Metode Pembelajaran
PENGERTIAN METODE PENGAJARAN KONTEKSUAL ( CTL )
4. Binet, Freud, serta Watson
Tokoh-tokoh psikologi berikutnya yang mulai peduli untuk memahami murid secara khusus adalah Alfred Binet yang membedakan intelegensi antara murid normal dengan murid subnormal, Sigmund Freud yang berpendapat bahwa pengalaman pada masa kecil akan menentukan pola perilaku pada masa dewasa, serta John Watson yang menyampaikan karya penelilitannya yang membahas peran pola asuh orang tua.
Dari penjabaran di atas, dapat disimpulkan bahwa mulai pertengahan abad kesembilan belas, pendekatan yang digunakan untuk menggambarkan perkembangan pada masa murid bervariasi. Namun pada intinya, masa murid merupakan masa yang menentukan tahap-tahap perkembangan berikutnya. Pengelolaan yang baik pada masa murid-murid akan menghasilkan orang dewasa yang lebih matang. Pribadi murid merupakan hasil interaksi antara unsur keturunan serta pengalaman yang diperoleh melalui lingkungan.
Salah satu teori tentang perkembangan sepanjang rentang kehidupan dikemukakan oleh Papalia & Olds (1986), yang intinya bahwa kehidupan manusia dapat dibedakan berdasarkan kelompok kronologisnya. Untuk murid sekolah dasar sebagai periode murid-murid madya (usia 6-12 tahun), masa ini ditandai oleh sebagian besar waktu yang ada digunakan untuk sekolah. Murid-murid pada masa ini mengalami perkembangan cara berpikir logis sebagai hasil dari sekolah formal yang dijalaninya. Namun demikian, faktor keluarga masih tetap harus dipertimbangkan andilnya pada perkembangan murid yang bersangkutan.
Menurut Tahap perkembangan psikoseksual menurut Freud, usia SD sebagai
Tahap laten (usia 6 tahun sampai dengan pubertas). Tahap ini ditandai dengan usaha murid untuk menekan semua minat terhadap seks serta mulai mengembangkan
keterampilan sosial serta intelektual yang diharapkan dapat digunakan untuk menyalurkan energi serta melupakan konflik yang terjadi pada masa falik.
5.Erik Erikson (1902 - 1994)
Erikson menyatakaan bahwa perkembangan ketika murid memasuki usia sekolah, murid akan memasuki tahap perkembangan berikutnya adalah krisis antara tekun serta rasa rendah diri (industry vs inferiority). Upaya yang diperoleh pada tahap perkembangan sebelumnya akan membawa murid menuju pengalaman baru yang lebih bervariasi. Hal ini aktif mengarahkan energi yang ada untuk mengembangkan kemampuan intelektual serta penguasaan pengetahuan melalui imajinasi. Memasuki dunia sekolah merupakan kesempatan untuk mengembangkan imajinasi serta pengetahuan, sekaligus mulai perlahan melatih mengembangkan rasa berkompeten pada murid sehingga tidak ada lagi rasa rendah diri. Tugas guru adalah memberikan bimbingan yang lembut tetapi tegas agar murid dapat belajar tentang sesuatu yang semula tidak terpikirkan.
6.Arnold Gesell (1880 -1961)
Gesell sangat tertarik untuk mempelajari dunia murid. Menurutnya, terdapat dua hal penting pada perkembangan seorang murid bahwa murid merupakan produk dari lingkungan. Namun secara fundamental, perkembangan murid ditentukan oleh unsur dari pada yang sering disebut dengan gen. Semakin bertambah usia, seseorang akan menjadi semakin matang. Peristiwa tersebut yang menjadi dasar dari teori kematangan. Gesell menjelaskan bahwa murid normal akan berkembang berdasarkan rangkaian perkembangan yang sama tetapi memiliki rerata kecepatan perkembangan yang bervariasi. Kecepatan perkembangan dipengaruhi oleh temperamen serta kepribadian.
