• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 63-72)

Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat

Gambar 2.49.

Cakupan Penjaringan Kesehatan Siswa SD dan Setingkat di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2010 - 2011

(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara, 2011)

Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan Setingkat di Kabupaten Aceh Utara dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2011 mengalami peningkatan dari 0,49 % menjadi 1,37 %, ini disebabkan peningkatan alokasi Anggaran untuk program tersebut dan didukung adanya tambahan dana kegiatan luar gedung dari Bantuan Operasional Kesehatan (BOK) dan Jaminan Kesehatan Aceh (JKA).

Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan Setingkat di Kabupaten Aceh Utara masih jauh dibawah Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu sebesar 100 % .

p. Cakupan Peserta KB Aktif

Cakupan peserta KB aktif adalah jumlah peserta KB aktif dibandingkan dengan jumlah Pasangan Usia Subur (PUS) di suatu wilayah kerja pada kurun waktu tertentu.

Pelayanan KB berkualitas adalah pelayanan KB sesuai standar dengan menghormati hak individu dalam merencanakan kehamilan sehingga diharapkan dapat berkontribusi dalam menurunkan angka kematian Ibu dan menurunkan tingkat fertilitas (kesuburan) bagi pasangan yang telah cukup memiliki anak (2 anak lebih baik) serta meningkatkan fertilitas bagi pasangan yang ingin mempunyai anak. Pelayanan KB bertujuan untuk menunda (merencanakan) kehamilan. Bagi Pasangan Usia Subur yang

ingin menjarangkan dan/atau menghentikan kehamilan, dapat menggunakan metode kontrasepsi yang meliputi :

• KB alamiah (sistem kalender, metode amenore laktasi, coitus interuptus). • Metode KB hormonal (pil, suntik, susuk).

• Metode KB non-hormonal (kondom, AKDR/IUD, vasektomi dan tubektomi).

0,00 5,00 10,00 15,00 20,00 25,00 30,00 2010 2011 P e rs e n ta se Tahun

Cakupan Peserta KB Aktif

Gambar 2.50.

Cakupan Peserta KB Aktif di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2010 - 2011

(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara, 2011)

Cakupan peserta KB aktif dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2011 mengalami peningkatan dari 22,90 % menjadi 28,01 %, ini disebabkan peningkatan kesadaran pasangan usia subur (PUS) untuk ikut menjadi peserta KB aktif, peningkatan kinerja bidan desa untuk melakukan penyuluhan dan motivasi kepada PUS terus aktif dalam mensukseskan program keluarga berencana (KB).

Cakupan peserta KB aktif masih jauh dibawah Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu sebesar 100% .

q. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita

1. Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 Penduduk < 15 Tahun Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 Penduduk < 15 Tahun yaitu Jumlah kasus AFP Non Polio yang ditemukan diantara 100.000 penduduk < 15 tahun pertahun di satu wilayah kerja tertentu.

Gambar 2.51.

Persentase AFP Rate Per 100.000 Penduduk < 15 Tahun Kabupaten Aceh Utara Tahun 2011 - 2012 (Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara, 2012)

Cakupan Acute Flacid Paralysis (AFP) rate per 100.000 Penduduk < 15 Tahun tahun 2012 mengalami penurunan dibandingkan tahun 2011 yaitu

dari 67,96 % menjadi 28,85 %. Ini disebabkan penemuan kasus dilapangan berkurang dan juga bisa karena kinerja petugas dilapangan berkurang.

2. Penemuan Penderita Pneumonia Balita

Penemuan Penderita Pneumonia Balita yaitu Persentase balita dengan Pneumonia yang ditemukan dan diberikan tatalaksana sesuai standar di Sarana Kesehatan di satu wilayah dalam waktu satu tahun.

Gambar 2.52.

Cakupan Penemuan Penderita Pneumonia Balita di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2011 - 2012

(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara, 2012)

Penemuan Penderita Pneumonia Balita dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2012 mengalami peningkatan yaitu dari 0,35 % menjadi 0,62 %. Ini disebabkan kinerja petugas kesehatan dilapangan meningkat.

3. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit TBC / BTA Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit TBC BTA Positif yaitu Angka penemuan pasien baru TB BTA positif atau Case Detection Rate (CDR) adalah persentase jumlah penderita baru TB BTA positif yang ditemukan dibandingkan dengan jumlah perkiraan kasus baru TB BTA positif dalam wilayah tertentu dalam waktu satu tahun.

