berdasarkan spesifikasi pabrik.
Khusus untuk bahan waterproofing yang dipasang di tempat yang berhubungan langsung dengan matahari tetapi tidak mempunyai lapis pelindung terhadap ultra violet maka diatasnya harus diberi lapisan pelindung sesuai gambar pelaksanaan, atau petunjuk pengawas, dimana lapisan ini dapat berupa screed maupun material finishing lainnya.
C PEKERJAAN ARSITEKTUR
1 PEMBERSIHAN/ PEMBONGKARAN DAN PENGUKURAN
1.1 PEMBERSIHAN
HALAMAN
a. Semua penghalang di dalam batas tanah yang menghalangi jalannya
pekerjaan seperti adanya pepohonan, batu-batuan atau puing-puing bekas bangunan harus dibongkar dan dibersihkan serta dipindahkan dari lokasi bangunan kecuali barang-barang yang ditentukan harus dilindungi agar tetap utuh.
b. Pelaksanaan Pembongkaran harus dilakukan dengan sebaik-baiknya
untuk menghindarkan bangunan yang berdekatan dari kerusakan. Bahan-bahan bekas bongkaran tidak diperkenankan untuk dipergunakan kembali dan harus diangkut keluar dari halaman proyek.
1.2 PERMUKAAN ATAS
LANTAI (PEIL)
Semua ukuran ketingggian Galian, pondasi, sloof, kusen, langit-langit, dan lain-lain harus mengambil patokan dari peil kurang lebih 0.00 tersebut.
1.3 PAPAN BUNGA
(BOUWPLANK)
a. Bouwplank dibuat dari kayu terentang (kayu hutan Kelas IV) ukuran
minimum 3/20cm yang utuh dan kering. Bouwplank dipasang dengan tiang-tiang dari kayu sejenis ukuran 5/7 cm dan dipasang pada setiap jarak satu meter. Papan harus lurus dan diketam halus pada bagian atas.
b. Bouwplank harus benar-benar datar (waterpas) dan tegak lurus.
Pengukuran harus memakai alat ukur yang disetujui Pengawas lapangan.
c. Bouwplank harus menunjukan ketinggian kurang lebih 0.00 dan as
kolom/ dinding. Letak dan ketinggian permukaaan blouwplank harus dijaga dan dipelihara agar tidak berubah selama pekerjaan berlangsung
2 PEKERJAAN TANAH
2.1 PEMBENTUKAN
PERMUKAAN
TANAH (GRADING)
a. Sebelum pembangunan konstruksi, tanah halaman proyek dibentuk
(levelling) menurut rencaan pengerukan dan pengurugan (cut and Fill) sehingga diperoleh ketinggian-ketinggian permukaan seperti yang ditentukan dalam gambar pelaksanaan. Pekerjaan tanah (grading) dan pengerukan/ pengurugan (cut and fill) harus dilakukan dengan peralatan-peralatan yang memadai dan dilaksanakan menurut ketentuan-ketentuan teknis yang berlaku.
b. Bahan-bahan tanah untuk pengurugan bisa berasal dari hasil galian atau didatangkan dari luar proyek, dengan syarat harus bebas dari kotoran, batu-batu besar, dan tumbuh-tumbuhan. Pengurugan harus dilaksanakan lapis demi lapis, tiap lapis tidak lebih dari 20 cm, dan dipadatkan dengan menggunakan stamper dan timbris.
c. Tanah yang berhumus atau yang masih terdapat tumbuh-tumbuhan
diatasnya harus dibuang dahulu permukaan bagian atasnya (top Soil) sedalam 20 cm, khususnya pada daerah bangunan sampai dengan 3 m disekelilingnya.
d. Tanah bekas galian dan leveling harus dikeluarkan dari lingkungan
rumah sakit.
2.2 GALIAN TANAH a. Pekerjaan ini meliputi galian tanah untuk pondasi, poor, sloof,
saluran-saluran air dan lain-lain seperti ditunjukan dalam gambar kerja. Penggalian harus dikerjakan sesuai dengan ukuran yang tercantum dalam gambar baik kedalaman, kemiringan maupun panjang dan lebarnya.
b. Parit-parit pondasi dan lubang galian lainnya harus diusahakan
selalu dalam keadaan kering (bebas air), untuk itu harus disediakan pompa-pompa iar yang siap pakai dengan daya dan jumlah yang bisa menjamin kelancaran pekerjaan.
