• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

6. Bobot Kering Umbi per Sampel (g)

6. Bobot Kering Umbi per Sampel (g)

Data pengamatan bobot kering umbi per sampel pada pengamatan 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 minggu setelah tanam (MST) dapat dilihat pada lampiran 31 sedangkan hasil analisis statistik dengan sidik ragam dapat dilihat pada lampiran 32. Dari hasil sidik ragam tersebut dapat dilihat bahwa perlakuan Kalium (K) berpengaruh nyata terhadap bobot kering umbi per sampel. Pada perlakuan pupuk organik cair (C) dan interaksi antara dosis pupuk kalium dengan konsentrasi pupuk organik cair tidak berpengaruh nyata terhadap parameter bobot kering umbi per sampel.

Bobot kering umbi per sampel pada perlakuan kalium dan pupuk organik cair serta kombinasi antara kalium dan konsentrasi pupuk organik cair dapat dilihat pada Tabel 6.

y = -4.8615x2 + 19.01x + 24.035 R2 = 0.8525 0.000 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000 50.000 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Dosis Pupuk kalium (g)

B o b o t b a s a h U m b i p e r S a m p e l (g )

33 Tabel 6. Bobot kering umbi per sampel pada masing-masing perlakuan dosis kalium dan

konsentrasi pupuk organik cair (g).

Konsentrasi Pupuk Organik Cair (ml/l)

Dosis Kalium (g/tan) K0=0 K1=1 K2=2 K3=3 Rataan C0 = 0 20.833 25.000 30.083 32.710 27.157 C1 = 1 16.333 28.917 44.750 21.593 27.898 C2 = 1,5 24.167 36.833 48.417 29.170 34.647 C3 = 2 22.750 28.417 46.750 31.037 32.238 Rataan 21.021c 29.792b 42.500a 28.628b 30.485

Keterangan : Angka-angka yang diikuti huruf yang sama pada baris atau kolom yang sama tidak berbeda nyata pada uji Duncan taraf 5%.

Dari Tabel 6. dapat dilihat bahwa pada pengamatan bobot kering umbi per sampel tertinggi pada perlakuan dosis pupuk kalium adalah perlakuan 2 g/tan dengan bobot kering umbi per sampel 42.500 g dan yang terendah terdapat pada pemberian pupuk kalium 0 g/tan yaitu dengan bobot kering umbi per sampel 21.021 g. Pada perlakuan pupuk organik cair, parameter bobot kering umbi per sampel tertinggi terdapat pada perlakuan 2 ml/l yaitu 34.647 g dan tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya. Dan bobot kering umbi per sampel yang terendah terdapat pada pemberian pupuk organik cair 0 ml/l dengan bobot kering umbi per sample 27.157 g. Perlakuan interaksi antara dosis pupuk kalium dengan konsentrasi pupuk organic cair, menunjukkan bahwa bobot kering umbi per sampel tertinggi terdapat pada perlakuan K2C2 yaitu 48.417 g yang tidak berbeda nyata dengan perlakuan lainnya dan yang terendah terdapat pada perlakuan K0C1 yaitu sebesar 16.333 g. Hubungan antara dosis pupuk kalium dengan parameter bobot kering umbi per sampel dapat dilihat pada gambar 6.

34

Gambar 6. Hubungan antara parameter bobot kering umbi per sample dengan dosis pupuk kalium.

Pembahasan

Respon pertumbuhan dan produksi bawang merah terhadap pupuk kalium

Dari hasil pengamatan dan analisis sidik ragam secara statistik diperoleh bahwa perlakuan kalium berpengaruh nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumah umbi per rumpun, jumlah anakan, bobot basah per sampel dan bobot kering per sampel. Sedangkan pada perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap parameter jumlah daun.

Perlakuan pupuk kalium berpengaruh nyata terhadap tinggi tanaman umur 2,3,6 dan 7 MST, dimana tinggi tanaman tertinggi pada umur 7 MST terdapat pada perlakuan K2 (45,10 cm) dan terendah pada perlakuan K0 (38,13 cm). Hal ini karena pupuk kalium mengandung unsur hara yang lebih banyak sehingga dapat mendukung pertumbuhan dan produksi tanaman seperti pertambahan tinggi, sesuai dengan pernyataan Hasibuan (2006) yang menyatakan bahwa pupuk kalium dikenal juga dengan nama Muriate of Potash (MOP) berbentuk kristal yang berwarna merah dan adapula yang berwarna putih kotor.

