• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bentuk Resiliensi Pada Janda

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 24-41)

B. Analisis Data dan Pembahasan

1. Bentuk Resiliensi Pada Janda

Dari paparan data-data di atas, masing-masing subjek memiliki bentuk resiliensi yang berbeda.

Subjek 1 (Mawar)

Dari hasil wawancara dan observasi, Mawar merupakan seorang janda yang kuat dalam menghadapi kejadian ini, kejadian dirinya yang ditinggal mati oleh pasangannya ketika keluarga Mawar masih pada tahap pertumbuhan dan proses usaha dalam membentuk suatu keluarga bahagia.

25

Hal ini nampak ketika Mawar menceritakan usaha yang dilakukannya sesaat ketika Mawar ditinggal mati oleh pasangannya, Mawar tidak lantas berputus asa dan menyerah, Mawar justru terlecut untuk tetap bertahan dan berjuang sekuat tenaga untuk melanjutkan menjadikan dirinya sebagai seorang ibu sekaligus seorang bapak bagai anak-anaknya.

Dengan kondisi seperti ini, Mawar termasuk individu yang memiliki bentuk resiliensi yang baik, dimana mawar memiliki daya pegas, Mawar memiliki kapasitas untuk merespon secara sehat dan produktif ketika berhadapan dengan kesengsaraan atau trauma yang diperlukan untuk mengelola tekanan hidup sehari-hari.

Mawar mampu tetap bertahan dan tetap stabil dan sehat secara psikologis setelah melewati peristiwa traumatis, yaitu ditinggal mati oleh suaminya. Mawar mampu bangkit kembali dari pengalaman negatif yang mana hal ini mencerminkan kualitas bawaan dari seorang Mawar atau merupakan hasil dari pembelajaran dan pengalaman selama hidupnya.

Mawar memiliki trait yang merupakan kapasitas yang tersembunyi yang muncul untuk melawan kehancuran yang menimpanya dan melindungi dirinya dari segala rintangan kehidupan.

Mawar juga memiliki karekateristik sebagai tanda-bahwa Mawar adalah individu yang memiliki tingkat resiliensi yang baik. Mawar memiliki insight untuk dapat memahami diri sendiri dan orang lain serta dapat menyesuaikan diri dalam berbagai situasi. Mawar juga tergolong pribadi yang

26

mandiri, baik untuk memenuhi kebutuhannya sendiri dan juga orang lain, keluarga Mawar.

Hal lain yang mendukung Mawar untuk menjadi pribadi yang resilien adalah Mawar memiliki keinginan yang kuat untuk bertanggung jawab atas kehidupannya sendiri. Mawar bersikap proaktif, selalu berusaha memperbaiki diri dengan meningkatkan kemampuannya dalam menghadapi masalah. Mawar juga tergolong wanita yang kreatif, yaitu mampu memikirkan berbagai pilihan, konsekuensi dan alternatif dalam menghadapi tantangan hidup yang harus Mawar jalani. Hal ini terlihat dari berbagai usaha yang Mawar lakukan demi bisa bertahan.

Mawar mampu melihat sisi terang dari masalah yang Mawar hadapi sehingga Mawar mampu menemukan kebahagiaan atas situsi yang menimpanya. Selain itu, Mawar memiliki pedoman nilai yang dianutnya berupa keyakinan dalam diri sehingga membuatnya berkeinginan untuk hidup secara baik dan produktif.

Mawar mampu mengontrol emosi untuk tetap tenang di bawah kondisi yang menekan. Mawar dapat mengendalikan dirinya ketika sedang kesal dan dapat mengatasi rasa cemas, sedih atau marah. Selain itu, Mawar adalah individu yang mampu untuk mengendalikan impuls, dorongan, kesukaan serta tekanan yang muncul dalam dirinya. Mawar adalah pribadi yang optimis, mampu menerawang masa depan yang cemerlang dan bahagia. Mawar yakin bahwa dirinya memiliki kemampuan untuk mengatasi kemalangan yang menimpa dirinya. Mawar mampu membaca dan menginterpretasi bahasa non

27

verbal yang ditunjukkan oleh orang lain, memiliki hubungan sosial yang positif.

