• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III METODE PENELITIAN

3.3 Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel

3.3.3 Budaya Kerja

Budaya aparatur negara dapat dikenali wujudnya dalam bentuk nilai- nilai yang terkandung di dalamnya, institusi atau sistem kerja, serta sikap dan perilaku SDM aparatur yang melaksanakannya. Kuesioner dalam penelitian ini diambil dari penelitian Nursyahfitri (2010) dimana dalam penelitian tersebut juga menggunakan budaya kerja sebagai variabel X1. Indikator pengukuran yang digunakan dalam penelitian ini yaitu berdasarkan kedisiplinan, tanggungjawab, proaktif dan pengembangan aparat. Skala pengukuran yang digunakan untuk variabel ini adalah skala Likert 1 sampai dengan 5. Skala

Likert adalah skala yang dapat digunakan untuk mengukur sikap, pendapat, dan persepsi seseorang atas suatu objek atau fenomena tertentu. Bentuk jawaban skala Likert terdiri dari ; Sangat Setuju (SS) dengan nilai 5, Setuju (S) dengan nilai 4, Ragu-Ragu (RR) dengan nilai 3, Tidak Setuju (TS) dengan nilai 2 dan Sangat Tidak Setuju (STS) dengan nilai 1.

Tabel 3.1.

Defenisi Operasional dan Pengukuran Variabel

Variabel Defenisi Operasional Indikator Skala Variabel Dependen Good Governance (Y) Good Governance merupakan mekanisme institusi negara dalam melayani kepentingan publik 1. Adanya partisipasi masyaratkat 2. Berpegang teguh

pada aturan hukum 3. Transparan 4. Responsif terhadap perubahan 5. Berorientasi pada kepentingan masyarakat 6. Berkeadilan 7. Efektif dan efesiensi 8. Akuntabilitas 9. Memiliki visi jauh

ke depan Likert Variabel Defenisi Operasional Indikator Skala Variabel Independen Kompe- tensi Sumber Daya Manusia Karakteristik dari seseorang yang memiliki keterampilan (skill), pengetahuan (knowledge), dan kemampuan (ability) untuk melaksanakan suatu pekerjaan 1. Pengetahuan 2. Keahlian 3. Sikap Likert

Budaya Kerja Budaya aparatur negara dapat dikenali wujudnya dalam bentuk nilai-nilai yang terkandung di dalamnya, institusi atau sistem kerja, serta sikap dan perilaku SDM aparatur yang melaksanakannya 1. Kedisiplinan 2. Tanggungjawab, 3. Proaktif 4. Pengembangan aparat Likert

3.4. Populasi dan Sampel Penelitian

Populasi adalah sekelompok elemen dan unsur yang dapat berbentuk manusia atau individu, binatang, tumbuh-tumbuhan, lembaga atau institusi, kelompok, dokumen, kejadian, sesuatu hal, gejala atau berbentuk konsep yang menjadi objek penelitian (Soewadji, 2012: 129). Populasi dalam penelitian ini adalah pegawai di Kantor Inspektorat Kabupaten Labuhanbatu Utara yang terdiri dari 32 pegawai orang yaitu 26 orang Pegawai Negeri Sipil dan 6 orang Pegawai Tidak Tetap. Sedangkan sampel adalah bagian populasi yang digunakan untuk memperkirakan karakteristik populasi. Adapun jumlah sampel yang digunakan peneliti pada penelitian ini adalah seluruh populasi. Teknik pengambilan sampel dengan menggunakan seluruh populasi dinamakan dengan metode sensus. Metode sensus digunakan jika elemen populasi relatif sedikit dan bersifat heterogen. Peneliti mengambil sampel penelitian dari keseluruhan populasi dikarenakan populasinya kecil dan masing-masing elemen bersifat heterogen satu dengan yang lainnya.

3.5. Jenis Data

Jenis data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder. Data primer adalah data yang diperoleh langsung dari sumbernya. Pada penelitian ini data primer didapat dari pengisian kuesioner oleh pegawai yang bekerja di Inspektorat Kabupaten Labuhanbatu Utara. “Data sekunder merupakan sumber data penelitian yang diperoleh melalui media perantara sifatnya saling melengkapi (Sekaran, 2011). Data sekunder berupa sumber pustaka pendukung penelitian yang diperoleh dari literatur yang relevan dengan permasalahan penelitian. Sumber data penelitian ini diperoleh langsung dari responden yang telah ditentukan untuk diteliti, melalui sumber asli atau tanpa melalui perantara dengan menggunakan metode survey yaitu menggunakan kuesioner.

3.6. Metode Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data primer yang digunakan adalah dengan penelitian lapangan (field research) dengan teknik pengambilan data melalui kuesioner. Langkah yang diambil untuk mengantisipasi rendahnya tingkat respon (respon rate) adalah dengan cara mengantar langsung kuesioner tersebut dan juga menghubungi kembali responden memastikan bahwa kuesioner yang diantar telah diisi oleh responden, setelah itu dikumpulkan kembali dengan menjemputnya langsung.

3.7. Teknik Analisis

Analisis data dalam penelitian ini terdiri dari uji kualitas data, uji asumsi klasik, dan uji hipotesis yang dianalisis menggunakan bantuan program Statistical Product and Service Solutions.

