• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berat Basah dan Berat Kering Umbi Bawang Putih Doulu

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.4. Berat Basah dan Berat Kering Umbi Bawang Putih Doulu

Berat basah dan berat kering umbi bawang putih Doulu dapat juga dijadikan sebagai parameter dalam melihat pengaruh fisiologi pada tanaman bawang putih setelah diaplikasikan kolkisin dengan waktu perendaman yang berbeda-beda.

Perlakuan kolkisin 0,3% tanpa perendaman (D3T0) menghasilkan berat basah umbi bawang putih Doulu tertinggi, yaitu 4,58 g (Gambar 4.5), namun tidak berbeda nyata dengan perlakuan D0T0 yaitu 3,82 g. Berat basah terendah pada perlakuan kolkisin 0,1% dengan waktu perendaman selama 6 jam (D1T1), yaitu 0,59 g (Lampiran 6, Hlm. 45)

20

D0T0 D0T1 D0T2 D0T3 D0T4 D1T0 D1T1 D1T2 D1T3 D1T4 D2T0 D2T1 D2T2 D2T3 D2T4 D3T0 D3T1 D3T2 D3T3 D3T4

Berat (g)

Kombinasi Perlakuan

RERATA BERAT BASAH RERATA BERAT KERING

Berat kering umbi tertinggi ditunjukkan pada perlakuan tanpa kolkisin dengan waktu perendaman selama 12 jam (D0T2), yaitu seberat 1,57 g dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan D0T0, yaitu 1,16 g. Berat umbi basah terendah ditunjukkan pada perlakuan kolkisin 0,1% dengan waktu perendaman selama 6 jam (D1T1), yaitu 0,19 g (Gambar 4.5). Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa berat kering umbi bawang putih setelah diaplikasikan kolkisin dengan waktu perendaman yang berbeda-beda belum memberikan pengaruh yang nyata terhadap berat kering umbi.

Berat basah merupakan hasil pengukuran dari berat basah biomassa tanaman sebagai akumulasi bahan yang dihasilkan selama pertumbuhan (Buntoro et al., 2014). Berat basah tanaman terdiri dari 80 – 90% adalah air dan sisanya adalah berat kering. Menurut Gardner et al. (1991), berat kering merupakan akibat dari penimbunan hasil bersih dari asimilasi CO2 sepanjang musim pertumbuhan yang mencerminkan akumulasi senyawa organik yang berhasil disintesis tanaman dari senyawa anorganik terutama air dan CO2. Kemampuan tanaman dalam menyerap air terletak pada akarnya. Kondisi akar yang baik akan mendukung penyerapan air yang optimal (Lakitan, 2001). Salisbury dan Ros (1995c) serta Sitompul dan Guritno (1995) menyatakan berat basah tanaman dapat menunjukkan aktivitas metabolisme tanaman dan nilai berat basah tanaman dipengaruhi oleh kandungan air pada jaringan, unsur hara, dan hasil metabolisme.

Secara umum, rata-rata berat basah dan berat kering umbi mengalami penurunan setelah diaplikasikan kolkisin sebesar 0,1% dengan waktu perendaman selama 6 jam (D1T1) dibandingkan dengan perlakuan kontrol (D0T0). Hal ini sesuai dengan Hardiyanti et al. (2009) yang mengatakan bahwa pemberian kolkisin konsentrasi 0,20% menyebabkan penurunan berat basah pada tanaman Vigna radiata sebesar 6,45 g dibandingkan dengan perlakuan kontrol yaitu 22,53 g. Berbeda dengan beberapa penelitian lainnya menunjukkan terjadinya peningkatan berat basah setelah diaplikasikan dengan kolkisin. Menurut Majdi et al. (2010), berat basah bunga Tanacetum parthenium setelah diberi perlakuan konsentrasi kolkisin 0,05%

mengalami peningkatan sebesar 0,33 g dibandingkan kontrol sebesar 0,17 g. Menurut Abdoli (2013), perlakuan kolkisin 0,25% meningkatkan berat biji sebesar 7,35 g dibandingkan perlakuan kontrol (5,53 g) pada tanaman Echinacea purpurea. Wang

22

et al. (2017) mengatakan bahwa terjadi peningkatan berat biji pada tanaman kultivar Fagophyrum tataricum dengan perlakuan kolkisin 0,25% dibandingkan perlakuan kontrol. Pemberian kolkisin dengan konsentrasi yang tepat mampu meningkatkan pertambahan ukuran sel sehingga dapat menambah ukuran jaringan, ukuran organ, atau bagian-bagian tanaman secara keseluruhan, maupun bobot tanaman tersebut.

