Strategi bertahan hidup rumahtangga butuh tani berdasarkan temuan penelitian, dibagi menjadi dua yakni Strategi I (nafkah ganda dan migrasi) dan Strategi II (subsistensi). Strategi bertahan hidup ini dibagi menjadi dua untuk menunjukkan bahwa rumahtangga buruh tani memanfaatkan hubungan sosial untuk bertahan hidup, namun, bagaimana bentuk strategi bertahan hidup yang mereka lakukan dengan memanfaatkan hubungan sosial ini berbeda-beda setiap rumahtangga. Dalam mekanisme bertahan hidupnya, ada rumahtangga buruh tani yang memanfaatkan hubungan sosial untuk memperoleh pekerjaan sebagai buruh tani dan pekerjaan non pertanian agar anggota rumahtangganya dapat bekerja dan memperoleh uang. Ada rumahtangga yang memanfaatkan hubungan sosial untuk sekedar meminta pemberian dari orang lain dengan cara menumpang makan (ngandon mangan), menjual gabah, berhutang, mengandalkan beras miskin dari pemerintah, dan lain-lain.
Strategi I, meliputi strategi nafkah ganda dan migrasi. Strategi I ini merupakan usaha yang dilakukan rumahtangga buruh tani untuk bertahan hidup dengan cara mencari pekerjaan agar dapat menghasilkan uang. Rumahtangga buruh tani yang tergolong melakukan Strategi I, anggota rumahtangganya melakukan beragam jenis pekerjaan agar dapat bertahan hidup, termasuk dengan cara bekerja sebagai TKI di luar negeri. Rumahtangga ini bisa saja berhutang, tetapi tidak sering. Selain itu juga tidak sering mengandalkan bantuan orang dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Gabah hasil panen lebih banyak dijual pada saat musim panen dan sisanya untuk dikonsumsi sendiri. Rumahtangga ini berusaha lebih giat dalam mencari uang.
Strategi II, meliputi strategi subsistensi. Strategi II merupakan usaha subsistensi yang dilakukan rumahtangga buruh tani untuk bertahan hidup dengan cara bergantung pada pertolongan orang lain. Rumahtangga buruh tani yang tergolong melakukan Strategi II, anggota rumahtangganya tidak banyak melakukan pekerjaan lain selain berburuh tani. Jika tidak ada kegiatan nandur dan derep, pekerja dalam rumahtangga ini memilih menganggur di rumah dan mengandalkan pendapatan anggota rumahtangga lainnya. Rumahtangga ini sering kali mengandalkan bantuan orang lain, baik itu untuk berhutang (uang) maupun untuk meminta kebutuhan makan sehari-hari.
Tabel 26 Jumlah dan persentase rumahtangga buruh tani menurut strategi bertahan hidup di Desa Anjatan Utara Kabupaten Indramayu, 2014 Strategi bertahan hidup Jumlah %
Strategi I 23 57.5
Strategi II 17 42.5
Total 40 100.0
52
Tabel 26 menunjukkan bahwa 57.5% rumahtangga buruh tani lebih banyak melakukan strategi nafkah ganda dan migrasi (Strategi I). Artinya, rumahtangga buruhtani lebih banyak bertahan hidup dengan cara mengalokasikan anggota rumahtangganya untuk bekerja atau dengan cara melakukan pekerjaan lain selain berburuh tani. Contoh kasus rumahtangga buruh tani yang tergolong melakukan Strategi I, rumahtangga Bapak Tmn (60 tahun).
Istri Bapak Tmn bekerja sebagai buruh tani, sedangkan Bapak Tmn setiap harinya bekerja sebagai tukang becak. Pada musim derep, Bapak Tmn tidak mbecak9 tetapi beralih menjadi buruh tani derep bersama istrinya. Gabah hasil panen sebagian langsung dijual ke tengkulak gabah, dan sebagian lagi digiling untuk dijadikan simpanan beras. Anak mereka satu-satunya setelah lulus SMA, memutuskan untuk bekerja di Cikarang sebagai buruh pabrik. Bapak Tmn dan istrinya mengaku jarang berhutang, apalagi meminta pemberian orang lain secara cuma-cuma.
