian ku-asa dari Konsumen kepada Pelaku Usaha Jasa Keuangan, baik secara langsung maupun tidak langsung, untuk melakukan segala tindakan sepihak atas barang yang diagun-kan oleh Konsumen, kecuali tin-dakan sepihak tersebut dilakukan berdasarkan peraturan perundang-undangan;
b. mengatur tentang kewajiban pembuktian oleh Konsumen, jika Pelaku Usaha Jasa Keuangan me-nyatakan bahwa hilangnya kegu-naan produk dan/atau layanan yang dibeli oleh Konsumen, bukan merupakan tanggung jawab Pelaku Usaha Jasa Keuangan;
c. memberi hak kepada Pelaku Usaha Jasa Keuangan untuk men-gurangi kegunaan produk dan/atau layanan atau mengurangi harta ke-kayaan Konsumen yang menjadi obyek perjanjian produk dan laya-nan;
d. menyatakan bahwa Konsumen tunduk pada peraturan baru, tam-bahan, lanjutan dan/atau peruba-han yang dibuat secara sepihak oleh Pelaku Usaha Jasa Keuangan dalam masa Konsumen meman-faatkan produk dan/atau layanan yang dibelinya; dan/atau
e. menyatakan bahwa Konsumen memberi kuasa kepada Pelaku Usaha Jasa Keuangan untuk pem-bebanan hak tanggungan, hak ga-dai, atau hak jaminan atas produk
dan/atau layanan yang dibeli oleh Konsumen secara angsuran.
Penggunaan klausula baku ber-tentangan dengan prinsip dalam peratu-ran OJK mengenai pengatuperatu-ran perlin-dungan hak atas fair agreement (perjan-jian/kesepakatan yang adil). Pengaturan ini melakukan intervensi dengan mem-batasi asas kebebasan berkontrak yang tidak dapat dilaksanakan secara mutlak dalam transaksi antara pelaku usaha dan konsumen. Sebab asas kebebasan ber-kontrak menghasilkan perjanjian yang adil apabila pihak yangbersepakat me-miliki posisi tawar yang seimbang atau setara. Kalau tidak terpenuhi persyara-tan tersebut, malah justru salah satu pi-hak yang akan memaksakan kehendak-nya untuk dituangkan dalam perjanjian atau dokumen tertentu.
Oleh karena itu pelaku Usaha Jasa Keuangan (PUJK) wajib menye-diakan dan/atau menyampaikan infor-masi mengenai produk dan/atau layanan yang jujur berdasarkan informasi yang sebenarnya tentang manfaat, biaya, dan risiko dari setiap produk dan/atau laya-nan serta wajib menyediakan dan/atau menyampaikan informasi mengenai produk dan/atau layanan yang tidak me-nyesatkan sehingga tidak menimbulkan perbedaan penafsiran antara Konsumen dan/atau masyarakat dengan PUJK ter-hadap ketentuan yang dimuat dalam per-janjian.71 Selain itu, OJK juga melarang PUJK menggunakan strategi pemasaran produk dan/atau layanan yang merugi-kan Konsumen dengan memanfaatmerugi-kan kondisi Konsumen yang tidak memiliki pilihan lain dalam mengambil
71 Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/Seojk.07/2014 Tentang Penyampaian Informasi Dalam Rangka Pemasaran Produk Dan/Atau Layanan Jasa Keuangan,
san. Dengan demikian pelaku usaha jasa keuangan, termasuk perbankan, diwa-jibkan untuk memberikan memberikan perlindungan konsumen dalam hal ini adalah nasabah pengguna jasa keuangan bank atas kepercayaan yang diberikan nasabah kepada bank.
Dengan adanya peraturan Otori-tas Jasa Keuangan, surat edaran OtoriOtori-tas Jasa Keuangan, tindakan nyata perlu dilakukan di lapangan agar perlindun-gan konsumen yang telah diatur di da-lamnya tidak hanya sebatas peraturan tertulis saja. Peran Otoritas Jasa Keua-ngan dalam perlinduKeua-ngan produk per-bankan sangat diharapkan dalam men-ciptakan iklim bisnis keuangan yang sehat. Sehingga diharapkan kinerja dari Otoritas Jasa Keuangan ditingkatkan agar terwujud peningkatan kesejahte-raan rakyat serta kepastian mutu, jum-lah, dan keamanan produk atau jasa keuangan.
E. Penutup
Perlindungan hukum konsumen di sektor jasa perbankan telah diatur da-lam Undang-undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Perlindungan Konsumen, dan dipertegas lagi dalam Undang-Undang Nomor 21 tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan Jo Peraturan Otoritas Jasa Keuangan Nomor:
1/POJK.07/2013 tentang Perlindungan Konsumen di sector Jasa Keuangan. Pe-ran OJK sangat diharapkan memberikan perlindungan hokum terhadap hak-hak konsumen sebagai pengguna jasa keua-ngan khususnya dibidang perbankan.
Namun perlu disadari bahwa jangkauan kewenangan OJK sangat ter-batas, sehingga harapan masyarakat dengan kehadiran OJK sebagai lembaga independen benar-benar menyelesaikan persolan atau konflik antara konsumen dengan pelaku usaha sektor jasa
keua-ngan secara cepat dan tepat serta sesege-ra mungkin memberikan rekomendasi kepada pihak yang terkait dalam penye-lesaian sengketa konsumen baik melalui jalur non litigasi maupun litigasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adrian Sutedi, Aspek Hukum Otoritas Jasa Keuangan, Raih Asa Sukses, Jakarta.
Hermansyah, Hukum Perbankan Na-sional Indonesia, (Cetakan ke 7), Jakarta.
Hasibuan, Manajemen Sumber Daya Manusia, Bumi Aksara.
Meli Meilany, Perlindungan Hukum Terhadap Nasabah Bank Di-tinjau dari UU No. 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen, Skripsi USU;
2008.
Tatik Suryani, Perilaku Konsumen; Im-plikasi pada Strategi Pema-saran.Yogyakarta: Graha Il-mu.
Undang-Undang Nomor 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keua-ngan (Lembaran Negara Re-publik Indonesia Tahun 2011 Nomor 111, Tambahan Lem-baran Negara Republik Indo-nesia Nomor 5253).
http://ekonomi.kompasiana.com/monete r/2012/05/03/sedikit-menilik-
otoritas-jasa- keuanganmenurut-uu-no-21-
tentang-otoritas-jasa-keuangan/.
Kamus Hukum Fockema Andreae, pre-judicie geschiil berarti seng-keta yang diputuskan lebih dahulu dan membawa surat keputusan untuk perkara di-belakang. Lihat Penerapan prjudiciel geschiil dalam
Perkara Privat,,
Http://www.hukumonline.com .
Surat Edaran Otoritas Jasa Keuangan Nomor 12/Seojk.07/2014 Ten-tang Penyampaian Informasi Dalam Rangka Pemasaran Produk Dan/Atau Layanan Jasa Keuangan.
PERLINDUNGAN HUKUM TERHADAP PEREMPUAN KORBAN