Jumlah perkiraan pasien dan Tuberkulosis (Tbc) dan yang diobati di Kabupaten dapat dilihat pada Gambar 2.30, berikut.

Gambar 2.53.

Perkiraan Penderita Tbc dan Cakupan Pengobatan Penderita Tbc di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2008 - 2012

Berdasarkan gambar diatas dapat dilihat bahwa belum semua penderita Tbc di Kabupaten Aceh Utara yang mendapatkan pengobatan. Jumlah cakupan pengobatan tertinggi Tahun 2010 sebanyak 467 orang atau 56,06%. Capaian tersebut masih lebih rendah dibandingkan target Standar Pelayanan Minimal (SPM) yaitu sebesar 100% dari keseluruhan kasus yang ada.

Rendahnya cakupan pengobatan penderita Tbc disebabkan karena pelatihan terhadap petugas Tbc (sumberdaya manusia) masih rendah. Selain itu, pemahaman masyarakat tentang penyakit tbc masih rendah. Program inovatif dan dukungan komitmen politis sangat membantu dalam meningkatkan cakupan pengobatan penderita Tbc BTA +.

4. Cakupan Penemuan dan Penanganan Penderita Penyakit DBD

Penderita DBD yang ditangani yaitu Persentase penderita DBD yang ditangani sesuai standar di satu wilayah dalam waktu 1 (satu) tahun dibandingkan dengan jumlah penderita DBD yang ditemukan/dilaporkan dalam kurun waktu satu tahun yang sama.

Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditemukan dan diobati di Kabupaten Aceh Utara dapat dilihat pada Gambar 2.31, berikut.

Gambar 2.54.

Penderita DBD dan Penanganan Penderita DBD di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2008 – 2012

(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara, 2012)

Berdasarkan Gambar 2.31, diatas dapat dilihat bahwa jumlah kasus DBD terjadi Tahun 2010 dan 2012 mengalami peningkatan. Kasus terbanyak di Tahun 2012 yaitu 61 kasus. Program penanggulangan DBD di Kabupaten Aceh Utara belum sesuai Standar Pelayanan Mininal (SPM) yang diharapkan yaitu semua kasus DBD ditangani dengan baik (100%).

Setiap kasus DBD perlu dilakukan Penyelidikan Epidemiologi (PE), Larvasiding (pembunuhan larva nyamuk), dan Pengasapan (fogging). Belum semua kasus yang terjadi ditangani dengan baik. Hal ini dikarena anggaran yang tersedia lebih rendah dibandingkan jumlah kasus yang terjadi. Tingginya kasus DBD juga disebabkan karena kesadaran dan pemahaman masyarakat terhadap gerakan PSN DBD (pemberantasan sarang nyamuk DBD) yaitu dengan kegiatan 3M (Menguras, Menutup dan mengubur), belum terlaksana dengan baik.

Untuk keberhasilan program penaggulangan DBD perlu ditingkatkan pengetahuan dan pemahaman masyarakat terhadap DBD (khususnya 3M). Selain itu peningkatan ketersediaan anggaran sangat mendukung kegiatan penanggulangan DBD.

5. Penemuan Penderita Diare

Penemuan penderita Diare yaitu Penemuan penderita diare adalah jumlah penderita yang datang dan dilayani di Sarana Kesehatan dan Kader di suatu wilayah tertentu dalam waktu satu tahun.

Gambar 2.55.

Penderita Diare di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2009 – 2012

(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara, 2012)

Penemuan penderita diare mengalami peningkatan yang signifikan pada tahun 2012 yaitu sebesar 51,54% namun belum sesuai Standar Pelayanan Mininal (SPM) yang diharapkan yaitu semua kasus diare ditangani dengan baik sebesar 100%.

6. Cakupan Penemuan kasus Penyakit Kusta

Jumlah penemuan pasien penderita kusta di Kabupaten dapat dilihat pada Gambar 2.1, berikut. 45 62 57 66 50 0,9 1,2 1,1 1,3 1 0 10 20 30 40 50 60 70 2007 2008 2009 2010 2011 Penderita Kusta PR/10.000 Gambar 2.56.

