• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV : PAPARAN DAN HASIL PENELITIAN

G. Pengecekan Kabsahan Data

5. Budaya Unggul Pesantren

Pesantren al-Is’af kalabaan sumenep ini mengembangkan budaya unggul dalam empat bidang, yaitu: 1) Budaya unggul di bidang tadrisiyah yang di kordinatori oleh kiai Kayyis, 2) Budaya unggul di bidang ubudiyah yang di kordinatori oleh kiai Abu Fadal, 3)Budaya unggul dibidang kebersihan yang di kordinatori oleh kiai Waqi’.

Adapun budaya unggul dalam bidang tadrisiyah, sebagaimana yang dijelaskan Kiai Kayyis (kordinator bidang tadrisiyah)

”Untuk membuat budaya unggul dalam bidang tadrisiyah ini, saya membuat beberapa program sebagaimana berikut; (a) budaya menghafal nazdam nahwu yaitu imrithi dan al-Fiyah. Jadi semua santri kelas akhir tingkat ibtidai harus sudah hafal kitab imriti dan al-fiyah ibn malik. (b) Program membaca berbagai kitab kuning serta menjelaskan isi kandungannya. Santri dibudayakan dapat dengan fasih membaca kitab kuning serta menjelaskan isinya. Program yang dilakukan adalah setiap tahun ada lomba membaca kitab kuning. Lomba ini dilakukan setiap akhir tahun, untuk lomba ini khusus kepada santri tingkat wustho madrasah diniyah. Juri yang diambil adalah dari beberapa pondok pesantren di sumenep serta mengundang juga dari Dr dosen di perguruan tinggi islam. (c) program menulis karya kitab. Budaya menulis kitab ini merupakan pengembangan dari budaya membaca kitab kuning. Budaya menulis kitab ini khusus kepada semua santri

tingkat ulya madrasah diniyah. Semua santri kelas akhir tingkat wustho harus menghasilkan dua karya dalam ilmu fiqh dan taswwuf. Dua hasil karya santri ini juga di munaqashahkan dihadapan kiai, dan dosen beberapa perguruan tinggi islam.22

Sedngkan budaya unggul dalam bidang ubudiyah adalah dijelaskan oleh kiai Kayyis (pengurus senior):

”Budaya unggul dalam bidang ubudiyah ini diantaranya adalah (a) Sholat berjamaah (sholata berjamaah lima waktu, sholat berjamaah tahajud, dan sholat berjamaah dhuha ). Awalnya shlata jamaah itu dilakukan hanya pada sholat magrib, iysa’ dan subuh. Akan tetapi semenjak saya diberi amanah untuk menjadi kordinator bidang ubudiyah, kami kembangkan lagi menjadi jamaah sholat lima waktu, tahajud dan dhuhanya. (b) Budaya menghatamkan Qur’an yang asalnya satu kali khatam setiap bulan, kami kembangkan 2 kali khatam setiap bulan. (c) Budaya ziarah kubur dengan membaca yasin dan tahlil yang dipimpin oleh kiai latfan sebagai pengasuh setiap hari sehabis melakukan ibadah jamaah subuh. Lalu kami kembangkan lagi,yang memimpin pembacaan yasin dan tahlil bukan hanya kiai tapi semua santri bergiliran setiap hari dalam memimpin pembacaan yasin dan tahlil”.23

Sedngkan budaya unggul dalam bidang kebersihan adalah dijelaskan oleh kiai Waqid (kordinator bidang kebersihan):

“Budaya bersih di pesantren ini sudah mulai membudaya. Kiai Latfan sebagai pimpinan pesantren sangat memperhatikan budaya bersih. Beliau dalam membudayakan kebersihan melalui contoh dari beliau, walaupun beliau sebagai pimpinan pesantren namun seringkali di waktu luang beliau mengajar santri untuk membersihkan tempat yang diliat kotor”.24

Penjelasan yang sama juga di jelaskan oleh Ahmad Rifa’ie (takmir masjid di pesantren al-Is’af):

“Kiai Latfan setiap hari sehabis mengisi pengajian kitab tidak langsung pulang ke dhalemnya. Beliau menyempatkan untuk berjalan mengitari masjid. Kalau masjid kelihatan kotor, beliau langsung mengambil sapu 22

Kiai Kayyis,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 19 - 05-2015

23Kiai Kayyis,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 19 - 05-2015

24

Kiai Waqid,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 19 - 05-2015

dan menyapu sekitar masjid yang sekiranya kotor. Walaupun ada santri, beliau tidak menyuruh santri untuk menyapu. Namun, beliau sendiri langsung menyapu. Tanpa di suruh santri sungkan sendiri akhirnya dengan kesadarannya, santri menyapu dan membersihkan masjid yang kotor juga”.25