2.3 URUGAN TANAH a. Pekerjaan ini meliputi pengurugan kembali bekas galian untuk
pasangan pondasi dan peninggian untuk pembentukan tanah. Urugan harus dilakukan selapis demi selapis dengan ketebalan tidak lebih dari 20 cm untuk setiap lapisan dan ditimbris sampai padat.
b. Tanah urugan yang terlalu kering harus dibasahi dengna air, sedang
tnah yang terlalu basah harus dihampar agar cepat kering.
c. Pengurugan kembali tidak boleh dilaksanakan sebelum pondasi,
instalasi/ pipa-pipa dan lain-lain yang bakal tertutup tanah diperiksa oleh Pengawas Lapangan.
2.4 BENDA-BENDA
YANG DITEMUKAN
a. Semua benda-benda yang ditemukan selama pekerjaan tanah
berlangsung, terutama pada saat pembongkaran dan penggalian tanah, menjadi milik proyek.
b. Jika ditemukan tulang belulang atau bekas kuburan pada saat
pekerjaan tanah berlangsung, Kontraktor harus memberikan perlindungan secukupnya sampai pemberi tugas atau wakilnya mengadakan peninjauan. Hal-hal yang menyangkut pemindahannya dilaksanakan oleh Kontraktor dengan penunjuk tertulis dari pengawas Lapangan dan Pemberi Tugas.
2.5 URUGAN PASIR a) Urugan pasir dilaksanakan untuk dinding penahan tanah, pondasi
batu kali, urugan dibawah lantai kerja, saluran-saluran, bak-bak kontrol dan di bawah pasangan lantai bangunan.
b) Urugan tersebut harus dipadatkan dengan stamper dan di siram
dengan air. Ukuran dari ketinggian urugan pasir yang tercantum dalam gambar adalah ukuran jadi (sesudah dalam keadaan p adat)
3 PEKERJAAN PASANGAN DINDING BATA
3.1 KETERANGAN Pekerjaan ini mencakup seluruh pekerjaan dinding yang terbuat dari batu
bata disusun ½ bata dan satu bata, meliputi penyediaan bahan, tenaga dan peralatan untuk pekerjaan ini.
3.2 BAHAN a. Batu bata (bata merah)
Batu merah (dari tanah liat) yang dipakai adalah produksi dalam negeri eks daerah setempat dari kualitas yang baik dengan ukuran 5x10,5x22 cm yang dibakar dengan baik, warna merah merata, keras dan tidak mudah patah, bersudut runcing dan rata, tanpa cacat
atau mengandung kotoran.
Meskipun ukuran bata yang biasa diperoleh disuatu daerah mungkin tidak sama dengan ukuran tersebut diatas, harus diusahakan supaya ukuran bata yang akan dipakai tidak terlalu menyimpang.
Kualitas bata harus sesuai dengan pasal 81 dari A.V. 1941
Kontraktor harus menunjukan contoh terlebih dahulu kepada
Pengawas Lapangan. Pengawas Lapangan berhak menolak bata dan menyuruh bongkar pasangan bata yang tidak memenuhi syarat. Bahan-bahan yang ditolak harus segera diangkut keluar dari tempat pekerjaan.
b. Adukan
Adukan terdiri dari semen, pasir dan air dipakai untuk pemasangan dinding batu bata. Komposisi adukan adalah 1 pc : 5 pasir untuk dinding biasa, 1 pc : 3 pasir untuk trassram.
Semen PC yang dipakai adalah produk dalam negeri yang terbaik (Nusantara, Gresik, Tiga Roda, atau produk daerah setempat yang mempunyai kualitas standar konstruksi).
Adukan harus dibuat dalam alat tempat mencampur, diatas permukaan yang keras, bukan langsung diatas tanah. Bekas adukan yang sudah mulai mengeras tidak boleh digunakan lagi.
c. Beton Bertulang
Beton bertulang dibuat untuk rangka penguat dinding bata, yaitu: sloof, kolom praktis dan ring balok atau balok lantai.
Komposisi bahan beton rangka penguat dinding (sloof, kolom praktis, ring balok) adalah 1 pc: 2 pasir : 3 kerikil.
Semen PC yang dipakai adalah produk dalam negeri yang terbaik (satu merek untuk seluruh pekerjaan). Pasir beton harus bersih , bebas dari tanah/ lumpur dan Zat-Zat organik lainnya. Kerikil/ split
dari pecahan batu keras ukuran 1
–
2 cm, babas dari kotoran. Bajatulangan menurut ketentuan PBI 1971.
