Disini Kompas menurunkan laporan mengenai Anas yang menerima uang miliaran rupiah. Ada 2 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Anas Terima Milyaran Rupiah, Anas Urbaningrum : Itu Dagelan, Bukan Kesaksian” sebagai tulisan utama, disusul “Untuk Uang Derah” tulisan pendukung.
Problem identification (Define problem) :
Kompas mengidentifikasi kasus hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus ini disoroti tidak dari segi politik, melainkan dari aspek hukum. Alasan mengapa dikatakan bingkai hukum yang menjadi bingkai dominan dalam pemberitaan Kompas adalah, Pertama, berita yang disampaikan mengenai kesaksian mantan pegawai di Grup Permai dalam persidangan kasua korupsi
[royek penyuapan wisma atlet SEA Games. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Anas Terima Milyaran Rupiah
Anas Urbaningrum: Itu Dagelan, Bukan Kesaksian.
Disebutkan Anas adalah pemilik serta pengendali Grup Permai.
Sebulan sebelum kantor Grup Permai di geledah
KPK, Anas dinilai
menerima uang 1 juta Dollar Amerika Serikat (AS).
Anas menilai kesaksian
bekas keempat
karyawannya itu bukan kesaksian melainkan dagelan.
Anas Urbaningrum
Uang Untuk Daerah Mantan manajer gedung tower permai, mampang, jakarta tempat group permai berkantor Ferdian Rico Baskoro menuturkan
Manatan Manajer Gedung Tower Permai, Mampang, Jakarta
Ferdian Rico Bascoro Pengacara Nazaruddin Hotman Paris Hutapea
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dalam keseluruhan isi berita di Kompas edisi ini, tampak bagaimana para saksi di posisikan sebagai aktor. Para saksi yang merupakan mantan pegawai di Grup Permai ini menyatakan perihal Anas menerima uang milyaran rupiah.
konsorium yang dimiliki Anas dan Hasyim kerabat Nazaruddin.
Tiga saksi lain, mantan supir di Grup Permai, juga mengatakan Grup Permai dimiliki Anas.
Putra M.Zen, penasihat hukum Anas, menilai, saksi yang dihadirkan jaksa sudah mementahkan keterangan empat saksi dari Nazaruddin itu.
Apabila saksi
mencemarkan nama baik Anas, tidak menutup
kemungkinan kuasa
hukum Anas akan
melakukan tindakan
hukum kepada mereka.
Aan
Supir Operasional
Keuangan Grup Permai Heri Sunandar
Mantan Supir Yulianis Hidayat
Penasihat Hukum Anas Putra M. Zen
Jaksa KPK Anang Supriatna
Anggota Lembaga
Perlindungan Saksi dan Korban
Akan tetapi Kompas lagi-lagi dengan cepat membantah keterlibatan Anas. Menganggap itu semua hanya lelucon. Disini Anas diposisikan sebagai korban. Yang dituduh tanpa adanya bukti yang jelas dan akurat.
“Anas, Rabu, menilai keterangan keempat bekas karyawan grup permai itu bukan kesaksian. “ Itu adalah dagelan dan kebohongan yang diorkestrasi secara telanjang. Saya tahu persis sudah diatur bicara seperti itu. Dari logika sederhana saja sangat tidak nyambung. Saya kasihan dengan pegawainya yang disuruh menyerang saya, seolah-olah sebagai kesaksiannya,” ”
“Putra M. Zen, penasihat hukum Anas, menilai, saksi yang dihadirkan jaksa sudah mementahkan keterangan empat saksi dari pihak Nazaruddin itu.saksi menyatakan Nazarudinn-lah pemilik Grup Permai. Apabila keterangan saksi itu mencemarkan nama baik Anas, tidak tyertutup kemungkinan kuasa hukum Anas, melakukan tindakan hukuman terhadap mereka.”
Moral Evaluation (Make Moral Judgement) :
Penilaian Anas sebagai pihak yang tidak bersalah sangat jelas sekali dalam teks berita Kompas. Bagaimana setiap saksi yang memberikan keterangan keterlibatan Anas, secara langsung dibantah oleh Anas ataupun kuasa hukumnya
Treatment Recommendation :
Kompas “merekomendasikan” agar kasus Nazaruddin segera dituntaskan, dan pihak-pihak yang disebut terlibat agar segera diselidiki dan diproses lebih lanjut. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.
