• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bukan putusan akhir

Dalam dokumen Hukum Acara Pidana 004 (Halaman 29-43)

Merupakan putusan yang tidak pokok perkaranya, maka tidak memutus mengenai pokok perkaranya.

Hukuman yang bukan merupakan putusan akhir : 1. Putusan yang sah tidak dapat diterima.

Misalnya : untuk tindak pidana dengan delik aduan. 2. Tuntutan yang dakwakannya batal demi hukum

Misalnya : rumusan dakwaan tidak jelas.

3. Putusan yang menyatakan bahwa hakim/ pengadilan tidak berwenang mengadili. Bila pengadilan memberikan putusan berupa pembebasan/ lepas dari segala tuntutan

hukum, pengadilan menetapkan mengenai status barang-barang bukti. Biasanya hakim memutuskan barang bukti dikembalikan pada orang yang paling berhak (dicantumkan namanya), kecuali barang tersebut dirampas untuk menjadi milik negara, atau dimusnahkan agar tidak digunakan lagi, misalnya ganja atau obat-obatan terlarang.

Perintah untuk menyerahkan barang bukti dapat dilakukan tanpa syarat apapun. Putusan-putusan pengadilan hanya sah jika dinyatakan terbuka untuk umum.

Pernyataan dilakukan sebelum persidangan dimulai (pada putusan akhir).

Setelah dijatuhi putusan, ada 5 hal yang perlu diketahui terdakwa (hak terdakwa) : 1. Hak untuk menerima atau menolak putusan.

2. Hak untuk mempelajari putusan sambil menyatakan menerima atau menolak (waktu untuk berfikir 7 hari).

3. Hak untuk meminta penangguhan pelaksanaan putusan (dalam hal ia menerima putusan namun mengajukan permohonan grasi (minta ampun), setelah grasi terdakwa harus menerima putusan tapi boleh mengajukan permohonan penangguhan eksekusi.

Grasi hak prerogatif presiden

4. Hak untuk mengajukan pemeriksaan banding ke PT.

5. Hak untuk mencabut pernyataannya dalam tenggang waktu yang dibolehkan Undang-undang.

Beberapa kemungkinan putusan dapat mempunyai kekuatan hukum tetap, yaitu : 1. Bila para pihak menerima putusan yang dijatuhkan.

2. Apabila tenggang waktu untuk melakukan upaya hukum telah terlampaui (kadaluarsa)

3. Upaya hukum yang telah diajukan dicabut kembali. Suatu putusan agar sah harus memuat :

1. Kepala putusan pernyataan “Demi Keadilan Berdasarkan Ketuhanan Yyang Maha Esa”.

2. Memuat secara lengkap identitas terdakwa.

3. Memuat dakwaan (surat dakwaan yang dituduhkan).

4. Pertimbangan-pertimbangan hakim mengenai fakta dan alat-alat bukti yang terungkap dalam persidangan (sebagai dasar untuk menentukan dan menetapkan salah atau tidaknya terdakwa).

5. Memuat sifat melawan hukum dari perbuatan yang dilakukan terdakwa. 6. Tuntutan pidana (berapa lama hukumannya).

7. Menyebutkan pasal dari per-UU-an yang menjadi dasar hukum dari putusan. 8. Hari / tanggal hakim bermusyawarah (dasar pemidanaan, jumlah hakim harus

ganjil).

Putusan yang diambil adalah putusan yang paling menguntungkan terdakwa. 9. Pernyataan akan kesalahan terdakwa, setelah mempertimbangkan terpenuhi

semua unsur-unsur dari delik yang didakwakan karena asasnya mengatakan : “tiada hukuman tanpa kesalahan”

10. Memuat pernyataan kepada siapa biaya perkara akan dibebankan, dengan biaya yang pasti (konkrit).

11. Untuk hal kemungkinan dalam pembuktian, ada surat yang dianggap palsu, ini harus diterangkan.

12. Pernyataan mengenai status terdakwa (ditahan atau tidak, dll). Hakim harus memperhitungkan masa tahanan, Hakim harus menghitung lama penahanan. 13. Memuat hari, tanggal putusan dijatuhkan dengan data PU, Hakim, panitera

dengan jelas diperlukan untuk memproses upaya hukum yang lain, seperti banding (dihitung setelah satu hari putusannya).

