• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

B. Biaya diperhitungkan

TKDK HOK 56.83 50 000 2 841 500 34.71 Penyusutan 1 325 833 Kapal unit 1 201 500 201 500 2.46 Jaring unit 1 763 333 763 333 9.32 Mesin unit 1 361 000 361 000 4.41 Total biaya diperhitungkan 4 167 333 50.91 C. Total biaya 8 186 221 100.00

Nilai biaya terbesar pada komponen biaya tunai adalah biaya yang dikeluarkan untuk bahan bakar yaitu sebesar Rp3 267 000. Bahan bakar yang digunakan adalah bensin yang dicampur dengan sedikit oli. Jumlah bahan bakar yang digunakan adalah sebanyak 363 liter dengan harga Rp9 000 per liter. Biaya bahan bakar yang besar dikarenakan nelayan menangkap ikan ke tengah danau untuk melepas gillnet sampai dengan jarak rata-rata 2 km di tengah danau. Biaya perawatan yang dikeluarkan nelayan berupa biaya untuk perbaikan jaring, perbaikan mesin dan perbaikan perahu yang digunakan nelayan.

Biaya terbesar kedua adalah biaya tenaga kerja dalam keluarga sebesar 34.71 persen dari biaya total. Total biaya tenaga kerja dalam keluarga yaitu sebesar Rp2 841 500. Biaya ini deperhitungkan untuk semua aktivitas penangkapan yang dilakukan nelayan. Tenaga kerja dalam menangkap ikan adalah nelayan itu sendiri. Nelayan tidak menggunakan tenaga kerja lain dalam melakukan aktivitas menangkap ikan. Jumlah tenaga kerja dalam keluarga adalah 56.83 HOK dengan upah sebesar Rp50 000.

33 Rata-rata biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari menunjukkan biaya tunai dan biaya yang diperhitungkan nelayan untuk rata-rata keseluruhan alat tangkap yang digunakan nelayan responden dalam melakukan aktivitas penangkapan ikan Bilih. Tabel 12 menunjukkan rata-rata biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo.

Tabel 12 Rata-rata biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat pada tahun 2014

Keterangan satuan Jumla

h Harga (Rp/satuan ) Nilai (Rp) Persentas e A. Biaya Tunai

Bahan bakar liter 363,73 9 000 3 273 600 31.91

Perawatan kapal

dan mesin unit 1 481 667 481 667

Perawatan jaring unit 3 270 222 810 667

Biaya perawatan 1 292 333 12.60

Total biaya tunai 4 565 933 44.50

B. Biaya diperhitungkan TKDK HOK 56,83 50 000 2 841 500 27.70 Penyusutan 2 852 499 Kapal unit 1 201 500 201 500 1.96 Jaring unit 3 763 333 2 289 999 22.32 Mesin unit 1 361 000 361 000 3.52 Total biaya diperhitungkan 5 693 999 55.50 C. Total biaya 10 259 932 100.00

Nilai pada rata-rata biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo untuk keseluruhan alat tangkap nelayan responden pada biaya tunai paling besar adalah pada komponen pada bahan bakar yaitu sebesar 31.91 persen. Hal ini berbeda dengan biaya pada komponen bahan bakar per alat tangkap yaitu sebesar 39.91 persen. Perbedaan ini dapat terjadi karena pada rata-rata biaya penangkapan terjadinya peningkatan biaya pada biaya perawatan jaring dan biaya pada penyusutan jaring. Sehingga pada kondisi yang dilapang, peningkatan nilai pengeluaran yang cukup signifikan pada jaring pada keseluruhan alat tangkap menyebabkan peningkatan total biaya penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo meningkat dari Rp8 186 221

menjadi Rp10 259 932.