Implikasi konsep Gesell pada pengajaran di SD adalah:
a) Buanglah jauh-jauh anggapan bahwa murid yang sesertag berkembang sangat tergantung pada orang tua.
b) Berusahalah untuk menghargai pertumbuhan yang luar biasa terjadi pada murid. Amatilah perubahan yang terjadi setiap minggu, bulan, serta seterusnya akibat asertaya proses perkembangan.
c) Hargai ketidakmatangan murid dengan mengantisipasi bahwa sebelum murid mampu berjalan sendiri, ia membutuhkan bimbingan.
d) Cobalah untuk menghindari berharap yang lebih pada murid. Biarkan murid berkembang tahap demi tahap sesuai kemampuannya sendiri.
Teori Belajar Sosial
Teori belajar sosial oleh Watson yang mencoba menerapkan teori Pavlov (teori pengkondisian asosiatif stimulus-respon) ke pada hal emosi. Hasilnya menunjukkan bahwa emosi dapat dipelajari dari lingkungan.
Teori belajar sosial ini beranggapan bahwa perilaku, lingkungan, serta kognisi merupakan kunci keberhasilan pada perkembangan. Apabila organisme berada pada lingkungan social, maka ia akan belajar secara cepat melalui proses observasi pada perilaku orang lain. Ketika mengobservasi perilaku orang lain, maka ia akan melibatkan fungsi kogniti, serta ketika mengulang-ulang perilaku terjadilah penguatan yang luar biasa.
Pelopor teori belajar sosial ini adalah Albert Bandura serta Walter Mischel. Inti dari teori ini adalah pembentuk perilaku sosial murid merupakan asertaya proses imitasi atau proses meniru. Objek imitasi tidak hanya model yang hidup namun juga model-model simbolik yang diperoleh melalui media massa. Individu akan berperilaku tertentu sebagai hasil dari meniru orang lain yang kemudian diulang-ulang serta akhirnya terintegrasi menjadi bagian dari dirinya. Teori belajar sosial menyatakan bahwa kemampuan psikologis yang dimiliki seseorang merupakan hasil imitasi terhadap orang lain. Imitasi dapat dilakukan melalui observasi dilakukan pada beberapa tahap, yang meliputi objek hidup maupun objek yang bersifat simbolik.
Implikasi teori Bandura tersebut pada pengajaran menjadi metode yang efektif bagi murid pada pengajaran di sekolah dasar.
Teori Piaget
Seorang psikolog Swiss yang bernama Jean Piaget (1896-1980) menyatakan bahwa murid akan membangun dunia kognitif mereka sendiri karena murid mampu mengolah informasi yang diterima untuk mengembangkan gagasan baru, tidak hanya sekedar menerima informasi dari lingkungan.
Murid SD dapat diklasifikasikan sesuai perkembangan kognisi. Menurut Piaget,
murid SD masuk pada Tahap operasional konkrit (usia 7-11 tahun). Murid-murid mulai mampu berpikir logis untuk menggantikan cara berpikir sebelumnya yang masih bersifat intuitif-primitif, namun membutuhkan contoh-contoh konkret. Implikasi dari Toeri Piaget tersebut menunjukan bahwa pengajaran di SD harus mengunakan pendekatan melalui kegiatan yang nyata atau konkret.
Teori perkembangan moral dari Kohlberg
Teori perkembangan moral dari Kohlberg merupakan penyempurnaan dari pendapat Piaget. Dia menyatakan bahwa perkembangan moral hanya terjadi melalui dua fase, adalah (1) pemahaman bahwa perilakunya diperoleh melalui konskuensi yang didapat sebagai akibatnya serta (2) murid yang lebih besar usianya akan menilai perilaku salah berdasar pada niat yang mendasari. Fokus perilaku murid terletak pada konsekuensi atau akibat; sesertagkan pada murid yang lebih tua usianya akan menitikberatkan pada motif yang mendasari perilaku tersebut.
