• Tidak ada hasil yang ditemukan

DESAIN RINCI PROGRAM SJSN

4. RANCANGAN PROGRAM JAMINAN HARI TUA DAN PENDANAANNYA

6.3 BIAYA UNTUK MASYARAKAT MISKIN

Biaya program jaminan kesehatan bagi rakyat miskin merupakan yang tertinggi bagi pemerintah diantara lima program asuransi sosial. Asuransi kesehatan juga akan diperkenalkan sebagai program pertama dan akan mencakupi sektor informal. Pemerintah sudah memberikan pajak untuk membiayai manfaat jaminan kesehatan bagi sekitar 70 juta orang Indonesia melalui program Jamkesmas.

Namun, program jaminan kesehatan SJSN akan berbeda dengan program Jamkesmas dalam beberapa hal. Hal tersebut didasarkan pada konsep asuransi sosial sementara Jamkesmas dibiayai dari pajak. Definisi rakyat miskin juga akan berbeda dari yang digunakan di bawah program Jamkesmas.

Pemerintah belum memutuskan apa yang menjadi kriteria untuk memenuhi syarat guna menerima subsidi kontribusi di bawah program SJSN. Akibatnya, kami telah diperkirakan biaya kepada pemerintah berdasarkan beberapa asumsi tingkat cakupan. Tabel di bawah ini menunjukkan biaya dalam persentase dari PDB untuk beberapa jumlah pekerja miskin.

Jumlah Pekerja Miskin 2010 2020 2030 2050 2070 Rata-rata 14 juta 0.10% 0.30% 0.40% 0.50% 0.60% 0.44% 35 juta 0.30% 0.70% 0.90% 1.20% 1.50% 1.06% 46 juta 0.40% 1.00% 1.20% 1.60% 2.00% 1.41% 63 juta 0.50% 1.40% 1.60% 2.10% 2.70% 1.93%

Seperti dapat dilihat, jumlah pekerja miskin dan tanggungannya memiliki dampak signifikan pada biaya. Biaya juga meningkat tajam dari waktu ke waktu. Pada awal tahun biaya dari sistem jaminan kesehatan SJSN tersebut relatif rendah karena rendahnya pemanfaatan oleh rakyat miskin. Namun, seperti pada waktu berjalan, biaya pelayanan medis peningkatan karena adanya peningkatan jumlah penyedia layanan dan fasilitas, peningkatan pengetahuan dan kesadaran tentang sistem dan peningkatan biaya medis.

7. KESIMPULAN

Desain dan keputusn atas pembiayaan SJSN melibatkan isu-isu politik dan teknis yang kompleks. Untuk alasan ini, di beberapa negara proses tersebut memakan waktu hingga 10 tahun. Dalam beberapa hal,

102

perdebatan akan desain dan pembiayaan telah terjadi secara terus-menerus di Indonesia setidaknya sejak tahun 2004, namun keputusan penting secara teratur telah ditunda baik pada saat perancangan UU No 40 dan setelah. Sayangnya, Indonesia tidak mampu untuk menunda keputusan ini jika berharap untuk menerapkan program-program SJSN dalam beberapa tahun ke depan. Hingga akhir 2009, dasar hukum keputusan pada struktur, desain, tanggung jawab atas pembiayaan dan administrasi harus dilakukan dan diterjemahkan dalam undang-undang untuk diserahkan kepada DPR dan hal tersebut diperlukan adanya keputusan presiden dan menteri.

103

BAGIAN 3

104

1. PENDAHULUAN

Keberhasilan suatu reformasi program jaminan sosial tergantung pada bagaimana program tersebut diterapkan. Rancangan yang terbaik sekalipun akan gagal jika pemerintah tidak melaksanakan proses bisnis, sistem administrasi, sistem informasi dan teknologi, sistem pengawasan dan penegakan hukum yang baik sebagai langkah awal implementasi sistem. BPJS yang bertanggung jawab untuk menjalankan program harus memiliki pegawai dan sistem pelatihan yang layak agar dapat melaksanakan tanggung jawabnya secara profesional.

Untuk mendukung pelaksanaan reformasi program jaminan sosial ataupun menjalankan program jaminan sosial yang baru, banyak negara yang tidak memperkirakan lamanya waktu yang diperlukan untuk mempersiapkan infrastruktur. Pada akhir tahun 1990-an, beberapa negara berusaha untuk mempercepat implementasi program jaminan sosial tanpa mempersiapkan infrastruktur sehingga hasil yang didapat sangat mengecewakan. Tanpa persiapan infrastruktur yang matang, beberapa negara mengalami kehilangan data komputer, kesalahan dalam pengalokasian dana antar akun individu, kepemilikan nomor jaminan sosial lebih dari satu, dan tidak berjalannya undang-undang dan peraturan. Seiring berjalannya waktu, banyak negara dan lembaga donor internasional menyadari bahwa persiapan implementasi suatu program jaminan sosial memerlukan waktu 2 sampai dengan 3 tahun, bukan sekedar 6 bulan. Berdasarkan pengalaman, negara-negara yang memiliki cukup waktu untuk mempersiapkan pengimplementasian program jaminan sosial secara sistematis mendapatkan hasil yang lebih memuaskan dibanding dengan negara-negara lainnya yang tidak mempersiapkannya dengan baik. Saat ini, lebih umum untuk mencantumkan prasyarat dimulainya program jaminan sosial dalam peraturan perundang-undangan daripada menyebutkan waktu dimulainya program jaminan sosial. Tabel di bawah ini menunjukkan road map implementasi Sistem Jaminan Sosial Nasional secara umum. Tabel ini hanya menunjukkan tahapan langkah penting dan waktu pelaksanaannya. Untuk beberapa tahap, waktu pelaksanaan mungkin terlalu ambisius. Sebagai contoh, di beberapa negara proses untuk menyepakati besarnya manfaat dan kontribusi diperlukan waktu selama lima tahun atau lebih.