Penerimaan Usaha Penangkapan Ikan Bilih

Analisis terhadap penerimaan nelayan Ikan Bilih terdiri dari penerimaan tunai dan penerimaan non tunai. Penerimaan tunai merupakan penerimaan yang langsung diterima oleh nelayan dalam bentuk uang tunai seteah menjual hasil tangkapan ikan Bilih. Sedangkan penerimaan non tunai merupakan penerimaan

34

yang diperoleh petani dalam bentuk selain uang tunai, akan tetapi dalam bentuk lain seperti konsumsi. Produksi ikan Bilih adalah keseluruhan hasil tangkapan yang diperoleh oleh nelayan pada setiap alat tangkap yang digunakan, karena pada daerah penelitian tidak ada grading terhadap hasil tangkapan menjadi ikan Bilih kualitas baik.

Penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak terjadi lebih kurang selama tiga bulan dalam setahun yaitu pada bulan Februari, Maret, dan April. Puncak penangkapan ikan Bilih terjadi pada bulan Februari. Output yang dihasilkan dari penangkapan nelayan di danau yaitu ikan Bilih, ikan Bilih yang ditangkap langsung dijual nelayan ke pedagang pengumpul yang ada di daerah tersebut. Harga yang ditetapkan pedagang pengumpul menyesuaikan dengan kondisi musim tangkap, ketika pada musim puncak maka harga yang diterima nelayan akan cenderung lebih rendah, sebaliknya jika pada musim tangkap biasa maka harga yang diterima nelayan akan cenderung lebih tinggi. Hasil dari perkalian antara jumlah hasil tangkapan dengan harga merupakan penerimaan tangkapan nelayan ikan Bilih. Tabel 13 menunjukkan nilai penerimaan usaha penangkapan ikan Bilih per alat tangkap di Nagari Guguak Malalo tahun 2014.

Tabel 13 Penerimaan usaha penangkapan ikan Bilih per alat tangkap di Nagari Guguak Malalo tahun 2014

Penerimaan Nelayan Satuan Jumlah Harga

(Rp/satuan) Nilai (Rp) Penangkapan musim puncak Kg 379.95 15 000 5 699 250 Penangkapan musim biasa Kg 335.37 30 000 10 061 100

Total penerimaan 15 760 350

Jumlah rata-rata hasil tangkapan ikan Bilih pada musim tangkap 2014 pada lokasi penelitian dibagi atas dua yaitu musim puncak dan musim biasa. Pada musim puncak total hasil tangkapan nelayan rata-rata per tahun sebesar 379.95 kilogram per gillnet dengan harga jual Rp15 000 per kilogram. Sedangkan pada musim biasa hasil tangkapan yang diperoleh nelayan rata-rata per tahun sebesar 335.37 kilogram per gillnet dengan harga jual sampai Rp30 000 per kilogram. Total penerimaan yang diperoleh nelayan dari hasil penjualan ikan bilih adalah sebesar Rp15 760 350.

Peningkatan jumlah alat tangkap mempengaruhi nilai penerimaan nelayan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo tahun 2014. Nilai penerimaan per alat tangkap memiliki nilai yang berbeda dengan nilai penerimaan terhadap rata-rata keseluruhan alat tangkap. Tabel 14 menunjukkan rata –rata penerimaan usaha penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo.

Tabel 14 Rata-rata penerimaan usaha penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo tahun 2014

Penerimaan Nelayan Satuan Jumlah Harga

(Rp/satuan) Nilai (Rp) Penangkapan musim puncak Kg 1 047.2 15 000 15 708 000

35 Penangkapan musim biasa Kg 942 30 000 28 260 000

Total penerimaan 43 968 000

Rata-rata penangkapan pada musim puncak yaitu sebesar 1 047.2 kilogram dengan harga jual Rp15 000 per kilogram. Kemudian pada musim biasa hasil tangkapan yang diperoleh nelayan sebesar 942 kilogram dengan harga jual sebesar Rp30 000 per kilogram. Jadi rata-rata penerimaan tunai yang diperoleh nelayan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo pada tahun 2014 sebesar Rp 43 968 000. Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih

Pendapatan nelayan merupakan selisih antara penerimaan nelayan dengan biaya. Komponen pendapatan nelayan meliputi pendapatan atas biaya tunai dan pendapatan atas biaya total. Rincian penerimaan dan biaya dari usaha penangkapan ikan bilih dapat dilihat pada Tabel 15.