Subjek 2 (Melati)

Berdasarkan wawancara dan observasi yang peneliti lakukan kepada Melati, Melati juga termasuk perempuan yang kuat untuk tetap bertahan menjalani ujian yang menimpanya, meskipun pada awalnya Melati sempat mengalami kondisi drop dan sakit cukup lama, namun secara keseluruhan Melati termasuk pribadi yang memiliki daya resiliensi yang cukup baik.

Melati cukup mampu merespon secara sehat dan produktif ketika menhadapi kesengsaraan berupa ditinggal mati oleh suaminya. Meskipun melati mampu bertahan dan tetap stabil namun melati sempat mengalami kondisi “sakit‟ secara psikologis, dimana Melati sempat sakit dan bertahan pada kondisinya dalam waktu yang cukup lama.

Hal ini merupakan pengalaman selama hidupnya yang berada pada zona nyaman. Hal ini merupakan hasil dari pembelajaran dan pengalaman selama Melati bersama pasangannya dan proses pertumbuhan dan perkembangan sebelumnya. Melati mampu bertanya dan menjawab atas kondisi yang menimpanya sehingga Melati mampu beradaptasi atas masalah yang menimpanya meskipun Melati sempat terpuruk karena kondisi tersebut.

Melati berusaha untuk mandiri, meskipun berat Melati rasakan tapi Melati yakin mampu mengatasi kondisi tersebut. Melati memiliki niatan untuk tetap betanggung jawab atas kehidupannya sendiri dan atas kehidupan orang yang menjadi tanggung jawabnya.

28

Sisi negatif dari seorang melati adalah kurang memiliki kreativitas dalam memikirkan berbagai pilihan, konsekuensi dan alternatif dalam mengahadapi tatangan hidup yang ada pada dirinya. Namun Melati memiliki nilai yang Melati yakini yang membuatnya mampu bertahan meskipun berat Melati rasakan, yaitu tidak ada ujian atau cobaan di luar batas kemampuan yang dimiliki seseorang.

Melati kurang memiliki regulasi emosi yang baik untuk tetap tenang atas meninggalnya pasangannya, hal ini nampak bahwa Melati sempat terpuruk dalam kondisi yang secara psikologis tidak sehat. Namun Melati berusaha untuk tenang dan fokus dalam menghadapi kondisi kesendiriannya. Hal ini yang dapat mengurangi stress yang Melati rasakan ketika harus menjalani hidup sendiri.

Seiring dengan berjalannya waktu, Melati mulai berlatih untuk mampu mengendalikan keinginan, dorongan dan tekanan yang muncul dalam dirinya sehingga mengakibatkan perubahan kondisi emosi, pikiran dan berperilaku yang positif. Sejalan dengan itu, Melati mampu mengidentifikasi masalah yang Melati hadapi dan menemukan jalan keluar yang harus Melati tentukan.

Melati mampu membaca perhatian orang lain atas dirinya dan mendorongnya untuk lebih bersemangat menjalani hidup sehingga Melati menemukan aspek positif atau makna dan hikmah dari setiap kejadian yang menimpanya.

29

Tabel 4.1

Triangulasi Teori tentang Resiliensi No Deskripsi

Teori

Sumber Pro Kontra

1. Resiliensi adalah kemampua n dalam diri individu untuk dapat kembali pulih dari keadaan yang menekan dan mampu beradaptas i dan bertahan dari kondisi tersebut

Subjek 1 subjek mampu bertahan dari kondidi menekan dan bangkit kemudian berkembang Subjek 2 Subjek mengalami kondidi tertekan namun seiring berjalannya waktu, subjek mampu mengatasinya 2. Karakteris tik individu resilien:

Subjek 1 Subjek hampir memiliki semua karakteristik tersebut

30 Insight, kemandiri an, hubungan, inisiatif, kreatifitas, humor dan moralitas Subjek 2 Subjek tergolong pribadi yang kurang memiliki karakteristik pribadi resilien dalam dirinya 3. Kemampu an dasar resiliensi: Regulasi emosi, pengendali an impuls, optimism, analisis penyebab masalah, empati, efikasi diri, reaching out

Subjek 1 Hampir semua kemampuan tersebut dimiliki oleh subjek Subjek 2 Meskipun tidak

semua karakteristik tersebut tidak dimiliki oleh subjek namun sebagian besar ada padanya

