III. BAHAN DAN METODE PENELITIAN
4.6. Berat Brangkasan Basah (gram)
Data pengamatan rata-rata berat brangkasan basahper tanaman sampel dan per plot dan transformasi data disajikan pada Lampiran 36 dan 38. Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 37 dan 39) menunjukkan bahwa teknik aplikasi
ZPT berpengaruh tidak nyata terhadap berat brangkasan basah per tanaman sampel dan berat brangkasan basah per plot. sedangkan umur bibit saat pindah tanam berpengaruh tidak nyata terhadap berat brangkasan basah per tanaman sampel dan berpengaruh sangat nyata terhadap berat brangkasan basah per plot serta tidak adanya pengaruh interaksi antara kedua faktor perlakuan tersebut.
Rata-rata berat brangkasan basah bawang merah asal biji akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT dan umur bibit saat pindah tanam disajikan pada Tabel 7 berikut :
Tabel 7. Rata-rata berat brangkasan basah bawang merah per tanaman sampel dan per plot akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT (Z) dan umur bibit saat pindah tanam (T)
Teknik Aplikasi ZPT
Berat Brangkasan Basah (gram)
Per tanaman sampel Per Plot
Z0 47.45 2182.1 Z1 50.32 2717.2 Z2 41.35 2281.0 Z3 44.77 2123.0 Umur Bibit Saat Pindah Tanam
Berat Brangkasan Basah (gram)
per tanaman sampel Per Plot
T1 38.85 1286.8 b
T2 49.93 2384.3 a
T3 47.87 2637.9 a
T4 48.85 2994.3 a
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf P≤0,05 (Uji Tukey)
Hasil pada Tabel 7 dapat dilihat bahwa berat brangkasan basah umbi bawang merah per plot yang tertinggi akibat perlakuan umur bibit saat pindah tanam diperoleh pada perlakuan T4 (umur bibit 6 MSS) diikuti oleh T3 (umur bibit 5 MSS), T2 (umur bibit 4 MSS) dan terendah pada T1 (umur bibit 3 MSS). Namun antara perlakuan T4, T3 dan T2 tidak berbeda antara ketiga perlakuan tersebut karena waktu panen dapat dilakukan sekaligus. Sedangkan pada T1 (umur bibit 3
MSS) hasilnya sangat rendah disebabkan karena pada saat panen banyak umbi yang sudah busuk yang diakibatkan oleh curah hujan yang sangat tinggi dua minggu sebelum panen. Pada T4, T3 dan T2 dapat dipanen lebih awal sehingga banyak umbi yang masih dapat diselamatkan.
Selain itu pada perlakuan T1 (umur bibit 3 MSS saat pindah tanam), banyak tanaman yang mati per satuan luas plot walaupun sudah dilakukan penyulaman, sehingga rendahnya populasi tanaman akan mengakibatkan rendahnya berat umbi per satuan plot.Tingginya berat brangkasan basah pada T4 (umur bibit 6 MSS)dibandingkan dengan T3 (umur bibit 5 MSS) dan T2 (umur bibit 3 MSS) disebabkan karena pada saat pindah tanam, tanaman sudah cukup mampu bertahan dengan kondisi lingkungan pertanaman sehingga pertumbuhan umbi menjadi tidak terhambat. Sesuai dengan pendapat Gardner et al., (1991) bahwa dengan pertumbuhan vegetatif yang baik maka pertumbuhan generatif juga akan lebih baik. Bagheri et al., (2011) dan Ginigaddara dan Ranamukhaarachchi (2011) menambahkan bahwa ketika bibit ditransplantasikan pada waktu yang tepat dan umur yang sesuai, pertumbuhan juga akan berjalan normal sehingga hasil yang dicapai akan lebih baik.
4.7.Berat Brangkasan Kering (gram)
Data pengamatan rata-rata berat brangkasan kering per tanaman sampel dan per plot dan data transformasi x+0,5 disajikan pada Lampiran 40, 42 dan 44. Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 41, 43 dan 45) menunjukkan bahwa teknik aplikasi ZPT berpengaruh tidak nyata terhadap berat brangkasan kering per tanaman sampel dan berpengaruh nyata terhadap berat brangkasan kering per plot. Sedangkan umur bibit saat pindah tanam berpengaruh tidak nyata terhadap berat
brangkasan kering per tanaman sampel dan berpengaruh sangat nyata terhadap berat brangkasan kering per plot serta tidak adanya pengaruh interaksi antara kedua faktor perlakuan tersebut.
Rata-rata berat brangkasan kering bawang merah akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT dan umur bibit saat pindah tanam disajikan pada Tabel 8 berikut : Tabel 8. Rata-rata berat brangkasan kering bawang merah per tanaman sampel dan
per plot akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT dan umur bibit saat pindah tanam
Teknik Aplikasi ZPT
Berat Brangkasan Kering (gram)
Per tanaman Sampel Per Plot
Z0 33.60 1438 b
Z1 39.81 2051 a
Z2 33.49 1669ab
Z3 33.98 1538ab
Umur Bibit Saat Pindah Tanam
Berat Brangkasan Kering (gram)
Per tanaman Sampel Per Plot
T1 34.34 1023 b
T2 37.32 1698 a
T3 33.99 1830 a
T4 35.24 2147 a
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf P≤0,05 (Uji Tukey)
Data hasil pada Tabel 8menunjukkan bahwa berat brangkasan kering per plot tertinggi akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT terdapat pada teknik aplikasi Z1 (teknik perendaman benih dalam larutan ZPT) kemudian diikuti oleh Z2(penyemprotan dengan larutan ZPT) dan Z3 (perendaman benih dan peyemprotan tanaman denga larutan ZPT) dan terendah dijumpai pada Z0 (tanpa aplikasi ZPT).Hal ini menunjukkan bahwa pengaruh semua perlakuan baik dengan cara perendaman, penyemprotan atau dengan cara keduanya sangat mempengaruhi berat brangkasan kering. Seiring dengan peningkatan jumlah daun, jumlah akar dan jumlah khlorofil maka akan meningkat pula berat brangkasan kering. Produksi fotosintesis yang lebih besar seperti daun dan akar kemudian menghasilkan
produksi bahan kering semakin besar (Sitompul dan Guritno, 1995).Salisbury dan Ross (1995) serta Sitompul dan Guritno (1995) menyatakan bahwa berat basah tanaman dapat menunjukkan aktivitas metabolisme tanaman dan nilai berat basah tanaman dipengaruhi oleh kandungan air jaringan, unsur hara dan hasil metabolisme.