1Q 2Q 3Q 4Q 1Q 2Q 3Q 4Q 1Q 2Q 3Q 4Q Implementation Management Strategy

Asset Management Strategy Role and Legal Structure of BPJS Responsibility for Key System Fu nctions SJSN Benefits and Contributions Draft BPJS and Benefits Laws Assignment of SIN

Financial and Actuarial Analysis Unit Contribu tion and Data Collection BPJS Capacity Buildin g and Restructuring Supervision, Control and Enforcement Pu blic Education Campaign

SJSN Program Start Date X

105

Semua tahapan tersebut merupakan prasyarat untuk mulai sistem jaminan sosial dan apabila sistem tersebut dilaksanakan sebelum tahapan persiapan selesai, kemungkinan besar sistem tidak akan berjalan dengan baik yang ditandai dengan: misalokasi iuran, data peserta tidak dikelola dengan baik, investasi tidak sesuai dengan peraturan yang berlaku, dan lain-lain. Dari pengamatan selama 15 tahun terakhir, dapat disimpulkan betapa pentingnya persiapan yang matang untuk mengimplementasikan sistem jaminan sosial yang baru maupun mereformasi sistem jaminan sosial yang telah ada.

Tabel di atas, walaupun telah disederhanakan, menunjukkan beberapa hal pokok yang akan dijelaskan pada bagian selanjutnya, yaitu:

• Proses pelaksanaan harus dikelola dengan baik pada tingkat politis maupun tingkat teknis. Struktur tersebut harus ditetapkan dan dipertahankan sampai setidaknya sampai satu tahun setelah pelaksanaan sistem baru.

• Keputusan tentang pengelolaan aset dalam JHT memiliki dampak yang besar dalam penentuan struktur badan hukum dan staffing BPJS yang bertanggung jawab menjalankan JHT. Keputusan tentang model pengelolaan aset harus dilakukan pada awal proses implementasi SJSN.

• Saat ini, peran dan tanggung jawab masing-masing BPJS belum jelas. Pembagian tanggung jawab yang jelas setiap BPJS harus diputuskan pada awal proses implementasi SJSN.

• Pemerintah harus memutuskan pihak yang akan bertanggung jawab dalam pengawasan dan pengendalian BPJS dan pihak yang bertanggung jawab dalam penegakan peraturan tentang kewajiban pembayaran iuran dan teknis pelaksanaannya. Keputusan ini harus dilakukan di awal sehingga badan penyelenggara yang ditunjuk dapat segera membuat perencanaan. Pilihan terbaik adalah jika penarikan iuran dan penegakan aturannya dilakukan oleh badan penyelenggara yang sama.

• Tidak satupun calon BPJS yang ada saat ini benar-benar memiliki pengalaman yang relevan dalam pengelolaan dana pensiun ataupun program JHT. Setiap BPJS perlu untuk mengevaluasi pegawai yang ada saat ini dan kebutuhan di masa mendatang serta membuat perubahan struktur organisasi untuk mengakomodasi tanggung jawab yang baru. Pelatihan ekstensif dan peningkatan kapasitas pegawai akan diperlukan.

• Sosialisasi kepada publik yang ekstensif merupakan komponen yang penting dalam proses implementasi SJSN. Tahap ini lebih sering tidak diperhatikan atau sangat kurang pembiayaannya. Sosialisasi mungkin perlu dilakukan secara terpisah untuk masyarakat umum, media, dan Parlemen.

• Target penerapan SJSN mulai tanggal 1 Januari 2012 adalah target yang optimistik. Apabila setiap tahap-tahap yang dijelaskan di atas tidak dilaksanakan secara serius dan menjadi prioritas, maka SJSN tidak mungkin dapat dimulai pada tanggal tersebut.

Pemerintah memerlukan bantuan dalam mempersiapkan implementasi SJSN. Bantuan tersebut, meliputi kebutuhan perangkat komputer baru, pengembangan perangkat lunak, bantuan dalam pengembangan rencana bisnis dan proses bisnis, penganggaran dan rencana kebutuhan pegawai untuk setiap fungsi utama harus dikembangkan, dan pelatihan staf sangat diperlukan. Hal ini mungkin akan memerlukan bantuan dan koordinasi antar donor internasional.

106