• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bidang Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup

VISI, MISI DAN ARAH PEMBANGUNAN DAERAH

KALIMANTAN SELATAN 2025 MAJU DAN SEJAHTERA SEBAGAI WILAYAH PERDAGANGAN DAN JASA BERBASIS AGRO INDUSTRI

5. Menciptakan taat asas dan tertib hukum, bagi penyelenggaraan pemerintahan daerah, kehidupan berpolitik, sosial, budaya dan agama

3.3 Arah Pembangunan Jangka Panjang

3.3.1. Arah Umum

3.3.1.4 Bidang Sumberdaya Alam & Lingkungan Hidup

Sumberdaya alam dan lingkungan hidup merupakan modal pembangunan yang semakin menuntut perhatian yg besar dalam pengelolaannya. Kekeliruan pengelolaan dimasa lampau bagi Provinsi Kalsel menjadi pelajaran untuk melakukan perbaikan pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup agar memberi manfaat bagi pembangunan berkelanjutan. Pembangunan bidang pengelolaan sumberdaya alam & lingkungan dalam 20 tahun ke depan dalam rangka mendorong pengelolaan SDA secara efisien untuk menjamin keberlanjutan pembangunan dan menjaga keseimbangan lingkungan diarahkan sebagai berikut:

(1) Pembangunan diarahkan untuk terjaminnya ketersediaan sumber daya berkelanjutan dengan berbagai kebijakan yang dapat mendorong:

a. Peningkatan kualitas hidup manusia.

b. Pengelolaan lingkungan hidup secara seimbang

c. Penerapan prinsip-prinsip pembangunan berkelanjutan diseluruh sektor

d. Penguatan budaya lokal yang berbasis pada kearifan lokal yang mendukung keberlangsungan sumber daya alam dan lingkungan hidup

(2) Pembangunan diarahkan untuk terwujudnya kelestarian fungsi Daerah Aliran Sungai (DAS) dan keberadaan air tanah dengan berbagai kebijakan yang dapat mendorong :

a. Penerapan konsep one river one management

b. Peningkatan keseimbangan antara pasokan dan kebutuhan melalui pendekatan demand dan supply management

c. Pemantapan kelembagaan sumber daya air untuk meningkatkan keterpaduan dan kualitas pelayanan terhadap masyarakat

(3) Pembangunan diarahkan untuk terwujudnya sistem manajemen bencana alam dengan berbagai kebijakan yang dapat mendorong:

a. identifikasi dan pemetaan daerah-daerah rawan bencana

b. perencanaan wilayah yang mengacu pada kemungkinan terjadinya bencana alam c. sosialisasi dan diseminasi informasi secara dini terhadap ancaman dan mekanisme

antisipasi bencana alam kepada masyarakat

(4) Pembangunan diarahkan untuk terwujudnya pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan dengan berbagai kebijakan yang dapat mendorong :

a. penerapan prinsip-prinsip pembangunan yang berkelanjutan secara konsisten di segala bidang.

b. Pemulihan dan rehabilitasi kondisi lingkungan hidup

c. Peningkatan kesadaran masyarakat untuk mencintai lingkungan hidup

d. Penegakan hukum dalam pemberantasan praktek illegal logging, illegal mining, dan illegal fishing

(5) Pembangunan diarahkan untuk terwujudnya peningkatan kapasitas pengelolaan SDA dan lingkungan hidup dengan berbagai kebijakan yang dapat mendorong :

a. Peningkatan kelembagaan dan kapasitas pengelolaan SDA dan lingkungan hidup b. Perluasan penerapan etika lingkungan dan penegakan hukum lingkungan yg adil dan

3.3.1 Arah Umum

47

c. Peningkatan kemampuan pemerintahan daerah untuk mengendalikan konflik

d. Penanaman nilai dan etika lingkungan dalam kehidupan sehari-hari termasuk proses pembelajaran sosial, serta pendidikan formal dan informal

e. Internalisasi sadar lingkungan ke dalam kegiatan produksi dan konsumsi

f. Pengelolaan dan Pengembangan mineral dan batubara yang aman serta berwawasan lingkungan

