• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budidaya d. Pengolahan Lahan

Dalam dokumen Pedoman Budidaya Tanaman Buah-buahan (Halaman 93-193)

JAMBU BIJI (Psidium guajava L)

III. Budidaya d. Pengolahan Lahan

Dilakukan pembersihan lahan dan sebaiknya lahan yang akan ditanami jengkol merupakan lahan terbuka atau tidak terlindung pohon/tanaman lain, sehingga tanaman akan mendapat sinar matahari yang cukup.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

e. Penanaman.

1) Dibuat lubang tanaman dengan ukuran 60 x 60 x 75 cm atau disesuaikan dengan jenis tanah dan kondisi lahan dengan jarak antar lubang tanam/jarak tanam 6 - 7 x 6 - 7 m.

2) Lubang tanam diberi pupuk organik sekitar 20 kg/lubang tanam dan dibiarkan selama kurang lebih 2 minggu.

3) Bibit tanaman ditanam sedalam sekitar 10 cm dari pangkal batang. 4) Agar bibit tidak rusak, patah atau roboh, maka bibit perlu diikat

dengan ajir yang dapat dibuat dari bambu.

5) Tanaman perlu dibuatkan naungan sementara dari daun/rumput agar tidak layu karena sinar matahari.

6) Penaman dilakukan pada awal musim penghujan.

7) Guna menjaga kelembaban tanah, sebaiknya di sekitar tanaman diberi potongan batang pisang, namun perlu dilakukan pengawasan karena potongan batang pisang dapat dipakai untuk berlindung rayap dari kepanasan.

f. Pemeliharaan. 1. Pemupukan.

Pada tanaman muda disamping diberi pupuk anorganik, juga perlu diberi pupuk organik dua kali/tahun dengan dosis sekitar 20 kg/tanaman. Sedangkan pada tanaman yang sudah berproduksi pemberian pupuk anorganik dilakukan 2 kali/tahun yaitu menjelang musim hujan dan menjelang musim kemarau.

Dosis pupuk anorganik yang diberikan disesuaikan dengan umur tanaman, yaitu :

Umur tanaman (th) Dosis pupuk (gr/pohon/tahun)

Urea TSP KCl

1 - 3 100 75 25

4 - 5 200 90 50

6 - 10 400 100 75

> 10 500 100 200

Cara pemupukan dengan membuat lubang sedalam 30 cm melingkar batang pokok tanaman, pupuk kemudian disebar merata pada lubang tersebut segera ditutup dengan tanah. Letak lubang galian menyesuaikan dengan lingkaran tajuk tanaman.

2. Penyiraman.

Penyiraman sangat perlu dilakukan pada musim kemarau serta pada saat pemupukan anorganik agar pupuk dapat larut dan mudah diserap tanaman. Pembuatan rorak dapat dilakukan guna menampung air hujan sehingga dapat menjaga kelembaban tanah serta mengurangi laju air di sekitar tanaman.

3. Penyiangan.

Dilakukan terutama pada tanaman muda karena perakaran masih terbatas, dan pelaksanaannya dapat bersamaan waktu dilakukan pemupukan. Kegiatan penyiangan juga dapat membantu aerasi udara di dalam tanah.

g. Hama dan Penyakit. 1. Hama.

a) Penggerek buah.

Gejala : buah dan biji jengkol berlubang karena gigitan atau gerekan larva sehingga kualitas dan kuantitas hasil akan menurun.

Pengendalian dengan mencegah berkembangbiaknya serangga dewasa pembawa telur, menjaga kebersihan kebun, dan penyemprotan insektisida bila sudah sangat diperlukan.

b) Belalang daun. Serangan dilakukan pada daun muda pada sore dan malam hari.

Gejala : adanya bekas gigitan di tepi daun atau adanya lubang-lubang gigitan pada daun, bahkan jika serangan intensif hanya akan tertinggal tulang-tulang daun saja.

Pengendalian dengan penyemprotan insektisida jika sudah sangat diperlukan.

c) Semut rangrang.

