• Tidak ada hasil yang ditemukan

But Muchtar

Dalam dokumen ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018 (Halaman 54-59)

Dedikasi Hidup untuk Pendidikan Seni Rupa

Siapa pun yang pernah lewat gedung DPR/MPR RI pasti akan menyaksikan sebuah patung “ikatan” hasil buah karya But Muchtar yang berdiri kokoh di sana sejak tahun 1976. Patung tersebut menyimbolkan penjelmaan manusia Indonesia sejati, di mana aspirasinya disampaikan melalui lembaga perwakilan rakyat. Patung yang dikonstruksi dari rangka besi berlapis perunggu ini menggambarkan juga dimensi waktu yang sudah ditempuh bangsa Indonesia, baik suka maupun duka. Patung yang hingga kini masih terus berdiri kokoh tersebut menggambarkan sosok penciptanya yang memang cita-cita dan semangat hidupnya tetap abadi, meski secara fisik ia sudah tiada lagi.

But Muchtar adalah sosok lengkap:

gabungan dari seorang pendidik, seniman dan seorang manajer. Ketiganya menjadi ciri khas yang melekat pada diri But Muchtar, sehingga mengantarkannya menjadi sosok ternama dalam bidang seni rupa kontemporer.

But Muchtar lahir di Bandung pada 1930. Lahir sebagai anak ketujuh dari 11 bersaudara, But Muchtar memiliki kisah unik di masa kecilnya. Ia pernah tidak lulus SD dua kali, yang membuat orangtuanya marah besar. Ia pun dari rumah mereka dan terpisah selama tiga tahun dengan kedua orangtuanya. Dalam masa perpisahan tersebut, menurut Prapanca Muchtar, putra pertama But Muchtar, sang tokoh kita tinggal di Yogyakarta. Selama itulah But belajar kemandirian dan hidup berdikari, yang kelak akan membentuk karakter dirinya yang tangguh.

But Muchtar

Foto karya

Meski ia sempat terpisah beberapa tahun dengan kedua orangtuanya, hal tersebut tidak menjadikan But sebagai sosok anak yang nakal. Situasi yang ia alami tersebut justru mendorong But Muchtar menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

Ketika SMP, ia sempat tertarik untuk mendalami ilmu agama dan bercita-cita ingin menjadi seorang guru agama. Cita-cita tersebut berbeda dengan cita-cita masa kecilnya yang ingin menjadi tentara. Saat baru masuk SMA ia memiliki cita-cita ingin menjadi sastrawan, dan ketika lulus ingin menjadi diplomat. Ia pun mendaftar ke Akademi Dinas Luar Negeri, akan tetapi nasib baik tidak kunjung menghampirinya.

Gagal masuk akademi calon diplomat, akhirnya But Muchtar melanjutkan studi di Jurusan Seni Rupa, Institut Teknologi Bandung (ITB). Dari kampus inilah karier But Muchtar mulai bersinar terang. Lepas dari ITB ia melanjutkan studinya di Rhode Island School of Design, Art Students League of New York dan Massachusetts Institute of Technology, AS. Sepulang dari Amerika, sosok But Muchtar menjadi sosok yang benar-benar baru. Jika di masa kecilnya banyak mengalami kegagalan dan pesimisme, sejak itu ia menjelma menjadi seorang pendidik dan seniman tersohor.

Sebagai pendidik, ia aktif berkarier di dunia kampus, tempat ia belajar seni rupa pertama kali: ITB! Berbagai posisi dan jabatan pernah diembannya di ITB. Pada 1959, ia menjadi asisten ahli seni rupa. Pada 1962 ia menjadi rektor muda ITB, kemudian menjadi rektor ITB pada 1967, dan pada 1977 ia dipercaya menjadi rektor

kepala ITB. Berbagai posisi lainnya pun pernah didudukinya. Inilah, sebagaimana disampaikan Prapanca Muchtar, salah satu keunikan dari sosok But Muchtar. Beliau pada pada dasarnya adalah seorang pendidik yang sangat cinta dunia pendidikan. Pada saat bersamaan, ia juga merupakan seorang seniman sekaligus seorang manajer. Gabungan ketiganya menjadi ciri khas dari sosok But Muchtar.

Terkait dunia seni rupa dan lukisan, But Muchtar dipengaruhi oleh ibunya sejak kecil. Ia dari kecil suka gambar-gambar manusia. Barangkali pengalaman masa kecil inilah yang kelak membekas kuat dalam diri But Muchtar. Di samping itu, sosok lain yang memengaruhi But Muchtar adalah Ries Mulder, orang Belanda yang menjadi dosennya. Dari sosok inilah But Muchtar banyak belajar bagaimana menjadi seorang pelukis dan perupa yang baik.

