Setelah membaca bab ini diharapkan mahasiswa mampu memahami secara kritis nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, sebagai nilai
F. Berlaku sebagai Warga Global
F. Berlaku sebagai Warga Global
Sebagai warga dunia, masyarakat Indonesia juga ikut dalam dinamika dunia. Keikutsertaan ini bukan selalu atas dasar politik, melainkan masih banyak hal lainnya. Untuk itu, di masa depan kesiapan warga negara Indonesia untuk lebih dapat berkiprah di dunia nyaris tanpa batas ini akan semakin dibutuhkan. Catatan terpenting adalah perilaku dari individu Indonesia tetap didasari nilai-nilai dasar masyarakat Indonesia.
Indonesia sebagai bagian dari masyarakat dunia mengupayakan kehidupan beragama yang toleran. Nilai Pancasila bahkan dianggap sebagai religiously friendly
ideology oleh Juergensmeyer (2010 dalam Azra, 2010: 11). Walaupun pernyataan
Juergensmeyer dikaitkan dengan ideologi, Pancasila sebagai nilai juga mendasari corak kehidupan interaksi umat beragama Indonesia. Mengacu pada nilai Pancasila, khususnya nilai pertama, warga Indonesia akan menjadi bagian dari aksi yang toleran. Keadaan ini tidak dapat dinafikan karena Indonesia secara pasti menjadi tempat perlintasan beragam kebudayaan. Mulder (1999 dalam Kusumadewi, 2012: 135-136) melihat bahwa Indonesia menjadi model yang khas dari tumbuhnya semangat keagamaan yang bercorak kebudayaan lokal. Ini dapat diartikan bahwa masyarakat Indonesia berkontribusi dalam memaknai agama-agama yang hadir di Indonesia. Kontribusi ini penting bagi masyarakat dunia, sehingga dapat menjadi model dari toleransi antar-umat beragama di dunia.
Upaya menyelaraskan perilaku dengan nilai kedua dalam konteks global sebenarnya juga ada dalam kehidupan sehari-hari. Kita dapat memulainya untuk tidak melakukan pembedaan-pembedaan yang didasari prasangka. Pemahaman lanjut dari situasi ini adalah terciptanya tatanan sosial yang lebih baik. Sebagai contoh, penerapan kewarganegaraan khususnya pada anak hasil pernikahan WNI dan WNA sampai usia 18 tahun dinyatakan sebagai WNI. Hal ini membuat anak terlindungi dari masalah tanpa kewarganegaraan atau kewarganegaraan ganda. Bagi negara lain asal dari salah satu orang tua anak tadi, perlakuan ini juga bermakna perlindungan manusia untuk mendapatkan hak-hak dasar kewarganegaraan. Ini adalah kesepakatan universal yang diakui bersama, sehingga negara itu pada akhirnya memandang Indonesia sebagai
66 negara yang mengakui hak asasi manusia. Pada akhirnya terbangunlah hubungan saling menghormati antarnegara.
Pengejawantahan nilai ketiga dari Pancasila dalam konteks global adalah dengan menjadi bagian kegiatan ekonomi dunia yang berorientasi nasional. Sejak memasuki krisis moneter 1997, pintu impor semakin terbuka yang memungkinkan segala produk masuk ke dalam negeri. Akibatnya, konsumen disuguhkan banyak pilihan. Kondisi ini secara prinsip tidak salah, tetapi di sisi lain produk dalam negeri perlahan tersisih. Hanya dengan alasan harganya tidak kompetitif, konsumen membeli produk impor yang bukan hanya menyisihkan produk dalam negeri, tetapi juga menghancurkan perusahaan lokal. Untuk itu nilai ketiga dari Pancasila yang menekankan cinta tanah air perlu diangkat kembali untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Hal ini tidak hanya berlaku di Indonesia. Langkah mengutamakan produk yang dapat dihasilkan dalam negeri sebelum membeli produk buatan luar negeri juga dilakukan oleh negara-negara maju. Negara-negara maju menutupi kepentingan dalam negeri melalui mekanisme perdaganagn dunia seperti Organisasi Perdagangan Dunia (WTO). Mereka berupaya menjaga agar produk asing tidak membanjiri pasar lokalnya sehingga petani/pengusaha/masyarakat tetap sejahtera. Dengan demikian, nilai ketiga Pancasila masih relevan untuk diangkat menjadi dasar bagi peningkatan ketahanan nasional.
Pengejawantahan nilai keempat dalam kehidupan global bagi negara dan masyarakat terlihat dalam kebijakan dan tingkah laku. Dalam konteks pemerintah, Indonesia mengambil peran yang sesuai dengan nilai tadi. Sebagai anggota ASEAN sekaligus ketua ASEAN tahun 2011, Indonesia mengambil posisi tidak mengucilkan Myanmar. Pada saat yang sama, hampir semua negara Barat tengah mengembargo Myanmar dan meminta ASEAN ikut menekan. Langkah Indonesia cukup mengejutkan, dengan tidak mengisolasi Myanmar bahkan intensif membuka jalur diplomatik. Terbukanya jalur diplomatik justru membuat Myanmar lebih membuka diri yang pada akhirnya embargo negara-negara Barat mulai berkurang. Indonesia memahami bahwa cara tersebut tidak populer di mata bangsa-bangsa Barat, tetapi diplomasi ala Indonesia mampu membuat Myanmar mengambil kebijakan-kebijakan dalam dan luar negeri yang cenderung terbuka dan dapat diterima masyarakat internasional.