Teori Etologi
Teori ini diwakili oleh John Bowlby (1907 - 1990). la memperoleh gambaran bahwa murid-murid yang tinggal di penampungan atau panti sosial ternyata mengalami masalah emosional serta kurang mampu menjalin hubungan dengan orang lain secara intim. Murid tidak mampu mengekspresikan serta merasakan cinta karena hilangnya kesempatan untuk membentuk kelekatan dengan ibu pada masa awal kehidupan murid tersebut. Artinya, hubungan emosional atau kelekatan ibu-murid pada awal kehidupan murid akan berpengaruh besar terhadap perkembangan
emosional murid. Hal itu dapat diperbaiki atau diperburuk oleh lingkungan tempat tinggal murid.
Tabel. Komparasi Teori Perkembangan Batasan Usia Teori
Psikoseksual
Teori Psikososial Teori Perkembangan Kognisi
0-1,5 tahun Oral Kepercayaan vs
ketidakpercayaan
Sensorimotor
1-3 tahun Anal Otonomi vs rasa malu serta keragu-raguan
Sensorimotor serta memasuki praoperasional
3-6 tahun Falik Upaya vs rasa bersalah Praoperasional
6-11 tahun Laten Tekun vs rendah hati Operasional konkrit
11-15 tahun Genital Identitas vs kekaburan Operasional konkrit
15-18 tahun - Keintiman vs isolasi Operasional formal
18-21 tahun - Produktif vs stagnasi
> 21 tahun - Integrita vs kekecewaan
Berdasarkan tabel di atas dapat dilihat bahwa murid usia SD pada rentang 6-12 tahun, ia sesertag berada pada pada krisis antara tekun rendah hati serta memiliki banyak ide sesuai dengan cara berpikir opresional konkrit serta masih membutuhkan figur model.
Selanjutnya adalah pendekatan interaksionis yang bertujuan mengoptimalkan potensi murid dengan memberikan fasilitas, perlakuan, serta pendidian yang sesuai sehingga kemamuan murid berkembang secara maksimal. Berdasarkan konsep multiple intelligence, terdapat Sembilan macam kecerdasarn yang dapat dikembangkan, adalah:
1. Kecerdasan kinestetik (berhubungan dengan fisik serta kesenian, sehingga dapat dikembangkan melalui kegaitan menari, berenang).
2. Kecerdasan linguistic (berhubungan dengan kemampuan berbahasa).
3. Kecerdasan matematik logik (berhubungan dengan kemampuan matematika serta logika)
4. Kecerdasan spasial (berhubungan dengna kemampuan pansertag ruang). 5. Kecerdasan visual (berhubungan dengan ketajaman persepsi).
6. Kecerdasan interpersonal (berhubungan dengan kemampuan untuk menjalin hubungan dengan orang lain).
7. Kecerdasan intrapersonal (berhubungan dengan kemampuan melakukan introspeksi, melihat diri sendiri).
8. Kecerdasan natural (berhubungan dengan kemampuan menyelaraskan diri degna alam sekitar).
9. Kecerdasan musikal (berhubungan dengan kemampuan musik, mengenali nada).
Pengajaran Tematik
Sesuai dengan tahapan perkembangan murid, karakteristik cara murid belajar, konsep belajar serta pengajaran bermakna, maka kegiatan pengajaran bagi murid kelas awal SD sebaiknya dilakukan dengan Pengajaran tematik. Pembelajaan tematik adalah pengajaran tepadu yang menggunakan tema untuk mengaitkan beberapa mata pelajaran sehingga dapat memberikan pengalaman bermakna kepada murid. Tema adalah pokok pikiran atau gagasan pokok yang menjadi pokok pembicaraan (Poerwadarminta, 1983). Dengan tema diharapkan akan memberikan banyak keuntungan, di antaranya:
1) Murid mudah memusatkan perhatian pada suatu tema tertentu;
2) Murid mampu mempelajari pengetahuan serta mengembangkan berbagai kompetensi dasar antar matapelajaran pada tema yang sama;
4) Kompetensi dasar dapat dikembangkan lebih baik dengan mengkaitkan mata pelajaran lain dengan pengalaman pribadi murid;
5) Murid mampu lebih merasakan manfaat serta makna belajar karena materi disajikan pada konteks tema yang jelas;
6) Murid lebih bergairah belajar karena dapat berkomunikasi pada situasi nyata, untuk mengembangkan suatu kemampuan pada satu mata pelajaran sekaligus mempelajari matapelajaran lain;
7) Guru dapat menghemat waktu karena mata pelajaran yang disajikan secara tematik dapat dipersiapkaan sekaligus serta diberikan pada dua atau tiga pertemuan, waktu selebihnya dapat digunakan untuk kegiatan remedial, pemantapan, atau pengayaan.
