BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
D. Jumlah Buah Cabai Rawit
1. Bibit Tanaman Cabai Rawit
2 Tanah paingan 400 liter
3 Pupuk hijau 100 liter
4 Pupuk kascing 100 liter
5 Pupuk NOPKOR PSO 4 liter
G. Agenda Pelaksanaan
Kegiatan
Desember Januari Februari Maret April Mei 1 2 3 4 5 1 2 3 4 1 2 3 4 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 1 2 3 4 5 Penyiapan lahan Penyiapan medium tanam (polybag, tanah dan pupuk) Penyampuran media tanam Penanaman Perawatan dan Pemeliharaan Pengambilan data
65
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil panen cabai rawit didapatkan dari penelitian yang dilakukan pada tanaman cabai rawit yang mendapat perlakuan pemupukan dasar dengan pupuk organik yaitu pupuk kascing atau bekas cacing dan pupuk hijau. Dalam penelitian ini, terdapat 50 polybag tanaman cabai rawit (Capsicum frutescens) yang diberi perlakuan pupuk tambahan jenis probiotik NOPKOR dan tanpa pupuk probiotik NOPKOR.
Tanaman cabai dipanen pertama kali pada umur 81 hari sejak tanam atau 111 hari sejak semai dan panen terakhir dilakukan pada umur 141 hari setelah tanam atau 161 hari sejak semai. Dalam penelitian ini, panen berlangsung sebanyak 17 kali dengan selang waktu 2-4 hari. Panen buah pertama kali dilakukan tanggal 22 Maret 2014 pada tanaman dengan pupuk kascing yang diberi pupuk probiotik NOPKOR dan pada tanaman dengan pupuk hijau tanpa pemberian pupuk probiotik NOPKOR. Sedangkan, panen buah terakhir kali dilakukan pada tanggal 11 Mei 2014. Tanaman cabai rawit dalam penelitian ini tumbuh sangat subur dengan percabangan banyak, daun yang rimbun, banyak bunga dan sarat buah.
Pemanenan dilakukan pada buah yang sudah berwarna merah atau masak penuh. Pemanenan atau pemetikan buah dilakukan pada pagi hari, hal tersebut dilakukan karena pada pagi hari bobot buah cabai masih optimal. Buah cabai yang sudah masak dipetik secara hati-hati dengan menyertakan tangkai buahnya. Buah
cabai rawit yang dipetik bersama dengan tangkainya akan memiliki sifat yang tahan lama dibandingkan buah cabai yang dipetik tanpa tangkainya.
Cabai yang sudah dipetik diangin-anginkan terlebih dahulu sebelum diukur, dan setelah itu cabai dimasukkan ke dalam kantong kertas per masing-masing tanaman untuk proses selanjutnya yaitu proses pengeringan. Cabai yang sudah selesai dioven atau dikeringkan segera ditimbang.
Berikut adalah gambar buah cabai rawit yang baru pertama kali dipetik:
Gb 5. Dengan NOPKOR
Gambar di atas menunjukkan adanya perbedaan morfologi buah cabai rawit yang diberi perlakuan NOPKOR dan tanpa NOPKOR. Buah cabai rawit dengan pupuk probiotik NOPKOR memiliki warna lebih merah, permukaan buah halus (tidak kasar), licin dan bentuk buah lebih bulat. Sedangkan untuk buah cabai tanpa NOPKOR memiliki warna merah dengan sedikit warna orange, permukaan buah kasar atau tidak halus, serta bentuk buah lebih tidak teratur.
Dalam penelitian ini, selain pengamatan morfologi buah, juga dilakukan pengukuran buah yang meliputi berat basah buah, berat kering buah, panjang buah dan jumlah buah.
A. Berat Basah Buah Cabai Rawit
Berat basah buah adalah salah satu parameter yang dapat digunakan untuk melihat keberhasilan suatu hasil panen. Pengukuran berat basah buah cabai rawit dimulai tanggal 22 Maret 2014. Panenan yang telah dilakukan pada tanaman cabai rawit menunjukkan rerata berat basah buah yang dapat dilihat pada tabel 7 (tabel dapat dilihat pada lampiran 1). Gambar 7 di bawah ini merupakan perbandingan rata-rata berat basah buah cabai rawit pada setiap perlakuan.
