D. Pemetaan Konflik
D.1. Berdasarkan Tingkat Pengaruh dan Kepentingan
Mayoritas konflik mempunyai sebab ganda, sebagai kombinasi dari masalah hubungan antar aktor konflik yang bertikai sehingga cenderung mengarah kepada konflik terbuka (Fuad & Maskanah, 2000). Seringkali konflik menjadi lebih rumit dan dirasakan sangat penting untuk mendefinisikan pusat permasalahan kritis dan akar permasalahannya dengan memahami para aktor yang mengalami konflik. Keseluruhan identifikasi dan analisis
stakeholder yang mengalami konflik berdasarkan tingkat pengaruh-kepentingan terhadap
pengelolaan SDH di HLGL dan isu konflik pengelolaan SDH di HLGL disajikan melalui pemetaan konflik yang menghubungkan aktor konflik dengan isu konflik dan aktor konflik lainnya.
Pemetaan konflik pengaruh dan kepentingan para stakeholder primer dan sekunder dalam pengelolaan SDH di HLGL menjelaskan berbagai kepentingan dan pengaruh
stakeholder meliputi aliansi atau mitra kerja yang terjalin baik maupun yang retak, asal
kewenangan, arah pengaruh atau kegiatan dan timbulnya konflik suatu isu antar
stakeholder. Stakeholder primer dibutuhkan keterlibatan dan partisipasinya dalam setiap
pengambilan keputusan berkaitan dengan pengelolaan SDH di HLGL, berbeda dengan
stakeholder sekunder yang dibutuhkan partisipasinya secara periodik. Stakeholder primer
meliputi Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir, Bappeda, Bapedalda, UPTD Planologi Kehutanan Balikpapan, Desa Rantau Layung dan Dusun Muluy (Gambar 14). Organisasi non pemerintah, perusahaan swasta dan instansi pemerintah seperti Dinas Sosial dan UPTD Pengelolaan Hutan Kabupaten Pasir merupakan stakeholder sekunder (Gambar 15).
Pada Gambar 14 terlihat bahwa Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir menjalin aliansi dengan Bappeda dan Bapedalda serta memiliki asal kewenangan yang sama yaitu pemerintah kabupaten. Ketiga instansi tersebut berperan penting dalam bentuk pengelolaan HLGL yang akan dijalankan, oleh sebab itu diperlukan koordinasi yang solid dan terarah diantara ketiganya. Antara Dishut dengan UPTD Planologi Kehutanan Balikpapan terlibat konflik mengenai isu penataan batas kawasan HLGL. UPTD Planologi Kehutanan Balikpapan memiliki kewenangan dari pemerintah propinsi untuk menata batas kawasan hutan di Kabupaten Pasir, sedangkan Dishut sebagai pengelola utama HLGL masih simpangsiur kewenangan dalam menata batas. Kondisi tersebut disebabkan oleh masih belum optimal penyerahan kewenangan mengelola HLGL dari pemerintah pusat ke pemerintah daerah seiring masa desentralisasi. Oleh sebab itu antara Dishut dengan UPTD Planologi Kehutanan Balikpapan mengalami tumpang tindih kewenangan mengenai penataan batas kawasan HLGL.