Bila syarat diatas tidak terpenuhi maka putusan batal demi hukum.

Putusan ditandatangani hakim dan panitera seketika setelah putusan diucapkan dan putusan hanya bisa dilaksanakan setelah diucapkan pertama.

Bila yang bersangkutan tidak menerima putusan, maka ia bisa melakukan upaya hukum (rechtsmiddel), yang dibagi menjadi :

Upaya Hukum

Dibagi menjadi : 1. Biasa :

a. Perlawanan (Verzet) : - Vonnis Bijverstek

- SP3 (Surat Perintah Penghentian Penyidikan oleh Kepolisian atau Surat Perintah Penghentian Penuntutan oleh Jaksa Penuntut Umum).

b. Banding (Revisie) c. Kasasi (Cassatie Partij). 2. Luar Biasa :

a. Kasasi demi kepentingan hukum (Cassatie in het belang van het recht).

b. Peninjauan kembli putusan pengadilan yang telah mempunyai kekuatan hukum lengkap (PK).

Upaya hukum Biasa. Verzet

Dapat diputus untuk tindak pidana tertentu yang menurut UU bisa diadili tanpa dihadiri oleh terdakwa. Putusan tersebut harus diberitahukan pada terdakwa, bila ia tidak menerimanya, ia dapat melakukan perlawanan verzet, yang diajukan pada pengadilan pertama yang memproses perkara ini.

Perlawanan diberi waktu 7 hari setelah putusan diberitahukan.

Mereka dapat menggunakan haknya untuk melakukan perlawanan dan diberitahukan kepada panitera. Lalu panitera memberitahukan pada Hakim untuk penetapan hari sidang, dan pada hari itu terdakwa harus hadir.

Dalam persidangan, Hakim menentukan apakah perlawanan itu diperkenankan atau tidak. Jika diperkenankan maka pemeriksaan perkara harus dimulai dari awal lagi. Jadi perlawanan verzet hanya bisa dilakukan pada putusan yang belum mempunyai

kekuatan hukum.

2. Perlawanan verzet.

Bila Hakim menyatakan ia tidak berwenang untuk mengadili, maka ia akan mengembalikan perkara ke PU, jika PU tidak menerima hal tersebut maka bisa melakukan verzet yang diajukan ke PT di wilayah PN yang membuat Verzet.

Diberi waktu 7 hari sejak penetapan PT yang menerima perlawanan harus memutus dalam waktu 14 hari untuk menentukan apakah perlawanan diterima atau tidak. Jika diterima, maka PT memerintahkan PN untuk memeriksa perkara, jika tidak PT

memberitahu PN mana yang berhak mengadili.

Banding.

Merupakan upaya untuk melawan putusan PN yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap.

Banding diajukan ke PT lewat PN yang memeriksa perkara untuk pertama kali. Banding diajukan dalam waktu 7 hari sejak keesokan harinya putusan dijatuhkan,

jika lebih harus ditolak.

Dapat diajukan oleh para pihak (PU dan Terdakwa) pasal 107 KUHAP.

Terdakwa atau PU berhak meminta banding terhadap putusan di PN (tingkat pertama) kecuali pada putusan bebas/ lepas (onslag).

Jika terdakwa hendak minta banding, ia dapat memberikan kuasa secara khusus kepada penasihat hukumnya (diwakilkan untuk banding).

Panitera PN mencatat permohonan banding untuk menentukan waktu permohonan (7 hari) dan menandatanganinya.

Kedua belah pihak harus mengatahui jika ada salah satu pihak mengajukan banding. Misalnya jika banding dimintakan oleh terdakwa maka PU harus diberitahu, dan

sebaliknya.

Permohonan banding sewaktu-waktu dapat dicabut lagi jika belum ada biaya perkara.

Risalah (memori) banding (isinya merupakan alasan-alasan mengapa mereka tidak menerima putusan) dan tidak harus dibuat.