Gejala : daun yang digunakan sarang semut akan mengering dan mati. Pengendalian dengan pengambilan kroto yang biasanya digunakan untuk makanan burung kicau.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

2. Penyakit.

a) Cendawan, menyerang tanaman dalam polybag, yaitu pada keping biji jengkol yang sebagian terbenam dalam tanah sehingga busuk dengan warna abu-abu kehitam-hitaman karena dipenuhi dengan myselia. Pengendalian dengan penyemprotan fungisida bila telah tampak gejala serangan.

Pencegahan dapat dilakukan dengan penyemprotan fungisida pada persemaian. Jika terdapat bibit dalam persemaian sudah terserang cendawan maka segera dipisahkan untuk dimusnahkan.

b) Blendok, bagian yang diserang adalah batang tanaman.

Gejala tanaman mengeluarkan blendok cair kemudian mengering berwarna kuning kecoklatan dan mengkilat.

Pengendalian dilakukan dengan cara :

1) Kultur teknis, dilakukan drainase dengan baik serta bagian bawah tanaman agar terbuka sehingga terkena sinar matahari 2) Kimiawi, dengan mengolesi bagian tanaman yang terserang

menggunakan fungisida seperti Dithane M 45, Cupravit OB 21 atau fungisida lain yang dianjurkan.

3. Benalu, merupakan tumbuhan semi parasit dan menyebabkan pertumbuhan cabang atau ranting akan merana dan dapat mati. Pengendalian dengan memangkas cabang atau ranting yang dihinggapi benalu sampai ke akarnya, karena jika ada akar yang tertinggal benalu dapat tumbuh kembali.

IV. Daftar Pustaka

1. id.wikipedia.org/wiki/Jering, Jering atau jengkol (Archidendronpauciflorum, sinonim: A. jiringa, Pithecellobium jiringa,

dan P. lobatum)

2. Setijo Pitojo, Jengkol, Budidaya dan Pemanfaatannya, Penerbit

Kanisius, Januari 1992.

3. www.facebook.com/note.php?note_id=79863267482, Jengkol by Republic of Indonesia on Thursday, April 23, 2009

LENGKENG (Dimocarpus longan (Lour)

I. Pendahuluan

Lengkeng merupakan tanaman buah berbentuk pohon yang sudah dikenal di Indonesia, buahnya berbentuk bulat kecil dengan kulit buah berwarna coklat kekuning-kuningan. Daging buahnya berwarna putih dan jika sudah masak rasanya sangat manis dengan aroma harum yang khas. Tanaman lengkeng berasal dari Cina namun sekarang sudah menyebar ke daerah lainnya. Terdapat empat jenis lengkeng yang cocok ditanam dataran rendah, yaitu lengkeng pimpong, lengkeng diamond river, lengkeng kristalin dan lengkeng itoh.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

1) Curah hujan 2.000 – 2.500 mm/th dengan musim kering tidak lebih dari 4 bulan

2) Memiliki perbedaaan suhu waktu siang dan malam cukup tinggi, yaitu waktu siang suhu sekitar 20-30 derajat C dan waktu malam suhu sekitar 15-22 derajat C.

b. Ketinggian Tempat.

Lengkeng dataran rendah dapat tumbuh pada ketinggian sampai dengan 600 m dpl.

LENGKENG (Dimocarpus longan (Lour)

I. Pendahuluan

Lengkeng merupakan tanaman buah berbentuk pohon yang sudah dikenal di Indonesia, buahnya berbentuk bulat kecil dengan kulit buah berwarna coklat kekuning-kuningan. Daging buahnya berwarna putih dan jika sudah masak rasanya sangat manis dengan aroma harum yang khas. Tanaman lengkeng berasal dari Cina namun sekarang sudah menyebar ke daerah lainnya. Terdapat empat jenis lengkeng yang cocok ditanam dataran rendah, yaitu lengkeng pimpong, lengkeng diamond river, lengkeng kristalin dan lengkeng itoh.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

1) Curah hujan 2.000 – 2.500 mm/th dengan musim kering tidak lebih dari 4 bulan

2) Memiliki perbedaaan suhu waktu siang dan malam cukup tinggi, yaitu waktu siang suhu sekitar 20-30 derajat C dan waktu malam suhu sekitar 15-22 derajat C.

b. Ketinggian Tempat.

