• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cakupan Pemberian ASI Eksklusif

BAB VI KESEHATAN KELUARGA

B. Kesehatan Anak

5. Cakupan Pemberian ASI Eksklusif

Cara pemberian makanan pada bayi yang baik dan benar adalah menyusui bayi secara eksklusif sejak lahir sampai dengan umur 6 bulan dan meneruskan menyusui anak sampai umur 24 bulan. Mulai umur 6 bulan, bayimendapat makanan pendamping ASI yang bergizi sesuai dengan kebutuhan tumbuh kembangnya.

ASI merupakan makanan terbaik untuk bayi yang mengandung sel darahputih, protein dan zat kekebalan yang cocok untuk bayi. ASI membantu pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal serta melindungi terhadap penyakit. Gambaran pemberian ASI eksklusif menurut puskesmas disajikan pada gambar berikut ini.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

75

GAMBAR 6.16

CAKUPAN PEMBERIAN ASI EKSLUSIF PADA BAYI 0-6 BULAN MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016

Cakupan ASI Ekslusif Kabupaten Tegal tahun 2016 adalah sebesar 74,7%.

Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan capaian tahun 2015, yaitu sebesar 67,5%. Namun capaian ASI Ekslusif tahun 2016 sudah melampaui target program gizi Dinkes Kab. Tegal tahun 2016, yaitu sebesar 42%.

Permasalahan terkait pencapaian cakupan ASI Eksklusif antara lain:

a. Pemasaran susu formula masih gencar dilakukan untuk bayi 0-6 bulan yg tidak ada masalah medis

b. Masih banyaknya perusahaan yang mempekerjakan perempuan tidak memberi 25,6

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

76

kesempatan bagi ibu yang memiliki bayi 0-6 bulan untuk melaksanakanpemberian ASI secara eksklusif. Hal ini terbukti dengan belum tersedianya ruanglaktasi dan perangkat pendukungnya.

c. Masih banyak tenaga kesehatan ditingkat layanan yang belum peduli atau belumberpihak pada pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI Eksklusif, yaitumasih mendorong untuk memberi susu formula pada bayi 0-6 bulan.

d. Masih sangat terbatasnya tenaga konselor ASI

e. Belum maksimalnya kegiatan edukasi, sosialisasi, advokasi, dan kampanye terkait pemberian ASI, dan belum semua rumah sakit melaksanakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM).

Upaya yang dilakukan dalam memecahkan masalah tersebut yaitu:

a. Pemberlakuan Peraturan Pemerintah Nomor 33 Tahun 2012 tentang Pemberian ASI Eksklusif

b. Melakukan pelatihan konseling menyusui dan konseling Makanan Pendamping ASI (MP-ASI). Sampai tahun 2012 telah dilakukan pelatihan konseling menyusui kepada 3.929 orang dan MP-ASI sebanyak 416 orang.

c. Melaksanakan 10 Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LMKM), yaitu:

1) Membuat kebijakan tertulis tentang menyusui dan dikomunikasikan kepada semua staf pelayanan kesehatan ;

2) Melatih semua staf pelayanan dalam keterampilan menerapkan kebijakan menyusui tersebut;

3) Menginformasikan kepada semua ibu hamil tentang manfaat dan manajemen menyusui;

4) Membantu ibu menyusui dini dalam 30 menit pertama persalinan;

5) Membantu ibu cara menyusui dan mempertahankan menyusui meskipun ibu dipisah dari bayinya;

6) Memberikan ASI saja kepada bayi baru lahir kecuali ada indikasi medis;

7) Menerapkan rawat gabung ibu dengan bayinya sepanjang waktu (24 jam);

8) Menganjurkan menyusui sesuai permintaan bayi;