Sasaran yang ingin dicapai dalam pembangunan bidang sumberdaya alam dan lingkungan hidup adalah sebagai berikut :

Tahap I (2005-2010) :

• Teridentifikasi, terinventarisasi dan terpetakannya potensi sumberdaya alam hutan, air, laut dan bahan mineral pada daerah yang menyimpan kandungan dalam jumlah besar, termasuk kawasan ekosistem yang rentan terhadap kerusakan sehingga dapat disusun blue print pengelolaan dan pemanfaatan SDA secara efisien, mandiri dan ramah lingkungan

• Rehabilitasi hutan dan lahan seluas 20% dari lahan kritis (agak kritis, kritis dan sangat kritis) dengan membangun kembali hutan alam di areal bekas HPH yang tidak produktif, hutan sekunder muda, dan kawasan lindung melalui pendekatan Forest Resource Management (FRM) dan Forest Ecosystem Management secara komplementer

• Penataan kelembagaan dan penegakan hukum pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup melalui penerapan sanksi secara tegas terhadap kejahatan lingkungan, peningkatan standarisasi dan audit lingkungan secara komprehensif

• Identifikasi dan pemetaan daerah rawan bencana sebagai upaya awal mitigasi bencana alam sesuai dengan kondisi daerah Kalimantan Selatan yang rawan bencana banjir dan tanah longsor

• Menjamin tersedianya batubara sebagai bahan baku untuk penyediaan energi listrik PLTU daerah dan nasional

• Pembentukan Kesatuan pengelolaan hutan (KPH) unit Kalimantan Selatan untuk mendorong percepatan pengelolaan hutan lestari dan masyarakat sejahtera sebanyak 3 satuan KPH (KPHP Banjar 1 buah sebagai KPH Model seluas 185.300,93 ha, 1 KPHP Hulu Sungai seluas 156.766,31 ha, 1 KPHL Tahura Sultan Adam 112.339,75 ha)

• Revitalisasi DAS yang diprioritaskan pada 7 (tujuh) Sub-DAS dan 2 DAS yang sangat kritis (Sub-DAS Tapin, Sub-DAS Amandit, Sub-DAS Tabalong Kanan, Sub-DAS Tabalong Kiri, Sub-DAS Riam Kiwa, Sub-DAS Riam Kanan, Sub-DAS Balangan, DAS Kusan, DAS Satui) dengan penerapan konsep one river one management sebagai upaya menekan kuantitas dan kualitas bencana ekologis banjir dan tanah longsor

• terbentuknya kesadaran masyarakat akan kelestarian lingkungan hidup terutama pada kalangan generasi muda

• Pelaksanaan program-program sistem manajemen dan kinerja lingkungan (ISO 14000 dan ekolabeling) sebanyak 10% dari perusahaan industri dan jasa bahkan usaha rakyat yang berorientasi ekspor agar dapat bersaing di tingkat interasional • Mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan dengan mengedepankan

upaya-upaya yang bersifat preventif dan persuasif, termasuk pemberian reward dan insentif bagi individu dan kelompok yang peduli pada kelestarian lingkungan tanpa meninggalkan upaya-upaya represif.

Tahap II (2010-2015):

• Tertatanya sistem informasi tentang lingkungan dan pembangunan berkelanjutan berbasis e-environmental.

• Revitalisasi DAS pada 6 (enam) DAS dan 2 (dua) Sub DAS (DAS Maluka, DAS Cengal, DAS Sampanahan, DAS Batu Licin, DAS Cantung, DAS Senakin, Sub DAS Barito Tengah, Sub DAS Batang Alai) dengan penerapan konsep one river one management sebagai upaya menekan kuantitas dan kualitas banjir dan tanah longsor.

• Rehabilitasi hutan dan lahan seluas 40% dari lahan kritis dengan dengan pendekatan Forest Resource Management (FRM) dan Forest Ecosystem Management sesuai karakteristik wilayah dan kondisi sosekbud masyarakat.