Gambar 14. Pemetaan Konflik Pengaruh dan Kepentingan Antar Stakeholder Primer dalam Pengelolaan SDH di HLGL
Kunci:
Lingkaran : Instansi pemerintah
Lingkaran : Organisasi non pemerintah : Isu konflik Lingkaran : Perusahaan swasta
Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan Garis : Asal kewenangan yang sama Garis : Aliansi atau mitra kerja
Garis : Aliansi atau mitra kerja yang retak
Tanda panah : Arah utama suatu pengaruh atau kegiatan Garis : Timbulnya konflik
BAPPEDA BAPEDALDA DINAS KEHUTANAN KABUPATEN PASIR DUSUN MULUY ISU ISU DESA RANTAU LAYUNG ISU UPTD PLANOLOGI KEHUTANAN BALIKPAPAN
Gambar 15. Pemetaan Konflik Pengaruh dan Kepentingan Antar Stakeholder Sekunder dalam Pengelolaan SDH di HLGL
Kunci:
Lingkaran : Instansi pemerintah
Lingkaran : Organisasi non pemerintah : Isu konflik Lingkaran : Perusahaan swasta
Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan Garis : Asal kewenangan yang sama Garis : Aliansi atau mitra kerja
Garis : Aliansi atau mitra kerja yang retak
Tanda panah : Arah utama suatu pengaruh atau kegiatan Garis : Timbulnya konflik
DINAS SOSIAL,DAN UPTD PENGELOLAAN KEHUTANAN KABUPATEN PASIR TBI INDONESIA PT RIZKY KACIDA REANA PADI INDONESIA PeMA PASER ISU ISU PT KIDECO JAYA AGUNG
Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir memiliki arah utama pengaruh dan kegiatan terhadap masyarakat Dusun Muluy dan Desa Rantau Layung. Walaupun demikian arah utama ini menemui banyak kontra. Mulai dari penataan batas kawasan (tidak melibatkan masyarakat), pemanfaatan kawasan hutan (adanya pemukiman dalam kawasan), pemberdayaan masyarakat (pemberian bibit jenis tanaman introduksi) dan pemanfaatan hasil hutan (penebangan liar dan perambahan hutan). Kontra-kontra tersebut merupakan bentuk permasalahan yang harus segera diantisipasi demi mewujudkan upaya pengelolaan HLGL yang lestari, adil dan berbasis rakyat. Diperlukan koordinasi antar stakeholder
(kerjasama multipihak) yang solid dan terarah untuk mewujudkannya.
Dalam pemetaan pengaruh dan kepentingan antar stakeholder sekunder, aliansi juga terjalin diantara organisasi non pemerintah, yaitu antara TBI Indonesia dengan PeMA Paser, TBI Indonesia dengan PADI Indonesia dan PeMA Paser dengan PADI Indonesia. Tetapi, diantara ketiga aliansi tersebut hanya satu yang masih terjalin dengan cukup baik yaitu antara TBI Indonesia dengan PeMA Paser. Terdapat jalinan aliansi yang retak antara PeMA Paser dengan PADI Indonesia dan TBI Indonesia dengan PADI Indonesia. Kontra atau konflik kepentingan secara terbuka yang terjadi antara PADI Indonesia dan TBI Indonesia telah menyebabkan retaknya bahkan putusnya hubungan kerjasama yang terjalin diantara keduanya. Keretakan aliansi disebabkan oleh konflik terbuka mengenai isu koordinasi antar stakeholder akibat kurang adanya hubungan baik antara tetua organisasi meliputi komunikasi dan sikap yang akhirnya menimbulkan persaingan kepentingan dan ketidaksesuaian sistem kepercayaan (perbedaan paradigma pengelolaan hutan, khususnya dalam penanganan masyarakat Muluy yang berada dalam kawasan HLGL). Kondisi ini acapkali menimbulkan kerugian dan dampak yang mengimbas kepada masyarakat sehingga konflik yang terjadi perlu segera diantisipasi agar tidak berlanjut dan menyebabkan tidak terwujudnya tujuan pengelolaan HLGL.
Keretakan hubungan yang terjadi antara PeMA Paser dengan PADI Indonesia sangat terkait dengan masyarakat Dusun Muluy. Kedua organisasi tersebut sama-sama memiliki kepentingan dan pengaruh yang tinggi terhadap masyarakat Dusun Muluy dan Desa Rantau Layung terutama Muluy dalam hal memfasilitasi dan menjembatani masyarakat adat Paser mengenai budaya, sosial dan kearifan lokal tradisional serta ekonomi dan pendidikan. Konflik terjadi akibat konflik kepentingan, yang disebabkan oleh kekuatan pengaruh dari masing-masing organisasi terhadap masyarakat Muluy. Sebagai LSM lokal, PeMA Paser yakin keseluruhan kegiatan yang dilakukan berkaitan dengan masyarakat Muluy harus sesuai dengan tujuan organisasi yaitu tidak memberikan dampak kerugian terhadap masyarakat sekitar kawasan dan disesuaikan dengan budaya adat Paser. Tindakan tersebut telah diselewengkan oleh pihak PADI Indonesia, yang diyakini PeMA Paser bahwa PADI Indonesia telah memprovokasi masyarakat Muluy untuk menolak kehadiran pihak luar tanpa landasan yang kuat. Sebenarnya keretakan dapat diantisipasi dengan bersama-sama menggali kembali jalinan informasi dan koordinasi yang telah terjalin
sebelumnya, karena keduanya sama-sama merupakan organisasi yang berperan penting dalam menyuarakan dan menjembatani kepentingan masyarakat kepada pihak luar terutama dalam mewujudkan tujuan pengelolaan HLGL yang berbasis rakyat.