Gambar 7. Diagram Rata-Rata Berat Basah Tanaman Cabai Rawit Akibat Pengaruh Pupuk Probiotik NOPKOR pada Pupuk Organik 0 20 40 60 kascing nopkor hijau nopkor kascing tanpa nopkor hijau tanpa nopkor kontrol nopkor kontrol tanpa nopkor
berat basah (gr)
berat basah (gr)Berat basah buah didefinisikan sebagai bobot mula-mula yang dimiliki buah setelah buah tersebut dipetik atau diambil dari suatu tanaman. Berat basah buah cabai rawit didapatkan dengan cara ditimbang setelah buah tersebut dipetik. Proses pemetikan buah cabai rawit dilakukan pada pagi hari dikarenakan bobot buah cabai masih optimal.
Berdasarkan tabel 7 (halaman 103) dapat dilihat bahwa tanaman kontrol dengan pupuk probiotik NOPKOR menunjukkan rata-rata tertinggi yaitu 40 gr. Namun, dalam penelitian ini berkaitan dengan pupuk organik dimana tanaman dengan pupuk hijau yang diberi NOPKOR menunjukkan rata-rata berat basah yaitu 27,75 gr. Sedangkan tanaman pupuk kascing yang diberi NOPKOR yaitu sebanyak 18,50 gr dan untuk tanaman dengan pupuk hijau yang tanpa diberi NOPKOR menunjukkan rata-rata berat basah yang rendah.
Selain melalui tabel, dapat dilihat juga pada gambar 7 perbedaan nyata rata-rata berat basah antar tanaman yang diberi perlakuan pupuk probiotik NOPKOR dan tanpa pemberian pupuk probiotik NOPKOR. Rata-rata berat basah tertinggi dimiliki oleh kontrol yang diberi perlakuan NOPKOR, hal tersebut dapat terjadi karena pupuk probiotik memiliki manfaat yang baik bila tidak diaplikasikan dengan pupuk organik seperti pupuk hijau atau pupuk kascing. Sedangkan pada tanaman dengan pupuk organik yang tidak diberi NOPKOR menunjukkan hasil yang lebih tinggi dibandingkan tanaman dengan pupuk kascing yang diberi NOPKOR. Hasil tersebut menunjukkan perbedaan yang sangat nyata bahwa pada parameter berat buah cabai rawit pupuk organik dan NOPKOR tidak bekerja sama dengan baik. Sehingga mendapat hasil yang berbeda. Perbedaan tersebut
menunjukkan bahwa penggunaan pupuk probiotik NOPKOR mampu memberikan pengaruh baik bagi tanaman cabai rawit apabila tidak diaplikasikan dengan pupuk organik.
Pemilihan pupuk organik yang tepat bagi tanaman berpengaruh sangat besar terhadap pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Dalam penelitian ini pupuk organik yang dipilih adalah pupuk kascing dan pupuk hijau. Pupuk hijau dipilih dengan memanfaatkan pupuk yang berasal dari sampah daun yang dibuat oleh pegawai kampus Sanata Dharma dan disediakan untuk umum. Sehingga memudahkan peneliti untuk mendapatkan pupuk hijau. Sedangkan pupuk kascing atau bekas cacing diperoleh dari pabrik pembuat pupuk kascing. Pupuk kascing ini dipilih karena pupuk kascing memiliki manfaat yang lebih baik dibandingkan pupuk yang lainnya. Ketepatan penggunaan pupuk hijau dan pupuk kascing bagi penelitian ini dapat terlihat pada hasil panen yang didapatkan, bahwa pupuk organik sangat baik jika diaplikasikan pada tanaman khususnya sayuran dibandingkan dengan penggunaan pupuk anorganik.