Dengan adanya permohonan banding, panitera PN harus mengirim salinan putusan PN dan berkas perkara ke PTY dalam waktu 14 hari, serta dijelaskan tentang status terdakwa apakah masih ditahan atau menunggu putusan PT.

PT bisa menerima banding tanpa ada memori banding. Permohonan banding harus secara tertulis.

Pemeriksaan di PT : 1. Oleh hakim majelis.

2. Dasar pemeriksaan : berkas perkara, yang terdiri dari : a. Berita Acara penyelidikan.

b. Berita Acara pemeriksaan sidang.

c. Bukti surat yang berhubungan dengan perkara.

PT harus menetapkan status terdakwa, 3 hari setelah menerima permohonan banding (masih ditahan atau tidak).

Bila PT berpendapat hakim PN melakukan kelalaian dalam penerapan hukum maka PT bisa mengambil putusan :

1. Agar PN memperbaiki.

2. PT mengadili sendiri, menggagalkan putusan PN.

Tentang status Terdakwa, tergantung pada batas wakttu penahanan, bila terdakwa mengajukan kasasi maka MA yang menetapkan status terdakwa.

Salinan putusan dan berkas perkara dari PT dikembalikan lagi pada PN dalam waktu 7 hari setelah putusan banding dan diberitahukan oleh PT melalui surat panggilan kepada terdakwa.

Terdakwa mendapatkan salinan putusan untuk menentukan apakah ia menerima putusan atau tidak.

Kasasi.

PU atau terdakwa bisa mengajukan kasasi pada MA, kecuali pada putusan bebas. Putusan pengadilan yang bisa mengajukan kasasi adalah putusan pengadilan yang

terakhir / pengadilan lain sepanjang bukan putusan MA. Kasasi berasal dari kata Casser yang artinya membatalkan.

Permohonan kasasi diajukan (diberikan) kepada panitera pengadilan yang pertama memutus perkara tersebut (PN)

Permohonan kasasi diajukan 14 hari setelah putusan pengadilan yang dimintakan permohonan kasasi itu diberitahukan.

Terhitung mulai keesokan harinya setelah putusan, bila hari ke-14 adalah hari libur, maka permohonan harus diajukan sebelum libur.

Perbedaan kasasi pihak dan kasasi demi kepentingan hukum.

Kasasi Pihak Kasasi Demi Kepentingan Hukum 1. Bisa diajukan pada putusan yang

belum mempunyai kekuatan hukum tetap.

1. Hanya pada putusan yang mempunyai kekuatan hukum tetap.

2. Bisa mengubah putusan yang telah dijatuhkan.

2. Tidak bisa mengubah putusan.

3. Diajukan oleh para pihak. 3. Hanya bisa diajukan oleh Jaksa Agung.

Jika permohonan kasasi lebih dari 14 hari, maka permohonan menjadi gugur. Permohonan kasasi bisa dicabut bila belum ada putusan MA.

Apabila permohonan pencabutan kasasi dilakukan sebelum berkas acara diajukan ke MA dan berarti ia menerima putusan PT (menjadi berkekuatan hukum tetap).

Pemohon kasasi wajib mengajukan memori kasasi, jika tidak ditolak, karena MA tidak memeriksa faktanya, hanya memeriksa landasan hukumnya saja.

Memori kasasi diajukan 14 hari sejak permohonan kasasi diajukan. Isi memori kasasi : tentang alasan diajukannya kasasi (untuk membantah putusan pada Pengadilan Tinggi/ PT).

Sebelum diputus pihak yang mengajukan memori kasasi masih bisa menambahkan (memori kasasi) sepanjang pemeriksaannya belum dimulai.

Panitera PT dalam tenggang waktu 14 hari harus mengirimkan berkas ke MA.

Jika permohonan kasasi gugur, panitera harus memberitahu lawan (para pihak) agar lawan bisa melakukan (membuat) kontra memori kasasi.

Berkas yang dikirim panitera PN berisi memori kasasi dan kontra memori kasasi. MA yang menerimanya harus mencatat pada buku register perkara setiap hari kerja

karena (MA) harus menentukan apakah masih dalam tenggang waktu yang ditentukan oleh UU atau tidak.

