• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Bimbingan dan Konseling

2.1.1 Pengertian Bimbingan dan Konseling

Secara etimologi kata bimbingan merupakan terjemahan dari kata

“guidance”, berasal dari kata kerja “to guide” yang mempunyai arti “menunjukkan, membimbing, menuntun, dan membantu.” Secara umum, bimbingan dapat diartikan sebagai suatu bantuan dan tuntunan.

Prayitno (1997: 23) mengartikan bimbingan merupakan “bantuan yang diberikan kepada siswa dalam rangka upaya menemukan pribadi, mengenal lingkungan dan merencanakan masa depan”. Miller dalam Tohirin (2007:16) menyebutkan bahwa “bimbingan merupakan proses bantuan terhadap individu untuk mencapai pemahaman diri dan pengarahan diri yang dibutuhkan untuk melakukan penyesuaian diri secara maksimum kepada sekolah”. Sementara itu Mugiarso (2007:4) mengartikan “bimbingan sebagai proses pemberian bantuan yang dilakukan oleh seorang ahli kepada seseorang atau beberapa orang individu, baik anak-anak, remaja, maupun dewasa agar orang yang dibimbing dapat mengembangkan kemampuan dirinya sendiri dan mandiri dengan memanfaatkan kekuatan individu dan dapat dikembangkan berdasarkan norma-norma yang berlaku.”

Dari beberapa pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa bimbingan adalah proses bantuan yang diberikan kepada individu yang membutuhkan bantuan sehingga individu tersebut dapat berkembang secara optimal.

Istilah konseling sendiri berasal dari bahasa Latin yaitu “consillium” yang berarti “dengan” atau “bersama” yang dirangkai dengan kata “menerima” atau “memahami.”

Menurut Prayitno dan Amti (2004:105) konseling adalah “proses pemberian bantuan yang dilakukan melalui wawancara konseling oleh seseorang ahli (konselor) kepada individu yang sedang mengalami sesuatu masalah (konseli) yang bermuara pada teratasinya masalah yang dihadapi oleh konseli”. Winkel (2004:34) mendefinisikan konseling “sebagai serangkaian kegiatan paling pokok dari bimbingan dalam usaha membantu konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar konseli dapat mengambil tanggungjawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalah khusus.”

Dari pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa konseling adalah proses pemberian bantuan antara konselor dengan konseli/klien secara tatap muka dengan tujuan agar konseli/klien dapat mengambil tanggungjawab sendiri terhadap berbagai persoalan atau masalahnya sehingga dapat teratasinya masalah yang sedang dihadapi.

Selain pendapat dari beberapa ahli di atas, berikut disampaikan juga pengertian bimbingan dan konseling menurut Hikmawati (2011:1) menyatakan “bimbingan dan konseling adalah pelayanan bantuan untuk peserta didik baik secara perseorangan maupun kelompok agar mampu mandiri dan berkembang secara optimal dalam bidang pengembangan kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.”

Nurihsan (2003:10) bahwa “bimbingan pada dasarnya merupakan upaya pembimbing untuk membantu mengoptimalkan individu sedangkan konseling merupakan salah satu bentuk hubungan yang bersifat membantu.” Makna bantuan itu sendiri sebagai upaya untuk membantu agar seseorang tumbuh ke arah yang dipilihnya sendiri serta mampu memecahkan masalah yang dihadapinya secara mandiri.

Menurut Tohirin (2007:26),mengemukakan pendapat mengenai pengertian bimbingan dan konseling :

Bimbingan dan konseling merupakan bantuan proses bantuan atau pertolongan yang diberikan oleh pembimbing (konselor) kepada individu (konseli) melalui pertemuan tatap muka atau hubungan timbal balik antara keduanya, agar konseli memiliki kemampuan atau kecakapan melihat dan menemukan masalahnya serta mampu memecahkan masalahnya sendiri.

Dari pendapat yang telah dikemukakan mengenai bimbingan dan konseling maka dapat ditarik kesimpulan bahwa bimbingan dan konseling di sekolah merupakan proses pemberian bantuan yang dilakukan secara tatap muka antara seorang ahli kepada individu yang bermasalah (peserta didik/siswa) untuk membantu agar individu tersebut mampu menjadi pribadi yang mandiri dan berkembang secara optimal dalam kehidupan pribadi, kehidupan sosial, kemampuan belajar, dan perencanaan karir melalui berbagai jenis layanan dan kegiatan pendukung berdasarkan norma-norma yang berlaku.