• Pembentukan Kesatuan pengelolaan hutan (KPH) sebanyak 8 satuan (KPHP Pulau Laut luas 100.967,37 ha, KPHL Sengayam luas 296.614,31 ha, KPHP Cantung 208.436,33 ha, KPHP Tanah Bumbu 295.361,92 ha, KPHP Tanah Laut 102.846,21 ha, KPHP Tabalong Kiri 120.386,41 ha, KPHP Tabalong Kanan 142.902,14 ha, KPHL Balangan 90.425,53 ha).

• Terbentuknya kesadaran masyarakat terutama pada kalangan generasi muda yang berjiwa militan akan pentingnya kelestarian lingkungan hidup.

• Terwujudnya pemanfaatan energi baru terbarukan yang lebih maksimal. • Terinventarisasinya terpetakan potensi sumber energi baru terbarukan. • Terdatanya perkembangan distribusi dan konsumsi BBM.

• Terinventarisasinya potensi sumber energi migas. • Terlaksananya program konservasi energi.

• Tercapainya kegiatan pengelolaan dan pengembangan migas yang aman dan berwawasan lingkungan.

• Sebanyak 25% perusahaan industri dan jasa bahkan usaha rakyat yang berorientasi ekspor agar dapat bersaing di tingkat interasional telah memiliki sertifikasi sistem manajemen dan kinerja lingkungan (ISO 14000 dan ekolabeling).

• Penetapan kebijakan yang membuka peluang akses dan kontrol masyarakat terhadap pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

• Pencegahan dan pengendalian pencemaran dan kerusakan lingkungan dengan pengembangan teknologi yang berwawasan lingkungan, penetapan indeks dan baku mutu lingkungan dan dan pengintegrasian biaya pengembangan pengelolaan lingkungan hidup.

• Penataan kelembagaan dan penegakan hukum pengelolaan sumberdaya alam dan pelestarian lingkungan hidup melalui penerapan secara tegas terhadap kejahatan lingkungan, audit lingkungan secara komprehensif, evaluasi dan penyusunan Peraturan Daerah tentang pengelolaan SDA serta pengakuan hukum adat terkait dengan pengelolaan SDA dan lingkungan.

• Berkurangnya kawasan hutan dan lahan terbakar hingga 25% dari luasan yang terbakar melalui upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan secara terpadu • Terpasangnya jaringan Listrik Desa Sepanjang 100 km/lima tahun dengan

pertahunnya harus terpasang sepanjang 20 km

• Tersedianya bahan baku dari bahan galian industri untuk pembangunan. • Terpetakannya cekungan air tanah.

• Terinventarisir dan terpetakannya potensi sumberdaya CBM (Coal Bed Methane) sehingga dapat tersusun blue print pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya CBM. • Tersusunya zonasi daerah rawan bencana.

• Evaluasi terhadap perencanaan dan pelaksanaan pengusahaan pertambangan. Tahap III (2015-2020):

• Teraksesnya informasi sumberdaya alam dan lingkungan oleh masyarakat secara lugas, up to date, transparan dan valid.

3.3.1 Arah Umum

49

• Terpenuhinya syarat optimal dalam pengelolaan dan pemanfaatan sumberdaya alam secara efisien.

• Rehabilitasi hutan dan lahan seluas 65% dari lahan kritis sehingga mampu menekan percepatan penambahan luasan lahan kritis seminimal mungkin.

• Pemantapan Lembaga Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) yang telah terbentuk sehinga dapat berperan penting sebagai “agen pelestari” sumber daya hutan.

• Revitalisasi DAS pada 2 (dua) Sub-DAS dan 5 DAS (Sub DAS Danau Panggang, Sub DAS Barito Hilir, DAS Luang, DAS Tabanio, DAS Bangkalan, DAS Manunggal, DAS Pulau Laut) dengan penerapan konsep one river one management.