Hal yang sama juga dijelaskan oleh ustad Naufal (ketua pengurus pesantren) :

“Salah satu kebiasaan kiai latfan yang tidak pernah absen adalah setiap pagi beliau berjalan keliling depan kamar semua santri. Beliau melakukan ini dalam rangka menjaga kebersihan. Kalau terdapat sampah di depan kamar santri, beliau tidak segan-segan langsung membersihkannya. Dari tindakan kiai ini terwujud budaya bersih di pesantrren al-Is’af ini.”26

Dari hasil observasi yang dilakukan peneliti di lokasi pesantren al-Is’iafini, peneliti awalnya terkejut. Karena pesantren yang kebanyakan orang mengatakan tempat yang kumuh dan kotor, namun pesatren al-Is’af kalabaan sumenep ini tampak bersih dan rapi. Di depan pondok berjejer bunga-bunga indah dan permai, sehinga membuat betah orang yang datang ke sana.27

Dari beberapa penjelasan informan di atas menunjukkan bahwa seluruh warga pesantren al-is’af kalabaan sumenep ini sudah menjalankan budaya pesantren dan menanamkan nilai-nilai yang dikembangkan di pesantren tersebut. Pesantren juga telah menanamkan dan mengembangkan nilai unggulan dalam tiga bidang, yaitu: 1) Budaya unggul di bidang tadrisiyah yang di kordinatori oleh kiai Kayyis, 2) Budaya unggul di bidang ubudiyah yang di

25

Ahmad Rifa’ie,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 19 -

05-2015

26Abdul Naufal,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 19 - 05-2015

kordinatori oleh kiai Abu Fadal, 3) Budaya unggul dibidang kebersihan yang di kordinatori oleh kiai Waqi’.

b. Berkaitan dengan Kepemimpinan Kiai dalam Membina Hubungan dengan Santri, Ustad, dan Pengurus Pesantren.

1) Ketauladanana

Ketauladanan adalah prilaku kepemimpinan yang harus melekat dan tertanam bagi seorang pemimpin. Ketauladan adalah juga merupakan prilaku kepemimpinan dalam rangka mempengaruhi semua warga pesantren dalam rangka menjalankan tugasnya masing-masing secara efektif. Katauladan yang dilakukan oleh kiai sebagai pimpinan pesantren adalah bentukhubungan sosial dan emosianal antara kiai dengan santri, pengurus pesantren, asatidz, wali santri, maupun masyarakatsecara luas. Kaitannya dengan katauladanan, kiai Latfan (pengasuh senior) menjelaskan:

“Ketauladanan merupakan salah satu prilaku yang harus tertanam dalam diri seorang pemimpin. Sepanjang sejarah manusia, Nabi Muhammad SAW adalah sosok pemimpin no wahid yang mempunyai pengaruh besar dalam jangka waktu yang tidak terlalu lama. Rahasia keberhasilan Rasulullah ini tiada lain dalam menyampaikan misinya adalah dengan ketauladanan. Hingga disebut dalam al-Qur’an yang artinya “telah datang pada kalian dalam diri Rasulullah itu suri

tauladan yang baik”.Oleh karena itu, kiai sebagai pimpinan pondok

pesantren dalam mencapai tujuan pesantrennya haruslah tertanam kataulan dalam dirinya”.28

Ketauladanan kiai sebagai pimpinan pesantren adalah hal yang substansial dalam memimpin pesantren. Kaitannya dengan ketauladanan kiai Latfan dijelaskan oleh kiai Kayyis (pengurus senior):

28

Kiai Latfan,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 19 - 05-2015

“Kiai Latfan merupakan pengasuh pondok pesantren al-Isi’af Kalabaan yang disegani oleh semua santri-santrinya, masyarakat luas, pejabat maupun angkatan. Ketauladanan kiai Latfan sudah tersohor seantero sumenep. Di pesantren misalnya, dia mengutamakan praktek dulu baru menyuruh kepada santri. Contoh, dalam memberi pengajian kitab, beliau datang duluan ke masjid sebelum semua santri datang”.29

Ketauladanan kiai Latfan ini juga disampaikan oleh ustad Naufal (guru Diniyah) :

“Kiai Latfan juga memberikan contoh dalam membiasakan mengucapkan salam kepada sesama. Kiai Latfan setiap kali ketemu santri, ustadz, pengurus pesantren, wali santri, masyarakat beliau selalu mengucapkan salam terlebih dulu. Sehingga santripun terbiasa memanggil salam kepada sesama ataupun setiap berjumpa dengan siapapun”.30

Dari kutipan wawancara di atas dapat dipahami bahwa ketauladanan kiai sebagai pimpinan pesantren merupakan hubungan sosial dan emosional dirasakan semua warga pesantren. melalui ketauladanan kiai ini maka, santri, asatidz, dan pengurus pesantren dengan penuh kesadaran menjalankan nilai-nilai budaya dengan sungguh-sungguh.