Tabel 15 Perhitungan pendapatan usaha penangkapan ikan Bilih per alat tangkap di Nagari Guguak Malalo pada musim tangkap tahun 2014

Keterangan Nilai(Rp)

Penerimaan 15 760 350

Total Biaya Tunai 4 018 888

Total Biaya Diperhitungkan 4 167 333

Total Biaya 8 187 221

Pendapatan atas biaya tunai 11 741 462

Pendapatan atas biaya total 7 574 129

Penerimaan penangkapan ikan Bilih responden per alat tangkap per tahun 2014 adalah sebesar Rp15 760 350, sedangkan biaya tunai adalah sebesar Rp4 018 888 dan biaya total sebesar Rp8 186 221. Sehingga dapat dilihat bahwa pendapatan atas biaya tunai usaha penangkapan ikan Bilih sebesar Rp11 741 462 lebih besar dari nol. Hal ini berarti usaha penangkapan ikan Bilih di lokasi penelitian memberikan keuntungan sebesar Rp11 741 462 bagi nelayan atas biaya tunai yang dikeluarkannya dalam menangkap ikan Bilih per alat tangkap yang digunakan. Sedangkan pendapatan atas biaya total adalah sebesar Rp7 574 129 lebih besar dari nol menunjukkan bahwa penangkapan ikan di lokasi penelitian memberikan keuntungan sebesar Rp7 574 129 bagi nelayan atas total biaya yang dikeluarkannya untuk menangkap ikan Bilih dengan menggunakan satu alat tangkap. Hasil analisis pendapatan menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo menguntungkan untuk diusahakan.

36

Peningkatan jumlah alat tangkap berpengaruh pada nilai pendapatan nelayan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo tahun 2014. Nilai pendapatan per alat tangkap memiliki nilai yang berbeda dengan nilai pendapatan terhadap keseluruhan alat tangkap sehingga didapatkan nilai rata-rata pendapatan atas biaya total penangkapan ikan Bilih untuk keseluruhan alat tangkap nelayan ikan Bilih. Tabel 16 menunjukkan rata –rata pendapatan nelayan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo.

Tabel 16 Rata-rata perhitungan pendapatan usaha penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo pada musim tangkap 2014

Keterangan Nilai(Rp)

Penerimaan 43 968 000

Total Biaya Tunai 4 565 933

Total Biaya Diperhitungkan 5 693 999

Total Biaya 10 259 932

Pendapatan atas biaya tunai 39 402 067

Pendapatan atas biaya total 33 708 068

Rata-rata pendapatan atas biaya tunai usaha penangkapan ikan Bilih sebesar 39 402 067. Pendapatan atas biaya total juga meningkat menjadi sebesar Rp33 708 068 atau lebih besar dari nol. Hal ini menunjukkan bahwa penangkapan ikan di lokasi penelitian memberikan keuntungan sebesar Rp 33 708 068 bagi nelayan atas total biaya yang dikeluarkannya untuk menangkap ikan Bilih.

Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo

Pendugaan Model Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih

Pendapatan nelayan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Berdasarkan hasil regresi berganda diperoleh hasil faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan di Nagari Guguak Malalo. Hasil pengolahan data dari wawancara dengan responden menghasilkan persamaan regresi yang variabelnya terdiri atas pengalaman bernelayan,keikutsertaan dalam organisasi, jarak tempuh dan jumlah alat tangkap.

Berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan dengan menggunakan minitab terlihat bahwa koefisien determinasi (R2) sebesar 0.876 artinya 87.6 persen variasi pendapatan nelayan dapat diterangkan oleh variabel yang ada didalam model dan sisanya 12.4 persen diterangkan oleh variabel lain di luar model. Untuk mengetahui tingkat pengaruh variabel indepeden secara bersama-sama terhadap variabel dependen digunakan uji F. Hasil uji F menunjukkan bahwa nilai F-hitung

37 52.30 lebih besar dari F-tabel sebesar 2.91 pada tingkat kesalahan 10 persen. Hal ini berarti bahwa variabel indipenden: pengalaman, keikutsertaan dalam organisasi, jarak dan jumlah alat berpengaruh nyata terhadap variabel dependen pada tingkat kesalahan 10 persen.

