Bab II Aspek dan Profil Kemiskinan di Kota Surakarta
B. Profil Kemiskinan
3. Bidang Prasarana Dasar
Indikator bidang prasarana dasar secara umum meliputi: (i) Proporsi rumah tangga tanpa akses terhadap sanitasi yang layak (%), (ii) Proporsi Rumah tangga dengan akses terhadap air bersih (%), (iii) Proporsi rumah tangga dengan kepemilikan hak atas rumah, dan (iv) Rasio elektrifikasi. Gambaran indikator utama, konsep/definisi dan interpretasi hasil pembangunan bidang prasana dasar, selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.22 Indikator Utama, Konsep/Definisi dan Interpretasi Hasil Pembangunan di Bidang Prasarana Dasar
INDIKATOR UTAMA KONSEP/DEFINISI INTEPRETASI (1) (2) (3) Proporsi rumah tangga tanpa akses terhadap sanitasi yang layak (%)
Perbandingan rumah tangga yang tidak memiliki akses terhadap fasilitas sanitasi yang layak dengan rumah tangga seluruhnya. Fasilitas sanitasi yang memenuhi kesehatan antara lain harus dilengkapi
Semakin tinggi proporsi ini semakin tinggi risiko kontak masyarakat dengan
pembuangan kotoran. Risiko ini umumnya lebih sulit dihindari di daerah perkotaan
INDIKATOR UTAMA
KONSEP/DEFINISI INTEPRETASI
(1) (2) (3)
dengan leher angsa dan tangki septik
Proporsi Rumah tangga dengan akses terhadap air bersih (%)
Perbandingan antara rumah tangga dengan akses terhadap air bersih dengna rumah tangga seluruhnya
Semakin tinggi proporsi ini semakin besar peluang masyarakat terhindar dari berbagai sumber penyakit yang disebabkan oleh kondisi air yang tidak terlindungi atau tidak aman untuk diminum Proporsi rumah
tangga dengan kepemilikan hak atas rumah
Perbandingan antara rumah tangga dengan akses terhadap tempat tinggal tetap dengan rumah tangga seluruhnya
Semakin tinggi proporsi ini semakin tinggi kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan dasar tempat tinggal dan bangunan fisik yang tetap dan terjamin. Juga berarti semakin kecil
kemungkinan masyarakat hidup dalam lingkungan yang tidak memadai (kumuh dan rawan penggusuran), khususnya di wilayah perkotaan
Rasio Elektrifikasi
Rasio elektrifikasi adalah jumlah total rumah tangga yang memiliki fasilitas listrik dengan tumah tangga seluruhnya
Semakin tinggi rasio elektrifikasi suatu daerah, maka akan semakin banyak masyarakat di daerah yang bersangkutan yang mampu menikmati pelayanan listrik
Sumber: Panduan Analisis Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan, TNP2K,
2012.
b. Data Pendukung
Untuk informasi status tempat tinggal penduduk kategori miskin di Kota Surakarta, dari data PPLS Tahun 2011 yang ada dapat dilihat bahwa penduduk kategori miskin masih dominan pada rumah tangga yang memiliki rumah hasil kontrak / sewa, yaitu mencapai sekitar 18.083 unit (sekitar 48,96%). Kecamatan Banjarsari merupakan wilayah dengan penduduk miskin berdasar tempat tinggal yang paling banyak, yaitu mencapai sekitar 12.136 unit / buah (sekitar 32,86%). Gambaran selengkapnya dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.23 Informasi Status Tempat Tinggal (Kelompok 1, 2, 3) di Kota Surakarta Tahun 2011 (dalam unit / buah)
Kecamatan Jumlah Rumah Tangga Total
Milik Sendiri Kontrak/Sewa Lainnya
(1) (2) (3) (4) Laweyan 2.229 2.719 256 5.204 Serengan 1.205 1.963 230 3.398 Pasar Kliwon 2.700 3.266 236 6.202 Jebres 5.582 4.102 309 9.993 Banjarsari 5.704 6.033 399 12.136 Kota Surakarta 17.420 18.083 1.430 36.933
Sumber: BPS. (Maret 2012). Basis Data Terpadu untuk Program
Perlindungan Sosial (PPLS 2011).