Di sela-sela kesibukannya mengurusi administrasi kampus, But Muchtar meluangkan waktu untuk berkarya. Meski tidak terlalu banyak karya yang dihasilkannya, akan tetapi karya-karya tersebut menjadi karya monumental yang kemudian banyak diincar oleh para kolektor benda-benda antik. Menurut penuturan Prapanca, But Muchtar sendiri selama hidupnya tidak pernah menyangka bahwa karya-karyanya kemudian menjadi karya yang monumental. Ia berkarya sekadar berkarya tanpa berpikir nantinya akan menjadi produk karya yang mahal harganya.

Tidak jarang ia pun memberikan begitu saja hasil karyanya kepada orang yang Monumen ‘ASEAN”

Singapura

But Muchtar

Aspen 1974

But Muchtar

benar-benar menginginkannya. Andai saja But Muchtar saat ini masih hidup, ia pasti akan terkaget-kaget dengan harga yang diberikan orang kepada hasil buah tangan kreatifnya tersebut.

Sebagai seorang seniman, tentu menghadirkan karya ke publik serta diapresiasi dengan baik menjadi kebanggaan tersendiri. Sejak ia mulai menghasilkan karya, But Muchtar mulai aktif mengikuti berbagai pameran. Pada tahun 1954, karya-karyanya sudah dipamerkan, mulai dari Bandung, Jakarta, Surabaya, bahkan sampai ke Malaysia, Singapura, Thailand, New Delhi, London, Ithaca, New York dan Rio de Jainero. Pada tahun-tahun tersebut, di mana Indonesia baru saja keluar dari perjuangan kemerdekaan, kiprah But Muchtar patut diancungi jempol. But sendiri sudah menciptakan ratusan karya sejak mengawali kariernya sebagai pelukis pada tahun 1951 dan sebagai pematung pada 1960. Setiap tahun ia menghasilkan rata-rata sekitar 15 lukisan dan empat patung. Menurut Prapanca, karya-karya tersebut tetap saja bisa dikatakan sedikit bila dibandingkan dengan seniman lainnya.

Pada mulanya But Muchtar menganut aliran naturalisme, akan tetapi kemudian lebih condong ke kubisme. Menurut Prapanca, But Muchtar sendiri lebih tepat dikatakan sebagai seorang seniman dengan aliran abstraks karena memang jika dilihat karya-karyanya, apalagi sepulang But dari Amerika tahun 1974, ia sudah menemukan modelnya sendiri yang lebih solid, yaitu sebagai seniman abstrak. Ia lebih suka melukis dengan warna-warna yang kontras, bahkan sering juga tanpa figur. Tidak mengherankan jika But Muchtar banyak mengagumi pelukis Fernand Leger dan Jacque Villion karena kedua-duanya mewakili dua spirit dalam melukis.

Leger sendiri terkenal dengan lukisan-lukisannya yang keras dan kontras dengan warna, sedangkan Villion lebih dikenal dengan karya-karya lukisnya yang lembut dan harmonis. Sintesa antara keduanya inilah yang menjadi ciri dari lukisan yang dihasilkan But, yaitu lukisan yang di dalamnya terkandung ketegangan-ketegangan.

Di antara lukisannya yang terkenal, adalah Wanita Bali yang ia lukis tahun 1957, mendapat hadiah Stralem pada First Asian Young Artist Exhibition di Tokyo, dan Potret Diri, yang dimuat dalam buku Indonesian Art karangan Claire Holt.

But Muchtar kini sudah tiada. Ia meninggalkan keluarga tercintanya pada 30 Juni 1993 di Bandung. Meski sudah tiada, akan tetapi jasa dan jejaknya terus

baik. But Muchtar sangat mencintai keluarganya, dan setiap pulang kerja—meski Lelah—ia senang untuk berbagi cerita dengan anak-anaknya. Ia selalu menekankan kepada anak-anaknya untuk bekerja apa pun dengan dedikasi yang tinggi karena di sanalah letak kemuliaannya. Di dalam dunia seni rupa di Indonesia, khususnya seni rupa modern dan kontemporer, sosok But Muchtar adalah legenda yang penting untuk selalu dikenang. Dediksi hidupnya yang total terkait dunia pendidikan seni rupa menempatkan But Muchtar menjadi sosok yang pantas untuk mendapatkan penghargaan.

BIODATA

Nama : But Muchtar (alm) Lahir : 30 Desenber 1930 Meninggal : 30 Juni 1993

Profesi : Pendidik dan Seniman Seni Rupa Modern dan Kontemporer KARIER

:

- Asisten Ahli Seni Rupa ITB (1959) - Rektor muda ITB (1962)

- Rektor ITB (1967) - Rektor Kepala ITB (1977)

- Sekretaris Departemen Seni Rupa ITB (1968-1970) - Ketua Departemen Seni Rupa ITB (1968-1970) - Sekretaris Departemen Seni Rupa ITB (1970-1972) - Ketua Departemen Seni Rupa ITB (1975-1977)

- Sekretaris ITB bidang Komunikasi dan kebudayaan (1977) PENGHARGAAN

:

- Anugerah Kebudayaan Kategori Satyalancana dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, 2018

Dalam dokumen ANUGERAH KEBUDAYAAN TAHUN 2018 (Halaman 54-59)