Model yang dibentuk tidak memiliki masalah multikolinearitas dan juga autokorelasi. Nilai VIF pada analisis regresi menunjukkan tidak ada yang melebihi 10 menandakan model yang dibentuk telah terbebas dari multikolinearitas. Sedangkan autokoreasi dapat dilihat dari nilai Durbin Watson, nilai Durbin Watson sebesar 2.20606 berada diantara 1.74 dan 2.26, berarti model tersebut tidak memiliki masalah autokorelasi (Lampiran 1). Model yang dapat dibentuk dapat dilihat pada persamaan berikut:

Pendapatan nelayan = 7.09 + 0.109 X1 + 2.68 X2– 1.94 X3 + 9.35 X4

Hasil dari uji bersama menunjukkan bahwa model layak atau dapat menjelaskan keragaman variabel dependent. Selanjutnya dilihat variabel

dependent apa saja yang berpengaruh secara signifikan terhadap variabel independent menggunakan Uji Parsial (Uji T). Taraf nyata yang digunakan sebesar 10 persen. Nilai P value yang lebih kecil dari taraf nyata yang berlaku menunjukkan bahwa variabel independent berpengaruh secara signifikan terhadap variabel dependent. Dari empat variabel independent, tiga variabel berpengaruh secara signifikan sementara satu variabel sisanya tidak berpengaruh secara signifikan.

Tabel 17 Hasil uji individual fungsi regresi berganda per nelayan ikan bilih di Nagari Guguak Malalo

Variabel Koefisien Regresi t-hitung p-Value Elastisitas

Konstanta 7.092 2.49 0.020 - X1 0.109 1.27 0.216 - X2 2.680* 1.53 0.140 0.08 X3 -1.940 -1.36 0.185 - X4 9.349** 11.98 0.000 0.83 *

Nyata pada tingkat kepercayaan 85 persen

**

Nyata pada tingkat kepercayaan 95 persen

Variabel yang berpengaruh secara nyata adalah keikutsertaan dalam organisasi dengan tingkat kepercayaan 85 persen, sedangkan jumlah alat tangkap berpengaruh secara nyata pada tingkat kepercayaan 95 persen. Variabel keikutsertaan dalam organisasi memiliki nilai t-hitung sebesar 1.53 dan p value

0.140. Variabel jumlah alat tangkap memiliki t-hitung sebesar 11.98 dan P value

sebesar 0.000. Sementara untuk variabel yang tidak berpengaruh secara nyata adalah pengalaman nelayan dan jarak tempuh. Nilai t hitung untuk variabel pengalaman adalah sebesar 1.22 dengan p value sebesar 0.235. Variabel jarak tempuh memiliki nilai t-hitung sebesar -1.36 dan p value sebesar 0.185.

Berdasarkan dari hasil pendugaan model diatas, model ini telah memenuhi kriteria dari fungsi regresi berganda. Selanjutnya model inilah yang akan dibahas

38

untuk menggambarkan fungsi pendapatan penangkapan nelayan dari kegiatan menangkap ikan bilih di Danau Singkarak.

Interpretasi Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih

Uji statistik telah dilakukan dan diperoleh hasil bahwa model layak dan tidak terdapat penyimpangan asumsi regresi liner selanjutnya adalah melakukan interpretasi terhadap hasil yang diperoleh untuk masing-masing variabel. Berikut adalah interpretasi untuk masing-masing variabel independent:

1. Jumlah Alat Tangkap

Alat tangkap yang digunakan nelayan responden di Nagari Guguak Malalo adalah jaring gillnet atau lebih dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai jaring langli. Jaring langli pada umumnya dimiliki oleh nelayan itu sendiri. Berdasarkan nilai p-value yang ditunjukkan pada Tabel 17, jumlah alat tangkap berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan pada tingkat kepercayaan 95 persen. Nilai koefisien regresi jumlah alat tangkap yakni sebesar 9.35 dengan tingkat elastisitas sebesar 0.83. Jumlah kepemilikan alat tangkap berpengaruh positif terhadap pendapatan nelayan. Nilai elastisitas memiliki arti bahwa kecenderungan nelayan yang menambah satu persen alat tangkap akan meningkatkan pendapatan sebesar 0.83 persen.