Hasil pada Tabel 8 juga dapat dilihat bahwa berat brangkasan kering umbi bawang merah tertinggi akibat perlakuan umur bibit saat pindah tanam (T) terdapat pada umur bibit 6 MSS (T4) kemudian diikuti oleh umur bibit 5 MSS (T3) dan umur bibit 4 MSS (T2) dan yang terendah pada umur bibit 3 MSS (T1).
Rendahnya berat brangkasan basah dan berat brangkasan kering pada T1 (umur bibit 3 MSS) juga diakibatkan karena banyak tanaman yang mati per satuan luas plot. Hal ini diduga karena pada umur bibit 3 MSS, bibit belum mampu beradaptasi dengan lingkungannya dan pertumbuhan fisiologisnya belum sempurna. Sedangkan pada T4, T3 dan T2 bibit sudah mampu beradaptasi dengan lingkungannya dan pertumbuhan fisiologisnya sudah sempurna. Sesuai dengan pendapat Splittstoesser (1990) menyatakan bahwa pemeliharaanbibit dilakukan untuk menyempurnakan proses fisiologis dimana pada saat ini tanaman dapat menyimpan karbohidrat dan memproduksi kutikula sehingga tanaman dapat membentuk formasi perakaran dan bertahan pada kondisilingkungan yang tidak menguntungkan. Dengan pertumbuhan vegetatif yang baik maka pertumbuhan generatif juga akan lebih baik (Gardner et al., 1991).
Produksi tanaman biasanya lebih akurat dinyatakan dengan ukuran berat kering daripada dengan berat basah, karena berat basah sangat dipengaruhi oleh kondisi kelembaban (Sitompul dan Guritno, 1995). Hasil berat kering merupakan
keseimbangan antara fotosintesis dan respirasi. Fotosintesis mengakibatkan peningkatan berat kering tanaman karena pengambilan CO2sedangkan respirasimengakibatkan penurunan berat kering karena pengeluaran CO2 (Gardner
et al.,1991).
4.8. Diameter Umbi (cm)
Data pengamatan diameter umbi disajikan pada Lampiran 46. Dari hasil analisis sidik ragam (Lampiran 47) menunjukkan bahwa teknik aplikasi ZPTdan umur bibit saat pindah tanam berpengaruh tidak nyata terhadap diameter umbi dan tidak terdapat interaksi antara kedua perlakuan.
Rata-rata diameter umbi akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT dan umur bibit saat pindah tanam tertera pada Tabel 9 berikut ini :
Tabel 9.Rata-rata diameter umbibawang merah akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT (Z) dan umur bibit saat pindah tanam (T)
Teknik Aplikasi ZPT Diameter Umbi (cm)
Z0 4.23
Z1 4.32
Z2 4.22
Z3 4.02
Umur Bibit Saat Pindah tanam Diameter Umbi (cm)
T1 4.20
T2 3.99
T3 4.31
T4 4.30
Keterangan : Angka yang diikuti oleh huruf yang sama pada kolom yang sama tidak berbeda nyata pada taraf P≤0,05 (Uji Tukey)
Hasil dari Tabel 9 dapat dilihat bahwa diameter umbi akibat perlakuan teknik aplikasi ZPT berpengaruh tidak nyata. Namun demikian, diameter umbi akibat pengaruh perendaman benih dalam larutan ZPT lebih besar daripada teknik yang lain. Hal ini diduga bahwa dengan perlakuan perendaman dalam larutan zat pengatur tumbuh seperti auksin dan sitokinin dapat mempengaruhi besarnya umbi.
Sesuai dengan pendapat Smith dan Palmer (1970) dalamNurmayulis (2005) yang menyatakan bahwa sitokinin yang terdapat dalam larutan zat pengatur tumbuh tersebut dapat memacu pertumbuhan umbi dengan jalan menghambat aktivitas hidrolisis pati dan sebaliknya merangsang aktivitas pati.
Umur bibit saat pindah tanam juga berpengaruh tidak nyata terhadap diameter umbi. Namun diameter umbi terbesar diperoleh pada perlakuan umur bibit 5 MSS (T3) dan diikuti oleh T4 (umur bibit 6 MSS) dan T1 (umur bibit 3 MSS) dan yang diameter terkecil dijumpai pada T2 (umur bibit 4 MSS). Hal ini sangat berbeda dengan pendapat Nurshanti (2008) yang menyatakan bahwa tanaman dengan bibit yang berumur 5 MSS mempunyai malaiberukuran lebih kecil dibandingkan malai dari tanaman dengan umur bibit 3 MSS dan 4 MSS.