• Tidak ada hasil yang ditemukan

Budidaya Tanaman

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 86-114)

Cakupan yang dibahas dalam anak sub bab ini menyangkut tentang segala hal yang berkaitan dengan ciri khas poktan organik dalam penanaman (termasuk pengaturan jenis tanaman yang dibudidaya) dan pemeliharaan tanaman. Budidaya

tanaman berkaitan erat dengan usaha petani dalam memanfaatkan dan mengelola berbagai sumber daya yang tersedia di lapangan produksi dengan tujuan untuk memperoleh hasil yang optimal.

Penentuan jenis tanaman yang dibudidayakan oleh Poktan Tranggulasi tergantung dari beberapa pertimbangan petani. Pernyataan dari Sumadi akan memperjelas hal tersebut:

“Pertimbangan saya nanam brokoli dan buncis karena prosesnya cepat. Kalau buncis itu dua bulan sudah panen. Itu tiap bulan sudah petik paling tidak dua kali. Brokoli juga dua bulan. Kalau selada itu cepat, tapi saya tidak pernah nanam selada, karena sudah banyak petani yang tanam.”

Berdasarkan pernyataan Sumadi, maka dapat diketahui bahwa salah satu pertimbangan petani dalam menentukan jenis tanaman yang dibudidaya adalah umur panen. Dengan umur panen yang relatif singkat, petani tertarik untuk membudidayakannya. Di samping umur panen, jumlah petani yang membudidayakan tanaman tertentu juga menjadi pertimbangan dalam memilih komoditas yang ditanam. Jumlah petani yang membudidayakan tanaman tertentu berkaitan erat dengan permintaan pasar. Hal ini diperjelas melalui pernyataan Syaefuddin sebagai berikut:

“Yang ditanam nanti bisa masuk ke kelompok, tergantung kelompok itu membutuhkan sayur apa. Itu yang menentukan jenis tanaman yang kita tanam, tergantung permintaan kelompok. Kalau saya memilih tanaman yang dibudidaya itu atas kemauan saya sendiri, tetapi dalam kelompok itu ada beberapa komoditas yang diminta dari supermarket atau dari pasar lain, komoditas itulah yang kita tanam. Nanti sewaktu ada permintaan, tanaman sudah dipanen, sehingga kita tidak sampai mengecewakan pasar. Maka dari itu saya menanam berbagai jenis tanaman, itu panennya bisa bergilir.”

Walau begitu, sebelumnya poktan ini sudah pernah menerapkan pembagian komoditas tanaman yang dibudidayakan. Hal ini selaras dengan yang diutarakan oleh Syaefuddin berikut ini:

“Padahal yang laku buncis perancis, harga brokolinya di pasar lokal sedang turun. Pesanan dari kelompok sedikit, akhirnya banyak yang dijual ke pasar lokal. Tapi petani yang nanam buncis perancis bisa masuk ke kelompok semua, sehingga terjadi kecemburuan antar temen. Maka dari itu, sekarang kita siasati nanam tanaman berdasarkan keinginan sendiri. Dulu penyediaan bibitnya diusahakan dari kelompok.Waktu penanaman sudah dijadwalkan dari kelompok. Penanaman jenis tanaman sudah diatur, tapi jadi kecemburuan seperti itu. Maka dari itu, sekarang petani nanamnya atas kemauan sendiri, nanti kalau ada pesanan tanaman tertentu bisa terserap, kalau tidak kita jual ke pasar lokal. Kadang kita hasil panennya bagus, tapi permintaan dari gudang kelompok itu.”