3.7.1. Uji Kualitas Data Uji Validitas

Suatu kuesioner dikatakan valid jika pertanyaan pada kuesioner tersebut mampu mengungkap sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner tersebut (Ghozali, 2012:52). Pengukuran validitas dalam penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode analisis Corected Item-Total Correlation. Teknik uji validitas dengan Corected Item-Total Correlation dilakukan dengan cara mengkorelasikan masing-masing skor item dengan skor total dan melakukan koreksi terhadap nilai koefisien korelasi yang overestimasi. Kemudian pengujian signifikansi dilakukan dengan kriteria r tabel pada tingkat signifikansi 0,05. Jika nilai positif r hitung ≥ r tabel (α; n-2) maka item dapat

dinyatakan valid. Uji Reliabilitas

Suatu kuisioner dapat dikatakan reliabel atau handal jika jawaban seseorang terhadap penyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu (Ghozali, 2012:47). Sedangkan, untuk mengukur reliabilitas digunakan statistik Croanbach Alpha (α). Suatu variabel dikatakan reliabel jika memberikan nilai Croanbach Alpha>r tabel.

3.7.2. Uji Asumsi Klasik Uji Normalitas

Uji normalitas digunakan untuk mengetahui apakah populasi data berdistribusi normal atau tidak (Priyatno, 2008: 28). Uji normalitas dalam penelitian ini menggunakan metode One Sample Kolmogorov-Smirnov dengan kriteria, yaitu jika nilai signifikansi atau probabilitas <0,05 maka distribusi data tidak memenuhi asumsi normal. Sedangkan, jika nilai signifikansi atau probabilitas > 0,05 maka distribusi data memenuhi asumsi normal.

Uji Multikolinieritas

Uji multikolinieritas bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya korelasi antara variabel independen dengan cara melihat nilai Variance Inflation Factors (VIF) dan nilai tolerance. Pedoman model regresi yang terbebas dari gejala multiko adalah nilai tolerance yang lebih kecil dari 0,1 atau VIF yang lebih besar dari nilai 10.

Uji Heteroskedastisitas

Uji heteroskedastisitas digunakan untuk mengetahui ada tidaknya penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas yaitu adanya ketidaksamaan varian dari residual dari satu pengamatan kepengamatan lainnya. Heteroskedastisitas ditandai dengan adanya pola tertentu pada grafik scatterplot. Pengambilan keputusan untuk melihat ada tidaknya penyimpangan asumsi klasik heteroskedastisitas, yaitu jika ada pola tertentu, seperti titik-titik yang ada membentuk suatu pola tertentu yang teratur (bergelombang, melebar dan kemudian menyempit) maka terjadi heteroskedastisitas. Sedangkan, jika

tidak ada pola yang jelas, seperti titik-titik menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.

3.7.3. Uji Hipotesis

Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda, uji koefisien determinasi, uji pengaruh parsial (uji-t) dan uji pengaruh simultan (uji F).

Analisis Regresi Linier Berganda

Teknik analisis ini digunakan untuk mengetahui pengaruh variabel independen kompetensi sumber daya manusia dan budaya kerja organisasi terhadap variabel dependen good governance. Hasil analisis dinyatakan dalam bentuk persamaan regresi linier berganda, yaitu:

Y = α + β1 X1 + β2 X2 + e Dimana

Y = Good governance

α = Konstanta,

β1 dan β2 = Koefisien regresi dari X1, dan X2, dengan

X1 = Kompetensi sumber daya manusia

X2 = Budaya kerja organisasi

e = error

Uji Koefisien Determinasi (R2)

Uji Koefisien determinasi (R2) pada regresi linier berganda digunakan untuk mengetahui persentase sumbangan pengaruh variabel independen (X1) yaitu kompetensi sumber daya manusia dan (X2) budaya kerja organisasi

terhadap variabel dependen (Y) yaitu good governance. Nilai R2 terletak antara 0 (nol) dan 1 (satu), jika R2 semakin mendekati 1, maka semakin besar variasi dalam dependen variabel yang dapat dijelaskan oleh variasi dalam independen variabel, ini berarti semakin tepat garis regresi tersebut untuk mewakili hasil observasi yang sebenarnya. Santoso (2001) menyatakan bahwa “untuk regresi dengan lebih dari dua variabel bebas digunakan Adjusted R2 sebagai koefisien determinasi”. Besarnya Koefisien Determinasi (KD) dihitung dengan cara:

KD = R2 x 100%.

Uji Pengaruh Parsial (Uji-t)

Pengujian ini bertujuan untuk menguji pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Jika t hitung ≥ t tabel dan tingkat signifikansi (α) ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya, variabel bebas yang diuji mempengaruhi variabel terikat secara signifikan. Jika sebaliknya, t hitung< t tabel dan tingkat signifikansi (α) > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak. Artinya, variabel bebas yang diuji tidak mempengaruhi variabel terikat.

Uji Pengaruh Simultan (Uji F)

Pengujian hipotesis untuk mengetahui pengaruh secara simultan antara variabel bebas dengan variabel terikat dalam penelitian ini menggunakan Uji F (Uji Simultan). Jika F hitung ≥ F tabel dan tingkat signifikansi (α) ≤ 0,05 maka H0 ditolak dan Ha diterima. Artinya, secara simultan variabel - variabel bebas berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat. Sedangkan jika F hitung < F tabel dan tingkat signifikansi (α) > 0,05 maka H0 diterima dan Ha ditolak.

Artinya, secara simultan variabel-variabel bebas tidak berpengaruh signifikan terhadap variabel terikat.

Dokumen terkait