Seperti manusia, tanaman juga memerlukan makanan yang sering disebut sebagai hara tanaman. Pertumbuhan dan perkembangan suatu tanaman sangat dipengaruhi oleh faktor internal dan eksternal. Faktor internal meliputi gen dan hormon sedangkan faktor eksternal meliputi faktor lingkungan seperti lingkungan, suhu, kelembaban, cahaya matahari dan kandungan unsur hara. Salah satu faktor eksternal yang paling berpengaruh adalah kandungan unsur hara. Unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman terdapat di dalam pupuk organik serta dalam pupuk probiotik. Dengan menggunakan unsur hara, tanaman dapat memenuhi
siklus hidupnya. Adanya unsur hara yang terkandung dalam tanaman tidak dapat digantikan oleh unsur yang lainnya apabila dalam suatu tanaman tidak terdapat unsur hara yang dibutuhkan. Unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman adalah: Karbon (C), Hydrogen (H), Oksigen (O2), Nitrogen (N), Fosfor (P), Kalium (K), Sulfur (S), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), dan unsur yang lainnya.
Unsur hara yang dibutuhkan oleh tanaman khususnya pada tanaman cabai rawit untuk proses pertumbuhan dan perkembangan, sebagian besar terkandung dalam pupuk organik yang digunakan. Pupuk organik memiliki peran yang besar bagi pertumbuhan dan perkembangan tanaman, seperti:
1. Mampu melepaskan hara tanaman seperti N, P, K, Ca, Mg, S, serta hara mikro yang lainnya bagi tanaman
2. Memperbaiki struktur akar sehingga akar mudah ditembus akar 3. Meningkatkan daya menahan air sehingga kemampuan tanah
untuk menyediakan air menjadi lebih banyak 4. Memperbaiki kehidupan biologi tanah
5. Serta, bahan organik yang terkandung pada pupuk organik berperan dalam proses dekomposisi bahan organik sehingga meningkatkan proses pertumbuhan serta perkembangan tanaman yang berdampak bagi proses pembuahan.
Keberhasilan hasil panen selain dipengaruhi oleh penggunaan pupuk organik juga dipengaruhi oleh pemberian pupuk probiotik NOPKOR. Pada penelitian ini, takaran NOPKOR yang digunakan adalah 2 tutup botol NOPKOR diencerkan bersama dengan 15 liter air yang
disiramkan pada masing-masing tanaman. Sehingga masing-masing tanaman mendapatkan 600 liter air. NOPKOR sangat berpengaruh dalam mempercepat proses pertumbuhan dan memperkuat akar tanaman, memperbanyak pembentukan bunga hingga menjadi buah serta membantu dalam mempercepat masa panen. Pengaruh NOPKOR dalam mempercepat masa panen juga berpengaruh bagi kualitas buah cabai rawit. Cabai rawit yang dihasilkan dari tanaman dengan pupuk organik yang diberi pupuk probiotik NOPKOR menunjukkan berat buah cabai lebih berat daripada buah cabai yang dihasilkan dari pupuk organik tanpa pupuk probiotik. Berat basah yang dihasilkan tiap satuan buah cabai juga dipengaruhi oleh anatomi buah cabai itu sendiri, seperti kulit buah yang tebal, banyaknya biji cabai yang mampu menyimpan banyak air, serta adanya endosperm yang menyimpan banyak cadangan makanan.
Tabel di bawah ini merupakan hasil perhitungan untuk mengetahui apakah pada setiap perlakuan pupuk probiotik NOPKOR memiliki selisih yang digunakan pada berat basah buah dengan menggunakan uji normalitas, uji homogenitas dan uji analisis varian (ANAVA).
Tabel 8.Tests of Normality
Berat Basah Buah pada Pupuk Hijau
Berat basah Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig.
Nopkor 0,166 17 0,200
Berat Basah Buah pada Pupuk Kascing
Berat basah Kolmogorov-Smirnova Statistic df Sig.
Nopkor 0,147 16 0,200
Tanpa nopkor 0,175 17 0,172
Uji normalitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa sampel diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Pengujian normalitas pada sampel menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov. Pada pupuk hijau NOPKOR, data menunjukan p value (sig) = 0,200 > 0,05 sehingga H0 diterima bahwa data diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Sedangkan pada pupuk hijau tanpa NOPKOR, data menunjukan p value (sig) = 0,038 < 0,05 sehingga H0 ditolak bahwa data diambil bukan dari populasi yang berdistribusi normal.
