• Tidak ada hasil yang ditemukan

Broken Home

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 33-39)

a. Definisi Broken Home

Broken Home adalah kurangnya perhatian dari keluarga atau kurangnya kasih sayang dari orang tua sehingga membuat mental seorang anak menjadi frustasi, brutal dan susah diatur, Yusvavera Nuni, (2013:92) Broken home sangat berpengaruh besar pada mental seorang pelajar hal inilah yang mengakibatkan seorang pelajar tidak mempunyai minat untuk berprestasi. Wirawan sarlito, (2012:41)

Sebelum berlanjut dalam permasalahan Broken Home akan membahas remaja sebagai subyek dalam bahasan psikologi pendidikan. Psikologi Secara harafiah,Syah, (1997:7) Berasal dari bahasa Yunani, yang terdiri dari dua kata yaitu: psyche dan logos. Psyche berarti jiwa dan logos berarti ilmu. Jadi, psikologi berarti ilmu jiwa. Poerbakawatja dan Harahap Syah, (1997:8) membatasi psiklogi sebagai “cabang ilmu pengetahuan yang mengadakan penyelidikan atas gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa”. Dimana gejala-gejala dan kegiatan-kegiatan jiwa tersebut meliputi respon organisme dan hubungannya dengan lingkungannya.

Membuat kesimpulan tentang pengertian psikologi dari beberapa definisi di atas, dimana psikologi adalah ilmu pengetahuan yang menyelidiki dan membahas tingkah laku terbuka dan tertutup pada manusia, baik selaku individu maupun kelompok, dalam hubungannya dengan lingkungan. Lingkungan dalam hal ini meliputi semua orang, barang, keadaan dan kejadian yang ada di sekitar manusia.

Pendidikan Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia. Syah, (1997: hal.10) Pendidikan berasal dari kata “didik”, yang mendapat awal me sehingga menjadi “mendidik” artinya memelihara dan memberilatihan. Menurut McLeod Syah, (1997:10) Dalam memelihara dan memberi latihan diperlukan adanya ajaran, tuntunan, danpimpinan mengenai akhlak dan kecerdasan pikiran. Pendidikan ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.

Poerbakawatja dan Harahap (Syah, 1997:11). Pendidikan adalah usaha secara sengaja dari orang dewasa untuk dengan pengaruhnya meningkatkan si anak ke kedewasaan yang selalu diartikan mampu menimbulkan tanggung jawab moril dari segala perbuatannya. Pengertian Psikologi Pendidikan Arthur S. Reber (Syah, 1997:12) Psikologi pendidikan adalah sebuah subdisiplin ilmu psikologi yang berkaitan dengan teori dan masalah kependidikan yang berguna dalam hal-hal sebagai berikut : a. Penerapan prinsip-prinsip belajar dalam kelas, b. Pengembangan dan pembaharuan kurikulum c. Ujian dan evaluasi bakat dan kemampuan. Sosialisasi proses-proses dan interaksi proses-proses tersebut dengan pendayagunaan ranah kognitife.

Dengan kata lain, psikologi pendidikan memusatkan perhatian pada persoalan-persoalan yang berkenaan dengan proses dan faktor-faktor yang berhubungan dengan tindakan belajar. Karena konsentrasinya pada persoalan belajar, yakni persoalan-persoalan yang senantiasa melekat pada subjek didik, maka konsumen utama psikologi pendidikan ini pada umumnya adalah pada pendidik, Syamsudin abin, (2007:171). Mereka memang dituntut untuk menguasai bidang ilmu ini agar mereka, dalam menjalankan fungsinya dapat menciptakan kondisi-kondisi yang memiliki daya dorong yang besar terhadap berlangsungnya tindakan-tindakan belajar secara efektif.

Istilah “broken home” biasanya digunakan untuk menggambarkan keluarga yang berantakan akibat orang tua tidak lagi peduli dengan situasi dan keadaan keluarga di rumah. Orang tua tidak lagi perhatian terhadap anak-anaknya, baik masalah di rumah, sekolah, sampai pada perkembangan pergaulan anak-anaknya di masyarakat. Willis Sofyan, (2008:49)

Namun, broken home dapat juga diartikan dengan kondisi keluarga yang tidak harmonis dan tidak berjalan layaknya keluarga yang rukun, damai, dan sejahtera karena sering terjadi keributan serta perselisihan yang menyebabkan pertengkaran dan berakhir pada perceraian. Willis, Sofyan

S. (2008:57) Kondisi ini menimbulkan dampak yang sangat besar terutama bagi anak-anak. Bisa saja anak jadi murung, sedih yang berkepanjangan, dan malu. Selain itu, anak juga kehilangan pegangan serta panutan dalam masa transisi menuju kedewasaan.