Usaha penangkapan ikan Bilih dalam perikanan tangkap sangat dipengaruhi oleh jumlah alat tangkap yang digunakan oleh nelayan. Setiap penambahan jumlah alat tangkap akan meningkatkan jumlah tangkapan yang diperoleh oleh nelayan. Akan tetapi setiap penjumlahan alat tangkap harus didukung sesuai dengan daya dukung perairan untuk mencapai keberlanjutan sumberdaya ikan Bilih. Jumlah produksi penangkapan ikan dalam perikanan tangkap ikan Bilih harus disesuaikan dengan jumlah atau nilai MSY (Maximum Suistanable Yield) di Danau Singkarak. Menurut penelitian Berkademi (2011) nilai MSY untuk jumlah tangkapan sebesar 235.53 ton dan nilai jumlah alat tangkap sebesar 598.14 unit. Hal ini berarti nelayan akan mendapat nilai maksimum untuk jumlah tangkapan sebesar 235.53 ton dan jumlah alat tangkap sebanyak 598.14 unit agar terjadi keseimbangan dan keberlanjutan sumberdaya ikan Bilih. Jika dikaitkan dengan pendapatan nelayan, produksi ikan Bilih akan lebih dalam mencapai keuntungan maksimum disesuaikan dengan konsep MEY (Maximum Economic Yield) dimana keuntungan tertinggi akan dicapai oleh nelayan dengan jumlah tangkapan dan alat tangkap tertentu. Berdasarkan hasil penelitian Berkademi (2011) nilai MEY untuk jumlah tangkapan nelayan sebesar 223.80 ton dan jumlah alat tangkap jaring langli sebanyak 464.67 unit. Artinya dengan jumlah tangkapan sebesar 223.80 ton dan jumlah alat tangkap sebesar 464.67 unit, nelayan akan mendapatkan mendapatkan keuntungan tertinggi dari usaha penangkapan ikan Bilih dan disamping itu juga tetap menjaga kestabilan, keberlanjutan dan kelestarian sumberdaya ikan yang ada di Danau Singkarak.

39 Organisasi yang dibentuk nelayan adalah kelompok nelayan. Biasanya, nelayan yang ikut dalam suatu kelompok nelayan akan difasilitasi untuk menambah wawasan nelayan dalam menangkap ikan. Pada umumnya, pemerintah daerah akan melakukan penyuluhan-penyuluhan perikanan untuk kelompok nelayan. Keterlibatan nelayan responden dalam kelompok nelayan yaitu sebesar 57 persen nelayan responden memilih untuk tergabung dalam kelompok nelayan yang ada di nagari tersebut. Sisanya sebesar 43 persen tidak tergabung dengan kelompok nelayan

Keikutsertaan nelayan dalam organisasi berpengaruh nyata terhadap pendapatan yang diperoleh oleh nelayan pada tingkat kepercayaan 80 persen dengan nilai koefisien sebesar 2.68 dan nilai elastisitas sebesar 0.08. Nilai elastisitas 0.08 memiliki arti kecenderungan nelayan yang bergabung dalam organisasi nelayan akan meningkatkan pendapatan sebesar 8 persen.

3. Pengalaman Nelayan

Pada umumnya, semakin banyak pengalaman yang dimiliki oleh nelayan maka nelayan akan semakin tahu cara menangkap ikan yang baik. Nelayan yang memiliki banyak pengalaman, biasanya akan lebih tahu tempat-tempat berkumpulnya ikan. Selain itu, nelayan juga akan tahu waktu-waktu yang tepat untuk menangkap ikan. Hal ini akan meningkatkan hasil tangkapan yang akan diperoleh nelayan.

Kondisi di lapangan pengalaman yang dimiliki nelayan responden tidak berengaruh secara signifikan terhadap pendapatan nelayan. Hal ini disebabkan karena nelayan yang lebih banyak pengalaman belum tentu berpengalaman dalam mengembangkan teknik menangkap ikan dan belum menambahkan teknologi dalam melakukan penangkapan ikan.