Yang dapat diajukan dalam memori kasasi (alasan kasasi) :

1. Apakah benar suatu peraturan hukum tidak diterapkan/ diterapkan tidak sebagaimana mestinya.

2. Apakah benar cara mengadili tidak dilaksanakan menurut ketentuan UU. 3. Apakah benar bahwa pengadilan telah melampaui batas kewenangannya.

MA bersidang dengan 3 orang hakim dan memeriksa berkas perkara yang diajukan PN kecuali bila perlu MA bisa meminta keterangan para saksi.

Wewenang menetapkan status terdakwa ada di tangan MA, sejak diajukannya permohonan kasasi.

Dari 3 alasan permohonan kasasi diatas, cukup 1 saja dan dijelaskan.

Pertama-tama MA hanya menyatakan menolak/ menerima jika waktunya belum daluarsa (habis waktu).

Objek pemberian kasasi (alasan yang diajukan pemohon untuk melawan putusan yang dimohonkan kasasi) :

1. Jika putusan dibatalkan MA karena peraturan hukum tidak dilaksanakan/ diterapkan sebagaimana mestinya maka MA akan mengadili sendiri.

2. Bila pembatalan putusan, cara pengadilan tidak dilaksanakan menurut ketentuan UU maka MA akan menetapkan agar pengadilan yang telah menuntut perkara untuk memeriksa kembali sepanjang bagian yang dibatalkan saja.

3. Bila putusan yang dimohonkan kasasi dibatalkan karena pengadilan/ hakim setelah melampaui batas wewenangnya maka MA akan melaksanakan hakim lain untuk memeriksanya (pengadilan lain yang berwenang).

MA bukanlah pengadilan ke-3 karena MA hanya memeriksa alasan-alasan hukumnya saja. Jika putusan sebelumnya ditentukan dengan cara yang salah, maka putusan yang lama harus batal.

Upaya Hukum Luar Biasa

Dilakukan pada putusan yang telah mempunyai kekuatan hukum dengan syarat kasasi tidak boleh merugikan kepentingan para pihak yang berperkara, sehingga putusannya tidak bisa diubah.

Jadi jika sudah diputuskan, maka hukuman itu harus dijalankan.

PK (Peninjauan Kembali)

PK putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap kecuali terhadap putusan bebas/ lepas dari segala perbuatan (Vrijspaak/ onslag).

Yang berhak mengajukan adalah terpidana (karena dia telah menerima putusan) atau ahli warisnya.

Diajukannya kepada MA.

Dapat mengubah putusan yang telah dijatuhkan.

Harus diajukan dengan dasar/ alasan tertentu. Diantaranya :

1. Dengan adanya Novum (hal-hal baru / keadaan baru yang diketahui setelah perkara diputus). Jika diketahui sebelum perkara diputus, maka putusannya dapat berupa pembebasan/ lepas dari segala tuntutan hukum/ dihukum dengan hukuman yang lebih ringan.

2. Apabila dalam berbagai putusan terdapat pernyataan bahwa suatu hal telah terbukti akan tetapi hal/ kebendaan sebagai dasar dan alasan putusan yang dinyatakan telah terbukti itu ternyata bertentangan satu sama lain.

3. Apabila putusan jelas-jelas memperlihatkan kekeliruan/ kekhilafan yang lebih nyata (melebihi batas yang diajukan dalam UU)

Tidak terikat pada batas wqaktu.

Permohonan diajukan melalui panitera PN yang telah memutus untuk pertama kali dengan menyebutkan alasan-alasan secara jelas.

Jika permohonan terpidana dan keluarganya kurang memahami hukum, maka panitera wajib menanyakan apakah yang menjadi alasan peninjauan kembali.

Ketua pengadilan segera mengirimkan permohonan dan seluruh berkasnya kepada MA, PN menyatakan penjelasannya.

Hakim yang memeriksa lagi apakah alasan sudah tepat atau belum.