Sebanyak 42.5% rumahtangga buruh tani lebih banyak melakukan strategi subsistendi (Strategi II). Artinya rumahtangga buruh tani lebih banyak mengandalkan bantuan orang lain untuk memenuhi kebutuhan sehari-harinya dengan cara menumpang makan, berhutang, menjual beras, dan sebagainya. Strategi ini banyak dilakukan oleh buruh-buruh klalaran. Contoh kasus, rumahtangga Ibu Skr (50 tahun).
Ibu Skr tinggal berdua dengan anak perempuannya. Sehari-hari Ibu Skr bekerja sebagai buruh cuci. Pada saat musim panen, Ibu Skr menjadi buruh tani klalaran. Ia dan anaknya mengaku ingin ikut ceblokan, atau derep bebas. Tapi mereka tidak memiliki hubungan dekat dengan para petani pemilik. Gabah hasil klalaran biasanya mencapai 50 kg yang digunakan untuk makan. Ibu Skr mengaku jarang sekali memasak, karena tidak memiliki cukup uang untuk membeli bahan makanan. Setiap harinya, Ibu Skr dan anaknya sering ngandon mangan (menumpang makan) di rumah saudara.
Hubungan Tingkat Pendapatan dengan Strategi Bertahan Hidup
Salah satu karakteristik sosial ekonomi rumahtangga buruh tani dilihat dari pendapatannya. Rata-rata tingkat pendapatan per tahun dari 40 rumahtangga buruh tani di Desa Anjatan Utara sebesar Rp12 482 100.
9
53 Tabel 27 Hubungan tingkat pendapatan dengan strategi bertahan hidup rumahtangga buruh tani di Desa Anjatan Utara Kabupaten Indramayu, 2014 Tingkat pendapatan Strategi I Strategi II Jumlah % Jumlah % Jumlah % Tinggi 13 92.8 1 7.2 14 100 Rendah 10 38.5 16 61.5 26 100
Tabel 27 menunjukkan, rumahtangga buruh tani yang memiliki karakteristik tingkat pendapatan tinggi sebagian besar (92.8%) melakukan Strategi I yakni nafkah ganda dan migrasi. Rumahtangga buruh tani pada kategori ini memiliki pendapatan yang tinggi karena setiap anggota rumahtangganya banyak menghasilkan uang dengan bekerja di sektor pertanian dan non pertanian, baik di desa maupun di luar desa. Contoh kasus Contoh kasus rumahtangga yang memiliki karakteristik tingkat pendapatan tinggi yakni rumahtangga Bapak Kdw (55 tahun).
Rumahtangga Bapak Kdw terdiri dari suami (Bapak Kdw), istri, dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Bapak Kdw setiap harinya bekerja sebagai tukang becak. Saat musim panen, ia beralih profesi menjadi buruh panen bebas bersama istrinya. Bapak Kdw juga menjadi buruh pembuat bata merah. Anak perempuannya bekerja di rumah dengan membuka warung jajanan anak-anak. Kedua anak laki-lakinya bekerja di Jakarta sebagai mekanis AC di sebuah kantor, dan setiap bulan mengirim uang sebesar Rp500 000. Bapak Kdw mengaku jarang berhutang. Selagi ia dan anggota rumahtangganya masih bisa mencari uang sendiri, maka rumahtangga Bapak Kdw memilih melakukan kerja apa saja asalkan mendapat uang. Contoh, jika ada tetangga yang membutuhkan tenaganya Bapak Kdw bersedia mengerjakan pekerjaan rumah apa saja, seperti mencabut rumput dan mengecat tembok atau pagar rumah tetangga. Dari bekerja sebagai buruh tani dan pekerjaan non pertanian, rumahtangga Bapak Kdw memperoleh pendapatan Rp18 880 000 per tahun.
