TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Pengertian getaran
3 Berat Derajat parah menyerang hampir setiap jari 4 Sangat
berat
Sering menyerang hampir semua jari
Stockholm juga mengklasifikasikan tingkat perubahn sensorineural pada jari akibat sindrom getaran tangan lengan dengn gejala-gejala sebagai berikut :
b) Kedua : selang seling tanpa sensasi fisik atau rasa/kaku pada jari dengan atau nyeri seperti disengat
c) Ketiga : selang seling atau terus menerus tanpa sensasi fisik atau rasa/kaku pada jari,persepsi sensori menurun
d) Keempat : selang seling atau terus menerus tanpa sensasi fisik/kaku pada jari,diskriminasi kesadaran melalui sensasi rasa dan/atau kemampuan manipulatif menggunakan tangan
Keparahan dari sindrom hand-arm vibration tergantung dari beberapa faktor seperti karakteristik dari pemaparan vibrasi,pelaksanaan kerja,riwayat perseorangan,dan kebiasaan. Faktor-faktor yang menginfluensi efek vibrasi pada tangan dapat dilihat pada table dibawah ini :
Tabel 2.4 Faktor-Faktor yang Menginfluensi Efek Vibrasi Pada Tangan
Faktor fisik Faktor-faktor biodinamik Faktor individu
Percepatan vibrasi
Kekuatan mengenggam,seberapa kencang tenaga kerja memegang alat vibrasi
Kontrol alat oleh operator
Frekuensi vibrasi Luas permukaan, lokasi, dan massa bagian tangan yang kontak dengan sumber vibrasi
Laju/keseringan dari kerja mesin
Durasi pemaparan
Kekerasan dari bahan yang kontak dengan pegangan tangan dari alat,misalnya logam dalam grinding dan chipping
Keterampilan dan produktifitas
Lamanya bekerja berkaitan dengan vibrasi
Posisi tangan dan lengan relative terhadap badan Kerentanan individual pada vibrasi Tingkat pemeliharaan alat
Tekstur pegangan lunak vs bahan yang massif
Merokok dan
penggunaan obat. Pemaparaan pada faktor kimia dan fisik Perlindungan
praktik dan alat
Riwayat medis luka jari dan tangan, terutama pada efek suhu rendah
Penyakit khususnya luka pada jari dan tangan
2.7 Penyakit akibat paparan getaran lengan tangan 2.7.1Angioneurosis jari jari tangan
Fenomena Raynauld (jari-jari putih) adalah syndrome akibat getaran yang paling sering di wilayah dunia yang dingin. Gejala gejala non spesifik pertama adalah akroprestesia pada tangan dan perasaan kebal pada jari jari tangan disaat bekerka atau sebentar sesudahnya. Pada stadium ini, selain gangguan kepekaan terhadap getaran, tidak ditemukan perubahan objektif lainnya. Pada fase berikutnya, diamati kepucatan paroksismal sporadic pada ujung ujung jari tangan. Paroksisme disebabkan oleh spasme lokal arteriol dan kapiler, serta dicetuskan oleh paparan terhadap suhu dingin local atau umum. Biasanya terjadi pada musim dingin dan sepenuhnya pulih kembali 15-30 menit setelah tangan dihangatkan. Selama paroksime kepekaan nyeri taktil sangat berkurang. Fase ini menimbulkan kesulitan diagnostic yang besar,karena penyakit yang dilaporkan tidak selalu dapat dikonfirmasi dengan pemeriksaan diruang konsultasi dokter. Observasi secara langsung suatu serangan di tempat kerja mempermudah guna diagnose (Wijaya:175-176)
Stadium lebih lanjut dari penyakit ini adalah kepucatan paroksismal, tidak hanya apda ujung jari,tetapi menyebar pada hampir seluruh jari namun jarang mengenai ibu jari. Paroksisme dapat diprovokasi oleh suhu yang sedikit dingin, bahkan dapat timbul pada suhu lingkungan. Pada stadium yang lebih lanjut, angiospasme diganti oleh paresis dinding pembuluh kecil yang mengakibatkan akrosianosis. Gejala-gejala yang menonjol adalah kebal ditangan, gangguan kecepatan jari dan gangguan sensivitas. Juga dapat timbul perubahan tonus local.