Penderita Kusta dan PR/10.000 Aceh Utara Tahun 2007 – 2011

(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara, 2011)

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah penderita kusta di Aceh Utara dari Tahun 2007 sampai 2011 berkisar antara 45 sampai 66 orang dengan Prevalensi antara 0,9-1,3/10.000 penduduk. Jumlah penderita di Kabupaten Aceh Utara masih tinggi dibandingkan target Kementerian Kesehatan yaitu dibawah 1/10.000 penduduk.

Tingginya penemuan penderita baru mengindikasikan masih banyaknya penderita kusta dalam masyarakat yang belum terobati dan terus menularkan kepada orang lain. Tingginya penderita kusta diantaranya karena rendahnya pemahaman masyarakat serta stiqma yang salah terhadap kusta.

7. Cakupan Penemuan kasus HIV/AIDS

Jumlah penderita HIV-AIDS di Kabupaten dapat dilihat pada grafik 3.1 berikut. 3 0 2 1 11 0,57 0 0,38 0,19 2,09 0 5 10 15 20 25 2007 2008 2009 2010 2011 Penderita… Gambar 2.57.

Penderita HIV/AIDS dan PR di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007 – 2011

Berdasarkan tabel diatas dapat dilihat bahwa jumlah penderita HIV/AIDS di Aceh Utara dari Tahun 2007 sampai 2011 adalah sebanyak 17 orang penderita dengan Prevalensi antara 0.55 % – 2.09 % /100.000 penduduk. Jumlah penderita di Kabupaten Aceh Utara dari tahun ke tahun semakin meningkat.

Tingginya penemuan penderita baru mengindikasikan masih banyaknya penderita dalam masyarakat yang belum terdeteksi dan terus menularkan kepada orang lain. Tingginya penderita HIV-AIDS diantaranya karena sudah banyak masyarakat yang sudah mengetahui tentang HIV –AIDS dan tingginya kesadaran masyarakat untuk mau memeriksakan dirinya ke Rumah Sakit, dengan adanya sosialisasi dari Dinas Kesehatan Kabupaten Aceh Utara dan LSM terkait. Diharapkan adanya dukungan dan komitmen dari Pemerintah Daerah sehingga makin banyak kasus yang tertangani sehingga diharapkan dapat memutuskan mata rantai penularan di dalam masyarakat.

8. Prevalensi Penyakit Malaria Tahun 2007 s.d 2011

Sejak tahun 2007, Departemen kesehatan RI menetapkan kebijakan eliminasi malaria bagi seluruh Indonesia, dimana provinsi NAD ditargetkan mencapai tahapan eliminasi pada tahun 2015. Beberapa kegiatan yang telah dilaksanakan berkaitan dengan rencana eliminasi seperti ; pertemuan sosialisasi tingkat provinsi, pertemuan konsultasi antara Depkes NAD dan Dinas Kesehatan Kota Sabang, serta pertemuan pembuatan rencana strategis eliminasi tingkat Provinsi. Kegiatan yang sudah dilakukan 2008, dan disetujui DPRA dan Gubernur Prov. NAD. Kebijakan ini harus disosialisasikan secara intensif ke Kab/Kota dan jajaran dibawah, sehingga semua instansi siap mendukung kebijakan ini. Provinsi NAD dengan katagori sebagai daerah endemis malaria rendah, mulai memasuki tahapan peralihan dari program pengendalian malaria kearah pra-eliminasi, dimana penekanan program pada pencarian kasus secara aktif yang diiringi dengan pemantauan rutin keadaan vektor malaria. Pemetaan situasi malaria untuk menemukan daerah-daerah fokus malaria merupakan hal yang harus segera dilakukan dan tidak bisa ditawar lagi.

Kabupaten Aceh Utara merupakan daerah endemis malaria dengan katagori LIA (Low incidence Area). selama 5 (lima) tahun terakhir AMI di kabupaten aceh utara mengalami peningkatan dibanding tahun-tahun sebelumnya. AMI di Kabupaten Aceh utara selama lima tahunan (tahun 2007-2011) meningkat dan pada tahun 2010 terjadi peningkatan kasus karena pasien demam yang datang ke Puskesmas dilakukan –pemeriksaan slide darah jari untuk memastikan menderita penyakit malaria atau bukan, tahun 2007 mengalami penurunan AMI menjadi = 3,67 per 1000 penduduk, tahun 2008 mengalami penurunan AMI 3,15 per 1000