TBI Indonesia merupakan lembaga penelitian yang berpengaruh dan memiliki banyak kegiatan yang berkaitan dengan masyarakat sekitar kawasan dalam program pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan HLGL. Sebagai organisasi non pemerintah yang berpengaruh terhadap masyarakat Dusun Muluy dan Desa Rantau Layung maka diperlukan pondasi yang kuat dalam hal koordinasi seperti data, informasi dan rasa percaya. Konflik antara TBI Indonesia dan PeMA Paser dengan PADI Indonesia disebabkan oleh adanya oknum yang menyebarluaskan isu bahwa pihak TBI Indonesia menginisiasikan pemindahan pemukiman Muluy keluar kawasan HLGL dan menyebarkan berita bahwa masyarakat Muluy melakukan penebangan liar didalam kawasan HLGL. Isu tersebut sampai ke telinga masyarakat Muluy, sehingga masyarakat Muluy meminta bantuan kepada PADI Indonesia untuk membuat surat pernyataan penolakan kehadiran TBI Indonesia di kawasan HLGL dan Dusun Muluy yang kemudian diberitakan di surat kabar lokal setempat. Padahal pihak TBI Indonesia meyakini bahwa pihaknya tidak pernah mengeluarkan pernyataan seperti yang dituduhkan. Hubungannya dengan PeMA Paser adalah saat masyarakat Muluy meminta bantuan kepada PADI Indonesia, pihak PeMA Paser tidak diberitahu dan seakan- akan disembunyikan. Kondisi ini langsung diklarifikasi oleh pihak TBI Indonesia melalui surat kabar lokal dibantu dengan pihak PeMA Paser yang mengklarifikasi secara langsung kepada masyarakat Muluy. Sampai penelitian berakhir, kondisi hubungan antara TBI Indonesia dengan masyarakat Muluy berangsur-angsur membaik walaupun masih terlihat jelas keraguan masyarakat Muluy terhadap ketulusan pihak TBI Indonesia, tetapi tidak sama halnya yang terjadi antara TBI Indonesia dan PeMA Paser dengan PADI Indonesia. Pihak TBI Indonesia pun menjalin aliansi melalui MoU dengan PT Rizky Kacida Reana mengenai upaya pengelolaan hutan secara lestari.
Pihak Dinas Sosial Kabupaten Pasir dan UPTD Pengelolaan Hutan Kabupaten Pasir serta PT Kideco Jaya Agung yang berada diluar gambar utama menjelaskan bahwa
stakeholder tersebut tidak terlibat secara signifikan (dipengaruhi secara tidak langsung).
Tetapi kondisi ini dapat berubah sewaktu-waktu terutama Dinas Sosial apabila isu pemindahan pemukiman Muluy keluar kawasan mulai diangkat secara terbuka karena Dinas Sosial mempunyai andil kuat dalam hal pemukiman Muluy yang berada dalam kawasan. Walaupun demikian, Dinas Sosial yakin bahwa pemindahan pemukiman Muluy tidak akan terjadi dan jalan keluar terbaik adalah tindakan enclave.
Pemetaan konflik pengaruh dan kepentingan antara keseluruhan stakeholder juga dilakukan. Hal ini untuk memahami bahwa hampir seluruh stakeholder terkait dalam pengelolaan HLGL mengalami konflik antara satu dengan lainnya (Gambar 16). Kompleksitas suatu konflik dalam pengelolaan atau hampir seluruh stakeholder mengalami konflik, maka diperlukan langkah-langkah tepat dalam mengelola dan menyelesaikannya.