3.3 PELAKSANAAN Dinding harus dipasang (uitzet dengan peralatan yang memadai) dan
didirikan menurut masing-masing ukuran ketebalan dan ketingggian yang di syaratkan seperti di tunjukan dalam gambar.
a. Sloof, kolom praktis dan ringbalk
Ukuran rangka penguat dinding bata (non struktural) : sloof 15x20 cm, kolom praktis 12x12 cm, ring balok dan balok lantai 12x12 cm. Kolom praktis dan ring balok diplester sekaligus dengan dinding bata sehingga mencapai tebal 15 cm. Bekisting terbuat dari kayu terentang/ kayu hutan lainnya dengan tebal minimum 2 cm yang rata dan berkualitas papan baik.
Pemasangan bekisting harus rapi dan cukup kuat. Celah-celah papan harus rapat sehingga tidak ada air adukan yan gkeluar. Bekisting baru boleh di bongkar setelah beton mengalami proses penggerasan. b. Pasangan dinding bata
Bata yang akan dipasang harus direndam dalam air terlebih dahulu sampai jenuh.
Tidak diperkenankan memasang batu bata:
1. Air bersih untuk keperluan sehari-hari seperti minum, mandi/ buang air dan kebutuhan lain pekerja. Kualitas air
yang di sediakan untuk keperluan tersebut harus cukup
terjamin.
2. Yang ukurannya dari setengahnya
3. Lebih dari 1 (SATU) meter tingginya setiap hari di satu bagian pemasangan.
4. Pada waktu hujan ditempat yang tidak terlindung atap.
5. Setiap luas pasangan dinding bata mencapai kurang lebih 12m2 harus dipasang beton praktis (kolom dan ring balok). Bata dipasang tegak lurus dan berada pada garis-garis yang seharusnya dengan bentang benang yang sipat datar. Kayu penolong harus cukup kuat dan benar-benar dipasang tegak lurus.
Dinding yang menempel pada kolom beton harus diberi angker besi setiap jarak 40 cm. Permukaan beton harus dibuat kasar. Pemasangan bata diatas kusen harus di buat balok lantai 12/12 atau dilengkapi dengan pasangan rollaag. Pemasangan harus dijaga kerapihannya, baik dalam arah vertikal maupaun horizontal. Sela-sela disekitar kusen-kusen harus diisi dengan a duk.
4 PEKERJAAN PLESTERAN
4.1 KETERANGAN Kecuali disebutkan lain, bahan penyelesaian atau penutup permukaan
dinding/ tembok bata dan adalah plesteran mencakup pembuatan dan pemasangnan plesteran dinding-dinding tembok bata dan bidang-bidang beton, meliputi penyediaan bahan, tenaga kerja dan peralatannya. Semua permukaan plesteran dicat dengan cat tembokm kecuali disebutkan lain.
4.2 BAHAN Komposisi bahan adukan sesuai dengan persyaratan yaitu:
a. 1 pc : 3 pasir untuk permukaan beton, dinding transram atau daerah basah dinding luar yang tidak tertutup atap.
b. 1 : 2 dan sudut dinding
c. 1 pc : 5 pasir untuk dinding bata bagian dalam gedung
semen pc yang dipakai adalah produk lokal yng terbaik (satu merek untuk seluruh pekerjaan)
4.3 PELAKSANAAN a. Plesteran Dinding Bata
Sebelum diplester, permukaan dinding bata harus dibersihkan dan dibasahi dengan air, siarnya dikorek sedalam 1 cm. Tebal plesteran minimum 1,5 cm dan maximum 2 cm.
Plesteran diselesaikan dengan papan plesteran dan kayu perata atau sekop baja. sudut-sudut dibuat serapi-rapinya dan menyiku. Sambungan dari plesteran-plesteran harus mulus dan lurus.
Dalam mendirikan dinding yang tidak berada dibawah atap, selama waktu hujan harus diberi perlindungan dengan menutup bagian atas dari tembok dengan bahan pelindung yang cukup sesuai.
Selama proses pengeringan, pelesteran harus disiran dengan air selama 7 (tujuh) hari terus menerus.
b. Plesteran Beton
Seluruh permukaan beton yang tampak harus menghasilkan permukaan yang halus dan rata. Bila pelaksanaan pekerjaan beton tidak dapat menghasilakn permukaan yang halus dan rata, maka
permukaan tersebut harus diplester hingga menghasilkan
permukaan seperti yang dimaksud dalam gambar pelakanaan.