9) Tidak memberi dot kepada bayi

10) Mendorong pembentukan kelompok pendukung menyusui dan merujuk ibu kepada kelompok tersebut setelah keluar dari sarana pelayanan;

d. Sosialisasi dan kampanye ASI Eksklusif e. KIE melalui media cetak dan elektronik

f. Mengembangkan Strategi Peningkatan Pemberian ASI Eksklusif

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

77

g. Menciptakan lingkungan yang kondusif terhadap perilaku menyusui melaluiperaturan perundang-undangan dan kebijakan atau PP

h. Penguatan sarana pelayanan kesehatan (RS/RSIA, Puskesmas perawatan, klinikbersalin) dalam menerapkan 10 LMKM

i. Peningkatan komitmen dan kapasitas stakeholder dalam meningkatan,melindungi, dan mendukung pemberian ASI

j. Pemberdayaan ibu, keluarga, dan masyarakat dalam praktek pemberian ASI k. Menjamin terlaksananya strategi pemberian ASI

l. Pengembangan peraturan perundangan-undangan dan kebijakan atau PP m. Pelaksanaan revitalisasi RS dan sarana pelayanan kesehatan sayang bayi n. Peningkatan kapasitas tenaga kesehatan

o. Pemberdayaan ibu, bapak, dan keluarga, serta masyarakat p. Perlindungan pekerja perempuan

q. Bekerjasama dengan lintas sektor terkait dalam pengawasan pemasaran susu formula dan produk makanan bayi sesuai standar produk makanan (codexalimentarius)

r. Advokasi dan promosi peningkatan pemberian ASI

6. Cakupan Pemberian Kapsul Vitamin A Balita Usia 6-59 Bulan

Sampaidengan usia enam bulan, ASI merupakan sumber utama vitamin A jika ibu memiliki vitamin A yang cukup berasal dari makanan atau suplemen. Anak yang berusia enam bulan sampai lima tahun dapat memperoleh vitamin A dari berbagai makanan seperti hati, telur, ikan, minyak sawit merah, mangga dan papaya, jeruk, ubi, sayur daun berwarna hijau dan wortel.

Anak memerlukan vitamin A untuk membantu melawan penyakit, melindungi penglihatan mereka, serta mengurangi risiko meninggal. Anak yang kekurangan vitamin A kurang mampu melawan berbagai potensi penyakit yang fatal dan berisiko rabun senja. Oleh karena itu dilakukan pemberian kapsul vitamin A dalam rangka mencegah dan menurunkan prevalensi kekurangan vitamin A (KVA) pada balita.

Cakupan yang tinggi dari pemberian kapsul vitamin A dosis tinggi terbukti efektif untuk mengatasi masalah KVA pada masyarakat.

Di beberapa negara dimana kekurangan vitamin A telah terjadi secara luas, dan anak sering meninggal karena diare dan campak, vitamin A dalam bentuk kapsul dosis tinggi dibagikan dua kali dalam setahun kepada anak usia enam bulan hingga lima tahun. Diare dan campak dapat menguras vitamin A dari tubuh anak. Anak yang

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

78

menderita diare atau campak, atau menderita kurang gizi harus diobati dengan suplemen vitamin A dosis tinggi yang bisa diperoleh dari petugas kesehatan terlatih.

Masalah vitamin A pada balita secara klinis bukan lagi masalah kesehatan masyarakat (prevalensi xeropthalmia < 0,5%). Hasil studi masalah gizi mikro di 10 kota pada 10 provinsi tahun 2006, diperoleh prevalensi xeropthalmia pada balita 0,13%, sedangkan hasil survey vitamin A pada tahun 1992 menunjukkan prevalensi xeropthalmia sebesar 0,33%.

Namun demikian KVA subklinis, yaitu tingkat yang belum menampakkan gejala nyata, masih ada pada kelompok balita. KVA tingkat subklinis ini hanya dapat diketahui dengan memeriksa kadar vitamin A dalam darah di laboratorium. Selain itu, sebaran cakupan pemberian vitamin A pada balita menurut puskesmas sudah mencapai 97,76%. Namun demikian kegiatan pemberian vitamin A pada balita masih perlu dilanjutkan, karena bukan hanya untuk kesehatan mata dan mencegah kebutaan, namun lebih penting lagi, vitamin A meningkatkan kelangsungan hidup, kesehatan dan pertumbuhan anak. Pemberian kapsul vitamin A dilakukan terhadap bayi (6-11 bulan) dengan dosis 100.000 SI, anak balita (12-59 bulan) dengan dosis 200.000 SI, dan ibu nifas diberikan kapsul vitamin A 200.000 SI, sehingga bayinya akan memperoleh vitamin A yang cukup melalui ASI. Pemberian Kapsul Vitamin A diberikan secara serentak setiap bulan Februari dan Agustus pada balita usia 6-59bulan.