Rumahtangga buruh tani yang memiliki karakteristik tingkat pendapatan rendah sebagian besar (61.5%) melakukan Strategi II yakni strategi subsistensi. Rumahtangga buruh tani pada kategori ini memiliki pendapatan yang rendah karena anggota rumahtangganya lebih mengandalkan pemberian orang lain atau berhemat, daripada melakukan banyak pekerjaan untuk menambah pendapatan. Rumahtangga pada kategori ini biasanya memiliki sedikitnya anggota rumahtangga yang mampu bekerja atau anggota rumahtangga kurang memanfaatkan hubungan sosial untuk mencari pekerjaan sebagai buruh tani panen atau untuk mencari pekerjaan serabutan di sektor non pertanian. Contoh kasus rumahtangga yang memiliki karakteristik tingkat pendapatan rendah yakni rumahtangga Bapak Kcg (45 tahun).
54
Rumahtangga Bapak Kcg terdiri dari tiga orang. Bapak Kcg sebagai kepala keluarga, istri (37 tahun), dan anaknya (14 tahun). Bapak Kcg setiap harinya bekerja sebagai pedagang mainan keliling. Saat panen, ia beralih profesi sebagai buruh panen bebas. Atas perintah Bapak Kcg, istrinya melakukan pekerjaan domestik di rumah agar bisa fokus mengasuh anaknya yang masih sekolah. Oleh karena itu, Bapak Kcg menjadi satu-satunya anggota rumahtangga yang menghasilkan uang. Bapak Kcg memperoleh pendapatan dari hasil berburuh tani dan berjualan mainan sebesar Rp9 150 000 per tahun. Pada keadaan krisis, rumahtangga Bapak Kcg lebih memilih mengandalkan bantuan beras miskin, menumpang makan di saudara, dan berhutang ke warung dibandingkan dengan mengerahkan istrinya untuk melakukan pekerjaan yang menghasilkan uang.
Rumahtangga yang karakteristik tingkat pendapatannya tinggi, melakukan banyak pekerjaan dan mengoptimalkan sumber daya rumahtangga untuk bekerja. Sebaliknya, rumahtangga yang karakteristik tingkat pendapatannya rendah, lebih memanfaatkan mengandalkan bantuan orang lain untuk bertahan hidup.
Hubungan Proporsi Anggota Rumahtangga Bekerja dengan Strategi Bertahan Hidup
Karakteristik sosial ekonomi rumahtangga buruh tani yang kedua dilihat dari proporsi anggota rumahtangga bekerja.
Tabel 28 Hubungan proporsi anggota rumahtangga bekerja dengan strategi bertahan hidup rumahtangga buruh tani di Desa Anjatan Utara Kabupaten Indramayu, 2014 Proporsi anggota rumahtangga bekerja Strategi I Strategi II Jumlah % Jumlah % Jumlah % Tinggi 19 70.4 8 29.6 27 100 Rendah 4 30.7 9 69.3 13 100
Tabel 28 menunjukkan, rumahtangga buruh tani yang memiliki karakteristik tingkat proporsi anggota rumahtangga bekerja tinggi sebagian besar (70.4%) cenderung melakukan Strategi I yakni nafkah ganda dan migrasi. Rumahtangga yang memiliki karakteristik proporsi anggota rumahtangga bekerja tinggi mampu mengalokasikan sumber daya rumahtangganya untuk bekerja. Saat musim panen, rumahtangga dengan proporsi anggota rumahtangga bekerja tinggi biasanya mengerahkan anggota rumahtangganya untuk mengikuti kegiatan panen. Rumahtangga yang proporsi anggota rumahtangga bekerja tinggi mendapat hasil panen yang banyak. Di luar musim panen, mereka biasanya mengalokasikan anggota rumahtangganya untuk bekerja di sektor non pertanian. Hal ini dilakukan untuk menambah pendapatan rumahtangga, Mereka ingin dapat bertahan hidup
55 hingga musim panen selanjutnya dengan tidak hanya mengandalkan padi dari hasil panen saja. Contoh kasus rumahtangga Bapak Tna.
