• Tidak ada hasil yang ditemukan

EXIT STRATEGY PROYEK SCBFWM REGIONAL LAMPUNG

1.2 Cakupan diskusi

antaranya bekerja pada sektor pertanian. Apabila areal non kawasan hutan (APL) seluas 25.743 (33%) dianggap sebagai lahan pertanian, maka kepadatan agraris Sub DAS Way Besai adalah 3 orang per ha, atau dengan kata lain rata-rata kepemilikan lahan pertanian di wilayah tersebut < 0,3 ha per orang. Sempitnya pemilikan lahan menyebabkan tekanan terhadap lahan, baik pertanian maupun non pertanian terhadap hutan lindung dan taman nasional sangat tinggi. Tekanan terhadap lahan tersebut menyebabkan penduduk mengopkupasi lahan untuk pertanian termasuk lahan perkebuanan, khususnya kopi. Akibatnya, erosi dan sedimentasi menjadi tinggi sehingga fluktuasi debit Sub DAS Way Besai yang jauh diatas normal. Salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah dengan mengembangkan Hutan Kemasyarakatan (HKm) sejak awal tahun 2000. Tujuan HKm adalah tercapainya kondisi hutan yang lestari yang diimbangi dengan masyarakat yang sejahter. Saat ini terdapat lebih dari 26 kelompok HKm di Lampung Barat dengan izin usaha pengelolaan hutan kemasyarakat selama 35 tahun dengan luas areal mencapai 16.473 ha (Dinas Kehutanan Provinsi Lampung, 2014).

Seiring dengan akan berakhirnya proyek SCBFWM pada akhir tahun 2014, adalah penting bagi pelaksana proyek untuk menyusun dokumen rencana strategi exit. Dokumen ini akan menjadi bagian dari tindakan yang diperlukan dalam memberikan jaminan bahwa hasil-hasil proyek akan tetap berkelanjutan dan pendekatan pengelolaan hutan berbasis masyarakat akan semakin kuat pada masa-masa yang akan datang.

Definsi strategi eksit adalah “a means of leaving one's current situation, either after a predetermined objective has been achieved, or as a strategy to mitigate failure” (Wikipedia). Dalam konteks SCBFWM, eksit strategi merupakan langkah-langkah yang strategis yang perlu dilakukan dalam rangka menjamin bahwa berakhirnya status proyek, seperti proyek SCBFWM dapat tetap berkelanjutan walaupun status proyek sudah berakhir.

1.2 Cakupan diskusi

Diskusi strategi eksit ini akan mencakup pokok bahasan sebagai berikut: A. Struktur

B. Pemerintah Daerah dan Mitra Kerja Lainnya C. Kelompok Masyarakat mitra SCBFWM D. Kesimpulan dan Tindak Lanjut

76

A. Struktur

Proyek SCBFWM di regional selama ini berkantor dan menjadi bagian dari Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai. Penempatan tersebut berdasarkan pada arah pada Dokumen Proyek SFBFWM serta kesepakatan pada awal proyek SCBFWM dirancang. Sebagai PPK disepakati adalah Kepala BPDAS.

Di dalam BPDAS, SCBFWM menjadi semacam unit ad-hoc dengan dan tidak dalam struktur BPDAS seperti tersaji pada Gambar 2 di bawah.

Gambar 4.1. Struktur organisasi SCBFWM

Karena bobot kerja SCBFWM lebih banyak pada aspek penguatan kelembagaan, maka SCBFWM lebih banyak menjadi bagian dari Seksi Kelembagaan. Sejak awal, counterpart SCBFWM di BPDAS umumnya adalah berasal dari seksi kelembagaan.

Badan PDAS sendiri berdasarkan Peraturan Menteri Kehutanan No. P. 15/Menhut-II/2007 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Pengelolaan Daerah Aliran Sungai, BPDAS mempunyai tugas yaitu melaksanakan penyusunan rencana, pengembangan kelembagaan dan evaluasi pengelolaan DAS. Sedangkan fungsinya adalah sebagai berikut:

1. Penyusunan rencana pengelolaan daerah aliran sungai

2. Penyusunan dan penyajian informasi daerah aliran sungai

77

4. Pengembangan kelembagaan dan kemitraan pengelolaan daerah aliran sungai

5. Pemantauan dan evaluasi pengelolaan daerah aliran sungai

6. Pelaksanaan urusan tata usaha dan rumah tangga

Sementara kegiatan SCBFWM seperti tertulis pada bagian a.2 halaman 3 di atas memiliki tugas yang sangat menunjang BPDAS khususnya dalam menjalankan mandatnya. Dengan demikian, tidak ada konflik pelaksanaan tugas antara SCBFWM dengan tugas, pokok, dan fungsi BPDAS secara umum.

Bagaimana SCBFWM setelah proyek berakhir dalam struktur BPDAS? Sebenarnya, aktivitas SCBFWM terkait dengan seluruh seksi yaitu Seksi Program, Seksi Kelembagaan, dan Seksi Evaluasi BPDAS WSS. Hal ini karena aktivitas

SCBFWM selalu terkait dan dikoordinasikan dengan ketiga seksi tersebut. Oleh sebab itu, yang menjadi perhatian paska proyek SCBFWM selesai adalah menjadikan

Pengelolaan Hutan dan Daerah Alirang Sungai menjadi strategi BPDAS dalam menjalankan tugas dan fungsinya.