Lengkeng dataran rendah dapat tumbuh pada ketinggian sampai dengan 600 m dpl.

LENGKENG (Dimocarpus longan (Lour)

I. Pendahuluan

Lengkeng merupakan tanaman buah berbentuk pohon yang sudah dikenal di Indonesia, buahnya berbentuk bulat kecil dengan kulit buah berwarna coklat kekuning-kuningan. Daging buahnya berwarna putih dan jika sudah masak rasanya sangat manis dengan aroma harum yang khas. Tanaman lengkeng berasal dari Cina namun sekarang sudah menyebar ke daerah lainnya. Terdapat empat jenis lengkeng yang cocok ditanam dataran rendah, yaitu lengkeng pimpong, lengkeng diamond river, lengkeng kristalin dan lengkeng itoh.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

1) Curah hujan 2.000 – 2.500 mm/th dengan musim kering tidak lebih dari 4 bulan

2) Memiliki perbedaaan suhu waktu siang dan malam cukup tinggi, yaitu waktu siang suhu sekitar 20-30 derajat C dan waktu malam suhu sekitar 15-22 derajat C.

b. Ketinggian Tempat.

Lengkeng dataran rendah dapat tumbuh pada ketinggian sampai dengan 600 m dpl.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

c. Tanah.

1) Jenis tanah andosol dan latosol dengan pH 5-7 cocok untuk tanaman lengkeng dengan produktivitas sedang sampai tinggi. 2) Tanah lempung atau aluvial yang mengandung pasir dan kapur

dengan pH 4,5-6,5 cocok juga untuk tanaman lengkeng, namun tingkat produktivasnya rendah hingga sedang.

III. Budidaya a. Pengolahan Lahan.

Lahan dibersihkan dari rumput maupun tumbuhan lain yang tidak berguna kemudian diolah merata sampai kedalaman 30 cm

b. Penanaman.

1) Lubang tanam dibuat dengan ukuran 60 x 60 x 60 cm atau disesuaikan dengan jenis tanah dan kondisi lahan, dan jarak antar lubang tanam 10 x 10 m.

2) Pisahkan tanah lapisan atas (top soil) dengan tanah lapisan bawah (sub soil) dan dibiarkan selama 3 minggu.

3) Tanah galian lapisan atas sebelum dikembalikan ke dalam lubang tanam dicampur dahulu dengan pupuk organik/ kompos/kandang sebanyak 20-40 kg, kapur pertanian 4 kg, urea 0,5 kg dan SP-36 1 kg untuk tiap lubang tanam

4) Waktu tanam pada awal musim hujan, dan lubang tanam digali kembali sesuai ukuran polibag bibit, kemudian polibag disobek bagian bawahnya, tidak dari bagian pinggir agar media dalam polibag dan akar tidak goyang.

5) Tanah di sekitar bibit dipadatkan media bibit bersatu dengan media lubang tanam dan disiram secukupnya.

6) Setiap bibit yang sudah ditanam dipasang ajir setinggi 50 cm dan diikat supaya tanaman lengkeng tetap tegak. Setelah tanaman berumur 2 tahun, ajir dapat dihilangkan.

7) Di bawah tajuk tanaman diberi mulsa dari daun atau sisa tanaman yang belum kering sehingga tanah dapat tetap lembab.

c. Pemeliharaan.

1) Pengairan, pada tanaman berumur sampai 3 tahun dilakukan secara rutin 1-2 kali/hari pada pagi dan sore hari terutama pada musim kemarau. Tanaman yang berumur > 3 tahun penyiraman dilakukan 1 kali/hari pada sore hari.

2) Penyiangan, dilakukan untuk menghilangkan gulma/ rerumputan yang tumbuh di sekitar tanaman.

3) Penyulaman, dilakukan untuk mengganti tanaman yang tumbuh tidak normal, mati atau tumbuh merana. Tanaman tersebut dicabut dan diganti dengan tanaman baru yang ukuran tajuknya hampir sama.