penduduk, tahun 2009 terjadi peningkatan kasus dengan AMI 4,27 per 1000 penduduk. Pada tahun 2010 banyak dilakukan penyuluhan ke masyarakat tentang bahayanya malaria sehingga masyarakat yang badannya demam di harapkan bisa datang ke Puskesmas melakukan pemeriksaan malaria, sehingga terjadi peningkatan kasus dengan AMI 6,08 per 1000 penduduk. tahun 2011 terjadi peningkatan kasus demam dengan AMI 7,68 per 1000 penduduk dikarnakan masyarakat sedikit tidaknya sudah memahami tentang gejala/khasnya malaria. Untuk lebih jelasnya angka Prevalensi malaria dapat dilihat dari tabel dan peta berikut:

Gambar 2.58.

Prevalensi Malaria di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007 – 2011

(Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara, 2011)

Gambar 2.59.

Peta API Malaria Kabupaten Aceh Utara Tahun 2011

Peta daerah endemis malaria di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2011 (Sumber: Dinas Kesehatan Kab. Aceh Utara, 2011)

P ETA A PI M ALARIA TAH UN 201 1

1 4 0 1 2 0 1 2 1 0 6 0 1 0 0 1 0 1 0 8 0 1 3 0 1 6 0 0 3 0 0 2 0 0 3 1 0 4 0 0 5 0 0 6 1 1 1 0 0 8 1 0 9 0 0 1 0 1 5 0 1 7 0 0 7 0 M uara B atu Sa wa ng D ew a n tara N is am Kuta M akm u r Sim pang Kra ma t G eure udon g Pa se Sy am tali ra B ay u L hoksuko n T anah Jam bo Ay e Seunuddon Ba kty a Sam poini et B uke t H ag u Pay a B akong Sam udra M a tang kuli C ot Gi rek M eura h M ul ia Sy am . Aron N ibong T. L uas L CI < 1 ‰ M C I 1 – 5 ‰ H CI > 5 ‰ T ana h Pa sir

9. Persentase Penemuan Penderita Penyakit ISPA di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007 -2011

Bila dilihat dari hasil laporan Puskesmas dari tahun 2007 s/d 2011 maka dapat diambil suatu kesimpulan bahwa keluhan kesehatan pada penduduk Aceh Utara terhadap penyakit ISPA(Infeksi Saluran Pernafasan Akut) tidak terlalu signifikan, karena penyakit ISPA ini memfokuskan kegiatan penanggulangannya pada Balita. Peningkatan kasus ISPA dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2011 hampir rata-rata disebabkan oleh malnutrisi, BBLR, bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif, bayi tidak mendapatkan imunisasi campak, asap rokok, kurangnya ventilasi rumah, kurangnya pengetahuan ibu dalam merawat bayi, adanya penyakit penyerta seperti diare dan asma, dan defisiensi vitamin A. Hal ini disebabkan karena sebahagian besar penduduk kabupaten Aceh Utara kurang mengerti tentang penyakit ini karena kondisi perekonomian penduduk hampir rata-rata golongan menengah kebawah. Program Pengendalian penyakit ISPA ini akan terus dilakukan diantaranya mensosialisasikan tentang penyakit ISPA ini untuk semua penduduk Aceh Utara, dilakukan kerjasama lintas program dan Lintas Sektor terkait dan melengkapi logistic pengendalian ISPA berupa obat, sound timer dan oksigen konsentrat di tiap Puskesmas, dengan demikian diharapkan akan dapat menurunkan kasus penyakit ISPA di masyarakat

Jumlah penemuan penderita ISPA di Kabupaten dapat dilihat pada grafik 5.1 berikut

Gambar 2.60.

Penemuan Kasus ISPA di Kabupaten Aceh Utara Tahun 2007 – 2011

10. Cakupan Pelayanan Kesehatan Dasar Masyarakat Miskin

Cakupan Pelayanan Kesehatan Dasar Pasien Masyarakat Miskin yaitu Cakupan pelayanan kesehatan dasar pasien masyarakat miskin adalah Jumlah kunjungan pasien masyarakat miskin di sarana kesehatan strata pertama di satu wilayah kerja tertentu pada kurun waktu tertentu.

75,00 80,00 85,00 90,00 95,00 2008 2009 2010 2011

Cakupan Pelayanan Kesehatan Dasar

Dalam dokumen BAB II GAMBARAN UMUM KONDISI DAERAH (Halaman 63-72)

Dokumen terkait