Cakupan pemberian kapsul vitamin A pada balita usia 6-59 bulan di Kabupaten Tegal tahun 2016 mencapai 99,32%. Capaian ini sedikit lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 yang mencapai 98,45%. Masih diperlukan upaya untuk meningkatkan cakupan pemberian kapsul vitamin A. Upaya tersebut antara lain melalui peningkatan integrasi pelayanan kesehatan anak, sweeping pada daerah yang cakupannya masih rendah dan kampanye pemberian kapsul vitamin A. Cakupan pemberian kapsul vitamin A menurut puskesmas ditampilkan pada gambar 6.17.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

79

GAMBAR 6.17

CAKUPAN PEMBERIAN VITAMIN A PADA BALITA 6-59 BULAN MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016

Terdapat lima belas puskesmas yang telah mencapai target renstra tahun 2016 (100%). Cakupan tertinggi dicapai oleh Puskesmas Warureja(251,4%). Cakupan terendah dicapai oleh Puskesmas Margasari sebesar 32,7%.

32,7

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

80

7. Cakupan Penimbangan Balita di Posyandu

Sejak lahir sampai dengan usia lima tahun, anak seharusnya ditimbang secara teratur mengetahui pertumbuhannya. Cara ini dapat membantu untukmengetahui lebih awal tentang gangguan pertumbuhan, sehingga segera dapatdiambil tindakan tepat secepat mungkin.Hasil penimbangan, dapat mengetahui apakah seorang anak terlalu cepatbertambah berat badannya dibandingkan usianya atau tidak bertambah berat badannya. Untuk itu memerlukan pemeriksaan berat badan anak lebih lanjut terkait dengan tinggi badannya, yang dapat menentukan apakah seorang anak mempunyai berat badan berlebih/kurang.

Kegiatan penimbangan balita di Posyandu menjadi salah satu indikator yang ditetapkan pada Renstra Dinas Kesehatan Tahun 2016-2019. Indikator ini berkaitan dengan cakupan pelayanan gizi pada balita, cakupan pelayanan kesehatan dasar khususnya imunisasi, serta penanganan prevalensi gizi kurang pada balita. Dengan cakupan penimbangan balita yang tinggi, diharapkan semakin tinggi pula cakupan vitamin A, cakupan imunisasi, dan semakin rendah prevalensi gizi kurang. Gambaran cakupan penimbangan balita di posyandu masing masing Puskesma ditampilkan pada gambar 6.18 berikut.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

81

GAMBAR 6.18

CAKUPAN PENIMBANGAN BALITA DI POSYANDU MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016

Cakupan penimbangan balita di posyandu di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebesar 85,3%. Cakupan ini lebih tinggi dibandingkan tahun 2015 yaitu sebesar 78,4%.

Capaian pada tahun 2016 sudah memenuhi target Renstra tahun 2016, yaitu sebesar 84%. Sebanyak 17 puskesmas telah mencapai target tersebut. Capaian tertinggi yaitu oleh puskesmas Lebaksiu (97%). Capaian terendah terdapat di Puskesmas Kesambi sebesar 61,9%.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

82

Setiap anak harus memiliki Kartu Menuju Sehat (KMS) yang terdapat dalam buku KIA agar dapat dipantau pertumbuhannya. Dengan KMS terlihat apakah anak tumbuh dengan baik sesuai usianya. KMS diberikan pada orang tua pada saat kunjungan balita ke Posyandu. Maka kunjungan balita ke Posyandu sangat berkaitan dengan indikator D/S.