4) Pemupukan, dilakukan 3 kali/tahun untuk tanah dengan pH normal, dan 2 kali/tahun untuk tanah dengan pH rendah karena perlu ada penambahan kapur pertanian.

Dosis rekomendasi pemupukan/pohon adalah sbb:

Umur tanaman Jenis dan dosis pupuk( kg/pohon) Urea SP-36) KCl Organik 1 tahun 0,20 0,50 0,30 20,00 2 tahun 0,40 1,00 0,40 30,00 3 tahun 0,20 0,80 0,40 40,00 4 tahun 1,00 1,00 0,40 80,00 Catatan :

a) Cara pemupukan dengan membuat parit di bawah ujung luar tajuk tanaman dengan lebar 20 cm dan kedalaman 30 cm, pupuk ditabur di parit kemudisn parit ditimbun kembali dengan tanah galian tersebut.

b) Pemupukan dapat juga dilakukan lewat daun dengan menggunakan pupuk daun sbb :

 tanaman muda, pupuk daun berkadar kalium rendah untuk, seperti Gandasil D atau Bayfolan.

 tanaman yang sudah berproduksi menggunakan pupuk daun dengan kandungan kalium agak tinggi, seperti Gandasil B. 5) Pemangkasan, dilakukan pada awal musim hujan, dan

berdasarkan pertumbuhan tanaman, terdapat 3 jenis pemangkasan yaitu :

a) Pemangkasan bentuk, dilakukan pada tanaman muda yang batang utamanya baru setinggi 160-225 cm. Pemengkasan dilakukan pada batang utama setinggi 150-175 cm dari permukaan tanah. Setelah tunas tumbuh sepanjang 10-15 cm, dipilih 3-4 tunas yang tumbuh subur, letak tidak saling

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

berdekatan dan kedudukan pada batang utama tersebar sempurna untuk dikembangkan lebih lanjut.

b) Pemangkasan pemeliharaan, pada tanaman yang belum berbuah bertujuan untuk merangsang pembungaan dan 2 minggu sebelum pamangkasan tanaman dipupuk terlebih dahulu. Pada tanaman yang sudah berbuah pemangkasan dilakukan pada cabang yang sakit/rusak, cabang air, cabang yang tumbuh liar, cabang yang tumbuh bersinggungan dengan cabang lain, cabang yang tumbuh membalik ke arah dalam dan cabang yang tumbuh ke arah bawah.

c) Pemangksan peremajaan, dilakukan pada tanaman yang sudah tua, 2 minggu sebelum pemangkasan agar dilakukan pemupukan terlebih dahulu.

Cara pemangkasan yaitu arah cabang hasil pangkasan miring ke atas, dan bekas pangkasan dioleskan parafin, ter atau cat guna menghindari pertumbuhan jamur.

6) Perangsangan pembungaan, dapat dilakukan dengan cara:

a. Pemberian zat pengatur tumbuh (ZPT) paklobutrazol, dengan konsentrasi 5 ml/l air sebanyak 5-10 l larutan/pohon tergantung ukuran kanopinya. Penyemprotan dilakukan merata ke seluruh daun lengkeng dan diulang 2 kali dengan interval waktu 2 minggu.

b. Pemupukan tambahan hara mikro, yang diberikan adalah pupuk majemuk yang mengandung hara mikro KClO3, NaClO3, Br. Pupuk tambahan disemprotkan dengan dosis 1 gr/l air sebanyak 5-10 l/pohon sesuai ukuran pohon. Disamping itu diberikan juga pupuk KNO3 2,5 kg/pohon.

c. Perundukan dahan, dilakukan dengan cara menarik cabang ke bawah dengan kawat agar horizontal. Antara kawat dan dahan/cabang yang dirundukkan diberi sabut kelapa agar kulit dahan tidak luka. Tunas air yang tumbuh dari cabang yang dirundukkan kemudian dipangkas.

d. Pemangkasan, dilakukan pada tunas air, cabang kering, cabang yang ternaungi sehingga sinar matahari dapat merata ke seluruh permukaan daun dan menembus ke tajuk tanaman.

e. Petani di Jabung dan Tumpang merangsang pembungaan dengan cara pemotongan akar tanaman untuk mengurangi penyerapan N dari tanah; pengeratan pada batang untuk menghambat pengangkutan karbohidrat dan pemangkasan daun agar tidak terjadi penimbunan karbohidrat.

d. Hama dan Penyakit. 1. Hama.

a. Tupai, menyerang buah yang sudah matang dan merontokkan buah yang belum matang.

