• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II PERKEMBANGAN MUSIK GEREJA HKBP (HURIA

2.2 Perkembangan Nyanyian di Gereja HKBP

2.2.1 Berdirinya HKBP

2.2.1 Berdirinya HKBP

HKBP berdiri pada tanggal 7 Oktober 1861, tanggal itu menjadi titik balik sejarah penginjilan dan sejarah gereja HKBP. Sejarah penginjilan dan sejarah gereja adalah ibarat dua sisi dari satu mata uang yang sama. Gereja tanpa penginjilan bukanlah gereja. Itulah sebabnya peristiwa 7 Oktober 1861 diartikan dan dimaknai dari dua segi, yakni penginjilan dan gereja.

Pada awalnya tanggal 7 Oktober 1861 adalah titik balik penginjilan dari lembaga sending Rhein di dunia ini. Karena jauh sebelum tahun 1861 sending Rhein telah membuka daerah penginjlannya di Namibia – Afrika Selatan, Cina, Kalimantan dan di Afrika Utara. Tetapi sejak 7

Okto e di uka suatu dae ah pe gi jila a u di “u ate a, Batakla de atau Tanah

Batak. Dae ah pe gi jila a u i i di e i a a Batta issio yang kemudian disebut

Oktober 1861 bertepatan dengan tanggal dari rapat pertama para penginjill utusan RMG di Tanah Batak.

Badan Zending (penginjilan) Rheinische Mission Gesselschaf (RMG) berdiri di Barmen, Jerman pada tahun 1828 sebagai gabungan badan-badan zending di Jerman yang dilatarbelakangi kesalehan, kebangunan rohani dan kebangunan pekabaran Injil. Pada tanggal tersebut, dua misionaris RMG yang sebelumnya bekerja di Kalimantan yakni Klammer dan Betz bersama dua misionaris dari Ermelo, yakni van Asselt dan Heine melakukan Rapat di Sipirok untuk memulai pekerjaan RMG di tanah Batak. Di samping itu, pada tahun itu juga ditandai dengan masuknya orang Batak menjadi Kristen untuk pertama kalinya yakni Jakobus Tampubolon dan Simon Siregar, melalui baptisan kudus yang dilakukan Pdt Van Asselt di Sipirok.46

Na a Batak Mission telah elekat dala i gata pa a pe gi jil ‘MG da juga u at

Kristen Batak yang terhimpun dalam berbagai huria/jemaat. Penginjil Dr. Johannes Warneck (Ephorus sejak 1920-1932) menulis sebuah buku dalam rangka dalam menyambut jubileum

Batak- Mission ke- da tahu de ga judul : “e hzi g Jahre Batak issio i “u atera

(60 tahun Mission – Batak di Sumatera). 47 Pemaknaan sedemikian juga telah dijemaatkan oleh para pelaku sejarah Batak issio sejak 1905 : tanggal 7 Oktober 1861 adalah hari jadi

Batak Missio di Tanah Batak.

Tahun 1936 dimaknai oleh HKBP sebagai hari jadi HKBP sebagaimana termaktub dalam buku Jubileum 75 tahun HKBP: 1861-1936. Buku jubileum tersebut adalah hasil karya tulis

46

Moksa Nadaek, et al. 1995. Krisis HKBP. Biro Informasi HKBP

47

J. Warneck, Sechzing Jahre Batakmission in Sumatera ( 60 tahun Mission – Batak di Sumatera), Berlin, 1925. Tentang Rapat 7 Oktober 1861 baca hal., 22

majelis pusat HKBP 1936.48 Lembaga pengiilan RMG terpaksa mengakhiri pelayananya di Tanah Batak 1940 akibat perang dunia II. Pada tahun 1949 lembaga penginjilan RMG menyerahkan secara resmi seluruh assetnya di Tanah Batak kepada HKBP sebagai lembaga kegerejaan hasil penginjilan lembaga Pekabaran Injil RMG.

Pemahaman akan makna hari lahir HKBP sedemikian juga dikemukakan Ephorus J.

“iho i g dala ajalah I a uel te ita 1951, untuk mengingat 90 tahun : parmulaan

i ulao i Ko gres issio Bar e ‘.M.G di ta o ta o , a a g ari hatutu u i huria ta….