Dari pernyataan Syaefuddin, maka dapat diketahui bahwa kebijakan pembagian jenis tanaman yang dibudidaya sudah tidak diberlakukan oleh poktan karena adanya kesenjangan permintaan pasar akan sayuran. Maksudnya, ketika petani diminta untuk menanam komoditas tertentu, sedangkan permintaan akan tanaman tersebut terbatas, maka sebagian besar produk yang dihasilkan tidak terserap ke gudang poktan. Dengan adanya persoalan ini, penentuan jenis tanaman yang dibudidayakan oleh petani didasarkan atas kemauan sendiri, tetapi tetap berpatok pada permintaan dari pasar. Hal ini dipertajam melalui pernyataan Wikan Mujiono berikut ini:

“Pengaturan pola tanam sudah lama tidak jalan. Masalahnya pikiran dari masing-masing anggota itu tidak pasti. Misalkan saya diminta nanam sawi sendok, saya tidak mau. Lalu, diminta nanam tomat saya tidak bisa. Istilahnya dari petani punya prediksi sendiri mengenai hasilnya. Yang kompak nanam tanaman berdasar aturan kelompok hanya petani-petani yang menangani pemasaran. Mereka berusaha untuk nanam sedikit-sedikit, misalnya dalam satu lahan ada beberapa tanaman. Tapi sebagian besar anggota nanamnya bebas, tidak diatur. Yang saya masukkan ke kelompok hanya daun bawang dan daun seledri saja. Saya tanami sedikit-sedikit mas. Kalau saya tanami banyak terus anggota yang lain gimana? Pertimbangan saya nanam daun bawang dan daun seledri itu karena panennya bisa sedikit-sedikit atau bertahap mas. Misalkan kelompok mintanya 10 kilo, saya bisa panen hanya 10 kilo, kalau 20 kilo yang saya panen hanya 20 kilo, gitu kalau daun seledri. Kalau tomat tidak bisa dipanen lima kilo dulu, terus besok lima kilo lagi, karena kalau sudah matang harus segera dipanen…. Kelompok tani sekarang minta tanaman bangsanya buncis perancis, sawi sendok, yang kecil-kecil seperti itu, kalau saya kurang suka. Sekali panen atau satu musim tanam hanya satu sampai dua kwintal. Kalau tanam kubis bisa panen satu sampai dua ton.”

Berdasarkan pernyataan Wikan Mujiono, maka semakin jelas bahwa petani memiliki motif yang berbeda-beda dalam menentukan jenis tanaman yang dibudidaya. Jika dicermati secara seksama, anggota poktan tertentu masih memperhatikan nasib anggota poktan yang lain supaya produk yang dihasilkannya (anggota lain) dapat terjual ke gudang poktan. Hal tersebut terbukti dari teknik yang dilakukan oleh Wikan Mujiono dengan menanam sayuran tertentu dalam jumlah yang sedikit, sehingga menciptakan peluang bagi anggota poktan lain untuk menanam sayuran yang sama dan bisa terjual ke gudang poktan. Kemudian, pola panen juga menentukan kemauan petani dalam membudidayakan komoditas tertentu, misalnya tanaman seledri dan daun bawang yang proses matangnya relatif lambat, sehingga memungkinkan untuk menunda waktu panen. Dengan begitu, pemanenan tanaman tersebut bisa disesuaikan dengan waktu pengadaan barang di gudang. Berbeda dengan tanaman tomat yang proses kematangannya

lebih cepat, sehingga petani dituntut untuk disiplin dalam melakukan pemananen. Pertimbangan lainnya adalah sebagian petani enggan untuk menanam sayuran yang hasil panennya tergolong memiliki berat yang rendah (dalam satuan kg atau kwintal), seperti: buncis perancis, sawi sendok, dan lain-lain. Mereka lebih berminat membudidayakan tanaman yang hasil satuannya memiliki bobot tinggi, seperti: kubis, tomat, dan sebagainya. Kemudian jika pernyataan dari Wikan Mujiono dicermati, maka dapat disimpulkan bahwa pengurus (khususnya yang tergabung dalam pengelola pemasaran) masih menerapkan pembagian jenis tanaman yang dibudidayakan. Di samping itu, menurut Iswanto petani di Indonesia sebagian besar berstatus ganda, yakni: sebagai produsen dan sekaligus sebagai konsumen. Berikut pernyataannya:

“Faktanya di lapangan, petani itu tidak semata-mata menanam jenis tanaman karena produksi yang tinggi. Karena petani di Indonesia itu, di samping dia adalah produsen, dia juga sekaligus sebagai konsumen. Berbeda dengan di negara-negara maju, petani jelas sebagai pengusaha, artinya ia akan selalu mengejar keuntungan. Kalau di negara kita petani itu masih berfungsi sebagai produsen sekaligus konsumen, mereka tidak akan mungkin menanam tanaman yang mereka sendiri tidak suka. Tapi kalau di negara maju dia mau suka makan atau tidak, selama barang ini nanti bisa menjadi uang dan menguntungkan, akan mereka usahakan.”

Petani yang bermotif subsistensi semacam itu yang menyebabkan pengurus poktan mengalami kesulitan dalam mengatur pembagian jenis tanaman yang dibudidayakan oleh individu poktannya. Pada dasarnya, yang menyebabkan kesulitan poktan untuk mengatur pembagian jenis tanaman yang dibudidaya oleh masing-masing petani diungkapkan oleh Bernadus Agus Prabowo sebagai berikut:

“Seharusnya ada pembagian tugas di kelompok mengenai komoditas yang ditanam. Tapi karakter atau kultur petani itu kadang-kadang membuat sulit, karena mereka selalu mengusahakan tanaman yang penanganannya mudah dan tidak beresiko.”

Menanggapi pernyataan Bernadus Agus Prabowo, maka dapat disimpulkan bahwa mayoritas petani menentukan jenis tanaman yang dibudidaya dengan pertimbangan kemudahan penanganan dan minimalnya jumlah risiko pada saat membudidayakan tanaman yang bersangkutan. Oleh karena itu, demi terpenuhinya permintaan pasar modern, pengurus poktan berinisiatif membentuk kelompok kecil untuk melakukan pembagian tugas. Hal tersebut terbukti melalui pernyataan Wikan Mujiono berikut ini:

“Yang masih menerapkan pengaturan jenis tanaman itu hanya petani-petani yang mengurusi pasar modern. Kalau sudah ada permintaan, mereka saling koordinasi untuk pengadaan barangnya.”

Meski begitu, ada sebagian anggota yang masih mentaati kebijakan pembagian komoditas sayuran untuk melakukan budidaya. Demikian pernyataan Supoyo:

“Pembagian tanaman saya taati, saya biasanya menanam selada, bit, dan spinach. Saya selalu ajeg nanam itu. Ada anggota yang tanam brokoli, ajeg tanam brokoli terus. Terkadang ada pergantian. Dengan begitu bisa menjaga kemampuan kelompok untuk menuhi permintaan.”

Kemudian, berdasarkan hasil penelitian dapat diketahui bahwa pola tanam yang umumnya diterapkan oleh poktan adalah tumpang sari. Hal ini terbukti berdasarkan pernyataan dari Supoyo sebagai berikut:

“Jadinya tumpang sari itu satu bedeng ada selada, ada brokoli, bit, jarak tanamnya masing-masing 30 cm. Empat jenis tanaman juga bisa, dengan kubis, kubisnya ditanam di tengah-tengah, kalau kubis daunnya lebar mas. Kalau kubis umur panennya 3 bulan mas. Kalau bangsanya selada, bit itu 40 hari sudah panen. Selada dan bit panen, kubisnya baru tumbuh…….. Ditumpang sari ini fungsinya untuk jaga umur mas, kalau selada umurnya pendek, 40 hari sudah panen, spinach juga sama. Pakai mulsa, mulsa fungsinya untuk mencegah pertumbuhan rumput, jadinya kami tidak kerepotan untuk menyiangi mas. Jarak tanamnya spinach dan selada selang 30 hari, itu dibuat selang-seling, selada-spinach-selada.”