Perlakuan pupuk berpengaruh nyata terhadap jumlah umbi per rumpun, dimana y = -5.6608x2 + 20.535x + 19.495 R2 = 0.8042 0.000 5.000 10.000 15.000 20.000 25.000 30.000 35.000 40.000 45.000 0 0.5 1 1.5 2 2.5 3 3.5

Dosis Pupuk Kalium (g)

B o b o t K e ri n g U m b i p e r S a m p e l (g )

35

terendah pada pelakuan K0 yaitu (9,125 siung). Hal ini sesuai dengan pernyataan yang menyatakan bahwa sebelum umbi bibit bawang merah ditanam, sebaiknya dilakukan pemotongan ujung umbi satu-dua hari sepanjang 1/3-1/4 bagian dari panjang umbi keseluruhan, maka pertumbuhan bibit merata (seragam), umbi cepat tumbuh dan makin banyaknya anakan maupun jumlah daun, sehingga hasil umbinya meningkat. Akan tetapi hati-hati dalam memotongnya, jangan sampai tunas yang ada dalam umbi ikut terpotong.

Perlakuan pupuk berpengaruh nyata terhadap jumlah anakan, dimana jumlah anakan tertinggi terdapat pada perlakuan K2 yaitu (15,904 anakan) dan terendah pada pelakuan K3

yaitu (8,435 anakan). Perlakuan K2 yang berbeda nyata dengan perlakuan K0, K2, K3. Hal ini karena unsur hara K sangat berperan dalam pertumbuhan vegetatif, karena pertumbuhan tanaman didominasi pertumbuhan vegetatif sesuai dengan pernyataan Novizan (2005) yang menyatakan bahwa salah satu unsur hara yang dapat memperbaiki pertumbuhan dan produksi tanaman serta meningkatkan kualitas buah karena bentuk, kadar, dan warna yang lebih baik adalah kalium.

Perlakuan pupuk berpengaruh nyata terhadap bobot basah dan bobot kering , dimana bobot basah tertinggi terdapat pada perlakuan K2 yaitu (46, 479 g) dan terendah pada pelakuan K0 yaitu (25,325 g). Sedangkan pada bobot kering tertinggi terdapat pada perlakuan K2 yaitu (42,500 g) dan terendah pada perlakuan K0 (21,021 g). Ini disebabkan oleh fungsi kalium itu sendiri yang berperan dalam meningkatkan pertumbuhan tanaman serta ketahanannya terhadap serangan hama dan penyakit. Hal ini sesuai dengan pernyataan Rosmarkam dan Yuwono (2002) yang menyatakan bahwa kalium juga merupakan sumber kekuatan bagi tanaman dalam menghadapi kekeringan dan penyakit.

36

unsur hara yang dikandung pupuk kalium tersebut secara maksimal. Diduga pertumbuhan tinggi tanaman bawang merah ditunjang oleh cadangan makanan yang berasal dari umbi bibit dan ketersediaan unsur hara dari dalam tanah.

Perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah daun. Ini terjadi karena jumlah daun ini ditentukan oleh faktor genetik dari tanaman yang sudah ada atau tidak dapat diubah dengan penambahan unsur N, P, dan K. Hal ini sesuai dengan pernyataan Lakitan (1996) yang menyatakan bahwa laju pertumbuhan daun relatif konstan jika tanaman ditumbuhkan pada intensitas cahaya yang konstan. Hal ini juga didukung oleh pernyataan Lubis, dkk (1988); Rahayu dan Berlian (1999) yang menyatakan bahwa tanaman itu pada hakekatnya merupakan produk dari hasil genetik dan lingkungan, oleh sifat yang dibawa dalam genetis tanaman telah tertentu jumlahnya. Selain itu jumlah daun ditentukan oleh banyaknya umbi, dimana semakin besar ukuran umbinya yang berarti semakin banyak lapisan umbinya maka jumlah daunnya semakin banyak, karena setiap satu lapisan umbi menghasilkan sebuah daun.

Respon pertumbuhan dan produksi bawang merah terhadap pupuk organik cair Santamicro

Dari hasil pengamatan dan analisis sidik ragam secara statistik diperoleh bahwa perlakuan pupuk organik cair berpengaruh nyata terhadap parameter jumlah daun. Sedangkan pada perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap parameter tinggi tanaman, jumlah umbi per rumpun, jumlah anakan, bobot basah umbi per sampel, dan bobot kering umbi per sampel.

Perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman 2, 3, 4, 5, 6, dan 7 MST. Hal ini karena Santamicro yang telah diaplikasikan ke daun dapat diserap oleh tanaman

37

terhadap peningkatan tinggi tanaman, hal ini sesuai dengan pernyataan Novizan (1997) yang menyatakan bahwa salah satu keuntungan dari penggunaan pupuk daun adalah responnya terhadap tanaman. Sedangkan untuk aplikasi Santamicro yang kedua berpengaruh tidak nyata terhadap tinggi tanaman, kemungkinan karena pada saat itu tanaman telah memasuki fase pertumbuhan generatifnya sehingga unsur hara yang diserap oleh tanaman dimanfaatkan oleh tanaman untuk pembentukan umbi.