Namun demikian terdapat beberapa kendala yang dihadapi terkaitdengan kunjungan balita ke posyandu. Permasalahan tersebut antara lain : dana operasional dan sarana prasarana untuk menggerakkan kegiatan Posyandu, tingkat pengetahuan kader dan kemampuan petugas dalam pemantauan pertumbuhan dankonseling, tingkat pemahaman keluarga dan masyarakat terhadap manfaat Posyandu, serta pelaksanaan pembinaan kader. Data dan informasi tentang penimbangan balita di posyandu pada tahun 2016 terdapat pada lampiran table 47.

8. Imunisasi

Setiap tahun lebih 1,4 juta anak di dunia meninggal karena berbagai penyakit yang sesungguhnya dapat dicegah dengan imunisasi. Beberapa penyakitmenular yang termasuk ke dalam Penyakit yang Dapat Dicegah dengan Imunisasi (PD3I) antara lain:

Difteri, Tetanus, Hepatitis B, radang selaput otak, radang paru-paru,pertusis, dan polio.

Anak yang telah diberi imunisasi akan terlindungi dariberbagai penyakit berbahaya tersebut, yang dapat menimbulkan kecacatan atau kematian.

Proses perjalanan penyakit diawali ketika virus/ bakteri/ protozoa/ jamur, masuk ke dalam tubuh. Setiap makhluk hidup yang masuk ke dalam tubuh manusia akan dianggap benda asing oleh tubuh atau yang disebut dengan antigen. Secara alamiah sistem kekebalan tubuh akan membentuk zat anti yang disebut antibodiuntuk melumpuhkan antigen. Pada saat pertama kali antibodi “berinteraksi” denganantigen, respon yang diberikan tidak terlalu kuat. Hal ini disebabkan antibodi belum

“mengenali” antigen. Pada interaksi antibodi-antigen yang ke-2 dan seterusnya, sistem kekebalan tubuh sudah memiliki “memori” untuk mengenali antigen yangmasuk ke dalam tubuh, sehingga antibodi yang terbentuk lebih banyak dan dalamwaktu yang lebih cepat.

Proses pembentukan antibodi untuk melawan antigen secara alamiah disebut imunisasi alamiah. Sedangkan program imunisasi melalui pemberian vaksin adalah upaya stimulasi terhadap sistem kekebalan tubuh untuk menghasilkanantibodi dalam upaya melawan penyakit dengan melumpuhkan “antigen” yang telah dilemahkan yang berasal dari vaksin. Imunisasi adalah suatu cara untuk menimbulkan/meningkatkan

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

83

kekebalan seseorang secara aktif terhadap suatu penyakit, sehingga bila kelak ia terpapar dengan penyakit tersebut tidak akan sakit atau hanya sakit ringan.

Program imunisasi merupakan salah satu upaya untuk melindungi penduduk terhadap penyakit tertentu. Program imunisasi diberikan kepada populasiyang dianggap rentan terjangkit penyakit menular, yaitu bayi, anak usia sekolah, wanita usia subur, dan ibu hamil.

a. Imunisasi Dasar pada Bayi

Imunisasi melindungi anak terhadap beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I). Seorang anak diimunisasi dengan vaksin yang disuntikkan atau diteteskan melalui mulut. Pada beberapa negara hepatitis masih menjadi masalah.

Sepuluh dari 100 orang akan menderita hepatitis sepanjang hidupnya jika tidak diberi vaksin hepatitis B. Sampai dengan seperempat dari jumlah anak yang menderita hepatitis B dapat berkembang menjadi kondisipenyakit hati yang serius, seperti kanker hati. Disamping itu wajib diberikan imunisasi hepatitis B segera setelah bayi lahir untuk mencegah penularan virus hepatitis dari ibu kepada anaknya.

Imunisasi BCG dapat melindungi anak dari penyakit tuberculosis.Imunisasi DPT dapat mencegah penyakit diptheri, pertusis dan tetanus. Diptheri menyebabkan infeksi saluran pernafasan atas, yang dalam beberapa kasus dapat menyebabkan kesulitan bernafas bahkan kematian. Tetanus menyebabkan kekakuan otot dan kekejangan otot yang menyakitkan dan dapat mengakibatkan kematian. Pertusis atau batuk rejan mempengaruhi saluran pernafasan dana dapat menyebabkan batuk hingga delapan minggu.