Permukaan beton yang akan diplester harus disiapkan dulu dengan pekerjaan pendahuluan dengan urutan sebagai berikut:
- Permukaan di buat kasar dengan betel/ pahat beton
- Dibasahai dengan air
- Disapu air semen (pc) atau Bonding egent
Mortar untuk plesteran adalah campuran 1 pc : 2 ps yang diaduk secara benar-benar homogen.
Ketebalan plesteran adalah rata-rata 15 mm
–
25 mmUntuk beton bertemu dengan dinding, plesteran harus dilapisi kawat wiremesh minimal 30 cm sepanjang pertemuan, khususnya apabila permukaan dinding rata dengan permukaan beton.
c. Semua pasangan dinding bata harus diplester dan diaci kecuali
pasangan dinding bata yang tertanam di dalam tanah atau bawah lantai dasar cukup diplester dengan campuran 1 : 3 tanpa acian.
5 PEKERJAAN KUSEN, PINTU DAN JENDELA ALUMINIUM
5.1 LINGKUP
PEKERJAAN
Pekerjaan ini meliputi pengadaan, pembuatan dan pemasangan kusen pintu dan jendela, daun pintu dan daun jendela serta pekerjaan lainnya yang menggunakan bahan profil alumunium, sesuai petunjuk Gambar
Kerja dan Spesifikasi Teknis ini.
5.2 STANDAR/
RUJUKAN
a. Standar Nasional Indonesia (SNI)
- SNI 07-0603-1989
–
Produk Alumunium Ekstrusi untuk Arsitekturb. British Standar (BS)
BS 5368 (Part 1)
–
Air Infiltration BS 5368 (Part 2)
–
Water Infiltration BS 5368 (Part 3)
–
Structural Performancec. American Society for Testing and Materials (ASTM)
ASTM B221M-91- Spesification for Alumunium
–
Alloy ExtrudedBars, Rods, Wire Shape and Tubes.
ASTM E-283-Metode Pengujian Kebocoran Udara untuk Jendela
dan Curtain Wall.
ASTM E-330- Metode Pengujian Struktural untuk Jendela dan
Curtain Wall.
ASTM E-331- Metode Pengujian Kebocoran Air untuk Jendela
dan Curtain Wall.
d. American Architectural Manufactures Association (AAMA)
- AAMA
–
101–
Spesifikasi untuk Jendela dan Pintu Alumunium.e. Japanese Industrial Standard (JIS)
JIS H
–
4100–
Spesifikasi Komposisi Alumunium Extrusi JIS H
–
8602–
Spesifikasi Pelapisan Anodise untuk Alumuniumf. Spesifikasi Teknis
Dimensi
: 4” x 1 ¾ “ 2 dan 3” x 1 ¾ “ 2
Tebal Profil Alumunium : 1.50 mm
Ultimate strength : 28.000 pci
Yield Strength : 22.000 pci
Shear Strength : 17.000 pci
Anodizing ketebalan lapisan diseluruh permukaan alumunium
adalah 18 mikron dengan warna natural/ silver glose.
5.3 DESKRIPSI SISTEM Kriteria Perencanaan :
53.1 Faktor Pengaman
Kecuali disebutkan lain, bagian-bagian alumunium termasuk ketahanan kaca, memenuhi faktor keamanan tidak kurang dari 1,5 x maksimum tekanan angin yang disyaratkan.
53.2 Modifikasi
Dapat dimungkinkan tanpa merubah profil atau merubah penampilan, kekuatan atau ketahanan dari material dan harus tetap memenuhi kriteria perencanaan.
53.3 Pergerakan Karena Temperatur
Akibat pemuaian dari material yang berhubungan tidak boleh menimbulkan suara maupun terjadi patahan atau sambungan yang tebuka, kaca pecah, sealant yang tidak merekat dan hal-hal lain.
Sambungan kedap air harus mampu menampung pergerakan ini. 53.4 Persyaratan Struktur
Defleksi : AAMA = Defleksi yang diizinkan maksimum L / 175 atau 2 cm
Beban Hidup : Pada bagian-bagian yang menerima hidup terutama pada waktu perawatan, seperti : meja (stool) dan cladding diharuskan disediakan penguat dan angkur dengan kemampuan menahan beban terpusat sebesar 62 kg tanpa terjadi kerusakan. 53.5 Kebocoran Udara
ASTM E