67 Kontribusi Indonesia untuk masalah pembangunan dunia yang berkeadilan sosial semestinya dapat dilakukan dengan kemampuan dasar ekonomi kerakyatan Indonesia. Salah satu bentuknya adalah koperasi. Koperasi sebagai pengejawantahan pembangunan ekonomi yang memiliki wajah sosial dapat menjadi solusi bagi pola pembangunan negara-negara dunia ketiga yang jumlahnya lebih banyak daripada negara maju. Hal ini penting karena muncul gejala kegagalan ekonomi kapitalis sejak 2008 yang dimulai di AS dan menjalar ke Eropa sampai tulisan ini dibuat (2012). Model ekonomi komunis sudah rubuh terlebih dahulu, yakni saat bubarnya Uni Soviet tahun 1991. Di sinilah peluang Indonesia untuk ikut dalam mendesain ulang tatanan mekanisme ekonomi, karena koperasi bertujuan menyejahterakan anggota bukan menguatkan kapital dari investor atau pemodal. Setidaknya peraih nobel 2006, Muhammad Yunus dari Bangladesh, berbekal konsep arisan amat menekankan kesejahteraan anggotanya. Yang kemudian model ini dianggap baik oleh dunia. Dengan demikian, dibutuhkan sedikit sentuhan dari para sarjana agar nilai kelima dari Pancasila dapat menjadi bagian dari solusi atas masalah ekonomi dunia saat ini dan masa depan.
G.Penutup
Nilai bagi semua individu dan kelompok adalah bagian dari pembentukan tingkah laku yang diharapkan dalam masyarakatnya, dari tingkat individu hingga tingkat bangsa. Nilai yang ada dalam Pancasila merupakan nilai dasar untuk aktivitas bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara serta menjadi warga dunia. Dengan demikian, Pancasila menjadi penentu dari corak kehidupan masyakat Indonesia.
68 Gambar 3.3. Indonesia adalah warga dunia.
Nilai-nilai yang ada dalam Pancasila oleh sebagian orang dianggap universal. Artinya dapat berlaku atau hadir di semua masyarakat di dunia. Jika asumsi ini digunakan, nilai Pancasila juga dapat diacu oleh warga dunia pula. Setidaknya, sebagai nilai yang mendasari tingkah laku warga Indonesia, tingkah lakunya juga selaras dengan warga dunia.
Hal yang terpenting dari Pancasila adalah upaya kita mencoba menerapkannya dalam kehidupan. Ketika nilai tidak menjadi rujukan tingkah laku, perlahan nilai akan memudar dan hilang. Kondisi ini beranalogi ketika Pancasila tidak menjadi acuan perilaku, nilai Pancasila akan tergantikan oleh nilai lain atau bahkan hilang. Hilangnya Pancasila memudarkan pula semangat ikatan nasional sebagai bangsa Indonesia, yang dapat berujung pada rubuhnya rumah nusantara,yakni Indonesia. Bukankah itu berarti mengkhianati mimpi para pejuang dan pendiri bangsa Indonesia?
69
BAB IV
KEWARGANEGARAAN
Ketika Bung Hatta kuliah di Belanda pada tahun 1920-an, ia merasakan pedihnya menjadi penduduk di bawah pemerintahan kolonial Belanda. Dalam pergaulan internasional ia merasa tersisih karena masalah kebangsaan. Ia merasa bahwa sebagai penduduk di wilayah jajahan, ia direndahkan. Bertolak dari pengalaman itu, Bung Hatta menyimpulkan, ―Jika satu bangsa mulia, maka individu-individunya juga dihargai, tetapi jika tidak memiliki
kebangsaan, maka seseorang tidak dipandang di dunia internasional‖ (Hatta, 1953: 51). Pengalaman Bung Hatta merupakan pengalaman tentang pentingnya arti kebangsaan (nationality). Kebangsaan sering kali diidentikkan dengan kewarganegaraan, dan keduanya tidak dapat dipisahkan ketika kita mengkaji tentang negara maupun pemerintahan.
Kewarganegaraan (dalam bahasa Inggris, citizenship dan Latin, civis) telah lama menjadi objek pemikiran. Kajian ini telah muncul sejak masa Yunani Kuno (± 400 SM) dan masa Kerajaan Romawi (± 1 M). Kata civis sendiri pertama kali digunakan pada masa kerajaan Romawi untuk merujuk kepada orang-orang kaya dan para tuan tanah. Merekalah yang memperoleh hak-hak istimewa. Hak-hak sebagai civis tidak diberikan kepada rakyat biasa maupun rakyat di wilayah kekuasaan kerajaan (Poole, 1999: 85—86).
Apa yang dialami rakyat biasa di kerajaan Romawi, juga pernah dialami bangsa Indonesia, tepatnya ketika bangsa ini berada di bawah pemerintahan kolonial Belanda.
Kebijakan-kebijakan Belanda tidak hanya melahirkan sistem pembedaan status (diskriminasi) yang dilandasi perbedaan warna kulit, antara bangsa kulit putih dan pribumi, tetapi juga melanggengkan stratifikasi sosial yang merupakan warisan sistem kerajaan, yakni antara golongan priyayi dan rakyat biasa.