31

Gambar 4.1

Mind Map Berdasarkan Triangulasi Teori Resiliensi

Sumber: Diadaptasi dari hasil triangulasi teori tentang resiliensi 2. Proses Terjadinya Resiliensi Pada Janda

Dari paparan teori-teori di atas, maka peneliti mengkorelasikan dengan data yang peneliti dapatkan yang masing-masing subjek memiliki proses yang berbeda, berikut penjelasannya:

Subjek 1 (Mawar)

Saat pertama kali mengetahui suaminya meninggal, Mawar sempat bersedih namun ada hal yang lebih penting untuk Mawar lakukan dari pada hanya bersedih atas kondisi yang menerimanya. Mawar justru terlecut untuk segera bangkit dari keterpurukan. Semenjak masih ada suaminya, Mawar terbiasa hidup dengan kondisi yang sangat sederhana sehingga ketika Mawar harus hidup menjanda bukan hal yang sangat menyulitkan dirinya, hanya butuh tenaga yang terus diperas, pikiran yang selalu diasah untuk menemukan

resiliensi Subyek 1 Pro Kontra A1 Subyek 2 Pro Kontra A2

32

cara terbaik dan hati yang selalu berdoa, semoga yang di atas berkenan baik atas kemalangan yang menimpanya.

Mawar segera pulih pada fungsi psikologis dan emosi secara wajar dan mampu beradaptasi, dengan begitu, Mawar bisa segera dapat kembali beraktifitas untuk menjalani kehidupan sehari-hari, terlebih beban yang harus diembannya bukanlah ringan dan sepele. Setelah itu, belajar dari pengalaman sebelumnya menjadikan Mawar menjadi pribadi yang resilien.

Subjek 2 (Melati)

Berbeda dengan Mawar, Melati sempat mengalami kondisi terpuruk sesaat setelah ditinggal pergi suaminya. Melati sempat sakit. Masalah ini menjadikan Melati depresi cukup lama dan terdiam dalam kondisinya tersebut. Melati kesulitan untuk mengembalikan dirinya ke fungsi psikologis dan emosi positif setelah dari kondisi menekan tersebut. Efek dari pengalaman yang menyenangkan dan penuh harapan membuat Melati gagal untuk kembali berfungsi secara wajar.

Seiring dengan berjalannya waktu, Melati mulai pulih dan kembali pada fungsi psikologis dan emosi positif. Walaupun masih menyisakan efek perasaan negatif sampai saat peneliti melakukan penelitian, namun secar umum Melati dapat kembali beraktifitas untuk menjalani kehidupan sehari-harinya.

Sampai sekarang Melati masih berada pada level ini dan sulit baginya untuk mampu berkembang secara pesat. Hal ini merupakan efek dari pola hidup yang selalu di zona nyaman yang dijalani sebelumnya dan harapan yang

33

terpusat pada sosok kepala keluarga serta Melati kurang memiliki bekal pribadi untuk menjadi pribadi yang resilien.

Tabel 4.2

Triangulasi Teori tentang Proses Resiliensi No Deskripsi

Teori

Sumber Pro Kontra

1. Tahapan resiliensi: mengalah, bertahan, pemulihan berkemba ng pesat

Subjek 1 Subjek mampu melewati tahapan tersebut dengan baik, bahakan berdasarkan observasi peneliti, subjek tidak mengalami kondisi atau tahapan mengalah Subjek 2 Subjek mengalami semua tahapan tersebut, bahakan subjek lama berada pada tahapan mengalah

34

Gambar 4.2

Mind Map Berdasarkan Triangulasi Teori esiliensi

Sumber: Diadaptasi dari hasil triangulasi teori tentang resiliensi 3. Faktor Yang Mempengaruhi Terjadinya Resiliensi Pada Janda

Dari paparan teori-teori di atas, maka peneliti mengkorelasikan dengan data yang peneliti dapatkan yang masing-masing subjek memiliki proses yang berbeda, berikut penjelasannya:

Subjek 1 (Mawar)

Dilihat dari sudut pandang psikologi, Mawar adalah perempuan yang memiliki tempramen yang kuat. Hal ini mempengaruhi bagaimana Mawar menjadi seorang pengambil resiko, segera mengambil keputusan atas pilihan dan tegas atas masalahnya.