Pada pupuk kascing, data menunjukkan p value (sig) = 0,200 > 0,05 dan p value (sig) = 0,172 > 0,05 sehingga H0 diterima bahwa kedua data diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Pada uji normalitas, dikatakan normal apabila p value (sig) > 0,05 sehingga H0 diterima. Dimana H0 adalah data diambil dari populasi yang berdistribusi normal dan H1 adalah data yang diambil bukan dari populasi yang berdistribusi normal.
Tabel 9.Test of Homogeneity of Variance Berat Basah Buah pada Pupuk Hijau
Levene
Statistic Df 1 Df2 Sig 29,035 1 32 0,000
Berat Basah Buah pada Pupuk Kascing
Levene
Statistic Df 1 Df2 Sig
4,387 1 32 0,044
Uji homogenitas bertujuan untuk memperlihatkan data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama. Dari uji homogenitas pada tabel 8 menunjukkan bahwa p value pada pupuk hijau (sig) = 0,000 < 0,05 dan p value pada pupuk kascing (sig) = 0,044 < 0,05 maka H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variansi pada tiap kelompok data adalah tidak sama (tidak homogen). Dimana H0 adalah variansi pada tiap kelompok data adalah sama (homogen) dan H1 adalah variansi pada tiap kelompok data adalah tidak sama (tidak homogen). Pada uji homogenitas, dikatakan sama (homogen) apabila p value (sig) > 0,05.
Tabel 10. Uji Analisis Varian Berat Basah Buah Cabai Rawit
ANAVA Sumber Variansi df SS MS F Hitung Sig. Corrected Model 3 997,613 332,538 9,660 0,000 Intercept 1 2534,063 2534,063 73,613 0,000 Pupuk 2 304,809 152,404 4,427 0,016 Error 64 2203,149 34,424 Total 68 5734,825 Corrected Total 67 3200,762
Uji analisis varian diatas menunjukkan bahwa p value (sig) pupuk = 0,016 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan berat basah buah cabai rawit pada pupuk organik dengan perlakuan NOPKOR dan tanpa NOPKOR. Untuk mengetahui perbedaan hasil panen yang beda nyata antar tiap perlakuan
dapat dilihat pada uji Tukey pada lampiran. Pada uji Anava ini, data dikatakan signifikan apabila p value (sig) < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Hipotesis H0 adalah tidak terdapat perbedaan antara pupuk organik dengan hasil panen dan H1 adalahnya adanya perbedaan antara hasil panen dengan pupuk organik.
Dengan adanya perbedaan yang nyata antara pupuk yang diberi perlakuan NOPKOR dan tanpa NOPKOR membuktikan bahwa pupuk probiotik NOPKOR berpengaruh baik bagi hasil panen tanaman cabai rawit apabila diaplikasikan dengan pupuk organik.