Berdasarkan pernyataan Supoyo, maka dapat diketahui bahwa pola tanam tumpang sari memiliki beberapa poin penting yang harus diperhatikan. Penentuan jarak tanam dan waktu penanaman sangat berpengaruh terhadap efektifitas dan efisiensi dari pola tanam ini. Jarak tanam antar kedua komoditi yang berbeda (misalnya: spinach dan selada) diatur rapat dengan jarak 30 x 30 cm. Jarak tanam yang dekat sangat dianjurkan. Dengan tajuk yang rapat menutupi permukaan tanah dari terik matahari, maka evaporasi diperkecil (Sutanto, 2002:125). Sedangkan, perhatian petani terhadap jarak waktu penanaman antara tanaman satu dengan tanaman lain yang dibudidayakan bertujuan untuk menciptakan kesinambungan produksi (kegiatan panen). Hal ini terjadi karena jarak waktu panen antar tanaman yang dibudiayakan relatif dekat, sehingga kesinambungan pendapatan petani pun dapat tercipta. Akan tetapi hal tersebut sangat berkaitan erat dengan kemampuan petani dalam mengatur waktu tanam. Jika tidak memperhatikan jarak waktu tanam antar tanaman, maka kesinambungan pemanenannya tidak optimal, selain itu dapat mengganggu pertumbuhan dan perkembangan tanaman. Sarana yang digunakan untuk penyiapan lahan adalah

mulsa. Mulsa bermanfaat untuk mencegah pertumbuhan gulma, sehingga tenaga untuk melakukan penyiangan dapat terminimalisir. Selain mengurangi pertumbuhan gulma, menurut Reijntjes dkk (1999:189), pemulsaan merupakan teknik yang penting untuk memperbaiki iklim mikro tanah; meningkatkan kehidupan, struktur, dan kesuburan tanah; menjaga kelembapan tanah; mencegah kerusakan akibat dampak radiasi sinar matahari dan curah hujan (pengendalian erosi); dan mengurangi kebutuhan akan pengolahan tanah. Beralih kembali ke pola tanam tumpang sari, Suparman mempertajam bahwa pola tanam tumpang sari bermanfaat untuk menciptakan kesinambungan pemanenan atau produksi, yang kemudian berimplikasi pada kesinambungan pendapatan. Berikut pernyataannya:

“Itu saya campur tomat dan sawi putih bersamaan di satu tempat, tumpang sari. Keuntungannya, nanam tomat itu tiga bulan baru panen, sawi putih 40 hari mulai panen, jadinya bisa untuk keberlanjutan modal. Kalau tidak ditumpangsari, modalnya bisa terputus.”

Dengan keadaan seperti itu, ketersediaan modal petani untuk melakukan UT juga terjaga. Selain itu, kegagalan salah satu tanaman dapat dikompensasikan oleh tanaman yang lain, sehingga risiko kegagalan panen dapat ditekan seminimal mungkin. Kemudian, dengan pola tanam yang seperti itu, produktivitas lahan per satuan luas lebih besar daripada pertanaman tunggal, jika ditinjau dari hasil panen untuk setiap satuan luas (Sutanto, 2002:131). Hal ini dipertajam oleh Sumar sebagai berikut:

“Tomat biasanya ditumpangsari dengan kubis, brokoli, terakhir ditanam tomat. Jadi nanam kubis, umur ½ bulan, ditanami tomat. Tidak ditanam dalam waktu sama, kalau bersamaan, tomatnya tersaingi. Masalahnya kalau tomat itu lebat, tomat itu perlu ruang longgar. Jadi kubis sudah habis dipanen, tomat sudah berumur dua bulan. Kalau pakai mulsa itu hemat tenaga, rumputnya tidak terlalu banyak, kalau kebanyakan gulma tanamannya jadi tidak bagus, karena unsur haranya terserap dengan gulmanya.”

