• Tidak ada hasil yang ditemukan

MELALUI BUKU DIAR

3. Bimbingan dan Konseling di SD a Pengertian Bimbingan dan Konseling

Guru di SD harus siap melakukan bimbingan dan konseling pada peserta didiknya. Bimbingan menurut Moh. Surya dalam Dewa dan Desak (2008:2) adalah “suatu proses pemberian bantuan yang terus menerus dan sistematis dari pembimbing kepada yang dibimbing agar tercapai kemandirian dalam pemahaman diri, penerimaan diri, pengarahan diri, dan perwujudan diri dalam mencapai tingkat perkembangan yang optimal dan penyesuaian diri dengan lingkungan”. Sedangkan menurut Prayitno dan Erman (2009:131) akronim dari bimbingan adalah Bantuan Individu Mandiri Bahan Interaksi Nasihat Gagasan Asuhan Norma. Penjelasan lebih lanjut

Seminar Nasional Pendidikan Dasar | 55 tentang akronim tersebut adalah bahwa bantuan yang diberikan oleh konselor kepada peserta didik agar menjadi individu yang mandiri dengan bahan interaksi, nasihat dan gagasan melalui pola asuhan dan norma yang berlaku di masyarakat. Jika menilik pengertian bimbingan dari kedua ahli tersebut, maka bimbingan adalah kegiatan yang dilakukan oleh konselor untuk membentuk peserta didik yang tangguh menghadapi kehidupan dengan kemandirian yang diciptakan sesuai dengan norma yang berlaku di masyarakat.

Konseling menurut Natawidjaja dalam Dewa dan Desak (2008: 5) adalah salah satu jenis pelayanan yang dilakukan oleh konselor, dalam hal ini adalah guru, untuk membantu konseli yaitu peserta didik dalam menghadapi permasalahannya dan saling berkaitan dengan bimbingan. Menurut Dewa dan Desak (2008: 7) konseling merupakan suatu usaha yang dilakukan oleh konselor yang sifatnya unik. Keunikan ini dilihat dari sudut pandang bahwa setiap individu adalah pribadi yang unik. Walaupun permasalahan mereka sama tetapi dalam penanganannya belum tentu sama. Dengan kata lain konseling merupakan usaha sadar yang dilakukan oleh guru untuk membantu permasalahan yang dihadapi peserta didik dengan cara yang berbeda-beda. Cara yang digunakan oleh guru disesuaikan dengan karakteristik peserta didik.

b. Karakteristik Bimbingan dan Konseling di SD

Bimbingan dan konseling yang dilakukan di SD berbeda dengan yang dilakukan pada tingkat menengah ataupun tinggi. Salah satu perbedaan itu terlihat dari guru kelas yang sekaligus menjadi guru BK di SD. Setiawan dan Ima (2007: 9) menjelaskan lebih lanjut sebelum melakukan bimbingan dan konseling pada anak SD terlebih dahulu mengetahui tugas-tugas perkembangannya. Hal ini dilakukan untuk membantu guru dalam menentukan tujuan program bimbingan dan konseling di SD dan kapan waktu upaya bimbingan dapat dilakukan.

Menurut Dinkmeyer dan Caldwell dalam Setiawati dan Ima (2007: 12) ada beberapa faktor penting yang harus diperhatikan dalam bimbingan dan konseling di SD, diantaranya:

1) Bimbingan di sekolah dasar lebih menekankan peranan guru dalam bimbingan. Dengan adanya guru kelas maka guru akan memiliki waktu yang lebih efektif dalam mengenal karakteristik anak.

2) Fokus bimbingan yang dilakukan di sekolah dasar lebih menekankan pada pengembangan pemahaman diri, pemecahan masalah dan kemampuan menjalin hubungan dengan orang lain.

3) Peranan orang tua sangat berpengaruh dalam bimbingan dan konseling yang dilakukan di sekolah dasar.