Uji diagnostik yang paling umum digunakan adalah induksi paroksisme jari dengan air dingin. Baik tangan maupun lengan bawah (sampai siku) direndam selama 10 menit dalam air yang didinginkan dengan kubus es (beberapa dokter menambah sensai dingin dengan meletakkan handuk basah pada bahu). Hendaknya dijelaskan bahwa metode ini lebih jarang menginduksi paroksisme jari tangan dibandingkan dengan getaran pada situasi kerja nyata
Kadang kala hanya dapat terlihat pengembalian darah ke kapiler yang melambat seperti : ujung jari dididtal kuku perlu ditekan sebentar dan dicatat waktu yang diperlukan oleh darah untuk kembali ke titik anoksemik. Metode pemeriksanaan laboratorium yang cocok pada pemeriksaan pencegahan adalah plestimografi jari (gangguan denyut akibat dingin), mikroskopi kapiler dan pengukuran suhu kulit (thermometer kontak atau termografi). Mungkin terdapat penurunan suhu kulit permulaan atau terlambatnya pemulihan suhu jari normal setelah tes air dingin
2.7.2 Gangguan tulang, sendi dan otot
Patolologi osteoartikular sering kali terbatas pada tulang karpal (khususnya lunata dan navikularis), sendi radioulnaris dan sendi siku. Gejala subjektif biasanyanya ringan tetapi pada stadium yang lanjut gangguan fungsional dan cukup berarti. Perubahan radiogram yang paling khas adalah atrosis sendi karpal, radioulnaris dan siku, serta pseudokista (terumatama pada tulang karpal, yang dapat pula memperlihatkan perubahan-perubahan atrofik lain seperti trebekula yang menebal menjadi jarang). Otot tendon disekitar sendi tersebut
biasanya juga terlihat gejala subyektif (nyeri) yang disebabkan kelainan ini sering mendahului perubahan radiogram yang jelas (Wijaya C, 1995)
2.7.3Neuropati
Kerusakan syaraf yang disebabkan getaran meliputi persyarafan otonom perifer (pada angioneurosis). Beberapa ahli mengemukakan efek efek pada syaraf perifer (ulnaris, mediamus, radialis). Ahli lainnya menganggap trauma syaraf umumnya sekunder dari iskemik berulang (pada angioneurosis), atau suatu faktor tmabahn sering kali neuropati kompresif misalnya osteoartikuler disekitar batang saraf. Terkenannya serat sensoris menyebabkan parastesia atau berkurangnya kepekaan serat motoric, gangguan ketangkasan, dan pada akhirnya atrofi, pengukuran kecepatan konduksi syaraf adalah pemeriksaan terpilih. Suatu bentuk campuran menggabungkan dua otot, tendon, tulang, pembuluh darah dan saraf perifer (Wijaya C, 1995)
2.8 Tes pemeriksaan tangan fungsi sensorik 2.8.1 Tes untuk rasa raba
a) Alat yang digunakan adalah kapas
b) Ujung kapas digoreskan pada permukaan tangan pasien
c) Responden diminta untuk menunjukkan apakah terasa goresan tersebut atau tidak
2.8.2 Tes untuk rasa nyeri
b) Rangsangan berganti ganti antara ujung yang tajam dan yang tumpul. Mintalah responden untuk membedakan bermacam-macam rangsangan tersebut
c) Mulailah dari daerah yang paling terganggu dan bergerak kearah yang normal. Kemudia responden diminta untuk menunjukkan kapan mulai merasakan ketajaman yang lebih jelas, yang perlu dicatat adalah perubahan sensasi. Sensasi ini paling baik dalam menentukan batas gangguan sensorik dibandingkan dengan sensai yang lain
2.8.3 Tes untuk rasa suhu
Rangsangan panas dilakukan dengan menempelkan botol yang berisi air panas (40oC-45oC), sedangkan rangsangan dingin dengan menempelkan botol yang berisi air dingin (10oC-15oC). dengan mata tertutup diminta membedakan botol tersebut setelah bagian tubuh khususnya bagian tangan
2.9 Faktor yang mempengaruhi kesehatan akibat getaran lengan tangan 2.9.1 Umur
Umur sangat berpengaruh terhadap kesehatan, pertambahan umur dapat memperbesar risiko apabila umur pekerja 29 - 60 tahun maka pekerja lebih rentan terkena gangguan atau keluhan kesehatan akibat dari getaran lengan-tangan. Karena kemampuan elastisitas tulang,otot ataupun urat semakin berkurang sebagai peredam dari getaran yang dirambatkan ke tubuh. (Wijaya. C, 1995:180).
