• Tidak ada hasil yang ditemukan

BULAN, PERJALANAN, KITA

Dalam dokumen Perahu Kertas Dee (Halaman 69-77)

percuma lu disebut Siluman Kampus, kerjanya pulang me-lulu, ngerem di kamar kayak beruang,” Bimo terkekeh.

Keenan hanya tersenyum sekilas, entah harus merasa bangga atau tersindir. Tapi ia cukup suka sebutan itu.

Si-luman Kampus.

Begitu Fiat kuning itu menepi, Keenan yang sudah me-nunggu di teras depan langsung menghampiri bagasi mobil dan memasukkan tasnya. Baru setelah membuka pintu, ia tersadar akan satu sosok yang tidak ia duga kehadirannya.

“Kugy? Kamu ke Jakarta hari ini juga?” tanya Keenan heran.

“Hai, Nan. Aku tukeran tiket sama Eko,” jawab Kugy ber-seri-seri.

Keenan ganti menatap Eko, “Gua pikir, Fuad dititip ke Noni dan lu pulang ke Jakarta hari ini sama gua.”

“Ternyata gua baru bisa ke Subang lusa, Nan. Jadi Eko nemenin gua dulu di Bandung,” Noni menjelaskan.

“Oh. Oke.” Keenan berkata pendek.

Sebersit perasaan aneh menyusupi hati Kugy, yang me-lengkapi kecurigaannya selama ini. Tadinya Kugy berasumsi bahwa sebulan ini Keenan banyak menyendiri karena belajar mati-matian, dan itu memang dibuktikan oleh IP tertinggi yang diraihnya. Tapi baru sore ini Kugy merasakan adanya alasan lain. Ia merasa dihindari oleh Keenan.

Tanpa banyak bicara, Keenan mengempaskan tubuhnya di jok belakang. Tungkai kakinya yang panjang membuat lututnya selalu nyaris beradu dengan jok depan. Dengan ekor matanya, Kugy mengamati. Sebagaimana ia mengamati sepatu Keenan yang kali ini tampak baru dicuci bersih, se-bagaimana ia tahu Keenan sedang mengenakan kemeja jins

lengan panjang yang dulu dipakai saat menggandeng ta-ngannya di bioskop, sebagaimana ia hafal aroma sampo yang meruap dari rambut Keenan yang tergerai. Kugy meng-amati dan mengingat itu semua. Untuk apa, ia pun tak me-ngerti. Namun, semua itu melekat dalam memorinya, telah lama menghantuinya, tanpa bisa ia kendalikan.

Keenan memejamkan matanya sejak sepuluh menit pertama kereta api itu bertolak dari Stasiun Bandung. Ia terbangun oleh karena haus yang menggigit dan hening yang dirasakan terlalu lama dari seharusnya. Saat matanya membuka, kereta itu memang sedang berhenti di sebuah stasiun kecil. Dan Kugy tidak ada di sebelahnya.

Dari kasak-kusuk orang di sekeliling, Keenan menyimpul- kan bahwa kereta itu sudah berhenti lama di sana, dan keter-lambatan ini mulai menggelisahkan banyak penumpang.

Penasaran, Keenan pun memutuskan untuk keluar dan bertanya langsung pada petugas.

“Muhun. Ada kereta yang anjlok, Cep. Jadi kita tertahan di sini, mungkin setengah jam sampai sejam. Belum ada pemberitahuan.” Petugas stasiun itu menjelaskan. Di atas kepalanya tergantung plang: Stasiun Citatah. Kereta itu bah-kan belum menempuh separuh perjalanan.

Langit mulai remang, pertanda sore mulai menua. Awan mendung yang sejak tadi bergelantungan mulai merintikkan selapis gerimis tipis. Meski dianjurkan menunggu di dalam kereta, Keenan merasa tak ingin kembali ke sana cepat-cepat. Ia mengedarkan pandangan, mencari sesuatu yang sekiranya membuat perasaannya tertarik. Dan matanya ter-tumbuk pada pelataran depan stasiun.

Sayup, Keenan mendengar petugas tadi memperingatkan-nya. Namun, ia merasa kakinya terundang untuk keluar, menuju jalanan pedesaan yang setengah becek, berhiaskan satu-dua warung kopi yang mulai menyalakan lampu petro-maksnya untuk menyambut gelap malam.

Di sebuah warung, Keenan berhenti. Aneka gorengan yang terpajang di sana tampak menarik, belum lagi bersisir-sisir pisang susu yang kuning masak tampak bergelantung di kayu penyangga tendanya.

“Mangga, ngopi dulu, Den.” Ibu tua pemilik warung

me-nyapa ramah.