Berdasarkan pernyataan Sumar, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pola tanam tumpang sari perlu memperhatikan jenis tanaman yang dibudidaya. Perhatian petani terhadap jenis tanaman yang dibudidaya pada pola tanam tumpang sari bertujuan untuk menciptakan efisiensi dalam memanfaatkan air, sinar, dan hara yang tersedia (Sutanto, 2002:131). Sebagai contoh tumpang sari antara tanaman kubis dan tomat. Tanaman kubis ditanam terlebih dulu, kemudian tanaman tomat menyusul. Perlakuan semacam ini dilakukan mengingat laju pertumbuhan kedua

tanaman tersebut berbeda. Penanaman harus memperhitungkan kondisi tanaman dan waktu yang tersedia, termasuk ruang yang digunakan masing-masing jenis yang ditanam, kompetisi terhadap sinar, kelembapan, dan hara tanaman. Struktur tanaman harus memperhitungkan juga perspektif horizontal dan vertikal bentuk kanopi di atas tanah dan perakaran tanaman (Sutanto, 2002:122). Sumar memperjelas manfaat dari pemulsaan, yaitu untuk mencegah pertumbuhan gulma dan mengurangi tenaga untuk penyiangan, serta mencegah terjadinya kompetisi penyerapan unsur hara antara tanaman dengan gulma. Kaitan yang erat antara penentuan jenis tanaman yang ditumpang-sari dengan efektifitas dan efisiensi pemanfaatan sinar matahari turut diutarakan oleh Syaefuddin sebagai berikut:

“Kalau habis panen, saya menanam tanaman yang tidak sejenis. Misalnya brokoli habis, kita cabut. Bekas brokolinya itu tidak ditanam brokoli lagi, tapi ditanam jenis yang lain. Waktu tanamnya itu susul-susulan……. Kalau kurang ½ bulan sudah siap panen, sudah diisi yang sebelahnya lagi, kalau yang panennya habis, yang sebelahnya sudah tumbuh…… Itu mengatur supaya tidak terlalu kepanasan, kalau musim kemarau ada naungannya. Jarak tanam antar satu sama lain 30 cm x 30 cm, tapi itu tanamnya bukan satu komoditas, tetapi dua komoditas. Kalau jarak tanam satu komoditas 60 cm. Kalau dua komoditas, misalnya brokoli dan sawi putih jaraknya 30 cm.”

Berdasarkan pernyataan dari Syaefuddin, maka dapat diketahui bahwa sebagian individu Poktan Tranggulasi menerapkan sistem penanaman susul-susulan atau biasa dikenal dengan istilah sistem pergiliran tanaman. Sistem pergiliran tanaman perlu memperhatikan beberapa hal seperti yang sudah dibahas sebelumnya (jarak waktu tanam, jarak tanam, dan komoditas yang ditanam). Hal tersebut salah satunya bertujuan untuk memenuhi kebutuhan tanaman yang dibudidaya terhadap intensitas sinar matahari, yang selanjutnya juga berpengaruh terhadap pengaturan tingkat kelembapan. Berdasarkan pernyataan itu, kreativitas petani terlihat dari adanya usaha untuk mengkombinasikan komoditas sayuran yang membutuhkan intensitas sinar matahari yang tinggi dan komoditas yang hanya membutuhkan intensitas sinar matahari yang rendah atau sedang. Keuntungan lain dengan pola bergilir diutarakan oleh Suparyono sebagai berikut:

“Kubis ditumpangsari dengan wortel, kalau kubis sudah berumur 25 hari atau satu bulan, ditaburi benih wortel. Jadi kubis sudah hampir panen, wortel baru mau tumbuh. Sehabis kubis dipanen, ditanami sawi putih. Pada waktu wortel dipanen, sudah membalik tanah.”