Rumahtangga Bapak Tna terdiri dari kelapa keluarga (Bapak Tna, 50 tahun), istri (45 tahun), dan keempat anaknya yang telah mampu bekerja dan belum menikah (usia 35, 27, 22, dan 20 tahun). Keenam anggota rumahtangga ini bekerja sebagai buruh tani panen. Oleh karena sumber daya manusia yang dikerahkan banyak, hasil panen yang diperoleh mereka pun banyak. Rata-rata upah yang mereka dapat sebagai buruh tani panen sebanyak 10 kwintal per musim panen. Diluar musim panen, setiap hari Minggu Bapak Tna bekerja di rumah petani pemilik sebagai pembantu yang membersihkan kebun dan halaman rumah. Dua anak laki-lakinya ikut borongan pergi ke Bekasi untuk menjadi buruh bangunan atau pengaspal jalan selama dua hingga tiga bulan. Istri dan dua anak perempuannya bekerja di rumah. Sering kali, salah satu anak perempuannya mencuci pakaian di rumah petani pemilik tetapi tidak rutin. Rumahtangga Bapak Tna tidak pernah kekurangan makanan setiap harinya, karena padi yang didapat dari upah panen cukup banyak sehingga untuk memenuhi kebutuhan makan Bapak Tna hampir tidak pernah berhutang. Hutang sesekali dengan petani pemilik untuk keperluan berobat.
Rumahtangga yang memiliki karakteristik tingkat proporsi anggota rumahtangga bekerja rendah sebagian besar (69.3%) cenderung melakukan Strategi II yakni strategi subsistensi. Saat musim panen, rumahtangga kategori ini biasanya mendapat lebih sedikit hasil panen dibandingkan rumahtangga dengan proporsi anggota rumahtangga bekerja tinggi. Hal ini karena hanya sedikit anggota rumahtangga yang dikerahkan dalam kegiatan panen. Hasil panen yang diperoleh tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan hingga musim panen selanjutnya, ditambah lagi hanya sedikit anggota rumahtangga yang bekerja sehingga lebih mengandalkan bantuan orang lain dalam bentuk sembako atau menumpang makan, atau menjual simpanan beras mereka pada orang lain. Contoh kasus rumahtangga Bapak Wrs (27 tahun).
Rumahtangga Bapak Wrs terdiri dari kepala keluarga (Bapak Wrs), istri (20 tahun), anak (1 tahun), ibu mertua (75 tahun). Bapak Wrs bekerja sebagai buruh tani tanam dan panen. Istrinya bekerja di rumah, mengurus anak dan ibunya yang sudah tua, sehingga hanya Bapak Wrs yang dapat menghasilkan uang. Dulu, Bapak Wrs tidak pernah ikut ceblokan melainkan hanya menjadi buruh tani bebas yang selalu rebutan saat musim panen tiba. Oleh karena bekerja sendirian, upah panen yang didapatnya kurang dari 2 kwintal per musim panen. Hasil ini tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Setelah anak pertamanya lahir, Bapak Wrs memutuskan untuk ikut ceblokan dengan mendekatkan diri dengan petani pemilik dan perantaranya, hal ini sebagai strateginya untuk mendapat upah panen yang lebih banyak. Setelah ikut ceblokan, Bapak Wrs bisa mendapat upah panen 4 kwintal per musim panen. Di luar musim panen, Bapak Wrs bekerja sebagai
56
penggembala kambing milik tetangganya. Saat belum menikah, Bapak Wrs sering ikut borongan menjadi buruh bangunan bersama teman- temannya. Tetapi karena keadaan, Bapak Wrs tidak bisa meninggalkan istrinya dengan anaknya yang masih bayi dan ibu mertuanya yang sudah tua. Rumahtangga Bapak Wrs sangat sering berhutang ke warung untuk membeli lauk, rokok, obat, dan susu bayi.