Pengendalian dengan pembrongsongan menggunakan kantong plastik.

b. Kelelawar, menyerang buah yang sudah matang dan merontokkan buah yang belum matang.

Pengendalian dengan pembrongsongan menggunakan kantong plastik.

c. Tikus, menyerang buah yang sudah matang dan merontokkan buah yang belum matang.

Pengendalian dengan mengecat batang utama atau melindunginya dengan seng yang dicat oli bekas setinggi 1,5 m, sehingga tikus tidak dapat memanjat pohon.

d. Penggerek batang, menyerang batang terutama batang utama dengan membuat lubang dan masuk kedalam batang pohon sehingga menyebabkan daun kering dan rontok.

Pengendalian dengan aplikasi insektisida sistemik karbofuran atau fipronil atau gabungan keduanya, dengan cara memasukkan insektisida karbofuran (sistemik, butiran) ke dalam tanah melalui pipa pralon berdiameter 1 inchi. Pohon dengan diameter 8-12 cm dipasang 2 pipa; pohon berdiameter 13-15 cm dipasang 3 pipa dan pohon berdiameter > 15 cm dipasang 4 pipa, setiap pipa dimasukkan 0,5 kg karbofuran kemudian diisi 1 liter air kemudian ditutup dengan sabut kelapa. Pengendalian dapat dilakukan dengan disemprot ke daun menggunakan insektisida fipronil konsentrasi 2 ml/l air. Pohon ukuran kecil disemprot 3,5 liter larutan fipronil, pohon ukuran sedang disemprot 7 liter dan pohon ukuran besar

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

disemprot 14 liter larutan tersebut. Penyemprotan dilakukan 2 kali dengan interval waktu 2 minggu.

Pencegahan dengan cara menyemprotkan insektisida pada batang yang sehat, terutama batang utama/pokok.

2. Penyakit.

a. Jamur upas, bagian yang diserang ranting tanaman.

Gejala : terdapat miselium jamur seperti sutera/sarang laba2 pada ranting kemudian membentuk kerak warna putih akhirnya menjadi warna merah. Pengendalian dengan memotong dahan dan membakarnya.

Pencegahan dengan menjaga kelembaban tajuk, kebersihan tanaman dan lingkungan di sekitar tanaman.

b. Akar putih.

Gejala : daun menguning kemudian layu selanjutnya seluruh tanaman gundul dan tanaman mati.

Pengendalian melakukan eradikasi tanaman yang sakit dengan cara membongkar tanaman sampai ke akarnya kemudian dibakar. Pencegahan dengan menjaga kelembaban akar, kebersihan tanaman dan lingkungan di sekitar tanaman.

c. Akar hitam.

Gejala awal terlihat adanya miselium tipis berwarna hitam pada permukaan akar, kemudian menjalar ke seluruh bagian lain. Pengendalian melakukan eradikasi tanaman yang sakit dengan cara membongkar tanaman sampai ke akarnya kemudian dibakar. Pencegahan dengan menjaga kelembaban sekitar tajuk dan akar, menjaga kebersihan tanaman dan kebersihan lingkungan di sekitar tanaman. Penanaman kembali dilakukan setelah lahan diberokan selama > 1 tahun.

d. Bercak daun.

Gejala : timbulnya bercak-bercak coklat pada bagian tepi daun yang terinfeksi pada pusat bercak terdapat bintik hitam halus. Pengendalian dengan memotong daun yang sakit ringan atau memangkas ranting yang sakit berat dan melakukan penyemprotan dengan fungisida pada tanaman yang sakit ringan.