Baru saja Keenan hendak duduk di bangku kayu itu, tiba-tiba dari sisi seberangnya muncul kepala dan kedua tangan mungil yang sedang meraih pisang susu.

“Kugy?”

“Hei! Udah bangun? Kok bisa nyampe sini juga?” Kugy heran bukan main.

“Hmm. Radar Neptunus—mungkin?” cetus Keenan, antara geli dan takjub. Ia pun duduk di sebelah Kugy dan memesan secangkir kopi panas. Keduanya langsung mengobrol dan tertawa-tawa, tak habis pikir bagaimana me-reka bisa berakhir di tempat yang sama tanpa janjian.

“Sebentar ... sebentar ...” tiba-tiba Kugy memotong pem-bicaraan. Wajahnya tampak siaga seolah-seolah sesuatu akan menyeruak muncul.

“Ada apa?” Keenan ikut melihat ke sekeliling.

“Bau ini ... kamu cium, nggak?” Kugy mengendus-endus.

“Kamu kentut?”

“Bukan!” Kugy memberengut, “Ini bau tanah yang baru kena hujan ... kecium, nggak?” Kugy lantas menghirup napas dalam-dalam, berkali-kali, dan mukanya seperti orang ekstase. “Sedaaaaap ...,” gumamnya.

Keenan ikut mengendus, dan mulai ikut menghirup. “Gy ... tambah lagi wangi kopi, nih ... hmmm ... enaaak ....”

Kugy mencomot kulit pisang, “Tambah lagi nih wangi pisang ... asoooy ....”

Keduanya sibuk membaui ini-itu, tanpa menyadari ibu pemilik warung sudah mulai waswas melihat kelakuan me-reka.

“Gerimis, wangi tanah kena hujan, kopi, dan pisang ... dahsyat. Aku nggak bakal lupa kombinasi ini.” Kugy ter-senyum lebar, kilau di matanya kian bersinar tertimpa sinar lampu.

“Stasiun Citatah, warung, lampu templok, dan ... kamu. Saya juga nggak bakal lupa.”

Mendengar itu, Kugy termangu. Ia merasa tergerak untuk mengatakan sesuatu, tapi lidahnya kelu. Ia ingin bertanya, apakah intuisinya benar? Bahwa Keenan dengan halus telah menghindarinya. Bahwa ada keanehan yang terjadi antara mereka berdua, tapi entah apa. Namun, Kugy tak tahu harus memulai dari mana.

Kembali dalam keheningan, mereka duduk diam. Keenan menyeruput kopinya perlahan. Begitu juga Kugy dengan teh panasnya. Namun, kali ini hening itu tidak menjengahkan. Setiap detik bergulir sejuk dan khidmat, seperti tetes hujan yang kini turun satu-satu.

“Nan ... kamu benar soal cerpenku itu,” tiba-tiba Kugy memecah sunyi, “aku nggak menjadi diriku sendiri. Aku bikin cerita itu untuk cari duit, untuk cari pengakuan doang ....”

Keenan mengangkat kepalanya, menatap balik pada Kugy yang tengah menatapnya lekat-lekat.

“Makasih, ya. Kalau bukan karena kamu berani jujur sama aku, mungkin aku nggak akan menyadari itu semua. Nggak berarti aku bakal berhenti nulis cerpen sama sekali,

sih. Tapi sekarang aku bisa melihat diriku apa adanya, di mana kelemahanku, dan di mana kekuatanku.”

Senyum mengembang di wajah Keenan. Hangat. “Gy, jalan kita mungkin berputar, tapi satu saat, entah kapan, kita pasti punya kesempatan jadi diri kita sendiri. Satu saat, kamu akan jadi penulis dongeng yang hebat. Saya yakin.”

Kugy menghela napas, pandangan matanya mengembara. “Gerimis, melukis, menulis ... satu saat nanti, kita jadi diri kita sendiri,” gumamnya lambat, seperti mengeja. Seperti mengucap doa.

Dari jauh terdengar pengumuman bahwa kereta api akan segera diberangkatkan. Mereka berdua pun beranjak dari sana. Tanpa terburu-buru. Menapaki tanah becek dengan hati-hati. Tepat sebelum kereta berjalan, kaki mereka men-jejak gerbong.

Di gang antargerbong yang sempit dan berguncang keras, keduanya berdiri sejenak. Kugy bisa merasakan jarak Keenan yang begitu dekat di punggungnya, membaui aroma minyak wangi yang samar tercium dari kemejanya, dan terasa se-sekali wajah Keenan menyentuh rambutnya.