Dari sisi inteligensi, memang peneliti belum pernah mengadakan tes IQ kepada subjek sehingga peneliti tidak mengetahui tingkat IQ Mawar.

resiliensi Subyek 1 Pro Kontra A1 Subyek 2 Pro Kontra A2

35

Namun dari observasi yang peneliti lakukan, maka peneliti menyimpulkan bahwa Mawar memiliki tingkat inteligensi yang baik. Hal ini nampak dari bagaimana Mawar dalam mengambil keputusan, menghadapi tiap kesulitan yang melilitnya, menemukan solusi atas masalahnya, memiliki penalaran yang baik, melihat hubungan diantara berbagai hal, melihat aspek permasalahan secara menyeluruh, meliki pikiran yang terbuka dan lain sebagainya. Mawar juga termasuk orang yang kreatif dan inovatif serta telaten dalam mengerjakan sesuatu. Mawar memiliki keajekan dalam bekerja.

Budaya yang ada di sekitar Mawar tinggal juga mendukung Mawar untuk terus berjuang sehingga hal ini menjadi faktor pendukung atas masalahnya. Ditambah dengan usia yang masih relatif produktif untuk eksis dalam dunia kerja.

Subjek 2 (Melati)

Berbeda dengan Mawar, Melati adalah tipe orang yang plegmatis, dimana Melati santai dalam menjalani kehidupan yang sebenarnya membutuhkan perjuangan ekstra, cenderung tenang dan memilih cara termudah dalam menyelesaikan masalah yang Melati hadapi. Melati kurang mampu dalam memotivasi dirinya sehingga faktor eksternal yang lebih banyak mendukungnya. Melati juga kurang antusias dan cenderung menghindari konflik.

Dari sisi kemampuan inteligensi, peneliti belum pernah melakukan tes secara langsung, namun berdasarkan observasi dan pengamatan peneliti sejauh ini, peneliti dapat menyimpulkan bahwa Melati memiliki tingkat

36

inteligensi rata-rata. Memungkinkan apa yang peneliti simpulkan ini salah karena memang peneliti belum pernah melakukan tes psikologi secara langsung dengan alat tes inteligensi.

Beruntung Melati memiliki lingkungan keluarga dan masyarkat sekitar yang mendukungnya untuk tetap kuat dan bertahan. Secara usia, ketika melati ditinggal oleh pasangannya juga tergolong usia produktif dalam berkarir namun Melati kurang memiliki inisiatif.

Tabel 4.3

Triangulasi Teori tentang Faktor Resiliensi No Deskripsi

Teori

Sumber Pro Kontra

1. Sumber pembentu kan resiliensi: I have, I am & I can

Subjek 1 Subjek memiliki semua sumber pembentukan resiliensi tersebut sehingga memudahkanny a dalam membentuk resiliensi dalam dirinya

Subjek 2 Subjek hanya memiliki I have & I am 2. Faktor yang Subjek 1 Secara keseluruhan

37 mempenga ruhi resiliensi: temprame n, inteligensi, budaya, usia, gender subjek memiliki faktor yang mempengaruhi resiliensi tersebut

Subjek 2 Subjek memiliki sebagian faktor tersebut namun sudah cukup untuk membentuknya menjadi pribadi yang resilien Gambar 4.3

Mind Map Berdasarkan Triangulasi Teori Resiliensi

resiliensi Subyek 1 Pro Kontra A1 Subyek 2 Pro Kontra A2

38

Sumber: Diadaptasi dari hasil triangulasi teori tentang resiliensi 4. Dinamika Resiliensi Pada Janda

Dari paparan teori-teori di atas, maka peneliti mengkorelasikan dengan data yang peneliti dapatkan yang masing-masing subjek memiliki proses yang berbeda, berikut penjelasannya:

Subjek 1 (Mawar)

Mawar dalam menjalani kehidupan pasca meninggalnya pasangannya merasakan banyak perbedaan, terlebih karena meninggalnya suami Mawar terjadi secara tiba-tiba. Hal ini menumbulkan tekanan psikologis yang dirasakan Mawar. Ketika masih ada sosok suami, banyak kegiatan yang dapat dilakukan secara bersama-sama, memikirkan dan memutuskan sesuatu secara bersama-sama dan mengisi kebutuhan batin juga.