Kunci:
Lingkaran : Instansi pemerintah
Lingkaran : Organisasi non pemerintah : Isu konflik Lingkaran : Perusahaan swasta
Lingkaran : Masyarakat sekitar kawasan Garis : Asal kewenangan yang sama Garis : Aliansi atau mitra kerja
Garis : Aliansi atau mitra kerja yang retak
Tanda panah : Arah utama suatu pengaruh atau kegiatan Garis : Timbulnya konflik
Gambar 16. Pemetaan Konflik Pengaruh dan Kepentingan Antar Keseluruhan Stakeholder
dalam Pengelolaan SDH di HLGL BAPPEDA BAPEDALDA DINAS KEHUTANAN KABUPATEN PASIR MASYARAKAT DUSUN MULUY DAN
DESA RANTAU LAYUNG TBI INDONESIA UPTD PENGELOLAAN KEHUTANAN KABUPATEN PASIR UPTD PLANOLOGI KEHUTANAN BALIKPAPAN PT RIZKY KACIDA REANA PADI INDONESIA PeMA PASER ISU ISU ISU ISU PT KIDECO JAYA AGUNG DINAS SOSIAL ISU ISU ISU ISU ISU
Seperti halnya pemetaan konflik pengaruh dan kepentingan yang telah dilakukan dengan penggolongan stakeholder kedalam stakeholder primer dan sekunder, maka kunci peta yang digunakan juga sama. Pada Gambar 16 dapat diketahui bahwa hampir di seluruh hubungan stakeholder mengalami konflik berdasarkan isu. Arah utama dan kegiatan instansi pemerintah dan organisasi non pemerintah terfokus pada masyarakat Dusun Muluy dan Desa Rantau Layung. Begitu pula dengan PT Rizky Kacida Reana yang berkewajiban melakukan pemberdayaan masyarakat dengan memberi kompensasi dan insentif berupa bahan bakar solar dan uang. Namun apabila melihat tingkat keuntungan yang diterima pihak perusahaan terhadap pengusahaan kayu maka biaya kompensasi dan insentif yang diberikan kepada masyarakat Dusun Muluy sangatlah kecil (bahan bakar solar 1000 liter dan Rp 150 ribu per bulan). Kepentingan pihak perusahaan terhadap kawasan HLGL yang tinggi disebabkan oleh pengangkutan kayu log dari lokasi penebangan yang berada di perbatasan antara Propinsi Kalimantan Timur dan Kalimantan Tengah sampai ke TPK melintasi jalan
logging yang membelah kawasan HLGL dan melewati pemukiman Dusun Muluy.
Mengenai isu pemanfaatan kawasan terjadi konflik antara Dishut, Dinas Sosial dan masyarakat Dusun Muluy. Pemanfaatan kawasan yang dilakukan adalah adanya pemukiman Muluy yang berada dalam kawasan HLGL. Konflik mengenai isu pemanfaatan hasil hutan terjadi antara Bapedalda dan PT Kideco Jaya Agung. Pihak perusahaan menyebabkan dampak limbah tambang batubara pada DAS Kendilo; yang merupakan penyuplai air bersih bagi pemukiman masyarakat sekitar kawasan HLGL. Sesuai fungsinya, DAS Kendilo merupakan daerah tangkapan air dari kawasan HLGL.
Dinas Kehutanan Kabupaten Pasir menjalin mitra kerja dengan organisasi non pemerintah seperti PeMA Paser dan TBI Indonesia. Walaupun demikian antara Dishut dengan PeMA Paser menghadapi kontra kepentingan dalam perlindungan kawasan. Dari pihak PeMA Paser mengharapkan tindakan tegas berupa penegakan hukum dari Dishut dalam mengantisipasi ancaman kerusakan potensi SDH di HLGL. Tindakan tersebut belum dilakukan secara optimal oleh Dishut. Kontra kepentingan meliputi perbedaan pandangan dalam pengelolaan SDH di HLGL, pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan melalui pengembangan ekonomi alternatif dan kontribusi masing-masing pihak baik Dishut maupun PeMA Paser kepada HLGL, masyarakat serta antara keduanya. Keseluruhan kontra kepentingan atau konflik berdasarkan isu yang terjadi diantara stakeholder terkait dalam pengelolaan HLGL merumuskan satu permasalahan utama yaitu koordinasi.