2.9.2 Lama Kerja
Lama kerja adalah “waktu atau lamanya pekerja melakukan pekerjaan
getaran lengan tangan. Tingkat intensitas getaran yang lebih tinggi serta waktu pemaparan yang lama akan mengakibatkan kerusakan pada tulang – tulang dan sendi. Pemaparan yang lama terhadap getaran, terutama bila bersamaan dengan faktor lain yang berbahaya seperti dingin, kebisingan dan beban statis dapat mengakibatkan timbulnya penyakit akibat getaran (Bhattacharya. 1996:80)
2.9.3 Masa kerja
Masa kerja adalah “waktu atau lamanya pekerja telah melakukan pekerjaan tersebut”. Sehingga dapat diketahui lamanya paparan bagi pekerja
akibat getaran lengan tangan. Ketika masa kerja lebih lama dalam menggunakan alat getar maka paparan yang sampai ke tubuh makin sering. Hal itu akan
mempermudah pekerja terkena HAVS. Pekerja dengan masa kerja yang ≥ 4 tahun
memiliki kerentanan untuk gangguan kesehatan dibandingkan yang < 4 tahun ( Pakari. 2013)
2.9.4 Jenis kelamin
Beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis kelamin mempengaruhi tingkat risiko keluhan otot. Kekuatan otot wanita hanya sekitar dua pertiga dari kekuatan otot pria, sehingga daya tahan otot pria lebih tinggi dibandingkan dengan wanita menurut Tarwaka perempuan mempunyai perbedaan fisik dengan laki-laki, sehingga lebih rentan terkena paparan getaran (Siswanto, A.1991:112) 2.9.5 Alat pelindung diri
Penggunaan APD sangat berpengaruh terhadap kesehatan pekerja. APD merupakan salah satu cara untuk meminimalkan risiko Penyakit Akibat Kerja
(PAK). APD yang digunakan untuk mengurangi paparan vibrasi terhadap lengan-tangan berupa sarung lengan-tangan (Bhattacharya. 1996:80)
2.10 Pengendalian getaran
Menurut soedirman (2014), modifikasi kerja perlu dilakukan untuk mereduksi pemaparan vibrasi. Beberapa alternative yang dapat dilakukan adalah :
a) Merancang ulang untuk memimalisi penggunaan alat-alat vibrasi yang dipegang tangan
b) Jika perancangan tidak memungkinkan maka cara cara mereduksi alat harus dilakukan
c) Bila dapat dilakukan subtitusi alat vibrasi manual dengan alat mesin vibrasi d) Bila mungkin alat bervibrasi tinggi diganti dengan lebih baik. Vibrasi yang
rendah dirancang agar menyerap getaran sebelum sampai ditangan
e) Batasi waktu pemaparan vibrasi dan menggunakan waktu istirahat untuk menghindarai alat vibrasi constant dan kontinyu
f) Tenaga kerja yang menggunakan alat secara terus menerus harus beristirahat selama 10 menit setiap 1 jam
g) Pekerja yang penempatannya berisiko hand arm vibration syndrome (HAVS) harus menjalani pemeriksaan fisik sebelum kerja dan sesudah kerja serta haru diperiksa paling lama 1 tahun oleh dokter yang menegetahui tentang diagnosis dan penangan HAVS. Diagnose yang digunakan termasuk pletismografi, arteriografi, termografi kulit, uji sensori, seperti kedalaman sensasi dua titik diskriminasi, yaitu sentuhan atau rangsangan tusuk (pinprick touch), dan sensasi suhu
h) Rontgen juga mungkin berguna
i) Tenaga kerja yang mempunyai riwayat abnormalitas sirkulasi darah dan khususnya yang mengalami sindrom raynauld tidak boleh diizinkan menggunakan alat vibrasi
j) Tenaga kerja yang mengalami vibration induced white finger (VWF) sedang sampai parah harus dipindahkan ke pekerjaan yang terhindar dari pemaparan langsung terhadap alat vibrasi
k) Bila pekerja menderita gejala sakit seperti rasa disengat, rasa baal, dan bila jari jarinya menjadi putih atau kebiruan, atau sangat nyeri terutama pada saat dingin. Tenaga kerja tersebut harus dipindahkan dan diperiksa oleh dokter yang mengetahui diagnosis dan penangan VWF dan Carpal tunnel syndrome (CTS)
l) Memperkenalkan metode kerja yang mengeliminasi atau mereduksi pemaparan, seperti meminimalisi angkutan barang atau mengganti mesin yang dioperasikan oleh manusia dengan mesin kendali jarak jauh (remote control) seperti conveyor remote control
m) Mempertimbangkan pemilihan tempat duduk termasuk pemilihan jenis bahan pegangan
n) Membatasi durasi dan besarnya pemaparan bila semua langkah praktis telah dilakukan untuk mereduksi besarnya vibrasi dan memperhitungkan tiadanya APD yang dapat mereduksi vibrasi. Upaya terakhir ini untuk memenuhi nilai limit pemaparan adalah membatasi durasi pemaparan
2.11 Kerangka konsep
2.12 Hipotesis penelitian
1. Ada hubungan lama kerja dengan keluhan kesehatan pada pekerja cukur rambut di kelurahan Padang Bulan 1 Medan
2. Ada hubungan masa kerja dengan keluhan kesehatan pada pekerja cukur rambut di kelurahan Padang Bulan 1 Medan
Lama Paparan : 1. Lama Kerja 2. Masa Kerja
BAB III
METODE PENELITIAN