Keberadaan anggota rumahtangga yang bekerja, dapat memberi jaminan bagi rumahtangga untuk bertahan hidup. Rumahtangga yang memiliki lebih banyak anggota rumahtangga yang bekerja dibandingkan anggota rumahtangga yang menjadi beban tanggungan cenderung banyak melakukan kerja dengan hasil yang minimal namun setidaknya cukup untuk memenuhi kebutuhan rumahtangga sehari-hari. Rumahtangga yang memiliki lebih banyak beban tanggungan dibandingkan anggota rumahtangga yang bekerja, meski melakukan kerja namun hasil yang didapat tidak sebanding dengan banyaknya kebutuhan yang harus dibayar. Oleh karena itu, mereka cenderung bertahan hidup dengan mengurangi kualitas dan frekuensi makan, sebisa mungkin tidak banyak pengeluaran, dan pada akhirnya selalu berhutang bahkan untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Hubungan Tingkat Kondisi Rumah dengan Strategi Bertahan Hidup
Kondisi bangunan rumah merupakan salah satu hal yang mencerminkan karakteristik sosial ekonomi rumahtangga buruh tani.
Tabel 29 Hubungan tingkat kondisi rumah dengan strategi bertahan hidup rumahtangga buruh tani di Desa Anjatan Utara Kabupaten Indramayu, 2014
Kondisi rumah Strategi I Strategi II Jumlah %
Jumlah % Jumlah %
Baik 12 63.2 7 36.8 19 100
Buruk 11 52.4 10 47.6 21 100
Tabel 29 menunjukkan, rumahtangga yang memiliki karakteristik kondisi rumahnya baik sebagian besar (63.2%) melakukan strategi Strategi I yakni nafkah ganda dan migrasi. Rumahtangga buruh tani yang melakukan strategi nafkah ganda dan migrasi menghasilkan uang dari kegiatan nafkah ganda. Mereka dengan uang yang didapat dari bekerja di sektor non pertanian atau dari remitan, biasanya mampu memperbaiki kondisi rumah. Kondisi rumah bagi mereka yang paling penting diperbaiki adalah lantai dan dinding serta kepemilikan harta benda seperti televisi, sofa, lemari pakaian, lemari hias, dan kepemilikan sepeda motor. Kondisi lantai umumnya pada bagian teras dan ruang tamu diperbaiki dengan memasang keramik, namun, bagian ruangan lainnya dibiarkan semen atau tanah. Selian itu yang penting bagi mereka lagi yakni mengecat kembali dinding rumah meski dengan cat kualitas rendah (biasanya cat kiloan).
Tabel 29 menunjukkan, rumahtangga yang memiliki karakteristik kondisi rumahnya buruk juga sebagian besar (52.4%) melakukan strategi Strategi I yakni
57 nafkah ganda dan migrasi. Meski strategi yang diterapkan berupa nafkah ganda dan migrasi, 52.4% rumahtangga ini memiliki kondisi rumah yang rendah umumnya karena tidak memiliki fasilitas MCK dan sumber air pribadi di rumahnya. Memperbaiki kondisi rumah dengan membuat kamar mandi dan memasang air PAM atau sanyo bukan menjadi prioritas bagi rumahtangga buruh tani. Biasanya, ketika memiliki uang, buruh tani lebih memilih memperbaiki lantai rumah bagian teras dan ruang tamu sedangkan bagian kamar dan dapur dibiarkan berlantai tanah atau semen. Memperbaiki kondisi rumah dengan membuat kamar mandi dan memasang air PAM juga tidak menjadi prioritas karena menurut beberapa buruh tani, lebih menikmati mandi dan mencuci di sungai daripada di rumah karena selain bisa menghemat pengeluaran uang, juga dapat melakukan kegiatan mandi dan cuci sambil bersosialisasi dengan tetangga. Terdapat beberapa buruh tani tani yang meski sudah memasang sanyo atau air PAM, tetapi masih mencuci dan mandi di sungai agar dapat menghemat pengeluaran uang untuk membayar air PAM atau listrik sanyo. Selain itu ketika memiliki uang dari hasil nafkah ganda dan migrasi (misalnya berupa remitan dari anaknya yang bekerja di luar negeri), banyak rumahtangga buruh tani yang lebih memilih membeli perhiasan emas dan sepeda motor terlebih dahulu dibandingkan dengan memperbaiki kondisi rumah. Bagi mereka, emas lebih dahulu mengangkat status sosial mereka dibandigkan rumah. Contoh kasus rumahtangga buruh tani yang memiliki karakteristik tingkat kondisi rumah rendah meski melakukan Strategi I, yakni rumahtangga Bapak Ynd (55 tahun).