Karena orangtua merupakan contoh (role model), panutan, dan teladan bagi perkembangan anak-anaknya di masa remaja, terutama pada perkembangan psikis dan emosi, anak-anak perlu pengarahan, kontrol, serta perhatian yang cukup dari orang tua, Fatimah Enung, (2008:75). Orangtua merupakan salah satu faktor sangat penting dalam pembentukan karakter anak-anak selain faktor lingkungan, sosial, dan pergaulan.

Broken home juga bisa merusak jiwa anak sehingga dalam sekolah mereka bersikap seenaknya saja, tidak disiplin di dalam kelas mereka selalu berbuat keonaran dan kerusuhan hal ini dilakukan karena mereka cuma ingin cari simpati pada teman-teman mereka bahkan pada guru-guru mereka, Wildaniah, Firsty. (2006:43) Untuk menyikapi hal semacam ini kita perlu memberikan perhatian dan pengerahan yang lebih agar mereka sadar dan mau berprestasi.

b. Dampak Broken Home dalam Perkembangan Remaja

Remaja berasal dari kata latin adolesence yang berarti tumbuh atau tumbuh menjadi dewasa. Istilah adolensence mempunyai arti yang lebih luas lagi yang mencakup kematangan mental, emosional sosial dan fisik.Wirawan Sarlito, (2012:60) Remaja sebenarnya tidak mempunyai tempat yang jelas karena tidak termasuk golongan anak tetapi tidak juga golongan dewasa atau tua. Jika ditarik kesimpulan remaja adalah individu yang sedang berada pada masa peralihan dari masa anak-anak menuju masa dewasa dan ditandai dengan perkembangan yang sangat cepat dari aspek fisik, psikis dan sosial. Wirawan Sarlito, (2012:71)

Masa remaja menunjukkan dengan jelas sifat transisi atau peralihan karena remaja belum memperoleh status dewasa dan tidak lagi memiliki status anak. Wildaniyah Firsty, (2006:44) Masa Remaja merupakan suatu periode atau masa tumbuhnya seseorang dalam masa transisi dari ana-anak

menuju masa dewasa, yang meliputi semua perkembangan yang dialami sebagai persiapan memasuki masa dewasa.

Sebagai orang tua wajib untuk memberikan perlindungan terhadap anak dari tindak kekerasan dan penganiayaan. Hal ini juga sesuai dengan pengaturan Pasal 13 ayat (1) UU No. 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak (“UU Perlindungan Anak”) yang menyatakan bahwa setiap anak selama dalam pengasuhan orang tua, wali, atau pihak lain mana pun yang bertanggung jawab atas pengasuhan, berhak mendapat perlindungan dari perlakuan:

a) diskriminasi;

b) eksploitasi, baik ekonomi maupun seksual; c) penelantaran;

d) kekejaman, kekerasan, dan penganiayaan; e) ketidakadilan; dan

f) perlakuan salah lainnya.

Emosi merupakan situasi psikologi yang merupakan pengalaman subjektif yang dapat dilihat dari reaksi wajah, ekspersi mimik wajah, dan tubuh. Perceraian adalah hal yang harus dihindari, agar emosi anak tidak terganggu karena perceraian pengalaman tramatis bagi anak. Wildaniyah Firsty, (2006:63)

Pada umumnya penyebab utama broken home ini adalah kesibukkan kedua orang tua dalam mencari nafkah keluarga seperti hal ayah laki – laki bekerja dan ibu menjadi wanita karier. Willis sofyan, (2008:116) Hal inilah yang menjadi dasar seorang tidak memiliki keseimbangan dalam menjalankan aktifitas sehari hari dan malah sebaliknya akan merugikan anak itu sendiri, dikala pulang sekolah dirumah tidak ada orang yang bisa diajak berbagi dan berdiskusi, membuat anak mencari pelampiasan diluar rumah seperti bergaul dengan teman-teman nya yang secara tidak langsung memberikan efek atau pengaruh bagi perkembangan mental anak. Wildaniah, Firsty. (2006:69)

Bilamana anda menginginkan anak anda tidak menjadi pribadi yang broken home kiranya kedua orang mengerti akan tugas dan kedudukan dalam rumah tangga, ibu harus dirumah merawat, mendidik dan memberi arahan kepada anaknya, ayah bertugas mencari rejeki untuk mengidupi dan melindungi keluarga. Willis Sofyan, (2008:132)

Maka dari itu mereka berusaha untuk mendapatkan perhatian dari orang lain. Tetapi sayang, sebagian dari mereka melakukan cara yang salah misalnya : mencari perhatian guru dengan bertindak brutal di dalam kelas, bertindak aneh agar mendapat perhatian orang lain, dll.

Dalam bukunya Enung Fatimah, (2008:133) Yang dimaksud kasus broken home dapat dilihat dari dua aspek yaitu (1) keluarga itu terpecah karena strukturnya tidak utuh sebab salah satu dari kepala keluarga itu meninggal dunia atau telah bercerai, (2) orang tua tidak bercerai akan tetapi struktur keluarga itu tidak utuh lagi karena ayah atau ibu sering tidak di rumah, atau tidak memperlihatkan kasih sayang lagi. Misalnya orang tua sering bertengkar sehingga keluarga itu tidak sehat secara psikologis.