Membedah Anatomi Kurikulum 2013 | 56

4) Bimbingan di sekolah dasar hendaknya memahami anak sebagai individu yang unik.

5) Program bimbingan di sekolah dasar hendaknya peduli terhadap kebutuhan dasar anak seperti kebutuhan untuk matang dalam penerimaan dan pemahaman diri, juga memahami kelemahan dan keunggulan dirinya.

6) Program bimbingan hendaknya meyakini bahwa anak pada usia sekolah dasar merupakan tahap yang penting dalam perkembangan anak.

c. Fungsi dan Peran Guru Pembimbing di SD

Berdasarkan SK Menpan No. 83/1993, guru selain mengajar di kelas juga dibebankan menjadi pembimbing di kelas. Fungsi dan peran guru dalam program bimbingan sudah jelas yaitu sebagai pembimbing bagi peserta didik. Oleh karena itu Rochman Natawidjaja dalam Setiawati dan Ima (2007: 13) merekomendasikan kegiatan bimbingan yang bisa dilakukan oleh guru, yaitu:

1) Menciptakan suasana kelas yang nyaman bagi peserta didik dan bernuansa membantu perkembangannya.

2) Memberi pengarahan dalam rangka belajar yang efektif.

3) Mempelajari karakteristik peserta didik untuk menemukan kekuatan, kelemahan, kebiasaan dan kesulitan yang dihadapi peserta didik. 4) Memberikan pelayanan konseling kepada peserta didik yang

mengalamai kesulitan terutama dalam pelajaran

5) Mendorong dan meningkatkan pertumbuhan pribadi sosial peserta didik.

6) Melakukan layanan rujukan bagi peserta didik yang membutuhkan. 7) Melaksanakan bimbingan kelompok di kelas

8) Memperlakukan peserta didik sebagai individu yang mempunyai harga diri dengan memahami kekurangan, kelebihan dan masalah- masalahnya.

9) Membimbing peserta didik untuk mengembangkan kebiasan belajar yang baik.

10) Menilai hasil belajar peserta didik secara menyeluruh dan berkesinambungan.

11) Melakukan perbaikan pengajaran bagi peserta didik yang membutuhkan.

12) Menyiapkan informasi yang diperlukan untuk dijadikan masukan dalam konferensi kasus.

13) Bekerja sama dengan tenaga pendidik lainnya dalam memberikan bantuan yang dibutuhkan peserta didik.

Seminar Nasional Pendidikan Dasar | 57 14) Memahami dan melaksanakan kebijakan dan prosedur-prosedur

bimbingan yang berlaku.

d. Penilaian dalam Bimbingan dan Konseling

Guru harus mengenal peserta didiknya dengan baik. Salah satu cara mengenal peserta didiknya dengan baik adalah kegiatan bimbingan dan konseling. Dalam bimbingan dan konseling ada teknik-teknik yang digunakan untuk memahami perkembangan peserta didik. Teknik-teknik yang digunakan adalah teknik tes dan juga non tes. Menurut Setiawati dan Ima (2007: 42) ada tiga tes yang bisa digunakan dalam kegiatan bimbingan: 1) Tes kecerdasan yaitu prosedur yang sistematis dengan menggunakan instrumen untuk mengetahui kemampuan berfikir individu. Tes ini akan mengukur individu berdasarkan tingkat IQ nya seperti jenius, sangat cerdas, cerdas, rata-rata dan di bawah normal. Tes yang sering digunakan adalah Test Binet-Simon. 2) Tes bakat yaitu tes yang dilakukan untuk melihat bakat individu. Ada beberapa tes bakat yang telah dikembangkan seperti rekonik (tes motorik), tes bakat musik, tes bakat artistik, tes bakat klerikal (perkantoran), dan tes bakat multifaktor (mengukur delapan kemampuan khusus). 3) Tes prestasi belajar (Achivement Tests) yaitu tes yang digunakan untuk mengukur ketercapaian dalam belajar peserta didik.