Semua anak perlu mendapatkan imunisasi polio. Tanda-tanda polio adalah tungkai tiba tiba lumpuh dan sulit untuk bergerak. Dari 200 anak yangterinfeksi polio, maka satu orang akan menjadi cacat sepanjang hidupnya.

Sebagai salah satu kelompok yang menjadi sasaran program imunisasi,setiap bayi wajib mendapatkan lima imunisasi dasar lengkap (LIL) yang terdiridari : 1 dosis BCG, 3 dosis DPT, 4 dosis polio, 3 dosis hepatitis B, dan 1 dosis campak. Dari kelima imunisasi dasar lengkap yang diwajibkan tersebut, campak merupakan imunisasi yang mendapat perhatian lebih yang dibuktikan dengan komitmen Indonesia pada lingkup ASEAN dan SEARO untuk mempertahankan cakupan imunisasi campak sebesar 90%.

Hal ini terkait dengan realita bahwa campak adalah salah satu penyebab utama kematian pada balita. Dengan demikian pencegahan campak memiliki peran signifikan dalam penurunan angka kematian balita.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

84

Kabupaten Tegal memiliki cakupan imunisasi campak pada tahun 2016 sebesar 102,5%, lebih tinggi dibandingkan capaian tahun 2015 (99,3%). Capaian tersebut telah memenuhi target 95% yang menjadi komitmen target pada rencana strategis Dinas Kesehatan. Pada tingkat Puskesmas, terdapat 26 puskesmas yang telah berhasil mencapai target 95% seperti yang disajikan pada gambar 6.19 berikut.

GAMBAR 6.19

CAKUPAN IMUNISASI CAMPAK MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016

Pada gambar 6.19 di atas dapat diketahui bahwa Puskesmas Balapulang memiliki capaian tertinggi sebesar 112% diikuti oleh Bumijawa sebesar 111,7% dan Bangun Galih sebesar 109,2%. Sedangkan Puskesmas dengan cakupan terendah adalah Puskesmas Jatinegara sebesar 92,8%.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

85

Program imunisasi pada bayi mengharapkan agar setiap bayi mendapatkan kelima jenis imunisasi dasar lengkap. Keberhasilan seorang bayi dalam mendapatkan 5 jenis imunisasi dasar tersebut diukur melalui indikator imunisasi dasar lengkap.

Capaian indikator ini di Kabupaten Tegal pada tahun 2016 sebesar 101%. Angka ini meningkat jika dibandingkan dengan capaian tahun 2015, yaitu sebesar 95,3%.

Capaian tahun 2016 juga sudah memenuhi target Renstra pada tahun 2016 yang sebesar 100%.

GAMBAR 6.20

CAKUPAN IMUNISASI DASAR LENGKAP PADA BAYI MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Imunisasi Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

86

Pada gambar di atas dapat dilihat bahwa puskesmas yang melampaui target capaian imunisasi dasar lengkap pada bayi tahun 2016 sebanyak 16 Puskesmas.

Puskesmas dengan capaian tertinggi adalah puskesmas Balapulang (112%) dan puskesmas dengan capaian terendah adalah Puskesmas Warureja sebesar 89,8%. Data dan informasi terkait imunisasi dasar pada bayi yang dirinci menurut puskesmas tahun 2016 terdapat pada lampiran table 43.

b. Universal Child Immunization (UCI)

Indikator lain yang diukur untuk menilai keberhasilan pelaksanaan imunisasi adalah Universal Child Immunization atau yang biasa disingkat UCI. UCI adalah gambaran suatu desa/kelurahan dimana ≥ 80% dari jumlah bayi (0-11 bulan) yang ada di desa/kelurahan tersebut sudah mendapat imunisasi dasar lengkap. Target UCI pada Renstra Dinas Kesehatan tahun 2016 adalah sebesar 100%. Pada tahun 2016 semua puskesmas yang telah mencapai persentase desa UCI sebesar 100% atau 287 desa/kelurahan telah mencapai presentase UCI.