4. Jarak Tempuh

Jarak tempuh nelayan ke tengah danau tidak berpengaruh secara nyata terhadap pendapatan nelayan. Hasil ini tidak sesuai dengan hipotesis penelitian yang menyatakan jarak tempuh berpengaruh positif terhadap pendapatan nelayan. Hal ini dapat terjadi karena nelayan yang mencari ikan dengan jarak jauh ke tengah danau belum tentu mendapat ika yang banyak atau akan menambah biaya yang dikeluarkan nelayan untuk bahan bakar.

Populasi ikan Bilih memiliki pola migrasi yang berkaitan dengan pola pergerakan populasi ikan Bilih di alam. Ikan bilih merupakan ikan yang bersifat schooling (bergerombol). Pergerakan ikan bilih di alam dipengaruhi oleh pola arus dan ketersediaan makanan. Oleh sebab itu, meskipun ikan Bilih tersebar di Danau Singkarak, namun pergerakan populasi tidak selalu ada di daerah penangkapan yang semakin mendekati bagian tengah danau.

Penelitian Fauzia (2011), pada pendapatan nelayan di Pulau Untung melakukan klasifikasi terhadap faktor-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan yang terdiri ats besarnya biaya, hasil tangkapan, jumlah tenaga kerja, pengalaman, usia, tingkat pendidikan, alat tangkap, kepemilikan alat tangkap, keikutsertaan dalam organisasi. Hasil analisis faktor-faktor tersebut dengan menggunakan regresi berganda fungsi dasar Cobb Douglas menunjukkan bahwa hasil tangkapan, biaya, jarak tempuh, pengalaman responden, kepemilikan alat tangkap, dan keikutsertaan nelayan dalam organisasi memiliki pengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan. Faktor-faktor lain, seperti jumlah tenaga kerja, usia responden, pendidikan dan alat tangkap yang digunakan tidak berpengaruh secara

40

nyata terhadap pendapatan nelayan. Keikutsertaan nelayan dalam organisasi dan jumlah alat tangkap yang digunakan nelayan juga berpengaruh nyata pada penelitian ini. Akan tetapi dalam penelitian ini jarak tempuh tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan ikan Bilih, serta pengalaman nelayan juga tidak memiliki pengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan.

Tingkat Kontribusi Pendapatan Usaha Penangkapan Ikan Bilih terhadap Pendapatan Rumah Tangga

Kontribusi pendapatan merupakan kontribusi persentase perbandingan antara jumlah pendapatan ikan Bilih dengan total jumlah pendapatan keluarga secara keseluruhan. Nelayan yang menjadi responden ada yang memiliki pekerjaan sampingan dalam memenuhi kebutuhan rumah tangga mereka. Pekerjaan sampingan nelayan responden tersebut ada yang berprofesi sebagai petani, wiraswasta, dan pedagang. Jenis pekerjaan sampingan responden ditunjukkan oleh Gambar 10.

Gambar 10 Jenis pekerjaan samping nelayan responden Nagari Guguak Malalo

Gambar 10 menunjukkan bahwa sekitar 33.33 persen nelayan responden tidak memiliki pekerjaan sampingan yang artinya sumber pendapatan rumah tangga nelayan 100 persen bergantung pada pendapatan menangkap ikan. Nelayan responden yang memiliki pekerjaan sampingan paling didominasi oleh nelayan yang bekerja sebagai petani yaitu sebesar 40 persen dari jumlah responden. Kemudian disusul oleh nelayan yang memiliki pekerjaan sampingan sebagai wiraswasta dan pedagang.

Usahatani tanaman, 40% Dagang, 10% Jasa, 16.67% Tidak ada pekerjaan sampingan, 33.33%

41 Pendapatan nelayan dalam usaha penangkapan ikan Bilih rata-rata adalah sebesar Rp33 708 068 pertahun. Rata-rata pendapatan nelayan dalam usahatani tanaman yaitu sebesar Rp1 933 333, sedangkan rata-rata pendapatan yang diperoleh nelayan dalam berdagang sebesar Rp766 667. Rata-rata pendapatan yang diterima nelayan dalam berwiraswasta sebesarRp1 283 333. Kontribusi pendapatan nelayan dapat dilihat pada Gambar 11.