• Terselenggarannya penyusunan neraca sumberdaya alam berdasarkan base line data yang selalu diperbaharui setiap tahun.

• Berkurangnya kawasan hutan dan lahan terbakar hingga 50% dari luasan yang terbakar sebelumnya melalui upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan secara terpadu.

• Mengendalikan pencemaran dan kerusakan lingkungan dengan mengedepankan upaya-upaya yang bersifat preventif, persuasif, pemberian reward/insentif dan secara lebih tegas melakukan penegakan hukum lingkungan sehingga terbentuk masyarakat sadar dan peduli lingkungan.

• Sebanyak 50% perusahaan industri dan jasa bahkan usaha rakyat yang berorientasi ekspor agar dapat bersaing di tingkat interasional telah memiliki sertifikasi sistem manajemen dan kinerja lingkungan (ISO 14000 dan ekolabeling).

• Pengembangan pelaksanaan perjanjian internasional dalam pengelolaan sumberdaya alam dan lingkungan hidup.

• Mengembangkan kemampuan dari penerapan sistem deteksi dini. • Tersusunnya neraca air tanah.

• Inventarisasi mineral langka.

• Diversifikasi batubara menjadi nilai ekonomi yang tinggi.

• Evaluasi terhadap perencanaan dan pelaksanaan pengusahaan pertambangan. • Terpasangnya jaringan Listrik Desa Sepanjang 100 km /lima tahun dengan

pertahunnya harus terpasang sepanjang 20 km • Tersusunnya neraca energi daerah

• Diversifikasi energi baru terbarukan menjadi nilai ekonomi yang tinggi

• Tercapainya kegiatan pengelolaan dan pengembangan migas yang aman dan berwawasan lingkungan

Tahap IV (2020-2025):

• Rehabilitasi hutan dan lahan seluas 90% dari lahan kritis dan dapat menekan seminimal mungkin percepatan penambahan luasan lahan kritis.

• Dapat dipertahankannya pemanfaatan sumberdaya alam sesuai prinsip berkesesuaian standar yang berlaku yang selaras dengan kelestarian fungsi lingkungan hidup.

• Pengelolaan DAS telah dapat dilakukan secara terpadu sehingga ancaman bahaya banjir dan tanah longsor dapat ditekan serendah mungkin

• Berkurangnya kawasan hutan dan lahan terbakar hingga 50% dari luasan yang terbakar pada periode sebelumnya melalui upaya pengendalian kebakaran hutan dan lahan secara terpadutegaknya hukum tanpa diskriminasi bagi setiap pelanggaran akan ketentuan pelestarian hutan dan lingkungan hidup .

• Sebanyak 75% perusahaan industri dan jasa bahkan usaha rakyat yang berorientasi ekspor agar dapat bersaing di tingkat interasional telah memiliki sertifikasi sistem manajemen dan kinerja lingkungan (ISO 14000 dan ekolabeling)

• Tercapainya kegiatan pengelolaan dan pengembangan mineral dan batubara yang aman dan berwawasan lingkungan.

• Tersusunya neraca air tanah • Inventarisasi potensi mineral langka

• Tersosialisasinya dan terdiseminasinya informasi secara dini terhadap ancaman dan mekanisme antisipasi bencana alam kepada masyarakat

• Pemanfaatan energi baru terbarukan sebagai substitusi energi konvensional • Terpenuhinya kebutuhan air bersih

• Diversifikasi batubara menjadi nilai ekonomi yang tinggi

• Evaluasi terhadap perencanaan dan pelaksanaan pengusahaan pertambangan • Terpasangnya jaringan Listrik Desa Sepanjang 100 km/lima tahun dengan

pertahunnya harus terpasang sepanjang 20 km. • Tersusunnya neraca energi daerah.

• Diversifikasi energi baru terbarukan menjadi nilai ekonomi yang tinggi.

• Tercapainya kegiatan pengelolaan dan pengembangan migas yang aman dan berwawasan lingkungan.

Dokumen terkait