Hal yang mungkin baru dalam struktur BPDAS adalah adanya fungsi Regional Fasilitator dan Fasilitator Lokal. Kedua fasilitator tersebut menjalan tugas dan fungsi pengelolaan hutan dan daerah aliran sungai dengan fokus pada areal kerja yang ditetapkan. Sementara, BPDAS selama ini menjalankan tugas dan fungsi secara luas dan tidak fokus. Oleh sebab itu rekomendasi yang diusulkan adalah

1. Menjadikan model SCBFWM sebagai model pelaksanaan. Hal ini sesuai dengan tugas dan fungsi BPDAS seperti fungsi pengembangan model pengelolaan daerah alirang sungai. Untuk itu, ciri khas model SCBFWM berupa adanya pendamping (regional dan lapang) perlu dipertahankan dalam model ini. Personil BPDAS seperti counterpart maupun PEH dapat berperan sebagai regional fasilitator. Atau, BPDAS melakukan rekrutmen sumberdaya eksternal. Dalam konteks ini, model SCBFWM yang dilaksanakan di Way Besai direplikasi di Sub-DAS lain yang memiliki karakteristik yang berbeda. Pendekatan Model DAS Mikro yang dimodifikasi pada skala yang lebih besar yaitu Sub-DAS nampaknya opsi yang cukup relevan untuk dikembangkan. Untuk itu, dibutuhkan internalisasi model SCBFWM ke dalam struktur BPDAS WSS.

2. Melakukan masa transisi selama 1 tahun dengan komposi struktur SCBFWM reguler. Tentunya ada persolan metode pelaksanaan dan dasar pelaksanaan kegiatan ini serta bagaimana penganggarannya. Wacana seperti ini perlu juga didukung oleh Dirjen BPDAS dan PS sebagai bentuk pembuatan model pengelolaan daerah alirang sungai.

78

Isu personil menjadi tantangan bila saran di atas dilaksanakan. Namun demikian, BPDAS WSS memiliki personil yang cukup besar yaitu sekitar 70 orang. Hanya saja karena kegiatan BPDAS sangat beragam dan mencakup seluruh provinsi, maka aktivitas BPDAS menjadi tidak fokus.

Selain itu, paket-paket kebijakan Kementerian Kehutanan berupa paket kredit lunak yang disediakan merupakan sumberdaya potensial yang dapat diakses oleh CBO. Hanya saja, sosialisasi terhadap kelompok-kelompok masih kurang.

Dari sisi anggaran, BPDAS WSS memiliki anggargan yang cukup besar setiap tahunnya. Pada tahun 2014, anggaran BPDAS WSS adalah Rp 89 miliar lebi, menurun dibandingkan tahun 2013 sekitar Rp 133,5 miliar. Hanya saja delivery rate BPDAS WSS dalam pelaksanaan anggaran masih selalu di bawah 90%. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor seperti (1) keterlambatan persetujuan anggaran dari kementerian, (2) komplikasi pada pelaksanaan pengadaan barang dan jasa, (3) kesulitan dalam mengimplementasikan kegiatan akibat kesulitan membangun kerja tim dengan kabupaten-kabupaten dan kota se provinsi Lampung, (4) kendala sumberdaya manusia, dsb. Bila delivery rate ditingkatkan dan dialokasi untuk fokus pada pembuatan model seperti SCBFWM, maka secara internal BPDAS memiliki cukup dana untuk mensupport model pengelolaan hutan dan daerah aliran sungai secara fokus pada sub-DAS replikasi lainnya.

Struktur dalam Pemerintahan Baru?

Sejak tanggal 27 Oktober 2014, struktur Kementerian Kehutanan telah berubah seiring dengan mulai bekerjanya Kabinet Kerja Presiden Jokowidodo. Nomenklatur Kementerian Kehutanan berubah menjadi Kementerian Lingkungan dan Kehutanan. Perubahan tersebut akan membawa perubahan yang sangat besar pada organisasi kedua kementerian.

Sampai saat ini struktur kementerian baru belum dikeluarkan oleh Kementerian Lingkungan dan Kehutanan belum tersusun. Beberapa skenario tentang kedudukan BPDAS adalah sebagai berikut: (1) berada dalam lingkungan Dinas Kehutanan atau Badan Lingkungan Hidup Provinsi atau (2) tetap dalam UPT yang sama, (3) bergabung dengan beberapa UPT Kementerian Kehutanan yang ada di Provinsi.

Dalam konteks ini, proyek SCBFWM nampaknya akan menjadi unik dan dikhawatirkan tidak masuk dalam kegiatan BPDAS yang “baru” nanti, kecuali dibuat surat edaran dari Direktorat Jenderal yang baru nanti terkati dengan posisi SCBFWM paska proyek selesai.

79