Teknik non tes digunakan guru sebagai prosedur pengumpulan data yang bertujuan mengenal peserta didik lebih dekat. Dalam Setiawati dan Ima teknik non tes ini ada tujuh yaitu:

1) Observasi

Observasi adalah pengamatan yang dilakukan oleh guru untuk melihat perilaku peserta didik ataupun peristiwa/kejadian dalam proses pembelajaran. Observasi dalam kegiatan bimbingan dan konseling bisa dilakukan oleh guru ketika proses pembelajaran berlangsung di dalam kelas ataupun di luar kelas.

2) Wawancara

Data yang diambil guru sebagai tambahan bahan evaluasi dalam kegiatan bimbingan dan konseling adalah wawancara. Wawancara merupakan pengambilan data dengan cara bertanya pada sumbernya. Informasi diperoleh untuk mengenal peserta didik lebih jauh melalui bertanya langsung, bertanya pada temannya, ataupun bertanya pada orang tuanya. Hal ini dimaksudkan untuk menggali informasi tentang peserta didik.

3) Angket

Angket adalah daftar pertanyaan yang diberikan guna mendapatkan informasi tambahan tentang sesuatu. Misalnya guru memberikan angket pada peserta didik untuk melihat metode pembelajaran yang diberikan sudah sesuai dengan peserta didik atau belum.

Membedah Anatomi Kurikulum 2013 | 58

Catatan otentik hasil observasi yang didalamnya menggambarakan tingkah laku peserta didik atau kejadian/peristiwa khusus yang terjadi pada tidak berkesinambungan. Catatan anekdot yang baik harus memenuhi persyaratan sebagai berikut: a) objektif, catatan harus dibuat langsung oleh guru setelah kejadian atau peristiwa terjadi dan pendeskripsian dari peristiwa khusus yang terjadi dipisahkan dengan penafsisaran pendapat pribadi, b) deskriptif, penggambaran diri peserta didik yang dicatat oleh guru termasuk di dalamnya tentang latar belakang, c) selektif, peristiwa atau kejadian khusus yang dicatat adalah peristiwa yang relevan dengan tujuan dan masalah peserta didik yang sesuai dengan situasi dan keadaannya.

5) Autobiografi

Autobiografi merupakan tulisan riwayat hidup peserta didik yang bentuknya karangan pribadi. Adapun isi dari karangan pribadi ini adalah tentang kehidupan pribadi peserta didik, cita-cita, sikap dan lain-lain. Jenis karangan yang dibuat ada dua jenis yaitu yang tersetruktur dan tidak terstruktur. Karangan terstruktur disini peserta didik membuat karangan berdasarkan judul yang sudah ditentukan. Sedangkan karangan tidak terstruktur adalah karangan yang dibuat peserta didik tidak terikat oleh peraturan yang dibuat guru. Mereka bebas menentukan judul karangan.

6) Sosiometri

Sosiometri adalah teknik mengenal peserta didik berdasarkan hubungan kedekatan dengan temannya. Guru mendapatkan informasi tentang anak yang disukai (popular), tidak disukai (terisolir), banyak teman dan tidak punya teman. Kegunaan sosiometri adalah alat yang digunakan guru untuk meneliti struktur sosial dari suatu kelompok ataupun individu baik itu hubungan sosial ataupun status sosialnya.

7) Studi kasus

Teknik yang digunakan untuk melihat perkembangan peserta didik. Dalam teknik studi kasus guru mendapatkan informasi tentang anak bukan hanya dari melihat tingkat lakunya di sekolah saja tetapi juga dengan tambahan informasi dari guru lain, orang tua, dokter atau pihak lain yang berhubungan dengan permasalahannya. Langkah-langkah yang bisa dignakan dalam studi kasus adalah: a) menemukan peserta didik yang bermasalahan, b) memperoleh data, c) menganalisis data, dan d) memberikan layanan bantuan.