Untuk data sumber air minum, dari data PPLS Tahun 2011 dapat dilihat bahwa jumlah rumah tangga penduduk miskin yang memanfaatkan sumber air terlindungi masih relatif banyak, yaitu sekitar 25.581 KK (sekitar 69,26%). Hal ini mengindikasikan bahwa sumber air minum untuk KK miskin masih dalam kondisi baik, dibanding dengan KK miskin yang memanfaatkan air minum dari sumber yang tidak terlindungi, yaitu sebesar 1.033 KK (sekitar 2,79%). Gambaran selengkapnya, dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.24 Informasi Sumber Air Minum Rumah Tangga (Kelompok 1, 2, 3) di Kota Surakarta Tahun 2011 (dalam KK)
Kecamatan
Jumlah Rumah Tangga
Total Air Kemasan Air Ledeng Sumber Terlindung Sumber Tidak Terlindung (1) (2) (3) (4) (5) (6) Laweyan 72 139 4.769 224 5.204 Serengan 35 862 2.398 103 3.398 Pasar Kliwon 61 3.848 2.228 65 6.202 Jebres 415 3.224 5.969 385 9.993 Banjarsari 258 1.405 10.217 256 12.136 Kota Surakarta 841 9.478 25.581 1.033 36.933
Sumber: BPS. (Maret 2012). Basis Data Terpadu untuk Program
Perlindungan Sosial (PPLS 2011).
Untuk data sumber penerangan rumah tangga, dari data PPLS Tahun 2011 dapat dilihat bahwa jumlah rumah tangga miskin yang tidak mempunyai penerangan listrik (tidak ada listrik) masih ada, yaitu mencapai 662 KK (atau sekitar 1,79%). Hal ini
mengindikasikan bahwa di Kota Surakarta masih ada KK miskin yang belum dapat menikmati penerangan secara baik, walaupun jumlahnya masih kecil. Gambaran selengkapnya, dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.25 Informasi Sumber Penerangan Utama Rumah Tangga (Kelompok 1, 2, 3) di Kota Surakarta Tahun 2011 (dalam KK)
Kecamatan
Jumlah Rumah Tangga
Total
Listrik PLN Listrik Non
PLN Tidak Ada Listrik (1) (2) (3) (4) (5) Laweyan 5.107 64 33 5.204 Serengan 3.272 82 44 3.398 Pasar Kliwon 5.800 17 385 6.202 Jebres 9.758 87 148 9.993 Banjarsari 12.072 12 52 12.136 Kota Surakarta 36.009 262 662 36.933
Sumber: BPS. (Maret 2012). Basis Data Terpadu untuk Program
Perlindungan Sosial (PPLS 2011).
Jika dilihat dari sisi bahan bakar utama yang dipergunakan oleh penduduk miskin, dari data PPLS Tahun 2011 dapat dilihat bahwa sebagian besar jumlah rumah tangga miskin sudah menggunakan bahan bakar utama yang bersumber dari listrik/gas/ elpiji, yaitu mencapai 28.238 KK (atau sekitar 76,46%). Gambaran selengkapnya, dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.26 Informasi Bahan Bakar Utama Rumah Tangga (Kelompok 1, 2, 3) di Kota Surakarta Tahun 2011 (dalam KK)
Kecamatan
Jumlah Rumah Tangga
Total Listrik/Gas/Elpiji Lainnya (1) (2) (3) (4) Laweyan 4.384 820 5.204 Serengan 2.346 1.052 3.398 Pasar Kliwon 4.911 1.291 6.202 Jebres 7.272 2.721 9.993 Banjarsari 9.325 2.811 12.136 Kota Surakarta 28.238 8.695 36.933
Sumber: BPS. (Maret 2012). Basis Data Terpadu untuk Program
Perlindungan Sosial (PPLS 2011).