Pa 90-haliho .49Arti ya Per ulaa pelaya a ‘MG di ta ah kita atau Hari kelahira Gereja kita . DR. T.S. Sihombing selaku Sekjen HKBP dan redaktur Immanuel mengungkapkan apresiasi kepada lembaga ‘MG se agai ula-ula i De ata alat di ta ga Allah u tuk

pararatho Barita auli e e a ka e ita kesukaa da paojakhon Huria ni Kristus i di tongatonga ni bangsonta (mendirikan Gereja Kristus di tangahtengah bangsa kita ).50 Beliau memandang bahwa lembaga RMG adalah I a i Huria Kriste Batak Protesta (ibu dari HKBP).

Kata Huria bisa diartikan sebagai Jemaat. Kata "Batak" menjadi salah satu identitas, sering dipahami khalayak ramai sebagai sisi pembatasan atau ketertutupan bagi orang lain di luar suku Batak. Hal itu semakin diperkuat dengan asal muasal, tempat kelahiran dan Kantor Pusatnya di Tapanuli Utara, latar belakang dan sejarah pertumbuhan, perkembangan dan keanggotaannya yang mayoritas orang Batak. Namun dalam Tata Gereja HKBP memakai istilah Aturan untuk Anggaran Dasar dan Peraturan untuk Anggaran Rumah Tangga HKBP. Pasal 1 (Aturan) disebutkan bahwa HKBP adalah wadah persekutuan dari

48

Hoofdbestuur ni HKBP,Eben-Ezer:75 taon huria Kristen Batak Protestant, Laguboti: Sendings-Werkplatsen, tanpa tahun.

49

Sihombing, “ Parningotan di ari 7 Oktober 1861-1951”, dalam Immanuel 18617 Oktober -1851 nomor parolopolopon, hal., 7.

50

orang yang berasal dari segala kelompok, kalangan dan suku bangsa yang berada di seluruh Indonesia, serta di seluruh dunia ini, yang dibaptiskan ke dalam nama Allah Bapa, AnakNya Tuhan Yesus Kristus dan Roh Kudus. Pasal ini dengan jelas memperlihatkan bahwa HKBP bukanlah gereja atau organisasi kristen yang bersifat kesukuan, melainkan ia terbuka untuk seluruh suku bangsa dan bangsa-bangsa di dunia.51

HKBP memiliki jemaat sekitar 4.5 juta anggota di seluruh Indonesia. HKBP

juga mempunyai beberapa gereja di luar negeri, seperti di Singapura, Kuala Lumpur,

Los Angeles, New York, Seattle dan di negara bagian Colorado. HKBP adalah anggota

Persekutuan Gereja-gereja di Indonesia (PGI), anggota Dewan Gereja-gereja Asia

(CCA), dan anggota Dewan Gereja-gereja se-Dunia (DGD). Sebagai gereja yang

berasaskan ajaran Lutheran, HKBP juga menjadi anggota dari Federasi Lutheran

se-Dunia (Lutheran World Federation) yang berpusat di Jenewa, Swiss.

52

Pada mulanya ruang lingkup HKBP hanya terbatas dalam wilayah dan kehidupan orang Batak di Tapanuli. Pada masa-masa awal, HKBP hanya memakai bahasa Batak (Toba, Simalungun, Angkola dan Pakpak) sebagai bahasa pengantar dalam kehidupan bergereja. Seiring dengan perkembangan di wilayah Nusantara, terutama setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 17 Agustus 1945, HKBP semakin bergerak ke luar tanah Batak, khususnya ke Sumatera Timur, Jawa dan kemudian ke seluruh pelosok tanah air dan bahkan luar negeri. Perkembangan yang sedemikian rupa itu, ditambah dengan amanat Tata Gereja yang terbuka untuk seluruh suku, maka bahasa yang dipakai di HKBP berubah, tidak lagi hanya bahasa Batak, tetapi juga bahasa Indonesia dan

51

Op, Cit., Moksa Nadaek, et al. hal., 5.

52

bahasa lain yang dimengerti oleh warga. Sejak tahun 50-an, HKBP telah memulai kebaktian berbahasa Indonesia di gereja-gereja HKBP yang ada di wilayah Jawa, khususnya Jakarta. Pada mulanya hal ini diprakarsai para pemuda dan khusus dilakukan untuk ibadah-ibadah pemuda. Pemakaian bahasa Indonesia itu kemudian berlanjut dan berkembang hingga ke Tapanuli. Dalam berbagai acara dan dokumen-dokumen HKBP, bahasa Indonesia telah dipakai secara resmi. Dengan tetap mempertahankan pemakaian bahasa Batak itu, memang harus diakui adanya kaitan yang khusus antara masyarakat Batak dengan HKBP dan sekaligus menjadi salah satu bagian yang kuat dalam memelihara kelestarian budaya Batak. Bahasa sebagai salah satu pengungkapan budaya tetap dipakai dan dikembangkan di dalam kehidupan bergereja. Warga HKBP yang menyebar keseluruh pelosok tanah air, bahkan hingga ke luar negeri, minimal dapat mendengar bahasa Batak secara serius dalam kebaktian maupun acara-acara lain yang bersifat gerejawi.53

Pdt Ingwer Ludwig Nommensen merupakan nama yang sangat dihormati warga H KBP termasuk masyarakat Batak. Ia bahkan sering disebut sebagai rasul tanah Batak, sebagai pengakuan terhadap berbagai karya dan ketekunannya dalam memajukan HKBP khususnya dan tanah Batak umumnya.