Imunisasi dasar pada bayi seharusnya diberikan pada anak sesuai dengan umurnya. Pada kondisi ini, diharapkan sistem kekebalan tubuh dapat bekerja secara optimal. Namun demikian, pada kondisi tertentu beberapa bayi tidak mendapatkan imunisasi dasar secara lengkap. Kelompok inilah yang disebut dengan drop out (DO) imunisasi. Bayi yang mendapatkan imunisasi DPT/HB1 pada awal pemberian imunisasi, namun tidak mendapatkan imunisasi campak, disebut Drop Out RateDPT/HB1- Campak. Indikator ini diperoleh dengan menghitung selisih penurunan cakupan imunisasi campak terhadap cakupan imunisasi DPT/HB1.

9. Pelayanan Kesehatan Anak Balita

Kehidupan anak, usia dibawah lima tahun merupakan bagian yang sangat penting. Usia tersebut merupakan landasan yang membentuk masa depan kesehatan, kebahagiaan, pertumbuhan, perkembangan, dan hasil pembelajaran anak di sekolah, keluarga, masyarakat dan kehidupan secara umum.

Kesehatan bayi dan balita harus dipantau untuk memastikan kesehatan mereka selalu dalam kondisi optimal. Untuk itu dipakai indikator-indikator yang bias menjadi ukuran keberhasilan upaya peningkatan kesehatan bayi dan balita, salah satudiantaranya adalah pelayanan kesehatan anak balita. Adapun batasan anak balita adalah setiap anak yang berada pada kisaran umur 12 sampai dengan 59 bulan.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

87

Pelayanan kesehatan pada anak balita dilakukan oleh tenaga kesehatan danmemperoleh :

a. Pelayanan Pemantauan pertumbuhan minimal 8 kali setahun (Penimbangan berat

badan dan pengukuran tinggi badan minimal 8 kali dalam setahun).

b. Pemberian vitamin A dua kali dalam setahun yakni setiap bulan Februari dan Agustus

c. Stimulasi Deteksi dan Intervensi Dini Tumbuh Kembang balita minimal 2 kali dalam setahun.

d. Pelayanan Anak Balita Sakit sesuai standar menggunakan Manajemen Terpadu Balita Sakit (MTBS).

Capaian Indikator pelayanan kesehatan anak balita pada tahun 2016 sebesar 94,5%, yang berarti belum memenuhi target Renstra pada tahun 2016 yang sebesar 86%. Capaian indikator ini meningkat dibandingkan tahun 2015 yang sebesar 75,5%.

Sebanyak 18 puskesmas telah mencapai target seperti yang terlihat pada gambar 6.21 berikut. Data dan informasi menurut puskesmas terkait upaya pelayanan kesehatan anak balita disajikan pada lampiran table 46.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

88

GAMBAR 6.21

CAKUPAN PELAYANAN KESEHATAN ANAK BALITA MENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Kesehatan Anak dan Remaja Dinas Kesehatan Kabupaten Tegal, 2016 10. Pelayanan Kesehatan pada Siswa SD dan setingkat

Mulai masuk sekolah merupakan hal penting bagi tahap perkembangan anak.

Banyak masalah kesehatan terjadi pada anak usia sekolah, seperti misalnya pelaksanaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) seperti menggosok gigi dengan baik dan benar, mencuci tangan menggunakan sabun, karies gigi, kecacingan, kelainan refraksi/ketajaman penglihatan dan masalah gizi. Pelayanan kesehatan pada anak termasuk pula intervensi pada anak usia sekolah.

Anak usia sekolah merupakan sasaran yang strategis untuk pelaksanaan program kesehatan, karena selain jumlahnya yang besar, mereka juga merupakan

49,1

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

89

sasaran yang mudah dijangkau karena terorganisir dengan baik. Sasaran dari pelaksanaan kegiatan ini diutamakan untuk siswa SD/ sederajat kelas 1. Pemeriksaan kesehatan dilaksanakan oleh tenaga kesehatan bersama tenaga lainnya yang terlatih (guru UKS/UKSG dan dokter kecil). Tenaga kesehatan disini adalah tenaga medis, tenaga keperawatan atau petugas puskesmas lainnya yang telah dilatih sebagai tenaga pelaksana UKS/ UKGS. Guru UKS/UKGS adalah guru kelas atau guru yang ditunjuk sebagai pembina UKS/UKGS di sekolah dan telah dilatih tentang UKS/UKGS. Dokter kecil adalah kader kesehatan sekolah yang biasanya berasal dari murid kelas 4dan 5 SD dan setingkat yang telah mendapatkan pelatihan dokter kecil.

