• Tidak ada hasil yang ditemukan

1.6 Kerangka Teori

1.6.2 Bilingualisme/Multilingualisme dan Diglosia

1.6.2.1 Bilingualisme dan Multilingualisme

Istilah bilingualisme (bilingualism) disebut juga kedwibahasaan. Secara harfiah dapat dipahami bahwa bilingualisme ada hubungannya dengan penggunaan dua bahasa atau dua kode bahasa. Berdasarkan kajian sosiolinguistik, bilingualisme diartikan sebagai penggunaan dua bahasa secara bergantian oleh seorang penutur dalam pergaulannya dengan orang lain (Mackey, 1968: 12; Fishman, 1975: 73). Agar dapat menggunakan dua bahasa, tentunya seseorang harus menguasai kedua bahasa itu. Pertama, bahasa ibunya sendiri atau bahasa

pertamanya (disingkat B1) dan yang kedua adalah bahasa lain yang menjadi bahasa keduanya (disingkat B2). Orang yang dapat menggunakan kedua bahasa itu disebut orang yang bilingual (dwibahasawan), sedangkan kemampuan untuk menggunakan dua bahasa disebut bilingualitas atau kedwibahasawanan (Chaer dan Agustina, 2004: 84).

Bloomfield (1933: 54) mengemukakan bahwa bilingualisme merujuk pada gejala penguasaan bahasa kedua dengan derajat penguasaan yang sama seperti penutur asli bahasa itu. Bilingualitas sebagai penguasaan yang sama baiknya atas dua bahasa (native like control of two languages). Penguasaan dua bahasa dengan kelancaran dan ketepatan yang sama seperti penutur asli sangatlah sulit diukur. Konsep Bloomfield ini banyak dipertanyakan karena beberapa hal. Pertama, bagaimana mengukur kemampuan yang sama dari seorang penutur terhadap dua buah bahasa yang digunakannya. Kedua, mungkinkah ada seorang penutur yang dapat menggunakan B2-nya sama baik dengan B1-nya.

Kesempatan untuk menggunakan B1 lebih terbuka daripada kesempatan untuk menggunakan B2 dalam situasi yang biasa, atau sebaliknya, seseorang yang terlalu lama tinggal dalam masyarakat tutur B2-nya (terlepas dari masyarakat tutur B1-nya), akan memiliki kesempatan yang lebih luas untuk menggunakan B2-nya daripada B1-nya. Oleh karena itu, batasan Bloomfield mengenai hubungan bilingualisme ini banyak dimodifikasi orang. Robert Lado (1964, dalam Bloomfield, 1933) berpendapat bahwa bilingualisme merupakan kemampuan menggunakan bahasa oleh seseorang dengan sama baik atau hampir sama

baiknya, yang secara teknis mengacu pada pengetahuan dua buah bahasa bagaimanapun tingkatnya.

Penguasaan terhadap kedua bahasa itu tidak perlu sama baiknya. Menurut MacKey (1968:555), bilingualisme merupakan praktik penggunaan bahasa secara bergantian, dari satu bahasa ke bahasa lain, oleh seorang penutur. Bilingualitas merupakan kebiasaan menggunakan dua bahasa atau lebih oleh seseorang (the alternate use of two or more languages by the same individual). Perluasan pendapat ini dikemukakan dengan adanya tingkatan bilingualitas dilihat dari segi penguasaan unsur gramatikal, leksikal, semantik, dan gaya yang tercermin dalam empat keterampilan berbahasa, yaitu: mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis.

Beberapa jenis pembagian bilingualitas berdasarkan pada tipologi bilingual, yang meliputi; pertama, Bilingualitas Majemuk (compound bilingualism), yaitu bilingualitas yang menunjukkan bahwa kemampuan berbahasa penutur dalam salah satu bahasa lebih baik dari pada kemampuan berbahasa pada bahasa yang lain. Bilingualitas ini didasarkan pada kaitan antara B1 dengan B2 yang dikuasai oleh penutur bilingual. Kedua bahasa itu dikuasai oleh penutur bilingual tetapi berdiri sendiri-sendiri. Kedua, Bilingualitas Koordinatif/Sejajar, yaitu bilingualitas yang menunjukkan bahwa pemakaian dua bahasa sama-sama baik oleh seorang individu. Bilingualitas seimbang dikaitkan dengan taraf penguasaan B1 dan B2. Orang yang sama mahirnya dalam dua bahasa. Ketiga, Bilingualitas Sub-ordinatif (kompleks), yaitu bilingualitas yang menunjukkan bahwa seorang individu pada saat memakai B1 sering memasukkan