2.1.2 Tujuan Bimbingan dan Konseling

Mugiarso (2007 : 821-23) menggolongkan tujuan bimbingan dan konseling menjadi dua bagian yaitu tujuan umum dan tujuan khusus.

2.1.2.1 Tujuan Umum

Secara umum pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah pada dasarnya adalah untuk membantu individu memperkembangkan diri secara optimal sesuai dengan tahap perkembangan dan predisposisi yang dimilikinya (Kemampuan dasar dan bakat-bakatnya), berbagai latar belakang yang ada (latar belakang keluarga, pendidikan, status sosial ekonomi), serta sesuai dengan tuntutan positif lingkungannya.

2.1.2.2 Tujuan Khusus

Tujuan khusus bimbingan konseling merupakan penjabaran tujuan umum yang dikaitkan secara langsung dengan permasalahan yang dialami individu yang bersangkutan, sesuai dengan kompleksitas permasalahan itu. Masalah yang dihadapi individu sangat beragam, memiliki intensitas yang berbeda-beda serta bersifat unik. Dengan demikian maka tujuan khusus bimbingan konseling untuk tiap-tiap individu bersifat unik pula, artinya tujuan bimbingan dan konseling untuk individu satu dengan yang lainnya tidak boleh disamakan.

Menurut Juntika (2003 : 12) menyatakan bahwa tujuan pemberian layanan bimbingan dan konseling ialah agar individu dapat :

1) Merencanakan kegiatan penyelesaian studi, perkembangan karir serta kehidupannya di masa yang akan datang.

2) Mengembangkan seluruh potensi dan kekuatan yang dimilikinya seoptimal mungkin.

3) Menyesuaikan diri dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, serta lingkungan kerjanya.

4) Mengatasi hambatan dan kesulitan yang dihadapi dalam studi, penyesuaian dengan lingkungan pendidikan, masyarakat, maupun lingkungan kerja.

Jadi, tujuan pelayanan bimbingan dan konseling di sekolah yaitu membantu siswa agar mampu mengatasai masalah-masalah yang dihadapinya secara mandiri, berkembang secara optimal sesuai dengan tugas perkembangannya dan siap dalam lingkungan sosialnya.

2.1.3 Pola Bimbingan Konseling

Penyelenggaraan bimbingan konseling di sekolah mengikuti pola dan program tertentu. Dewasa ini pola pelayanan bimbingan konseling yang kerap dipakai adalah pola layanan 17 + (pola 17 plus). Pola layanan 17 + memiliki setting yang lebih menyeluruh. Ruang lingkup pelayanan bimbingan konseling pola 17 + adalah pertama, keterpaduan yang mantap tentang pengertian, tujuan, fungsi, prinsip, dan asas serta landasan bimbingan dan konseling.

Kedua, bidang pelayanan bimbingan konseling meliputi : (1) bidang pengembangan pribadi, (2) pengembangan social, (3) pengembangan kegiatan belajar, (4) pengembangan karir, (5) pengembangan kehidupan berkeluarga, dan (6) pengembangan kehidupan beragama.

Ketiga, jenis-jenis pelayanan bimbingan dan konseling meliputi : (1) layanan orientasi, (2) layanan informasi, (3) layanan penempatan penyaluran, (4) layanan penguasaan konten, (5) layanan konseling perorangan, (6) layanan bimbingan kelompok, (7) layanan konseling kelompok, (8) layanan konsultasi, dan (9) layanan mediasi.

Keempat, kegiatan-kegiatan pendukung bimbingan dan konseling meliputi: (1) aplikasi instrument, (2) himpunan data, (3) konferensi kasus, (4) kunjungan rumah, dan (5) alih tangan kasus.

Kelima, format layanan meliputi (1) format individual, (2) format kelompok, (3) format klasikal.

Disamping menyangkut bidang dan jenis layanan pendukung tersebut, Prayitno (1997: 42) pola umum kegiatan bimbingan konseling di sekolah juga mengikuti tahap-tahap kegiatan yang harus dilalui dalam penyelenggaraan setiap kegiatan, yaitu tahap perencanaan/persiapan, pelaksanaan, evaluasi, analisis hasil evaluasi, dan tindak lanjut.

Dengan demikian setiap pola bimbingan konseling yang mengikuti pola 17 plus harus mengandung unsur-unsur bidang bimbingan, jenis layanan atau kegiatan pendukung, dan tahap kegiatan tertentu. Seluruh kegiatan tersebut ditujukan terhadap sejumlah peserta didik (siswa) yang secara langsung menjadi tanggung jawab Guru pembimbing/konselor.