Perceraian dan Kesibukan kedua orang tua ternyata member efek kurang baik terhadap perkembangan keribadian sang anak. Wildaniyah Firsty, (2006: 92) Seorang anak yang mengalami broken home lebih cenderung memiliki ciri-ciri:

- Berprilaku nakal

- Mudah menyerah dan gampang mengalami keputus asaan - Hidupnya terasa hampa

- Mengalami depresi

- Melakukan hubungan seks bebas - Menggunakan obat-obatan terlarang

Dari keluarga yang digambarkan di atas tadi, akan lahir anak-anak yang mengalami krisis kepribadian sehingga perilakunya sering tidak sesuai. Mereka mengalami gangguan emosional bahkan neurotik. Wildaniyah Firsty, (2006:105) Kasus keluarga broken home ini sering kita temui di sekolah dengan penyesuaian diri yang kurang baik, seperti malas

belajar, menyendiri, agresif, membolos, dan suka menentang guru.Berikut adalah Sikap negatif dalam menghadapi Broken Home :

a) Denial: Si anak sepertinya tidak menunjukan reaksi apa apa bahkan cenderung menyangkal : ah memang mereka begitu, tapi ah, kenapa memang?” mereka tidak tertarik untuk membicarakannya. Padahal justru di saat saat seperti ini ia butuh bimbingan dan kekuatan dari orang lain yang dapat membimbing dalam kebenaran.

b) Shame : Si anak dibalik penyangkalannya merasa begitu malu, akan keberadaan hidupnya. Ditunjukan dengan khayalan khayalan”seandainya saya memiliki orang tua yang bahagia”

c) Guilt : Si anak merasa kecil hati karena jangan-jangan keberadaannya juga salah satu penyebab keributan atau perceraian mereka; atau merasa “koq saya tidak dapat berbuat apa apa sih”.

d) Anger : Si anak akan merasa begitu kesal sebab menurut mereka banyak keributan orang tua yang tidak rasional. ”masa Cuma itu aja diributin tidak dewasa benar sih”

e) Iini secure : Si anak merasa kemana ia harus lari, keluarga sudah menjadi tempat yang menakutkan, tidak aman dan damai.

Tingkah laku sosial kelompok yang memungkinkan seseorang berpartisipasi secara efektif dalam kelompok atau masyarakat. Dampak keluarga broken home terhadap perkembangan sosial remaja adalah sebagai berikut: Perceraian orang tua menyebabkan ketidakpercayaan diri terhadap kemampuan dan kedudukannya, Anak sulit menyesuaikan diri dengan lingkungan. Dampak bagi remaja putri yang tidak mempunyai ayah berperilaku dengan salah satu cara yang ekstrim terhadap laki-laki, mereka sangat menarik diri pasif dan minder kemungkinan yang kedua terlalu aktif, agresif dan genit.

Dari pernyataan di atas dapat kita simpulkan bahwasannya dalam proses belajar mengajar, guru berusaha mendorong, membimbing, dan memberi fasilitas belajar bagi anak didik untuk mencapai tujuan. (Nuni Yusvavera, 2013:58) Peranan guru dalam tugasnya bukan hanya sebagai

pengajar dalam kegiatan belajar saja, akan tetapi lebih dari itu, juga harus mampu menyelesaikan hal yang sifatnya kejiwaan. (Nuni Yusvavera, 2013:59)

Permasalahan-permasalahan (Broken Home) yang terjadi pada para peserta didik ini tak lepas tanggung jawabnya dari pengawasan guru atau pendidiknya disekolah sebagaimana peranannya pendidik itu sendiri. Dengan mengetahui karakter anak dan adanya hubungan yang baik anatara anak didik dan pendidik diharapkan menjadikan suatu dongkrak keberhasilan dalam tujuan pendidikan. Fatimah Enung, (2008:157)

Untuk itu sebagai guru dalam peranannya harus bisa adanya suatu pendekatan terhadap siswa yang bersangkutan. Untuk mendapatkan hasil belajar yang optimal, banyak dipengaruhi komponen-komponen belajar mengajar. Tapi di samping komponen pokok yang ada dalam kegiatan belajar-mengajar, ada factor lain yang ikut mempengaruhi keberhasilan belajar siswa, yaitu soal hubungan antara guru dan siswa. Hubungan guru dengan siswa/anak didik di dalam proses belajar mengajar merupakan factor yang sangat menentukan. Bagimana baiknya bahan pelajaran yang diberikan, bagaimanpun sempurnanya metode yang digunakan, namun jika hubungan guru-siswa merupakan hubungan yang tidak harmonis, maka dapat menciptakan suatu hasil yang tidak diinginkan.

Dalam dokumen BAB II LANDASAN TEORI (Halaman 33-39)

Dokumen terkait