B2 atau sebaliknya. Bilingualitas ini dihubungkan dengan situasi yang dihadapi B1, misalnya kelompok penutur bahasa yang sedikit, yang dikelilingi dan didominasi oleh masyarakat suatu bahasa yang besar sehinga kelompok penutur bahasa yang sedikit ini dimungkinkan dapat kehilangan B1-nya.

Selain bilingualisme, dikenal juga istilah multilingualisme (Mesthrie, 2000: 37), yaitu merujuk pada penguasaan atau penggunaan lebih dari dua bahasa. Seringkali, istilah bilingualisme dan multilingualisme dibedakan pengertiannya. Bilingualisme merujuk situasi yang menggunakan dua bahasa saja, sedangkan multilingualisme merujuk situasi yang menggunakan lebih dari dua bahasa. Namun, istilah bilingualisme juga digunakan secara lebih luas untuk merujuk semua kasus yang melibatkan pemakaian dua atau lebih bahasa (Pietro, 1970: 17. Konsep bilingualisme berarti “situasi yang menggunakan dua bahasa atau lebih”, seperti yang diusulkan Appel dan Muysken (1987: 3). Dalam penelitian ini, konsep dasar mengenai bilingualisme juga digunakan untuk menjelaskan mengenai multilingualisme. Hal itu sejalan dengan pendapat Romaine (1995: 12) yang menyetujui definisi mengenai bilingualisme yang diajukan oleh Mackey (1968: 555) untuk menjelaskan pula mengenai multilingualisme.

Mackey (1968) concludes that in order to study bilingualism we are forced to consider it as something entirely relative because the point at which the speaker of a second language becomes bilingual is either arbitrary or impossible to determine. He therefore considers bilingualism as simply the alternate use of two or more languages. Following him, I have also used the term ‘bilingualism’ to include multilingualism.

Sehubungan dengan pemikiran mengenai bilingualisme atau multilingualisme, Sumarsono dan Paina (2002: 76) mengemukakan bahwa masyarakat aneka bahasa atau masyarakat multilingual (multilingual society) adalah masyarakat yang memiliki beberapa bahasa. Masyarakat tersebut terbentuk karena beberapa etnis ikut membentuk masyarakat sehingga dari segi etnis bisa dikatakan sebagai masyarakat majemuk (plural society). Kondisi masyarakat tutur yang seperti itu terkait erat dengan adanya diglosia serta kode dan alih kode.

1.6.2.2 Diglosia

Fishman (1972: 92) menganjurkan bahwa dalam mengkaji masyarakat bilingual maupun masyarakat multilingual, hendaknya diperhatikan kaitannya dengan ada atau tidaknya diglosia. Kata ‘diglosia’ berasal dari bahasa Prancis diglossie, yang pernah digunakan oleh Marcais, seorang linguis Prancis. Diglosia merupakan istilah yang pertama kali dimunculkan oleh Ferguson (1959: 16) untuk melukiskan situasi kebahasaan yang terdapat di Yunani, negara-negara Arab, Swiss, dan Haiti. Diglosia merujuk pada ragam bahasa yang mempunyai peran dan fungsi berbeda dalam suatu masyarakat tutur. Hal tersebut dapat kita lihat melalui penggambaran Ferguson mengenai situasi diglosia seperti berikut:

“Diglossia is a relatively stable language situation in which, in addition to the primary dialects of the languages (which may include a standard or regional standard), there is a very divergent, highly codified (often grammatically more complex) superposed variety, the vehicle of a large and respected body of written literature, either of an earlier period or in other speech community, which is learned largerly by formal education

and is used for most written and formal spoken purposes but is not used by any sector of the community for ordinary conversation”.