B. Berat Kering Buah Cabai Rawit
Berat kering buah didefinisikan sebagai bobot yang dimiliki oleh buah setelah buah tersebut mengalami proses pengeringan yang dilakukan secara manual atau berkala sesuai dengan waktu yang telah ditentukan. Pengukuran berat kering buah adalah salah satu parameter yang digunakan pada penelitian ini. Hasil pengukuran yang dilakukan pada buah cabai rawit untuk melihat rerata berat kering cabai rawit dapat dilihat pada tabel 11 (tabel dapat dilihat pada lampiran 2)
Gambar 8. Diagram Rata-rata Berat Kering Buah Cabai Rawit Akibat Pengaruh Pupuk Probiotik NOPKOR pada Pupuk Organik 0 5 10 15 kascing nopkor hijau nopkor kascing tanpa nopkor hijau tanpa nopkor kontrol nopkor kontrol tanpa nopkor
berat kering (gr)
berat kering (gr)Dari tabel 11 (halaman 104), dapat dilihat tanaman cabai rawit pada kontrol menunjukkan hasil yang tertinggi yaitu 13,41 gr. Sedangkan tanaman cabai rawit dengan pupuk hijau yang diberi pupuk probiotik NOPKOR memperlihatkan peringkat kedua dengan hasil yaitu 7,20 gr dan tanaman cabai rawit dengan pupuk kascing yang diberi NOPKOR memiliki nilai 4,22 gr sebagai peringkat ketiga. Dari hasil tersebut menunjukkan bahwa pengaruh pemberian pupuk probiotik NOPKOR dapat bekerja dengan baik pada tanaman yang tidak diberi pupuk organik. Pemberian pupuk NOPKOR berpengaruh bagi kualitas buah cabai rawit hingga buah cabai rawit dikeringkan. Penggunaan pupuk probiotik yang tepat bagi tanaman cabai rawit memberikan dampak yang nyata terhadap kualitas buah hingga buah tersebut dikeringkan. Hal tersebut dikarenakan, akar tanaman cabai rawit dapat menyerap dengan baik unsur hara yang terkandung dalam tanah yang sudah dicampur dengan pupuk organik. Unsur hara yang telah diserap oleh tanaman, disalurkan oleh akar ke bagian tanaman lainnya seperti batang, daun dan buah. Pupuk organik memiliki banyak kandungan unsur hara yang sangat dibutuhkan oleh proses pertumbuhan dan perkembangan khususnya dalam pembuahan.
Berat kering buah cabai rawit didapatkan dengan cara pengeringan. Pengeringan dilakukan untuk mengeluarkan atau menghilangkan sebagian besar air dari suatu bahan dengan cara menyerapkannya pada energi panas. (Muchtadi dan Ayustaningwarno, 2010) Sedangkan hasil dari pengeringan it sendiri dinamakan sebagai berat kering. Pada penelitian ini, pengeringan dilakukan dengan menggunakan oven listrik pada suhu 65o C selama 2 hari. Pengeringan buah cabai rawit dengan menggunakan aliran panas
memiliki suhu yang baik yaitu antara suhu 45o C sampai dengan 75o C. Pengeringan pada suhu dibawah 45o C maka mikroba dan jamur yang merusak produk masih hidup, sehingga daya awet dan mutu bahan rendah. Sebaliknya pengeringan diatas suhu 75 °C akan menyebabkan struktur kimiawi dan fisik produk rusak karena perpindahan panas dan massa air yang cepat yang berdampak pada struktur sel bahan (Buckleet al., 2010).
Pada penelitian ini, pengeringan buah cabai rawit bertujuan untuk mengurangi kadar air pada level tertentu sehingga seluruh airnya menguap. Saat air menguap secara otomatis berat buah berkurang. Selain itu, pengeringan berfungsi untuk menghambat pertumbuhan mikroba dan serangga sehingga buah cabai rawit yang sudah kering dapat disimpan dalam waktu yang lama.
Tabel di bawah ini merupakan hasil perhitungan untuk mengetahui apakah pada setiap perlakuan pupuk probiotik NOPKOR memiliki selisih yang digunakan pada berat keing buah dengan menggunakan uji homogenitas dan uji analisis varian (ANAVA).
Tabel 12.Tests of Normality
Berat Kering Buah pada Pupuk Hijau
Berat kering Kolmogorov-Smirnova statistic df Sig. Nopkor 0,182 17 0,138 Tanpa nopkor 0,197 17 0,077
Berat Kering Buah pada Pupuk Kascing
Berat kering Kolmogorov-Smirnova statistic df Sig. Nopkor 0,141 17 0,200 Tanpa nopkor 0,167 17 0,200
Uji normalitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa sampel diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Pengujian normalitas pada sampel buah cabai rawit menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov. Pada pupuk hijau baik dengan perlakuan NOPKOR dan tanpa NOPKOR, data menunjukan p value (sig) = 0,138 > 0,05 dan p value (sig) = 0,077 > 0,05 sehingga H0 diterima bahwa data diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Sedangkan pada pupuk kascing, data menunjukkan p value (sig) = 0,200 > 0,05 sehingga H0 diterima bahwa kedua data diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Pada uji normalitas, dikatakan normal apabila p value (sig) > 0,05 sehingga H0 diterima. Dimana H0 adalah data diambil dari populasi yang berdistribusi normal dan H1 adalah data yang diambil bukan dari populasi yang berdistribusi normal.