Mencermati pernyataan Suparyono, maka dapat diketahui manfaat tumpang sari antara tanaman kubis dan wortel, kemudian disusul dengan penanaman tanaman sawi putih. Ketika tanaman kubis sudah dipanen, tanaman wortel sudah hampir

siap panen. Lubang tanam bekas kubis, diisi dengan tanaman sawi putih. Ketika wortel sudah siap panen, maka tanah yang menjadi lubang tanam dari wortel secara otomatis sudah terolah dan dapat memberi manfaat sebagai sirkulasi udara (aerasi) yang kemudian berguna untuk menunjang pertumbuhan dan perkembangan tanaman sawi putih. Mencermati pembahasan-pembahasan sebelumnya, maka dapat disimpulkan bahwa pola tanam tumpang sari bermanfaat untuk membangun interaksi. Setiap tanaman memiliki caranya sendiri untuk berkembang dalam interaksi dengan lingkungan, yakni memiliki kebutuhan khas untuk faktor-faktor pertumbuhan, yang terwujud dalam ruang sebagai morfologinya. Perbedaan-perbedaan morfologi antar tanaman dapat digunakan petani untuk mendapatkan suatu dampak yang dikehendaki terhadap interaksi antara komponen-komponen dengan lingkungan. Bukan hanya morfologi di atas permukaan tanah, namun juga sistem perakaran (Reijntjes dkk, 1999:89).

Selanjutnya, ditinjau dari segi perawatan tanaman, poktan sayuran organik juga memiliki keunikan tersendiri. Implementasi perawatan tanaman salah satunya ditujukan untuk meminimalkan serangan hama dan penyakit terhadap tanaman budidaya. Teknis pengendalian hama dan penyakit digambarkan melalui pernyataan Sumar berikut ini:

“Mengamati perkembangannya itu gimana, ada ulatnya atau tidak? Kalau ada ulatnya diambil pakai tangan. Kalau musim kemarau gini, hamanya banyak, tapi kalau musim penghujan penyakitnya yang banyak, hamanya berkurang….. Insektisidanya pakai CP. Penyemprotan pestisida biasanya dilakukan pagi hari.”

Berdasarkan pernyataan Sumar, maka dapat diketahui bahwa umumnya serangga yang tergolong sebagai hama muncul pada saat musim kemarau, sedangkan serangan patogen penyakit banyak terjadi pada musim penghujan. Menurut Heddy (2010:98), suhu tinggi (musim kemarau) dapat membuat tanaman layu dan menjadikannya lebih “enak” bagi serangga. Sedangkan, perkembangan serangan patogen penyakit berjalan dengan pesat pada saat musim penghujan, dikarenakan oleh adanya hubungan yang erat antara perkecambahan spora (patogen fungi) dengan kelembapan. Kelembapan yang terlalu tinggi dapat menyebabkan pertumbuhan sukulentis pada tanaman dan ini dapat mengurangi ketahanan terhadap parasit (Semangun, 2006:246). Pengendalian hama dilakukan secara manual (menggunakan tangan) dan kimiawi (menggunakan pestisida yang dikenal

dengan nama CP). Pengendalian secara kimia dilakukan pada pagi hari. Kegiatan pengendalian hama atau penyakit tanaman tidak selalu menggunakan teknologi yang diproduksi oleh poktan melalui eksperimen. Hal tersebut didukung oleh kegiatan uji coba mandiri yang dilakukan bersamaan pada saat petani melaksanakan kegiatan pengendalian hama atau penyakit tanaman. Pernyataan dari Syaefuddin akan menjelaskan hal tersebut:

“Dulu pernah saya buat pestisida tertentu salah, buat pestisida tertentu salah. Saya buat pestisida, kalau ulat bisa mati, tapi belalang tidak bisa mati, itu dikasih apa lagi?... Terus kutu kebul, yang putih itu, itu sulit penanganannya. Dikasih yang bau-bau, dedaunan yang bau tidak bisa. Saya punya siasat, saya pakai sari manis, itu bisa buat campuran roti, untuk pemanis. Itu saya semprot pakai itu, kutu kebulnya bisa hilang.”