Landasan Pengajaran Tematik
Landasan Pengajaran tematik mencakup:
Landasan filosofis pada pengajaran tematik sangat dipengaruhi oleh tiga aliran filsafat adalah: (1) progresivisme, (2) konstruktivisme, serta (3) humanisme. Aliran progresivisme memansertag proses pengajaran perlu ditekankan pada pembentukan kreatifitas, pemberian sejumlah kegiatan, suasana yang alamiah (natural), serta memperhatikan pengalaman murid. Aliran konstruktivisme melihat pengalaman langsung murid (direct experiences) sebagai kunci pada pengajaran. Menurut aliran ini, pengetahuan adalah hasil konstruksi atau bentukan manusia. Manusia mengkonstruksi pengetahuannya melalui interaksi dengan objek, fenomena, pengalaman serta lingkungannya. Pengetahuan tidak dapat dipindah begitu saja dari seorang guru kepada murid, tetapi harus diinterpretasikan sendiri oleh masing-masing murid. Pengetahuan bukan sesuatu yang sudah jadi, melainkan suatu proses yang berkembang terus-menerus. Keaktifan murid yang diwujudkan oleh rasa ingin tahunya sangat berperan pada perkembangan pengetahuannya. Aliran humanisme melihat murid dari segi keunikan/kekhasannya, potensinya, serta motivasi yang dimilikinya.
Landasan psikologis pada pengajaran tematik terutama berkaitan dengan psikologi perkembangan peserta didik serta psikologi belajar. Psikologi perkembangan diperlukan terutama pada menentukan isi/materi pengajaran tematik yang diberikan kepada murid agar tingkat keluasan serta kedalamannya sesuai dengan tahap perkembangan peserta didik. Psikologi belajar memberikan kontribusi pada hal bagaimana isi/materi pengajaran tematik tersebut disampaikan kepada murid serta bagaimana pula murid harus mempelajarinya.
Landasan yuridis pada pengajaran tematik berkaitan dengan berbagai kebijakan atau peraturan yang mendukung pelaksanaan pengajaran tematik di sekolah dasar. Landasan yuridis tersebut adalah UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Murid yang menyatakan bahwa setiap murid berhak memperoleh pendidikan serta pengajaran pada rangka pengembangan pribadinya serta tingkat kecerdasannya sesuai dengan minat serta bakatnya (pasal 9). UU No. 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional menyatakan bahwa setiap peserta didik pada setiap satuan pendidikan berhak mendapatkan pelayanan pendidikan sesuai dengan bakat, minat, serta kemampuannya (Bab V Pasal 1-b).
Arti Penting Pengajaran Tematik
Pengajaran tematik lebih menekankan pada keterlibatan murid pada proses belajar secara aktif pada proses pengajaran, sehingga murid dapat memperoleh pengalaman langsung serta terlatih untuk dapat menemukan sendiri berbagai pengetahuan yang dipelajarinya. Melalui pengalaman langsung, murid akan memahami konsep-konsep yang mereka pelajari serta menghubungkannya dengan konsep lain yang telah dipahaminya. Teori pengajaran ini dimotori para tokoh Psikologi Gestalt, termasuk Piaget yang menekankan bahwa pengajaran haruslah bermakna serta berorientasi pada kebutuhan serta perkembangan murid.
Pengajaran tematik lebih menekankan pada penerapan konsep belajar sambil melakukan sesuatu (learning by doing). Oleh karena itu, guru perlu mengemas atau merancang pengalaman belajar yang akan mempengaruhi kebermaknaan belajar murid. Pengalaman belajar yang menunjukkan kaitan unsur-unsur konseptual