Sebelum Nommensen datang ke tanah Batak pada tahun 1862, beberapa penginjil dari berbagai negara telah menginjakkan kakinya ke tanah Batak. Penginjil Burton dan Ward adalah yang pertama, sebagai utusan Gereja Baptis Inggris ke tanah Batak tahun 1824. Mereka langsung kembali tanpa meninggalkan karyanya. Menyusul kemudian adalah Pdt Munson dan Lyman dari Badan Zending Amerika pada tahun 1829. Mereka ini mengalami nasib yang tragis dan menjadi martir, terbunuh di Lobu Pining, Tapanuli Utara. Setelah itu,

53

van der Tuuk pada tahun 1849 yang menyalin sebagian Injil ke bahasa Batak dan Pdt van Asselt pada tahun 1857 yang berhasil membaptis orang Batak menjadi Kristen untuk yang pertama kali. Dua orang terakhir ini berasal dari Belanda.

Nommensen adalah penginjil yang diutus RMG, suatu Badan Zending di Jerman. Ia melayani di tanah Batak sejak bulan Mei 1862 dan tercatat sebagai Ephorus54 HKBP yang pertama dan juga orang yang pertama berhasil membangun jemaat di tanah Batak, yakni di Huta (Desa) Dame, Saitnihuta Tarutung tanggal 20 Mei 864. Jabatan Ephorus dipangkunya sejak tahun 1881 hingga meninggal dunia pada tanggal 23 Mei 1918 di Sigumpar. Tahun pengangkatannya sebagai Ephorus merupakan tahun terbitnya Tata Gereja (Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga) HKBP.

Selama kurang lebih 56 tahun melayani dan memimpin, Nommensen berhasil meletakkan semacam kerangka dasar HKBP, yang di kemudian hari dikembangkan para pemimpin berikutnya. Selain melaksanakan pemberitaan Injil sebagai tugas utama, paling tidak ada empat hal lain yang menjadi benang merah yang berkesinambungan dalam sejarah HKBP yang tidak dapat dilepaskan dari peranan Nommensen, yakni: pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial komunikasi dan percetakan/penerbitan. Hal itu terbukti dengan adanya sekolah-sekolah, rumah sakit, panti asuhan yang dibangun pada masa Nommensen dan hingga kini masih terus dilanjutkan oleh HKBP.

Dalam hal pendidikan, pada tahun 1868 misalnya, HKBP telah membuka Sekolah Guru di Parausorat, Sipirok. Bahkan dalam bidang pendidikan teologi, HKBP merupakan pelopor di Indonesia ketika membuka Sekolah Pendeta pada tahun 1883. Demikian juga dalam hal kesehatan dan pelayanan sosial. Pada tanggal 2 Juni 1900 berhasil

54

dibangun rumah sakit di Pearaja yang kemudian dikembangkan menjadi Rumah Sakit Tarutung dan pada tanggal 5 September tahun yang sama dibangun panti sosial bagi orang yang menderita penyakit kusta di Huta Salem. Sementara itu, dalam bidang komunikasi, pada tanggal 1 Januari 1890, HKBP menerbitkan majalah Immanuel.

Sekolah untuk umum, walau masih terbatas untuk kalangan tertentu (seperti anak raja dan tokoh-tokoh masyarakat waktu itu) juga dibuka di Narumonda pada tahun 1900. Sekolah ini selain memberikan pelajaran umum, juga memberikan ketrampilan teknik pertukangan. Salah satu tenaga pengajarnya pada waktu itu adalah Pdt Otto Marcks. Sekolah ini kemudian berubah menjadi seminari pada tahun 1905 dan anak didiknya tidak lagi terbatas untuk kalangan elite tetapi sudah terbuka untuk umum. Sekolah umum ini adalah yang pertama di tanah Batak, sebab baru pada tahun 1911 pemerintah Hindia Belanda mendirikan Holland Inlands Schools (HIS) di Sigompulon, Tarutung.

Dokumen terkait