Rumahtangga Bapak Ynd terdiri dari suami (Bapak Ynd), istri, dua anak perempuan yang sudah bekerja, satu anak laki-laki yang masih sekolah, dan satu cucu yang masih balita. Bapak Ynd, istri, dan anak perempuan pertamanya bekerja sebagai buruh tani ceblokan. Anak perempuan keduanya bekerja sebagai TKW di Malaysia. Bapak Ynd juga bekerja serabutan. Seringkali petani pemilik mempekerjakan Bapak Ynd dan istrinya untuk membersihkan pekarangan rumah dan membersihkan tempat jemuran padi setelah musim panen usai. Bapak Ynd setiap bulannya menerima kiriman uang dari anak perempuannya yang bekerja di Malaysia. Meski anggota rumahtangganya banyak melakukan nafkah ganda dan menerima remitan secara rutin, kondisi rumah Bapak Ynd masih tergolong buruk. Rumah Bapak Ynd dibangun di atas tanah milik pemerintah dengan kondisi genteng kualitas rendah, dinding setengah bata dan setengah lagi bilik, lantai ruang tamu semen dan lainnya tanah, fasilitas listrik masih menyalur dari tetangga, serta tidak tersedia fasilitas sumber air dan MCK pribadi. Istri Bapak Ynd mengaku tidak ingin membangun MCK dan memasang sanyo atau air PAM di rumah. Istri dan anggota rumahtangga lainnya mengaku lebih nyaman dan hemat menggunakan air sungai. Jika ada uang lebih, rumahtangga Bapak Ynd lebih memilih untuk membeli perhiasan emas dibandingkan untuk memperbaiki kondisi rumah, karena emas dapat dijual sewaktu-waktu ketika keadaan mendesak.
58
Memperbaiki kondisi rumah dengan membuat kamar mandi dan memasang air PAM atau sanyo bukan menjadi prioritas bagi rumahtangga buruh tani. Biasanya, ketika memiliki uang, buruh tani lebih memilih memperbaiki lantai rumah bagian teras dan ruang tamu sedangkan bagian kamar dan dapur dibiarkan berlantai tanah atau semen. Memperbaiki kondisi rumah dengan membuat kamar mandi dan memasang air PAM juga tidak menjadi prioritas karena menurut beberapa buruh tani, lebih menikmati mandi dan mencuci di sungai daripada di rumah karena selain bisa menghemat pengeluaran uang, juga dapat melakukan kegiatan mandi dan cuci sambil bersosialisasi dengan tetangga. Terdapat beberapa buruh tani tani yang meski sudah memasang sanyo atau air PAM, tetapi masih mencuci dan mandi di sungai agar dapat menghemat pengeluaran uang untuk membayar air PAM atau listrik sanyo.