Gambar 11 Kontribusi pendapatan rumah tangga nelayan di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat Tahun 2014 Berdasarkan Gambar 11, kontribusi pendapatan nelayan dalam usaha penangkapan ikan Bilih di Nagari Guguak Malalo mampu memberikan nilai kontribusi yang sangat tinggi dalam pendapatan rumah tangga nelayan. Rata-rata tingkat kontribusi pendapatan penangkapan ikan Bilih di daerah penelitian sebesar 87.50 persen. Penelitian Sinaga (2011) menunjukkan kontribusi penangkapan pendapatan nelayan terhadap rumah tangga nelayan hanya 25.29 persen. Hal ini menunjukkan bahwa kontribusi pendapatan nelayan ikan Bilih di Danau Singkarak lebih tinggi terhadap pendapatan rumah tangga nelayan dibandingkan dengan kontribusi pendapatan nelayan yang dikemukakan Sinaga (2011) pada nelayan di Danau Toba. Penelitian Sihombing, Artini, Sari (2013) juga menunjukkan kontribusi pendapatan nelayan terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 48.56 persen. Selanjutnya kontribusi pendapatan terkecil pada pendapatan rumah tangga nelayan ikan Bilih di Danau Singkarak yaitu sebesar 2.11 persen berasal dari usaha sampingan berdagang. Kontribusi pendapatan usahatani terhadap pendapatan rumah tangga sebesar 6.15 persen dan kontribusi pendapatan dari jasa sebesar 4.23 persen. Rata-rata total pendapatan rumah tangga nelayan di Nagari Guguak Malalo Kabupaten Tanah Datar Sumatera Barat pada tahun 2014 sebesar Rp37 691 401. Pendapatan penangkapa n ikan Bilih 87.50% Usahatani tanaman 6.15% Dagang 2.11% Jasa 4.23%

43

SIMPULAN DAN SARAN

Simpulan

Usaha penangkapan ikan Bilih yang berada di lokasi penelitian mampu memberikan pendapatan yang positif bagi nelayan. Hasil pendapatan ini dapat ditunjukkan dari pendapatan atas biaya tunai yang diterima nelayan ikan Bilih per alat tangkap yaitu sebesar Rp11 741 462 dan pendapatan atas biaya total sebesar Rp7 574 129.

Hasil dari analisis regresi berganda atas fator-faktor yang mempengaruhi pendapatan nelayan menunjukkan bahwa variabel yang berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan dalam menangkap ikan Bilih adalah keikutsertaan dalam organisasi, dan jumlah alat tangkap, sedangkan variabel pengalaman dan jarak tempuh tidak berpengaruh nyata terhadap pendapatan nelayan.

Nelayan yang menjadi responden di daerah penelitian memiliki pekerjaan sampingan. Pekerjaan sampingan nelayan responden terdiri atas petani, pedagang dan wiraswasta. Kontribusi pendapatan merupakan kontribusi persentase perbandingan antara jumlah pendapatan ikan Bilih dengan total jumlah pendapatan keluarga secara keseluruhan. Rata-rata kontribusi pendapatan nelayan terhadap pendapatan rumah tangga nelayan sebesar 87.50 persen.

Saran

Usaha penangkapan ikan Bilih di Danau Singkarak merupakan salah satu sumber mata pencaharian masyarakat di Nagari Guguak Malalo. Pendapatan nelayan pada usaha penangkapan ikan Biih memberikan kontribusi yang besar terhadap pendapatan rumah tangga nelayan. Akan tetapi ketersediaan ikan Bilih di Danau Singkarak cenderung menurun, sehingga perlunya upaya-upaya untuk meningkatkan ketersediaan ikan Bilih di Danau Singkarak. Upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan ketersediaan ikan yaitu dengan cara pengembangan perikanan berbasis budidaya. Kemudian peningkatan ketersediaan

Dokumen terkait