1) Silaturrahmi

Silaturrahim merupakan salah satu budaya yang sudah melekat dalam diri pengasuh mulai sejak berdirinya pesantren al-Is’af ini. Silaturrahmi ini juga merupakan salah satu bentuk hubungan sosial kiai sebagai pimpinan pesantren dengan santri, ustadz, dan pengurus pesantren. Dengan tingginya tingkat silaturrahmi maka pimpinan kiai sebagai pimpinan pesantren akan lebih efektif dan efisien untuk mencapai visi, misi dan tujuan pesantren. Hal ini

29

Kiai Kayyis,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 19 - 05-2015

30

Ustad Naufal,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 19 - 05-2015

diungkapkan kiai Latfan (pengasuh seniordalam wawancara di rumahnya sebagai berikut:

“Silaturrahim ini merupakan hal yang sangat ditekankan di pesantren ini khususnya bagi dewan masyaikh sebagai uswah bagi santri, saya dan pengasuh lainnya melakukan silaturrahmi. Dan silaturrahmi ini merupakan ajaran agama untuk membangun hubungan antar sesama. Rasulullah SAW sebagi panutan umat telah mencontohkan silatuurahmi ini. Dengan melakukan silaturrahmi, maka akan bertambah dekatnya pengasuh dengan santri sehingga masalah-masalah yang muncul di pesantren dapat diselesaikan atau dipecahkan dengan baik. Silaturrahmi saya lakukan baik secara non formal ataupun formal. Silaturrahim secara non formal misal berkunjung ke rumah santri yang sakit. Silaturrahim secara formal ini saya lakukan dalam bentuk pertemuan-pertemuan rutin seperti rapat pesantren dan sebaginya, silatuurahim juga dilakukan pada waktu pengajian kitab. Bentuk lain adalah ziarah bersama setiap akhir tahun, dalam acara haflatul imtihan, melakukan halal bihalal dan lain sebagainya”.31

Dari hasil wawancara tersebut, kiai sebagai pimpinan pesantren menempatkan hubungan silaturrahmi sebagai bentuk hubungan sosial kepala pesantren dengan seluruh warga pesantren khususnya santri, asatidz, pengurus pesantren, dan wali santri serta masayarakat pada umumnya.

Adapun hubungan silaturrahmi yang dilakukan kiai sebagai pimpinan pesantren ini disampaikan oleh kiai Kayyis (pengurus senior)dalam jawaban wawancara sebagai berikut:

“Sering kiai Latfan itu dikala waktu senggang datang ke kantor pesantren. Di kantor pesantren kiai sangat akrab dengan pengurus pesantren dalam menjalin komunikasi. Beliau menyakan prihal kegiatan pesantren, menanyakan kendala-kendala yang dihadapi pengurus dalam mengurusi santri dan lain sebagainya”.32

Upaya kiai sebagai pimpinan pesantren untuk meningkatkan hubungan sosial dan emosional melalui silaturrahmi dengan wali santr dilakukan pada

31

Kiai Latfan,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 20 - 05-2015

32

Kiai Latfan,Wawancara, Pondok Pesantren al-Is’af Kalabaan Sumenep, 20 - 05-2015

waktu formal dan setiap acara haflatul imtihan. Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan wali santri, yaitu (Abu Siri).

“Saya sebagai orang tua anak saya yang mondok di di pesantren ini diundang pesantrenpada setiap pelaksanaan haflatul imtihan. Tapi saya bersama keluarga setiap hari raya Idul Fitri, soan ke rumah dhalem kiai latfan mohon doa barokah sekaligus titip-titip anak saya supaya selalu diawasi dan dibimbing serta di doakan oleh beliau”.33

Hal yang sama juga disampaikan oleh ustad Naufal (ustad senior): “Bentuk silaturrahim kiai itu juga dalam menghadiri undangan nikahannya santrinya. Kalau tidak ada acara yang sangat penting beliau pasti datang dalam acara nikahannya santrinya tersebut”.34

Dari beberapa penjelasan informan di atas menunjukkan bahwa kiai sebagai pimpinan pesantren al-is’af kalabaan sumenep ini selalu membina hubungan silaturrahmi dengan santri, pengurus pesantren, ataupun wali santri.. Dan silaturrahmi ini adalah dalam rangka untuk meningkatkan kebersamaan di pesantren al-isaf kalabaan sumenep ini.