Dalam putusannya para pihak turut hadir dan dapat menyampaikan pendapatnya (waktu memeriksa alasan) untuk menjadi pertimbangan apakah itu beralasan.

Dibuat Berita Acara yang ditandatangani oleh Hakim, Jaksa, pemohon dan panitera. Hakim yang memeriksa membuat Berita Acara Pendapat yang diperiksa oleh panitera.

Pengadilan melanjutkan permintaan PK dengan berkas perkaranya, maupun berkas acara tambahan yang dibuat hakim. Jika permohonan PK tidak memenuhi syarat formil maka MA akan menyatakan bahwa permintaan PK itu tidak dapat diterima.

Dua Sikap MA dalam menerima permohonan PK :

1. Jika MA tidak membenarkan alasan PK maka MA akan menolak permohonan PK dan menyatakan bahwa putusan yang dimintakan PK tetap berlaku.

2. Bila membenarkan alasan PK (menerima), maka MA akan membatalkan putusan yang dimintakan PK sehingga akan mengadili dan menjatuhkan putusan sendiri. Putusan dapat berupa :

1. Membebaskan terpidana dari segala tuduhan. 2. Melepaskan terpidana dari segala tuntutan hukum.

3. Menyatakan bahwa putusan tidak dapat diterima (tuntutan PU tidak dapat diterima)

4. Mengubah putusan dengan menerapkan ketentuan pidana yang lebih ringan. Salinan putusan MA dalam hal PK dan berkas perkara dalam 7 hari harus dikirim

Selama permohonan PK diproses tidak menangguhkan/ memberhentikan pelaksanaan eksekusi.

Jika pemohon PK sudah diterima oleh MA, tetapi pemohon meninggal, maka dilanjutkan atau tidaknya dijatuhkan pada keputusan ahli waris.

PK hanya bisa diajukan 1 kali.

Dalam PK tidak ada ganti rugi, yang ada hanya rehabilitasi, karena novum yang diajukan saat PK itu seharusnya diberikan pada waktu proses PN (tapi itu tidak dilakukannya) sehingga tidak ada ganti rugi, disebabkan itu adalah kesalahan dari si pemohon itu sendiri.

Yang melaksanakan eksekusi adalah Jaksa. Salinan putusannya diberikan oleh Panitera.

Bila putusan berupa hukuman denda, terpidana diberi tenggang waktu 1 bulan, jika tidak mencukupi diberi lagi 1 bulan.

Benda sitaan yang ada pada Jaksa akan dikuasakan pada negara untuk dijual dalam waktu 3 bulan, dan dapat diperpanjang selama 1 bulan lagi.

Setiap terpidana yang dijatuhi hukuman dibebani biaya perkara.

Bila terpidana lebih dari satu orang, maka beban biaya bisa dilakukan secara bersama/ berimbang.

Jika sudah dibayar oleh salah seorang diantara mereka, maka yang lain bebas membayar.

Jika terpidana diberi putusan bebas/ lepas maka biaya perkara ditanggung negara. Putusan yang dapat dilakukan adalah putusan yang mempunyai hukum tetap. Setiap putusan harus diawasi oleh hakim.

Hakim yang ditunjuk oleh pengadilan bertugas 2 tahun dan dapat diperpanjang. Dalam pelaksanaan eksekusi, Jaksa harus membuat Berita Acara eksekusi yang

ditandatangani olehnya, dan diserahkan kepada kepala LP.

Hakim pengawasan mengadakan pengawasan untuk kepastian apakah putusan yang telah dijatuhkan telah dilaksanakan sesuai amar putusan atau tidak.

Hakim dan pengamat dapat meminta kepada kepala LP untuk memberikan informasi secara periodik/ berkala mengenai perilaku narapidana yang ada dibawah pengawasannya dan bila dipandang perlu, Hakim pengawas dan pengamat (Hakim

Wasmat) ini dapat membicarakan masalah pembinaan terhadap narapidana dan tentu dengan kepala LP.

Hasil pengamatan dilaporkan secara periodik kepada ketua pengadilan, dengan demikian diharapkan setiap keputusan yang telah berkekuatan hukum tetap dapat dijalankan sesuai dengan amar putusan/ hukumnya.