Pencegahan dengan menjaga kelembaban tajuk supaya tidak terlalu lembab, menjaga kebersihan tanaman dan kebersihan lingkungan di sekitar tanaman.

e. Bercak gloeosporium.

Gejala : jika menyerang daun muda maka ujung daun bercak-bercak warna coklat kemudian meluas ke sepanjang tulang daun; jika menyerang daun tua bercak-bercak pada daun dan tepi daun berwarna kuning akhirnya daun terbelah dua sepanjang tulang daun. Penyakit ini juga menyerang pasca panen buah pada waktu pengangkutan atau penyimpanan, dengan gejala terbentuk miselium putih pada tangkai buah yang matang kemudian kulit buah bercak-bercak warna coklat akhirnya buah busuk.

Pengendalian dengan pemangkasan bagian tanaman yang sakit dan dilakukan penyemprotan fungisida.

Pencegahan dengan menjaga kelembaban tajuk, menjaga kebersihan tanaman, kebersihan buah pada proses pasca panen dan kebersihan lingkungan di sekitar tanaman.

f. Busuk akar, kanker akar dan kanker batang.

Pengendalian penyakit akar dengan mencabut tanaman yang akarnya sakit kemudian membakarnya.

Pengendalian pada tanaman yang terkena penyakit jamur dengan memangkas ranting tanaman yang sakit berat dan menyemprotkan fungisida pada tanaman yang sakit ringan. Pencegahan dengan menjaga kelembaban sekitar tajuk dan akar supaya tidak terlalu lembab, menjaga kebersihan tanaman dan kebersihan lingkungan di sekitar tanaman.

IV. Daftar Pustaka

1. Direktorat Budidaya Tanaman Buah, Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, 2009. Budidaya Lengkeng.

2. Pasar Tani, 2010. Budidaya Lengkeng.

3. Yulianto. Inovasi Teknologi Budidaya Kelengkeng pada Lahan Kering Dataran Rendah Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah. J. Agrisains, April 2008.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

MANGGA (Mangifera, spp)

I. Pendahuluan

Mangga merupakan tanaman buah tahunan berupa pohon yang berasal dari Negara India. Tanaman ini kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Indonesia. Musim panen mangga di Indonesia berbeda dengan negara lain sehingga mangga produksi Indonesia berpeluang untuk diekspor. Terdapat 2 varietas mangga Indonesia yang diminati pasar internasional yaitu mangga varietas Arumanis 143 dan Gedong Gincu.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Tanaman mangga cocok untuk hidup di daerah dengan musim kering lebih dari 3 bulan (4-7 bulan) dan curah hujan 750-2.000 mm/th. Masa kering diperlukan sebelum dan sewaktu berbunga. Jika ditanam di daerah basah, tanaman mengalami banyak serangan hama dan penyakit serta gugur bunga/buah jika bunga muncul pada saat hujan, serta rasa buah agak masam.

b. Ketinggian Tempat.

Mangga yang ditanam didataran rendah dan menengah dengan ketinggian 0-500 m dpl menghasilkan buah yang lebih bermutu dan jumlahnya lebih banyak dari pada di dataran tinggi.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

MANGGA (Mangifera, spp)

I. Pendahuluan

Mangga merupakan tanaman buah tahunan berupa pohon yang berasal dari Negara India. Tanaman ini kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Indonesia. Musim panen mangga di Indonesia berbeda dengan negara lain sehingga mangga produksi Indonesia berpeluang untuk diekspor. Terdapat 2 varietas mangga Indonesia yang diminati pasar internasional yaitu mangga varietas Arumanis 143 dan Gedong Gincu.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Tanaman mangga cocok untuk hidup di daerah dengan musim kering lebih dari 3 bulan (4-7 bulan) dan curah hujan 750-2.000 mm/th. Masa kering diperlukan sebelum dan sewaktu berbunga. Jika ditanam di daerah basah, tanaman mengalami banyak serangan hama dan penyakit serta gugur bunga/buah jika bunga muncul pada saat hujan, serta rasa buah agak masam.

b. Ketinggian Tempat.