Tabel 13.Test of Homogeneity of Variance Berat Kering Buah pada Pupuk Hijau
Levene
Statistic Df 1 Df2 Sig 19,520 1 32 0,000
Berat Kering Buah pada Pupuk Kascing
Levene
Statistic Df 1 Df2 Sig
7,157 1 32 0,012
Uji homogenitas bertujuan untuk memperlihatkan data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama. Dari uji homogenitas pada tabel 12 menunjukkan bahwa p value pada pupuk hijau (sig) = 0,000 < 0,05 dan p value pada pupuk kascing (sig) = 0,012 < 0,05 maka H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variansi pada tiap kelompok data adalah tidak sama (tidak homogen). Dimana H0 adalah
variansi pada tiap kelompok data adalah sama (homogen) dan H1 adalah variansi pada tiap kelompok data adalah tidak sama (tidak homogen). Pada uji homogenitas, dikatakan sama (homogen) apabila p value (sig) > 0,05.
Tabel 14. Uji Analisis Varian Berat Kering Buah Cabai Rawit
ANAVA Sumber Variansi df SS MS F Hitung Sig. Corrected Model 3 42,734 14,245 7,624 0,000 Intercept 1 129,775 129,775 69,456 0,000 Pupuk 2 12,422 6,211 3,324 0,042 Error 64 119,581 1,868 Total 68 292,089 Corrected Total 67 162,314
Uji analisis varian diatas menunjukkan bahwa p value (sig) pupuk = 0,042 < 0,05 maka H0 ditolak dan H1 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan berat kering buah cabai rawit pada pupuk organik dengan perlakuan NOPKOR dan tanpa NOPKOR. Untuk mengetahui perbedaan hasil panen yang beda nyata antar tiap perlakuan dapat dilihat pada uji Tukey pada lampiran. Pada uji Anava ini, data dikatakan signifikan apabila p value (sig) < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Hipotesis H0 adalah tidak terdapat perbedaan antara pupuk organik dengan hasil panen dan H1 adalahnya adanya perbedaan antara hasil panen dengan pupuk organik.
C. Panjang Buah Cabai Rawit
Dalam pengukuran hasil panen buah cabai rawit selain mengukur berat basah dan berat kering buah, juga mengukur panjang buah. Pengukuran panjang buah merupakan salah satu cara yang digunakan
untuk melihat perkembangan tanaman khususnya dalam proses pembuahan. Hasil pengukuran panjang buah dapat dilihat pada tabel 15 (terdapat pada lampiran 3).
Gambar 9.. Diagram Rata-rata Panjang Buah Cabai Rawit Akibat Pengaruh Pupuk Probiotik NOPKOR pada Pupuk Organik
Tabel 15 (halaman 105) menunjukkan bahwa tanaman cabai rawit dengan pupuk hijau tanpa pemberian NOPKOR memperoleh hasil yang paling tinggi yaitu 6,60 cm. Sedangkan untuk tanaman dengan pupuk kascing NOPKOR, hijau NOPKOR, kascing tanpa NOPKOR, kontrol NOPKOR dan kontrol tanpa NOPKOR memperlihatkan masing-masing hasil tertinggi yaitu 6.32 cm, 6.50 cm, 5.98 cm, 5.34 cm dan 5.94 cm. Pada pengukuran panjang buah ini, menunjukkan bahwa pupuk probiotik NOPKOR tidak memberikan pengaruh yang beda nyata bagi pertumbuhan buah cabai rawit, dapat dibuktikan dengan panjang buah yang dimiliki hijau tanpa NOPKOR dan kontrol tanpa NOPKOR. Hasil tersebut dapat terjadi karena dimungkinkan penyerapan hara pada masing-masing
0 1 2 3 4 5 6 7 kascing nopkor hijau nopkor kascing tanpa nopkor hijau tanpa nopkor kontrol nopkor komtrol tanpa nopkor
panjang buah (cm)
panjang buah (cm)tanaman tersebut berbeda sehingga pada tanaman yang tidak diberi NOPKOR mengalami pertumbuhan yang lebih baik.