Diglosia adalah suatu situasi kebahasaan yang relatif stabil, yang selain adanya dialek-dialek utama dari bahasa (mungkin meliputi ragam-ragam baku setempat), juga dikenal suatu ragam yang ditinggikan, yang sangat berbeda, terkodifikasikan secara rapi (dan tatabahasanya lebih rumit), yang berasal dari waktu lampau atau berasal dari masyarakat bahasa lain, yang dipelajari melalui pendidikan formal dan sebagian besar digunakan untuk keperluan formal lisan dan tertulis tetapi tidak digunakan di sektor apa pun di dalam masyarakat itu untuk percakapan sehari-hari.

Pengertian diglosia kemudian dikembangkan oleh Fishman (1972: 92). Istilah diglosia tidak hanya dikenakan pada ragam tinggi dan rendah dari bahasa yang sama akan tetapi, juga dikenakan pada bahasa yang sama sekali tidak serumpun. Hal yang menjadi penekanan utamanya adalah perbedaan fungsi kedua bahasa atau ragam bahasa yang dimaksudkan. Selain itu, Fishman juga berpendapat bahwa diglosia tidak hanya terdapat dalam masyarakat monolingual, tetapi lebih dari itu diglosia juga mengacu pada keadaan pemakaian dua bahasa yang berbeda dengan fungsi dan perannya.

Selain perbedaan tersebut, terdapat persamaan antara keduanya, yaitu bahwa ragam-ragam bahasa itu mengisi fungsi masing-masing dan bahwa ragam tinggi (T) hanya digunakan dalam situasi resmi sedangkan ragam rendah (R) digunakan dalam situasi yang tidak atau kurang resmi. Oleh Fishman (1972: 92), diglosia diartikan sebagai berikut. “…diglossia exist not only in multilingual

societies which officially recognize several ‘languages’, and not only in societies which employ separate dialects, register, or functionally differentiated language varieties of whatever kind” (…diglosia tidak hanya terdapat di dalam masyarakat multilingual yang secara resmi mengakui beberapa bahasa, dan tidak hanya terdapat di dalam masyarakat yang menggunakan ragam sehari-hari dan klasik, tetapi terdapat juga di dalam masyarakat yang menggunakan bahasa yang menggunakan dialek, register, ataupun bahasa yang berbeda secara fungsional).

Menurut Wijana (2000: 13), varietas bahasa yang digunakan di dalam situasi diglosia dapat berupa satu bahasa tertentu dengan dialeknya atau satu bahasa tertentu dengan bahasa lainnya yang berbeda atau yang tidak saling paham (mutually unintelligible) sifatnya. Berdasarkan hal itu, dapat dijelaskan bahwa diglosia berhubungan dengan situasi kebahasaan yang mengharuskan pemisahan secara fungsional atas variasi-variasi bahasa. Salah satu variasi bahasa diberi status variasi tinggi (T), sedangkan variasi lainnya diberi status variasi rendah (R). Variasi tersebut hidup berdampingan dan mempunyai peranan tertentu. Variasi T dipergunakan dalam situasi resmi, sedangkan variasi R dipergunakan untuk situasi tidak resmi. Variasi R, misalnya digunakan dalam domain keluarga, sedangkan variasi T sering digunakan dalam domain yang lebih formal, misalnya dalam bidang pendidikan dan perkantoran. Kedua variasi itu memiliki perbedaan ciri, variasi R bersifat sederhana, sedangkan variasi T bersifat kompleks dan konservatif.

Melalui Troike (2003: 45), dinyatakan bahwa diglosia merupakan salah satu contoh nyata bentuk pemilihan bahasa yang disesuaikan dengan ranah

pemakaiannya. Diglosia merujuk pada situasi dua bahasa atau lebih (atau varietas/dialek dari bahasa yang sama) dalam sebuah masyarakat tutur yang ditempatkan pada konteks dan fungsi sosial yang berbeda. Sejalan dengan tersebut, Holmes (1992: 32) mengetengahkan tiga penanda atau kriteria diglosia, yaitu:

1. Two distinct varieties of the same language are used in the community with one regarded as a high (or H) variety and the other a low (or L) variety.

2. Each variety is used for quite distinct functions; H and L complement each other.

3. No one uses the H variety in everyday conversation.

Atas dasar kriteria tersebut, dapat dijelaskan bahwa diglosia berhubungan dengan situasi kebahasaan yang mengharuskan pemisahan secara fungsional atas variasi-variasi bahasa. Salah satu variasi bahasa diberi status variasi tinggi (T), sedangkan yang lainnya diberi status variasi rendah ( R). Masing-masing variasi atau ragam tersebut hidup berdampingan dan mempunyai peranan tertentu. Variasi T dipergunakan dalam situasi resmi, sedangkan variasi R dipergunakan untuk situasi tidak resmi.