Perlakuan berpengaruh nyata terhadap jumlah daun. Hal ini terjadi karena pertumbuhan jumlah daun dipengaruhi oleh penambahan unsur hara N, P, dan K, jumlah daun pada tanaman ini sudah tertentu secara genetik, seperti yang tercantum pada Lampiran 34. Deskripsi Tanaman Bawang Merah, yakni jumlah daun berkisar 14-50 helai. Dimana dari hasil penelitian yang diperoleh berada diantara kisaran tersebut. Pembentukan siung (tunas) pada tanaman ini berkisar antara 2-20 tunas yang akan menjadi tanaman baru, hal ini sesuai dengan pernyataan Rahayu dan Berlian (1999) yang menyatakan bahwa pada setiap umbi dijumpai tunas lateral sebanyak 2-20 tunas yang kemudian tumbuh membesar membentuk rumpun sehingga bila saat panen tiba dapat dihasilkan siung sejumlah tunas tersebut.

Perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah umbi per rumpun. Hal ini kemungkinan terjadi karena pertumbuhan jumlah umbi dipengaruhi oleh penambahan unsur hara N, P, dan K, jumlah umbi pada tanaman ini mungkin sudah tertentu secara genetik, seperti yang tercantum pada Lampiran 34. Deskripsi Tanaman Bawang Merah, yakni jumlah daun berkisar 14-50 helai dan jumlah anakan 7-12 umbi per rumpun. Dimana dari hasil penelitian yang diperoleh berada diantara kisaran tersebut. Pembentukan siung (tunas) pada tanaman ini berkisar antara 2-20 tunas yang akan menjadi tanaman baru, hal ini sesuai dengan pernyataan Rahayu dan Berlian (1999) yang menyatakan bahwa pada setiap umbi

38

dijumpai tunas lateral sebanyak 2-20 tunas yang kemudian tumbuh membesar membentuk rumpun sehingga bila saat panen tiba dapat dihasilkan siung sejumlah tunas tersebut.

Perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah anakan. Ini dikarenakan perlakuan juga berpengaruh tidak nyata terhadap jumlah umbi dimana umbi merupakan tempat tumbuhnya tunas ankan baru pada tanaman bawang merah. Hal ini kemungkinan terjadi karena pertumbuhan jumlah anakan dipengaruhi oleh penambahan unsur hara N, P, dan K, jumlah anakan pada tanaman ini mungkin sudah tertentu secara genetik, seperti yang tercantum pada Lampiran 34. Deskripsi Tanaman Bawang Merah, yakni jumlah daun berkisar 14-50 helai dan jumlah anakan 7-12 umbi per rumpun. Dimana dari hasil penelitian yang diperoleh berada diantara kisaran tersebut. Pembentukan siung (tunas) pada tanaman ini berkisar antara 2-20 tunas yang akan menjadi tanaman baru, hal ini sesuai dengan pernyataan Rahayu dan Berlian (1999) yang menyatakan bahwa pada setiap umbi dijumpai tunas lateral sebanyak 2-20 tunas yang kemudian tumbuh membesar membentuk rumpun sehingga bila saat panen tiba dapat dihasilkan siung sejumlah tunas tersebut.

Perlakuan berpengaruh tidak nyata terhadap bobot basah umbi per sampel dan bobot kering umbi per sampel. Hal ini diperoleh bahwa untuk dosis pupuk kalium sampai pada 2 g/tanaman terjadi kenaikan hasil pada dosis 3 g/tanaman mengalami penurunan hasil, semikian juga untuk konsentrasi pupuk organik cair Santamicro sampai 1,5 ml/l juga terjadi peningkatan hasil pada konsentrasi 2 ml/l terjadi penurunan hasil. Hal ini dapat terjadi karena pada dasarnya hubungan antara nutrisi tanaman dan hasil yang diperoleh mengikuti pola kuadratik dimana hasil maksimum dicapai pada sejumlah nutrisi yang tidak terlalu tinggi dosisnya, karena semakin tinggi dosis yang diberikan maka hasil yang diperoleh semakin menurun.

39

Respon interaksi antara pemberian pupuk kalium dan pupuk organik cair Santamiro terhadap pertumbuhan dan produksi bawang merah

Dari hasil pengamatan dan analisa sidik ragam statistik menunjukkan bahwa interaksi antara pemberian pupuk kalium dan pupuk organik cair Santamicro berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter yang diamati. Hal ini kemungkinan terjadi karena antara pupuk kalium dan pupuk organik cair Santamicro tidak saling mempengaruhi antara satu dengan yang lainnya.

Interaksi antara perlakuan pupuk kalium dan pupuk organik cair Santamicro berpengaruh tidak nyata terhadap seluruh parameter yang diamati juga diduga terjadi karena adanya pengaruh lingkungan tempat tanam ataupun dosis pupuk yang diberikan.

Dokumen terkait