Ikhtisar
Terdapat hubungan antara tingkat pendapatan dengan strategi bertahan hidup yang dilakukan rumahtangga buruh tani di Desa Anjatan Utara. Hubungan tersebut terlihat bahwa semakin tinggi tingkat pendapatan, strategi yang dilakukan cenderung pada Strategi I yakni strategi yang mengarah pada alokasi sumberdaya manusia untuk bekerja di beragam pekerjaan pertanian dan non pertanian (nafkah ganda), dengan atau tanpa melakukan migrasi. Sebaliknya semakin rendah pendapatan, strategi yang dilakukan cenderung pada Strategi II yakni strategi yang mengarah pada tindakan subsistensi dan sangat bergantung pada pertolongan orang lain dengan cara berhutang dan meminta bantuan orang lain secara sukarela. Terdapat hubungan antara proporsi anggota rumahtangga bekerja dengan strategi bertahan hidup. Semakin tinggi proporsi anggota rumahtangga yang bekerja, semakin rumahtangga buruh tani cenderung melakukan Strategi I. Artinya semakin banyak anggota rumahtangga yang bekerja dibandingkan anggota rumahtangga yang menjadi beban tanggungan, semakin rumahtangga tersebut dapat mengalokasikan sumberdaya manusia dalam rumahtangganya untuk bekerja. Sebaliknya pada proporsi anggota rumahtangga bekerja yang rendah, rumahtangga tidak dapat mengalokasikan banyak sumberdaya manusianya untuk bekerja karena jumlah anggita rumahtangga yang menjadi beban tanggungan lebih besar dibanding anggota rumahtangga yang bekerja. Sehingga strategi yang dilakukan cenderung pada Strategi II yakni strategi subsistensi.
Rumahtangga baik yang memiliki karakteristik kondisi rumah baik maupun buruk, sama-sama cenderung melakukan Strategi I. Sebanyak 52.5% rumahtangga memiliki kondisi rumah yang rendah, padahal strategi yang dilakukan cenderung Strategi I. Kondisi rumah buruk umumnya dicirikan oleh tidak tersedianya fasilitas MCK dan sumber air pribadi di rumah. Hal ini karena rumahtangga buruh tani merasa sudah nyaman dan hemat menggunakan air sungai sebagai sumber mata airnya. Beberapa responden mengatakan, lebih menikmati mandi dan mencuci di sungai daripada di rumah karena bisa sambil bersosialisasi dengan tetangga.
59
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka dapat ditarik kesimpulan yang mengacu pada tujuan penelitian. Karakteristik tingkat pendapatan rumahtangga buruh tani di Desa Anjatan Utara, rata-rata pendapatan per tahun sebesar Rp12 482 100 dengan 69% pendapatan tersebut berasal dari sektor non pertanian. Terdapat 65% rumahtangga buruh tani tingkat pendapatannya di bawah Rp12 482 100. Dari 40 rumahtangga buruh tani, sebanyak 67.5% memiliki memiliki proporsi anggota rumahtangga rendah. Sebanyak 52.5% rumahtangga buruh tani kondisi rumahnya buruk, mayoritas dicirikan oleh tidak adanya sumber air dan MCK pribadi di rumahnya.
Bentuk strategi bertahan hidup yang dilakukan rumahtangga buruh tani yaitu strategi nafkah ganda yang juga meliputi kegiatan lain yaitu migrasi. Strategi bertahan hidup lainnya dalam bentuk strategi subsistensi. Pemanfaatan hubungan sosial bukan merupakan strategi bertahan hidup, melainkan akses yang dimiliki rumahtangga buruh tani untuk dapat melakukan strategi bertahan hidup. Oleh karena itu, terdapat dua pilihan strategi bertahan hidup rumahtangga buruh tani, yakni: (1) Strategi I: strategi yang dilakukan untuk mendapat pekerjaan pertanian dan non pertanian (melakukan nafkah ganda dan migrasi), (2) Strategi II: strategi yang dilakukan untuk meminta bantuan orang lain seperti berhutang dan meminta bantuan secara sukarela (melakukan strategi subsistensi).
Rumahtangga yang memiliki karakteristik tingkat pendapatan tinggi, strategi yang dilakukannya cenderung dalam bentuk Strategi I yakni nafkah ganda dan migrasi. Rumahtangga yang memiliki karakteristik tingkat porporsi anggota rumahtangga bekerja tinggi, strategi bertahan hidup yang dilakukannya cenderung