Mangga yang ditanam didataran rendah dan menengah dengan ketinggian 0-500 m dpl menghasilkan buah yang lebih bermutu dan jumlahnya lebih banyak dari pada di dataran tinggi.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

MANGGA (Mangifera, spp)

I. Pendahuluan

Mangga merupakan tanaman buah tahunan berupa pohon yang berasal dari Negara India. Tanaman ini kemudian menyebar ke wilayah Asia Tenggara termasuk Malaysia dan Indonesia. Musim panen mangga di Indonesia berbeda dengan negara lain sehingga mangga produksi Indonesia berpeluang untuk diekspor. Terdapat 2 varietas mangga Indonesia yang diminati pasar internasional yaitu mangga varietas Arumanis 143 dan Gedong Gincu.

II. Syarat Tumbuh a. Iklim.

Tanaman mangga cocok untuk hidup di daerah dengan musim kering lebih dari 3 bulan (4-7 bulan) dan curah hujan 750-2.000 mm/th. Masa kering diperlukan sebelum dan sewaktu berbunga. Jika ditanam di daerah basah, tanaman mengalami banyak serangan hama dan penyakit serta gugur bunga/buah jika bunga muncul pada saat hujan, serta rasa buah agak masam.

b. Ketinggian Tempat.

Mangga yang ditanam didataran rendah dan menengah dengan ketinggian 0-500 m dpl menghasilkan buah yang lebih bermutu dan jumlahnya lebih banyak dari pada di dataran tinggi.

c. Tanah.

Tanah yang baik untuk budidaya mangga adalah gembur mengandung pasir dan lempung dalam jumlah yang seimbang, dengan. Keasaman tanah (pH tanah) yang cocok adalah 5.5-7.5 dan jika pH < 5,5 sebaiknya dikapur dengan 97olomite.

II. Budidaya a. Pengolahan Lahan.

1) Membongkar tanaman yang tidak diperlukan dan mematikan alang-alang serta menghilangkan rumput-rumput liar dan perdu dari areal tanam.

2) Membajak tanah untuk menghilangkan bongkahan tanah yang terlalu besar.

b. Penanaman.

1) Jarak tanam 10 x 10 M untuk tanah yang subur, sedangkan tanah kurang subur jarak tanam 8x8 m.

2) Lubang tanam dengan ukuran 70 x 70 x 70 cm untuk tanah yang subur atau 100 x 100 x 100 cm untuk tanah yang kurang subur. 3) Tanah galian bagian atas (top soil) dipisahkan dengan tanah

galian bagian bawah dan dibiarkan selama 2-3 minggu

4) Lubang tanam ditutup kembali, dengan tanah galian atas lebih dahulu dimasukkan setelah dicampur dengan pupuk organik/pupuk kompos sebanyak + 30 kg, Trichoderma spp atau

Gliocladium sebanyak 100 gr, pupuk SP-36 sebanyak 200 gr dan

dolomit 1 kg.

5) Penanaman dilakukan pada awal musim hujan, bibit ditanam sedalam + 5 cm di atas pangkal batang atau + 25 cm di bawah sambungan okulasi

6) Diberi ajir untuk mengikat tanaman agar tumbuh tegak lurus ke atas dan diberi naungan dari jerami, rumput kering atau anyaman bambu untuk menghindari sengatan matahari, curah hujan yang lebat.

7) Guna melindungi tanaman mangga dari hembusan angin yang kuat dapat juga ditanam pohon pelindung, dan jenis yang biasa dipakai adalah pohon asam atau trembesi.

DITJEN BINA PEMBANGUNAN DAERAH KEMENTERIAN DALAM NEGERI

8) Tanah di sekitar tanaman sebaiknya ditutup rumput/jerami kering sebagai mulsa, agar kelembaban tanah dapat stabil.

c. Pemeliharaan

1) Penyiangan, rumput/gulma yang telah dicabut dapat dibenamkan atau dibuang ke tempat lain agar tidak tumbuh lagi. Penyiangan

Dalam dokumen Pedoman Budidaya Tanaman Buah-buahan (Halaman 93-193)

Dokumen terkait