Disini Kompas menurunkan laporan mengenai Nazaruddin yang bersikukuh tidak tahu akan tuduhan yang didakwakan kepadanya. Ada 2 laporan yang diturunkan oleh Kompas pada edisi ini. Masing-masing dengan judul “ Nazaruddin Bersikukuh Tidak Tahu” sebagai tulisan utama, disusul “Menjadi Kordinator” tulisan pendukung.
Problem identification (Define problem) :
Kompas mengidentifikasi kasus hukum. Segala hal yang berhubungan dengan kasus ini disoroti tidak dari segi politik, melainkan dari aspek hukum. Alasan mengapa dikatakan bingkai hukum yang menjadi bingkai dominan dalam pemberitaan Kompas adalah, Pertama, berita yang disampaikan mengenai Nazaruddin tersangka penyuapan wisma atlet SEA Games sedang di adili. Kedua, sebagai konsekuensi melihat masalah ini sebgai masalah hukum, sumber berita yang diwawancarai adalah sumber berita yang beelatar hukum. Atau kalaupun bukan orang yang berlatar belakang hukum (ahli hukum atau pengacara), tetapi berbicara dalam kerangka masalah hukum.
Judul Isi berita/ Wawancara Sumber
Nazaruddin Bersikukuh Tidak Tahu
Nazaruddin bersikukuh
tidak tahu menahu
mengenai proyek
pembangunan wisma atlet.
Dalam sidang juga
terungkap nilai suap yang
diberikan kepada
Nazaruddin
Jaksa KPK Anang Supriatna
Nazaruddin tidak hanya 4,6 Milyar. Melainkan 3 cek yang belum dicairkan yang bernilai lebih dari 3 Milyar.
Nazaruddin membantah penjelasan jaksa dan
meminta jaksa
membuktikan jika Ia terkait dalam penerimaan suap wisma atlet tersebut.
Menjadi Kordinator Ketika ditanya perihal kedekatan Nazaruddin dengan Anas, Nazzaruddin mengaku menjadi ketua pembagian uang kepada dewan pimpinan cabang
(DPC) dan dewan
pimpinan daerah (DPD) partai Demokrat dalam kongres di Bandung tahun 2010. uang itu digunakan untuk memenangkan anas sebagai ketua umum. Nazaruddin menjelaskan bahwa Ia hanya diminta
Jaksa KPK Yudi
Ketua Majelis Hakim Dharmawati Ningsih
Casual Interpretaion (Diagnose Causes) :
Dalam berita Kompas ini Nazaruddin ditempatkan sebagai pelaku, penyebab masalah. Nazaruddin yang status tersangka penyuapan wisma atlit, sudah melalui
uang kepada DPC dan DPD selama kongres. Nazaruddin baru ikut membagikan uang itu secara langsung pada putaran kedua. Dan dilakukannya bersama Angelina.
Nazaruddin menjelaskan kedekatannya dengan Anas di Grup Permai. Anas menyuruh Nazaruddin mengamankan penggerebekkan Tower Permai oleh KPK. Nazaruddin juga menerangkan kaburnya keluar Singapura adalah atas perintah Anas ketika kasus wisma atlet mulai mencuat.
proses persidangan. Kendati demikian Nazaruddin tetap bersikukuh tidak tahu menahu akan dakwaan yang di tuduhkan kepadanya. Nazaruddin tetap mengatakan bahwa Anaslah yang terlibat. Akan tetapi setiap pernyataan Nazarudin selalu disangkal oleh Anas.
“Keterangan Nazaruddin ini juga dalam beberapa kesempatan dibantah oleh Anas.”
Moral Evaluation (Make Moral Judgement) :
Nasaruddin sebagai penyebab masalah dan juga korban, pertama Nazaruddin sebagai tersangka dan sudah ada beberapa bukti yang memberatkannya. Sebagai korban karena Nazaruddin bersikukuh tidak tahu perihal tuduhan yag dituduhkan kepada dirinya. Ia mengaku hanya mengikuti perintah Anas. Sedangkan Anas yang dari awal selalu dituduh terlibat diposiskan sebagai pihak yang dirugikan. Karena Anas tetap merasa tidak terlibat dalam kasus ini.
Treatment Recommendation :
Kompas “merekomendasikan” agar kasus Nazaruddin segera dituntaskan, dan pihak-pihak yang disebut terlibat agar segera diselidiki dan diproses lebih lanjut. Ini sebagai konsekuensi logis dari melihat kasus ini sebagai maslah hukum, bukan politik atau moral. Dan sebagai maslah hukum yang dibidik sebagai tersangka memang Nazaruddin.