Hal ini dimaksudkan agar pembelajaran tentang kebersihan dan kesehatan gigi bisa dilaksanakan sedini mungkin. Kegiatan ini dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan siswa tentang pentingnya menjaga kesehatan gigi dan mulut pada khususnya dan kesehatan tubuh serta lingkungan pada umumnya.

Upaya kesehatan pada kelompok ini yang dilakukan melalui penjaringan kesehatan terhadap murid SD/MI kelas 1 juga menjadi salah satu indikator yang dievaluasi keberhasilannya melalui Renstra Kementerian Kesehatan. Kegiatan penjaringan kesehatan selain untuk mengetahui secara dini masalah-masalah kesehatan anak sekolah sehingga dapat dilakukan tindakan secepatnya untuk mencegah keadaan yang lebih buruk, juga untuk memperoleh data atau informasi dalam menilai perkembangan kesehatan anak sekolah, maupun untuk dijadikanpertimbangan dalam menyusun perencanaan, pemantauan dan evaluasi kegiatanUsaha Kesehatan Sekolah (UKS).

Kegiatan penjaringan kesehatan ini terdiri dari :

a. Pemeriksaan kebersihan perorangan (rambut, kulit dan kuku) b. Pemeriksaan status gizi melalui pengukuran antropometri c. Pemeriksaan ketajaman indera (penglihatan dan pendengaran) d. Pemeriksaan kesehatan gigi dan mulut

e. Pemeriksaan laboratorium untuk anemia dan kecacingan

f. Pengukuran kebugaran jasmani dan deteksi dini masalah mental emosional.

Penjaringan kesehatan dinilai dengan menghitung persentase SD/MI yangmelakukan penjaringan kesehatan terhadap seluruh SD/MI yang menjadi sasaran penjaringan. Cakupan SD atau sederajat yang melaksanakan penjaringan kesehatan untuk siswa kelas 1 pada tahun 2016 di Kabupaten Tegal yang sebesar 96,08%

mengalami sedikit penurunan dibandingkan tahun 2015 dengan cakupan sebesar 96,3%. Capaian tersebut belum memenuhi target Renstra 2016 yang sebesar 100%.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

90

Berdasarkan gambar 6.22 diketahui bahwa ada 10 puskesmas sudah memenuhi target 100% dan 19 puskesmas yang belum mencapai target 100%. Puskesmas yang memenuhi target antara lain Puskesmas Talang, Kupu, Dukuhturi, Penusupan, Kedungbanteng, Jatinegara, Lebaksiu, Danasari, Kesambi, dan Margasari.

Masih adanya puskesmas yang belum memenuhi target Renstra Dinas Kesehatan dapat disebabkan oleh beberapa masalah. Masalah utama yang sering ditemukan di daerah adalah kurangnya tenaga di Puskesmas sedangkan jumlah SD/MI cukup banyak, sehingga untuk melaksanakan penjaringan kesehatan membutuhkan waktu lebih lama. Selain itu juga manajemen pelaporan belum terintegrasi dengan baik.

Walaupun kegiatan penjaringan kesehatan telah dilaksanakan di Puskesmas namun pengelola program UKS di Puskesmas berada pada struktur organisasi yang berbeda sehingga menjadi penyebab koordinasi pencatatan dan pelaporan tidak berjalan dengan baik.

Profil Kesehatan Kabupaten Tegal Tahun 2016

91

GAMBAR 6.22

CAKUPAN PENJARINGAN SISWA SD/MI SETINGKATMENURUT PUSKESMAS DI KABUPATEN TEGAL TAHUN 2016

Sumber: Seksi Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kab. Tegal, 2016

Sumber: Seksi Pemberdayaan Masyarakat Dinas Kesehatan Kab. Tegal, 2016