Narapidana yang telah melaksanakan putusan dapat mengajukan grasi.

1. Grasi

Merupakan hak prerogatif presiden/ kepala negara untuk memberikan ampunan kepada narapidana tertentu setelah meminta nasehat kepada MA.

Grasi : - Berjalan. - Duduk.

Grasi berjalan : permohonan grasi yang diajukan oleh persidangan dimana ter-pidana tetap menjalankan putusannya sambil menunggu putusan grasi.

Grasi duduk : permohonan grasi yang diajukan oleh terpidana dimana ia meminta penangguhan eksekusi karena ia mengajukan grasi.

Syarat mengajukan grasi : terpidana harus sudah menerima putusannya (putusan sudah memiliki kekuatan hukum tetap).

2. Abolisi

Penghentian penuntutan yang belum selesai atau mencegah dilaksanakannya penuntutan.

Hak untuk melakukan penuntutan dalam suatu perkara tertentu ditiadakan.

3. Amnesti

Yaitu meniadakan semua akibat hukum pidana dalam perkara tertentu / perbuatan tertentu pada waktu tertentu.

Grasi, abolisi dan amnesti bukanlah termasuk dari upaya hukum.

Amnesti dan abolisi tidak dijatuhkan terhadap perorangan (orang tertentu), melainkan terhadap suatu kelompok yang melakukan tindak pidana pada waktu tertentu.

Grasi dimintakan oleh perorangan.

Amnesti berlaku baik untuk seseorang yang telah atau belum dijatuhkan hukuman. Abolisi berlaku untuk orang yang belum dijatuhi hukuman.

Grasi berlaku bagi orang-orang yang telah dijatuhi hukuman. Pada amnesti, baik hak penuntutan juga hukuman ditiadakan.

Amnesti dan abolisi tidak hanya meniadakan hak tapi juga meniadakan sifat melawan hukumnya.

Grasi hanya meniadakan hubungan saja.

Jika terpidana yang diberi abolisi dan amnesti melakukan tindak pidana lagi ia tidak termasuk residivis.

HAPid dalam pelaksanaannya selalu bertentangan dengan kepentingan individu, bahkan sering dianggap bertentangan dengan hak asasi.

HAPid dianggap sebagai sesuatu yang dapat menyinggung seseorang, tetapi penting untuk mencegah eigenrichting (main hakim sendiri).

Jika eigenrichting dibiarkan maka akan timbul tindakan balas dendam baik secara individual maupun kelompok.

Dalam lex tallions : Jika anggota satu kelompok diambil oleh kelompok lain maka mereka diperkenankan melakukan hal yang sama kepada kelompok yang telah mengambil temannya tersebut.

Harus ada aturan atau ketentuan yang bisa diberlakukan untuk menindak orang-orang yang menjadi sumber terjadinya tindakan balas dendam dan main hakim sendiri (eigenrichting).

Perbuatan untuk membela diri dengan berlebihan (pasal 49) tidak termasuk dalam kategori balas dendam.

Tidak ada peraturan atau ketentuan yang secara tegas melarang tentang perbuatan main hakim sendiri. Namun pelakunya dapat dituntut pada perbuatan yang diakuinya. Hal ini dilakukan untuk menghindari semboyan “kekuasaan adalah hukum”.

Perbuatan yang dapat dipandang sebagai eigenrichting adalah pasal 666 BW, pasal 357 KUHD.

Tahun 1215, Laucentius III melarang penyelesaian perkara yang bergantung pada putusan Illahi.

Paus Honorius III, hal tersebut didasarkan pada pemikiran bahwa kesalahan-kesalahan pemikiran seseorang, syarat pembuktian harus didasarkan pada pemikiran fisik/ jasmani.

Dalam upaya mendapatkan putusan Illahi HAPid sering disalahgunakan sehingga menimbulkan akses-akses penganiyaan.