Pasca meninggalnya suami Mawar, Mawar harus melakukan semua yang dahulunya dapat dilakukan bersama saat ini harus Mawar kerjakan sendiri, terutama masalah ekonomi yang menurutnya menjadi tugas yang berat. Selain itu, penyesuaian diri dalam status antara sebelum menjanda dan kondisi menjada juga memerlukan proses dan waktu. Peran ganda menjadi ibu sekaligus bapak bagi anak-anaknya juga menjadikan beban dalam diri Mawar menjadi lebih sulit dari sebelumnya.

Beruntung Mawar sudah terbiasa untuk hidup dalam kesederhanaan dan keterbatasan, sehingga menjadikannya sedikit lebih mudah dalam beradaptasi dengan kondisi sekarang. Meskipun begitu, Mawar tetap harus berjuang lebih

39

keras, Mawar harus selalu bergerak dan berkembang dengan segenap kemampuan yang dimikinya untuk dapat survive bersama keluarganya, terlebih Mawar memutuskan untuk tidak menikah setelah kematian suaminya. Saat ini Mawar tinggal di rumahnya bersama anak terakhir dan menantunya. Namun tugas Mawar saat ini belum bisa dikatakan selesai karena ada cucu yang ikut dengannya. Mawar sampai sekarang pun masih sering menerima pesanan kue dari masyarakat sekitar meskipun semua kebutuhan kesehariannya sudah tercukupi.

Subjek 2 (Melati)

Sedikit berbeda dengan Mawar, kondisi melati berbeda dengan Mawar. Melati terbiasa dengan kondisi nyaman. Berasal dari keluarga yang cukup dengan berbagai fasilitas yang ada membuat melati sulit untuk beradaptasi, terlebih secara materi. Belum lagi dalam menjalani status baru sebagai janda. Meskipun suami Melati sempat sakit cukup lama, namun kenangan selama hidup bersama sungguh membekas dalam diri Melati sehingga Melati sempat mengalami tekanan atas kehilangan suaminya tersebut. Kondisi ini berlangsung cukup lama dan efek psikologis ini benar-benar terasa bagi Melati.

Kondisi ekonomi keluarga juga sangat dirasakan melati. Ketika masih ada suami, semua kebutuhan keluarga menjadi tanggung jawab suami dan semua terpenuhi dengan baik. Banyaknya sumber penghasilan ketika itu membuat Melati tercukupi segala kebutuhannya. Hal ini berbalik ketika sosok suami telah pergi. Penopang ekonomi keluarga hilang dan Melati harus

40

memulai untuk berjuang menggantikan peran suami untuk menjadi tulang punggung keluarga, belum lagi peran seorang ayah bagi anak-anaknya yang juga ada di pundaknya.

Adanya dukungan dari pihak keluarga besar dan lingkungan membuatnya bisa bertahan. Untuk masalah ekonomi, karena Melati tidak terbiasa untuk mencari penghasilan sendiri, maka Melati memilih untuk menjual sedikit demi sedikit harta peninggalan Suaminya. Beruntung suaminya meninggalkan materi cukup banyak untuk saat itu.

Saat ini, tugas Melati sebagai orang tua bisa dikatakan selesai. Semua anak-anaknya sedah berumah tangga dan tinggal bersama suaminya masing-masing. Melati sekarang tinggal bersama anak bungsu di rumah peninggalan suaminya. Kebutuhan ekonomi Melati pun sekarang dicukupi oleh salah satu anaknya yang terbilang sukses.

Tabel 4.4

Triangulasi Teori tentang Dinamika Resiliensi No Deskripsi

Teori

Sumber Pro Kontra

1. Eksistensi resiliensi yang dimiliki oleh subjek

Subjek 1 Subjek termasuk pribadi yang memiliki tingkat resiliensi tinggi dalam menjalani dan keluar dari kondisi yang menekan

41

Subjek 2 Subjek merasa

kesulitan untuk bangkit dari kondisi yang menekannya, meskipun seiring dengan berjalannya waktu subjek mampu beradaptasi Gambar 4.4

Mind Map Berdasarkan Triangulasi Teori esiliensi

Sumber: Diadaptasi dari hasil triangulasi teori tentang resiliensi

resiliensi Subyek 1 Pro Kontra A1 Subyek 2 Pro Kontra A2

Dalam dokumen BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN (Halaman 24-41)

Dokumen terkait