Tabel di bawah ini merupakan hasil perhitungan untuk mengetahui apakah pada setiap perlakuan pupuk probiotik NOPKOR memiliki selisih yang digunakan pada panjang buah dengan menggunakan uji homogenitas dan uji analisis varian (ANAVA).
Tabel 16.Tests of Normality
Panjang Buah pada Pupuk Hijau
Panjang Buah Kolmogorov-Smirnova statistic df Sig. Nopkor 0,313 17 0,000 Tanpa nopkor 0,313 17 0,000
Panjang Buah pada Pupuk Kascing
Panjang Buah Kolmogorov-Smirnova statistic df Sig. Nopkor 0,372 17 0,000 Tanpa nopkor 0,299 17 0,000
Uji normalitas dimaksudkan untuk memperlihatkan bahwa sampel diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Pengujian normalitas pada sampel menggunakan Uji Kolmogorov-Smirnov. Pada pupuk hijau dengan perlakuan NOPKOR dan perlakuan tanpa NOPKOR, data menunjukan p value (sig) = 0,000 > 0,05 sehingga H0 ditolak bahwa kedua data diambil bukan dari populasi yang berdistribusi normal.
Pada pupuk kascing dengan perlakuan NOPKOR dan perlakuan tanpa NOPKOR, data menunjukkan p value (sig) = 0,000 < 0,05 sehingga H0 ditolak bahwa kedua data bukan diambil dari populasi yang berdistribusi normal. Pada uji normalitas, dikatakan normal apabila p
value (sig) > 0,05 sehingga H0 diterima. Dimana H0 adalah data diambil dari populasi yang berdistribusi normal dan H1 adalah data yang diambil bukan dari populasi yang berdistribusi normal.
Tabel 17.Test of Homogeneity of Variance Panjang Buah pada Pupuk Hijau
Levene
Statistic Df 1 Df2 Sig
0,000 1 32 1,000
Panjang Buah pada Pupuk Kascing
Levene
Statistic Df 1 Df2 Sig
0,000 1 31 0,992
Uji homogenitas bertujuan untuk memperlihatkan data sampel berasal dari populasi yang memiliki variansi yang sama. Dari uji homogenitas pada tabel 14 menunjukkan bahwa p value pada pupuk hijau (sig) = 1,000 > 0,05 dan p value pada pupuk kascing (sig) = 0,992 > 0,05 maka H0 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa variansi pada tiap kelompok data adalah sama (homogen). Dimana H0 adalah variansi pada tiap kelompok data adalah sama (homogen) dan H1 adalah variansi pada tiap kelompok data adalah tidak sama (tidak homogen). Pada uji homogenitas, dikatakan sama (homogen) apabila p value (sig) > 0,05.
Tabel 18. Uji Analisis Varian Panjang Buah Cabai Rawit
ANAVA Sumber Variansi df SS MS F Hitung Sig. Corrected Model 3 18,455 6,152 1,082 0.363 Intercept 1 1099,068 1099,068 193,289 0,000 Pupuk 2 7,122 3,561 0,626 0,538
Error 64 363,912 5,686 Total 68 1481,435
Corrected Total 67
Uji analisis varian diatas menunjukkan bahwa p value (sig) pupuk = 0,538 > 0,05 maka H0 diterima sehingga dapat disimpulkan bahwa tidak terdapat perbedaan berat kering buah cabai rawit pada pupuk organik dengan perlakuan NOPKOR dan tanpa NOPKOR. Untuk mengetahui perbedaan hasil panen yang beda nyata antar tiap perlakuan dapat dilihat pada uji Tukey pada lampiran. Pada uji Anava ini, data dikatakan signifikan apabila p value (sig) < 0,05 sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Hipotesis H0 adalah tidak terdapat perbedaan antara pupuk