Berdasarkan pernyataan Syaefuddin, maka dapat diketahui bahwa kegiatan pemeliharaan tanaman dapat dijadikan ajang untuk menguji-coba dan menilai efektifitas dari suatu teknologi. Upaya petani untuk melakukan uji coba teknologi biasanya didasarkan atas adanya permasalahan di lapangan UT. Sebagian petani menggunakan teknologi yang berbeda untuk membuat dan mengaplikasikan pestisida alami. Hal tersebut diutarakan oleh Ngatemin berikut ini:

“Sekarang mau membasmi hama, petani di sini cuma pakai apa? Itu cuma pakai daun suren, kliko pinah, dan cabai, itu semua dicampur dan direbus. Bisa buat membasmi hama. Dicoba-coba terus bisa……. Itu uji cobanya secara pribadi. Ada anggota kelompok yang menanggulangi hama cuma pakai peresan tembakau mas.”

Berdasarkan pernyataan Ngatemin, maka dapat diketahui bahwa petani di Poktan Tranggulasi memanfaatkan sumber daya lokal (seperti: daun suren, cabai, dan tembakau) dan daya kreativitasnya untuk membuat pestisida alami. Berangkat dari hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa individu petani tidak hanya mengandalkan produk pestisida yang dihasilkan oleh Poktan Tranggulasi, akan tetapi dengan daya kreativitasnya, petani mampu menemukenali sumber daya lokal yang potensial, membuat atau mengolah, menghasilkan, dan mengaplikasikan pestisida alami. Kreativitas tersebut terbangun dari adanya kemauan petani untuk belajar dari lingkungan sekitarnya. Hal tersebut dijelaskan melalui pernyataan Rahmat berikut ini:

“Mana yang mudah didapat dari lingkungan kita, itu bisa kita ekstrak maupun kita suling, bisa kita gunakan sebagai pestisida alami. Cuma kalau menggunakan itu tidak seperti menggunakan pestisida kimia, kalau pestisida kimia sifatnya kan membunuh sekali dan digunakan petani biasanya kalau sudah ada serangan. Kalau yang organik tidak bisa, harus digunakan sejak awal, tujuannya untuk menjaga tanaman itu agar sehat, supaya tidak terkena penyakit dan hama. Kalau sudah terlanjur kena serangan hama, pestisida

organik tidak bisa diterapkan, harus pakai pestisida kimia. Jadi organik itu tidak seperti anorganik, serba instan. Kalau organik itu biasanya orang bilang rumit, jadi sulitnya di situ. Tenaga yang dikerahkan banyak, karena paling tidak harus 10 hari sekali kita semprotkan pakai itu. Sifatnya lebih kepada mengusir hama.”

Dari pernyataan tersebut, dapat disimpulkan bahwa sumber daya yang tersedia di sekitar lingkungan dapat diolah menjadi saprotan, diantaranya melalui proses pengekstrakan atau penyulingan. Dari segi pengendalian hama dan penyakit, perspektif UT organik lebih menekankan atau mengutamakan upaya preventif (pencegahan). Di samping itu, pengendalian hama dan penyakit dengan sistem organik bersifat lebih intensif, dibandingkan dengan sistem yang anorganik.

Selanjutnya, perlakuan lain yang dilakukan oleh petani untuk merawat tanamannya adalah pemupukan. Pernyataan dari Sumar akan memberikan gambaran tentang teknik pemupukan yang diimplementasikan oleh Poktan Tranggulasi:

“Saya nanam tomat, pakai pupuk cair power itu. Kalau pupuk padat bahannya dari kotoran sapi. Power fungsinya yang utama untuk penyubur dan mempercepat pertumbuhan…. Untuk pemeliharaan yang penting diperkuat pupuk cairnya. Bisa juga

Dalam dokumen IV. HASIL DAN PEMBAHASAN (Halaman 86-114)