Penyelesaian perkara pidana menyangkut kepentingan masyarakat banyak (masalah rakyat), maka seluruh rakyat dianggap mempunyai kepentingan guna mencegah tindakan main hakim sendiri, maka pemeriksaan untuk pertama kali dilakukan oleh seluruh warga masyarakat. Clasium Generalum (seluruh rakyat mengadili)

Karena jumlah masyarakat semakin banyak, maka dalam perkembangan pelaksanaan putusan dengan sistem juri.

Juri diambil dari warga masyarakat, bahkan juri ditentukan oleh Penuntut umum dan terdakwa (ke-2 pihak mempunyai hak veto).

Juri menentukan salah tidaknya terdakwa, sedangkan hakim menentukan lamanya hukuman.

Eropa Kontinental tidak mengenal sistem ini, hakim menentukan salah tidaknya terdakwa, dan ia juga yang menentukan lamanya hukuman. (keputusan ada di tangan hakim).

Sistem Pemeriksaan :

1. Accusatoir (Accuse) = Mendakwa.

Pidana baru ada jika ada pengaduan dari orang yang merasa dirugikan.

Yang menuduh dan yang dituduh kedudukannya sederajat, keduanya mempunyai hak dan wewenang yang sama.

Yang didakwa adalah subjek hukum, sehingga ia berhak membela diri. Hakim yang memutus harus objektif dan tidak boleh memihak.

Jika pihak yang mendakwa tidak mampu membuktikan maka ia harus mampu menjalankan sanksi yang dijatuhkan pengadilan (pada abad pertengahan), dimana surat dakwaan dibuat oleh hakim.

Hakim hanya sebagai pihak yang mengadili, maka dalam sistem ini ada 3 pihak yang berpekara : hakim, terdakwa dan pendakwa.

Dalam sistem ini pendakwa diganti oleh institusi yang mewakili negara, yaitu penuntut umum.

Gematige accusatoir : sistem pemeriksaan accusatoir tidak penuh. Ada dua sifat yang digunakan , yaitu :

1. dalam penyidikan dilakukan dengan sistem inquisatoir. 2. dalam persidangan menggunakan sistem accusatoir.

2. Inquisitoir.

Dimana orang yang dituduh ketika menjalankan pemeriksaan dianggap sebagai benda, bukan subjek hukum.

Syarat untuk pengaduan untuk terjadinya tindak pidana yang mengandung bahaya pada pengadu dapat dihapus dengan ditentukan oleh wewenang pada hakim untuk melakukan penuntutan.

Dalam sistem ini hakim mempunyai 3 fungsi kewenangan (yaitu sebagai pendakwa, penuntut dan mengadili).

Jadi yang berpekara dalam sistem ini hanya dua pihak yaitu terdakwa dan hakim.

Terdakwa sebagai objek hukum ia belum boleh membela diri dari awal. Hakimnya tidak objektif, meskipun ia menuntut atas nama negara, tapi karena posisinya sebagai penuntut maka ia tidak akan menjatuhi hukuman untuk dirinya, apabila penuntutan tidak terbukti.

Penyebab perubahan dari accusatoir ke inquisatoir :

1. Hakim lebih bertindak secara ex-officio (karena jabatan). 2. Orang-orang berusaha mencari kebenaran materiil.

Syarat utama untuk mendapatkan pembuktian dalam HAPid yang bersifat inquisatoir : dengan cara memperoleh pengakuan terdakwa sehingga untuk melakukan penuntutan cukup dengan satu orang saja. Untuk mendapatkan pengakuan ini (karena tersangka dijadikan objek pemeriksaan) dilakukan dengan syarat memaksa atau dengan tindakan penganiyaan.

Confessus non apalat : orang yang sudah mengaku, tidak boleh banding.

Karena sifat inquisatoir dianggap bertentangan dengan HAM maka kembali pada sistem pemeriksaan accuisatoir.

Seseorang yang didakwakan dengan suatu tindak pidana, sebelum ada putusan bahwa ia bersalah, maka ia belum bersalah (asas praduga tak bersalah = presumption of innocent).

Susunan Peradilan di Indonesia

Terbagi menjadi 4 fase :

Dalam dokumen Hukum Acara Pidana 004 (Halaman 29-43)

Dokumen terkait