Meski tempat mereka berdiri sangat berisik, Kugy dapat mendengar Keenan berbisik di sela-sela rambutnya yang berkibar ditiup angin. Entah Keenan berbisik untuknya, un-tuk dirinya sendiri, atau unun-tuk mereka berdua. Namun, de-ngan jelas Kugy menangkap tiga kata yang dibisikkan Keenan: “Bulan, perjalanan, kita ....”

Baru ketika duduk di bangkunya yang bersebelahan de-ngan jendela, Kugy menyadari bahwa bulan bersinar ben-derang di angkasa. Tanpa bisa ditahan, Kugy merasa pelupuk matanya menghangat, dan pandangannya berkaca-kaca. Ingin rasanya ia membungkus bisikan Keenan tadi, menyimpannya di hati. Tiga kata yang tak sepenuhnya ia pahami, tapi nyata ia alami saat ini. Bulan. Perjalanan. Mereka berdua.

Sudah sejam Ojos menunggu di kafe itu, segala macam mi-numan dan donat aneka rasa sudah ia pesan sampai perut-nya penuh sesak. Dan akhirperut-nya bergaunglah pengumuman bahwa kereta api Parahyangan yang ditumpangi Kugy telah tiba. Segera ia beranjak dari sana dan menunggu di mulut pintu keluar.

Dari jauh Ojos sudah bisa mengenali sosok mungil itu. Rambut sebahunya yang tergerai beradu dengan ransel besar yang seolah menenggelamkan tubuh kecilnya, belum lagi jaket jins yang sudah bisa dipastikan hasil minjam saking kebesarannya. Namun, sesuatu di balik kekacauan berbusana itulah yang membuat sosok itu mencuat di mana pun ia ber-ada. Dari jarak seperti ini pun Ojos bahkan sudah bisa me-lihat hidupnya binar kedua mata itu, merasakan hangat ke-hadirannya, tawanya yang lepas tanpa beban ... kening Ojos tahu-tahu berkerut. Matanya memicing. Ada seseorang yang berjalan di sebelah Kugy. Orang yang tidak ia kenal. Sak-sama, Ojos mengamati, seperti menjalankan scanning. Ke-ningnya semakin berkeriut.

“Ojos!” Kugy melambaikan tangan, lalu menghampirinya setengah berlari.

“Hi, Babe,” Ojos meraih pinggang Kugy, dan

mengecup-nya di pipi. Sigap, ia melepaskan ransel dari bahu Kugy lalu menyampirkan barang besar itu di bahunya.

“Jos, kenalin. Ini sepupunya Eko ....”

“Keenan.” Keenan langsung mengulurkan tangan dan ter-senyum ramah.

“Hai. Joshua.” Ojos menyambut tangan itu. Sebelah ta-ngannya tak lepas merangkul Kugy.

“Sampai ketemu semester depan, ya, Gy. Selamat me-nulis.”

“Selamat melukis. Jangan lupa ....” Kugy menempelkan kedua telunjuknya di ubun-ubun seperti antena.

Seketika Keenan tertawa renyah. “Radar Neptunus ...,” ia lalu ikut menempelkan kedua telunjuk di ubun-ubun.

Mata Ojos tak lepas mengamati itu semua, bahkan ketika Keenan sudah pamit pulang dan membalik pergi. Ada gelom- bang yang tertangkap oleh radarnya. Gelombang yang meng-isyaratkan ketidakberesan, situasi yang tidak aman. Dan Ojos tidak merasa nyaman.

Meja makan dengan empat kursi itu baru diisi tiga orang, satu kursi masih kosong. Meski hanya bertiga, suasana di meja makan itu terasa semarak. Dua bersaudara laki-laki itu mengobrol tanpa henti seolah sudah tahunan tak bertemu. Ibu mereka sesekali menimpali, atau ikut tertawa bersama.

Terdengar suara pintu depan terbuka, dan seseorang me-masuki ruang makan, duduk di kursi keempat.

“Hai, Pa ...,” Jeroen dan Keenan menyapa.

“Maaf ya, kalian jadi menunggu. Tamu itu sudah Papa suruh datang ke kantor saja, tapi dia maksa datang ke sini karena udah nggak ada waktu lagi, katanya.”

“It’s okay.” Lena tersenyum sambil menuangkan teh

pa-nas ke cangkir suaminya. “Keenan punya pengumuman buat kamu, tuh.”

“Oh, ya? Apa, Nan?” tanya ayahnya sambil meminum teh itu sedikit demi sedikit.

Keenan melirik ibunya, seperti ragu untuk bicara. “Mmm ... IP saya 3,7 semester ini.”

“Tertinggi di angkatannya,” Lena menambahkan dengan senyum berseri.

8.

Dalam dokumen Perahu Kertas Dee (Halaman 69-77)