Untuk fasilitas tempat buang air besar bagi keluarga miskin, dari data PPLS Tahun 2011 memperlihatkan bahwa sebagian
besar rumah tangga masih menggunakan fasilitas buang air besar secara bersama/umum, yaitu mencapai 20.846 KK (atau sekitar 56,44%). Gambaran selengkapnya, dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.27 Informasi Penggunaan Fasilitas Tempat Buang Air Besar Rumah Tangga (Kelompok 1, 2, 3) di Kota Surakarta Tahun 2011 (dalam KK)
Kecamatan
Jumlah Rumah Tangga
Total
Sendiri Bersama /
Umum Tidak ada
(1) (2) (3) (4) (5) Laweyan 2.395 2.730 79 5.204 Serengan 1.125 2.261 12 3.398 Pasar Kliwon 1.704 4.486 12 6.202 Jebres 4.604 5.236 153 9.993 Banjarsari 5.809 6.133 194 12.136 Kota Surakarta 15.637 20.846 450 36.933
Sumber: BPS. (Maret 2012). Basis Data Terpadu untuk Program
Perlindungan Sosial (PPLS 2011).
Sementara untuk fasilitas pembuangan akhir tinja rumah tangga, dari data PPLS Tahun 2011 memperlihatkan bahwa sebagian besar rumah tangga sudah menggunakan fasilitas pembuangan akhir tinja dengan sistem tangki atau Sistem Pembungan Air Limbah (SPAL), yaitu mencapai 27.413 KK (atau sekitar 74,22%). Gambaran selengkapnya, dapat dilihat pada tabel berikut.
Tabel 2.28 Informasi Tempat Pembuangan Akhir Tinja Rumah Tangga (Kelompok 1, 2, 3) di Kota Surakarta Tahun 2011 (dalam KK)
Kecamatan Jumlah Rumah Tangga Total
Tangki / SPAL Lainnya
(1) (2) (3) (4) Laweyan 3.789 1.415 5.204 Serengan 2.244 1.154 3.398 Pasar Kliwon 5.418 784 6.202 Jebres 6.860 3.133 9.993 Banjarsari 9.102 3.034 12.136 Kota Surakarta 27.413 9.520 36.933
Sumber: BPS. (Maret 2012). Basis Data Terpadu untuk Program
c. Kondisi dan Implementasi
1) Status tempat tinggal rumah tangga miskin atau Rumah Tangga Sasaran (RTS) di Kota Surakarta sebagian besar masih menempati rumah kontrak/sewa. Hal ini membawa implikasi bahwa RTS masih dibebani dengan pengeluaran uang untuk membayar uang kontrak/sewa rumah. Kebijakan ke depan dapat diarahkan untuk pemanfaatan RUSUNAMI atau upaya-upaya yang mampu memperbesar pendapatan bagi kelompok RTS ini.
2) Di Kota Surakarta masih ditemukan RTS yang sumber
penerangan utamanya tidak berasal dari energi listrik. Walaupun secara persentase masih relatif kecil (atau sekitar 1,79%), tetapi upaya menjadikan RTS menggunakan energi listrik harus mendapatkan perhatian. Hal ini didasarkan pada kenyataan bahwa energi listrik tidak semata-mata berfungsi sebagai sumber penerangan, tetapi juga dapat dimanfaaatkan sebagai sumber energi yang lain, termasuk untuk sumber energi dalam menjalankan usaha-usaha produktif.
3) Sebagian besar jumlah RTS sudah menggunakan bahan
bakar utama yang bersumber dari listrik/gas/elpiji (mencapai 28.238 KK atau sekitar 76,46%). Hal yang menjadi perhatian utama adalah upaya dari pemerintah (baik pusat maupun daerah) untuk bisa menjaga stabiltas harga bahan-bahan bakar tersebut, sehingga daya beli mereka tetap terjaga dan tidak menganggu alokasi ke pengeluaran yang lain, akibat kenaikan dari sumber bahan bakar tersebut.
4) Sebagian besar rumah tangga masih menggunakan fasilitas buang air besar secara bersama / umum (mencapai 20.846 KK atau sekitar 56,44%). Hal ini tentu menjadi dasar bagi pemerintah untuk menyediakan fasilitas MCK di pusat atau kantong-kantong kemiskinan agar kondisi sanitasi dan tingkat kesehatan RTS tetap dapat dijaga.
4. Bidang Ketenagakerjaan