Peningkatan pembelahan sel menghasilkan jumlah sel yang lebih banyak. Jumlah sel yang lebih banyak memungkinkan terjadinya peningkatan fotosintesis yang menghasilkan karbohidrat sehingga dapat mempengaruhi bobot tanaman (Brenner dan Cheikh, 1995; Deninta et al., 2017).

Kondisi lingkungan yang kurang sesuai menjadi salah satu faktor penyebab tanaman kurang responsif, sehingga proses metabolisme di dalam jaringan tanaman menjadi terhambat. Berdasarkan hasil uji unsur nitrogen, fosfor, dan karbon dalam tanah Doulu di Laboratorium (Lampiran 10, Hlm. 54), didapatkan kandungan unsur N-total sebesar 0,20% (rendah), P-tersedia sebesar 19,62 ppm (sedang), K-dd sebesar 0,539 % (rendah), C-organik sebesar 1,58% (rendah) dan pH H2O sebesar 5,94 (sedang). Dengan demikian diketahui bahwa sifat kimia tanah Doulu tergolong tanah yang agak asam dan memiliki kandungan unsur N-total, K-dd, C-organik yang rendah, serta P-tersedia tergolong sedang. Kesuburan tanah dapat ditingkatkan dengan penambahan bahan organik, pengapuran dan pupuk anorganik untuk meningkatkan kesuburan tanah.

Menurut Napitupulu dan Winarto (2010), bobot umbi yang rendah berhubungan dengan sedikitnya unsur N dan K yang tersedia sehingga pertambahan bobot umbi basah lambat dan mempengaruhi bobot kering umbi. Unsur nitrogen merupakan komponen struktural dari sejumlah senyawa organik penting, seperti asam amino, protein, nukleoprotein, berbagai enzim, purin, dan pirimidin yang sangat dibutuhkan dalam pembesaran dan pembelahan sel, sehingga pemberian nitrogen optimum dapat meningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman (Gardner et al.,1985). Pembelahan dan pembesaran sel menjadi terhambat jika kekurangan unsur N (Sumiati dan Gunawan, 2007). Menurut Sumarni et al. (2012), semakin tinggi kadar P-tanah, maka semakin luas daun tanamannya. Semakin tinggi kadar P-tanah maka makin tinggi pula bobot kering tanaman bawang merah. Dengan demikian,

kemungkinan faktor lain yang menyebabkan penurunan berat basah dan berat kering adalah unsur hara N dan K rendah.

Pengaruh unsur hara esensial terhadap pertumbuhan tanaman tidak secara langsung, tetapi melalui produksi hormon yang secara langsung mengatur pertumbuhan tanaman, diantaranya ialah dalam pengaturan partisi asimilat. Apabila partisi asimilat terhambat, maka perkembangan umbi dapat terganggu akibat berkurangnya suplai asimilat (Firmansyah dan Sumarni, 2013). Berat kering tanaman adalah berat tanaman setelah dikeringkan dalam oven, sehingga kadar airnya telah hilang dan yang tersisa hanya senyawa-senyawa kimia yang terkandung dalam tanaman. Produksi bahan kering tanaman merupakan resultan tiga proses yaitu penumpukan asimilat melalui fotosintesis, penurunan asimilat akibat respirasi dan akumulasi ke bagian sink (Hardiyanti el al, 2009). Gardner et al. (1991) mengatakan apabila pertumbuhan vegetatif baik maka cadangan makanan yang dihasilkan tinggi, sehingga dapat ditranslokasikan untuk pengisian biji. Ketersediaan hara yang kurang bagi tanaman akan diikuti penurunan aktivitas fotosintesis yang menghasilkan asimilat sedikit, akhirnya berat kering menjadi menurun dan berkaitan terhadap laju pertumbuhan tanaman (Lutfia et al., 2017). Dalam penelitian ini, rerata berat kering cukup tinggi dibandingkan rerata berat basah. Hal ini diduga karena kemampuan tanaman dalam mentranslokasi asimilat tergolong kurang baik, sehingga kadar air lebih tinggi.

Faktor lain yang menyebabkan tidak berbeda nyatanya berat basah dan berat kering umbi yaitu viabilitas bibit dan ukuran umbi yang tidak seragam diduga mempengaruhi pertumbuhan panjang dan jumlah daun tanaman sehingga umbi yang berukuran besar lebih cepat membentuk tunas (Sorensen et al., 2015; Trojak-Goluch dan Skomra, 2013). Lovelees (1991) menyatakan bahwa bila fase vegetatif tanaman lebih daripada fase reproduktif, maka karbohidrat yang digunakan lebih banyak daripada disimpan dan sedikit sekali karbohidrat yang tersisa untuk perkembangan kuncup bunga, bunga, buah dan biji, maka tanaman tersebut terkonsentrasi pada perkembangan vegetatif tanaman.

24

Dokumen terkait