Variasi R akan dipilih dalam domain keluarga, sedangkan T akan sering digunakan dalam domain yang lebih formal mungkin dalam pendidikan (Fishman dalam Ibrahim, 1993: 66). Variasi R dan T akan memperlihatkan perbedaan ciri.

Untuk variasi R bersifat sederhana, sedangkan variasi T bersifat kompleks dan konservatif.

Situasi diglosia muncul dalam masyarakat yang mempunyai dua kode yang menunjukkan pemisahan fungsional yang jelas. Laporan menarik tentang empat situasi yang menunjukkan ciri –ciri utama diglosia diketengahkan oleh Wardhaugh (1986:87). Dia menunjuk contoh pada bahasa arab, swiss, jerman, haiti (prancis dan Kreol), dan Yunani. Dari kelima bahasa itu ditemukan dua variasi, yaitu variasi T dan R, serta setiap variasi memiliki fungsi khusus. Dalam bahasa Arab, ada variasi Arab Klasik (T) dan bermacam-macam variasi colloquial regional ( R). Di Swiss ada bahasa Jerman standar (T) dan Jerman Swiss (R ). Di Haiti ada bahasa Prancis standar (T) dan Kreol Haiti ( R). Di Yunani ada bahasa Kathaverousa (T) dan Dhimotiki atau Demotik ( R) dan variasi Yunani. Kedua variasi itu mempunyai masa ekstistensinya selama periode yang panjang (Wardhaugh, 1986: 78 – 88). Ini berarti bahwa diglosia merupakan frenomena linguistik sekaligus fenomena sosial yang dapat berlangsung dalam rentangan waktu yang panjang sesuai dengan situasi dan kondisi kebahasaan di daerah tertentu.

Fishman (1976: 288) menggambarkan hubungan antara bilingualisme dan diglosia dalam sebuah masyarakat tutur yang terdiri atas empat jenis, yaitu (1) masyarakat bilingual dan diglosia, (2) masyarakat bilingual tanpa diglosia, (3) masyarakat diglosia tanpa bilingual, dan (4) masyarakat tanpa bilingual dan tanpa diglosia. Keterkaitan antara bilingualisme dan diglosia disajikan dalam diagram berikut.

BILINGUALISM DIGLOSSIA 1. Both diglossia and bilingualism 2. Bilingualism without diglossia 3. Diglossia without bilingualism 4. Neither diglossia nor bilingualism

Melalui diagram tersebut, diilustrasikan empat tipe masyarakat. Tipe pertama, masyarakat bilingual sekaligus diglosik, yang hampir setiap penutur menguasai variasi T dan R, serta mampu menggunakannya sesuai fungsi sosial masing-masing. Tipe kedua, masyarakat bilingual yang tidak diglosik, mereka tidak membatasi pemakaian sutau bahasa dalam situasi tertentu. Bahasa mana pun dapat digunakan dalam berbagai situasi dan tujuan. Tipe ketiga, diglosia tanpa bilingual, menggambarkan dua kelompok dalam masyarakat, yaitu kelompok pertama yang biasanya lebih kecil menggunakan variasi T, sedangkan kelompok kedua yang lebih besar hanya berbicara dengan variasi R. Tipe keempat, menekankan pada masyarakat yang hanya memiliki satu bahasa tanpa variasi dan digunakan untuk berbagai tujuan.

Apabila kerangka pemikiran Fishman (1972) dijadikan acuan, maka dapat dikatakan bahwa masyarakat tutur Konjo di Sinjai tergolong masyarakat yang bilingual atau multilingual tanpa diglosia sebab tidak mengenal variasi tinggi dan variasi rendah maupun tingkat tutur (meminjam istilah Poedjosoedarmo dkk., 1979). Seperti halnya dalam masyarakat lain yang tidak mengenl tingkat tutur,

dalam masyarakat Konjo dikenal juga varian santun yang diperlihatkan melalui penggunaan bentuk honorifik tertentu.

Dokumen terkait