• Tidak ada hasil yang ditemukan

AKUNTABILITAS KINERJA

3.4. CAPAIAN KINERJA LAINNYA

3.4.1. Dukungan Reformasi Birokrasi Direktorat Bina Program

Terhadap pelaksanaan Reformasi Birokrasi, telah dilakukan beberapa kegiatan di lingkungan Direktorat Bina Program, yaitu: 1] Ditetapkannya Analisa Jabatan di Lingkungan Direktorat Bina Program; 2] Ditetapkannya Sasaran Kerja Pegawai (SKP) di Lingkungan Direktorat Bina Program; 3] Penugasan staf (pejabat Eselon IV) sebagai Tim Assesor dan Assesment Kompetensi Pejabat Eselon IV dalam rangka Reformasi Birokrasi di Lingkungan Direktorat Jenderal Cipta Karya; 4] Sosialisasi dan pemantapan rencana pelaksanaan RB di lingkungan Direktorat Bina Program; serta

III 23 5] Disusunnya pedoman/petunjuk/manual pelaksanaan tugas, antara lain:

Kebijakan dan Strategi Reformasi Birokrasi Bidang Cipta Karya (draf), SOP Pelaksanaan Pemantauan Direktorat Jenderal Cipta Karya, SOP Pelaksanana Kegiatan dalam rangka Komunikasi Publik Direktorat Jenderal Cipta Karya, Pedoman Sistem Manajemen Kinerja Organisasi Direktorat Jenderal Cipta Karya (draf), tersusunnya Buku Cascading yang menggambarakan aliran informasi keterkaitan indikator kinerja individu terhadap indikator kinerja organisasi serta terlaksananya Sistem Manajemen Mutu Direktorat Bina Program.

3.4.2. Unit Layanan Pengadaan (ULP)

ULP Direktorat Jenderal Cipta Karya dibentuk berdasarkan Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 515/KPTS/M/2011 tentang Penetapan Unit Layanan Pengadaan (ULP) di Lingkungan Kementerian Pekerjan Umum, dimana masing-masing Satminkal/Unit Kerja Eselon I memiliki ULP sendiri. Untuk Direktorat Jenderal Cipta Karya yang ditunjuk sebagai Kepala ULP adalah Direktur Bina Program dengan Kasubdit Evaluasi Kinerja sebagai Sekretaris. Selain itu dibantu juga oleh anggota secretariat yang bertugas melaksanaan kesekretariatan ULP serta anggota POKJA ULP yang bertuhas melaksanakan proses pengadaan barang/jasa.

Tujuan pembentukan ULP adalah untuk menjamin pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa lebih terintegrasi atau terpadu sesuai dengan Tata Nilai Pengadaan dan meningkatkan efektivitas dan efisiensi dalam pelaksanaan tugas dan fungsi Kementerian/Lembaga.

Dalam pelaksanaannya POKJA ULP Direktorat Jenderal Cipta Karya pada Tahun Anggaran 2014 telah melelangkan 806 paket pekerjaan dengan besaran pagu dana Rp 2.499.962.732.000,00 yang terbagi di masing-masing unit eselon II:

- Sekretariat Direktorat Jenderal Cipta Karya 81 Paket Pekerjaan dengan total pagu dana sebesar Rp 37.824.450.000,00

- Direktorat Bina Program 55 Paket Pekerjaan dengan total pagu dana sebesar Rp 44.681.017.000,00

- Direktorat Penataan Bangunan dan Lingkungan 130 Paket Pekerjaan dengan total pagu dana sebesar Rp.324.524.194.000,00

- Direktorat Pengembangan Permukiman 235 Paket Pekerjaan dengan total pagu dana sebesar Rp 1.228.422.041.000,00

- Direktorat Pengembangan PLP 91 Paket Pekerjaan dengan total pagu dana sebesar Rp 176.977.150.000,00

- Direktorat Pengembangan Air Minum 214 Paket Pekerjaan dengan total pagu dana sebesar Rp 687.533.880.000,00

3.4.3. Koordinator Tim Pelaksana Perubahan Iklim

Pada KTT Bumi di Rio de Janeiro tahun 1992, Indonesia menjadi salah satu negara yang menyepakati Konvensi PBB tentang Perubahan Iklim (United Nations Framework Convention on Climate Change). Sebagai tindak lanjut, Indonesia menerbitkan UU Nomor 6 Tahun 1994 tentang Ratifikasi Konvensi Perubahan Iklim

III 24 yang berisikan 3 (tiga) hal utama, yakni: (1) tercapainya stabilitas konsensi emisi Gas Rumah Kaca pada tingkat yang aman; (2) adanya tanggungjawab bersama sesuai kemampuan (common but differentiated responsibilities); dan (3) negara maju akan membantu Negara berkembang (pendanaan, asuransi dan alih teknologi). Lahirnya Bali Roadmap atau Bali Action Plan 2007, Copenhagen Accord 2009, dan Cancun Commitments 2010, yang merupakan kesepakatan global untuk menciptakan kondisi bumi yang lebih baik dari kecenderungan yang ada dalam jangka waktu panjang (bahkan setelah masa Protocol Kyoto, yaitu sampai 2012).

Kesepakatan-kesepakatan ini, walaupun belum secara tegas menetapkan target kuantitatif dan jadwal pelaksanaannya, mempengaruhi secara langsung atau tidak langsung kebijakan pembangunan nasional, salah satunya adalah arahan kebijakan pembangunan infrastruktur bidang ke-PU-an. Komitmen pemerintah Republik Indonesia seperti yang disampaikan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada pertemuan G-20 di Pittsburgh adalah upaya mengurangi emisi Gas Rumah Kaca (GRK) sebesar 26% dari business as usual dengan kemampuan sendiri, dan penurunan hingga 41% dengan bantuan donor dari negara luar. Hal ini memberikan kontribusi yang sangat berarti terhadap kebijakan pembangunan nasional pada berbagai sektor yang terkait dengan emisi GRK ini.

Khusus untuk Bidang Cipta Karya, pada tahun 2010 telah disusun Rencana Aksi Nasional Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim (RANMAPI), yang juga tergabung pada RAM MAPI Kementerian PekerjaanUmum. Seiring dengan berkembangnya isu strategis dan kebijakanyang ada, saat ini tengah diupayakan penyempurnaan dari RANMAPI Cipta Karya, seiring dengan ditetapkannya Keputusan DirekturJenderal Cipta Karya No. 115/KPTS/DC/2013 tentang PembentukanTim Mitigasi dan Adaptasi Perubahan Iklim Direktorat Jenderal CiptaKarya. Direktorat Bina Program ditunjuk menjadi SekretarisTim Pelaksana, sekaligus menjadi Ketua Tim Sekretariat Tim MAPI- CK. Beberapa kegiatan rutin yang dilaksanakan oleh Tim MAPI-CK di tahun 2014 antara lain adalah sebagai berikut:

1. Mewakili Direktur Jenderal Cipta Karya, yang menjabat sebagai Ketua Pokja Adaptasi Dewan Nasional Perubahan Iklim (DNPI), pada kegiatan/workshop lintas kementerian yang terkait dengan perubahan iklim.

2. Melaporkan hasil capaian pengurangan emisi gas rumah kaca, khususnya untuk sektor persampahan dan air limbah, sebagai amanat dari Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 61 Tahun 2011 tentang Rencana Aksi Nasional Penurunan Emisi Gas Rumah Kaca (RAN-GRK).

3. Menyusun revisi dari RAN MAPI Cipta Karya tahun 2010.

3.4.4. Koordinator Pelaksana Pengarusutamaan Gender

Sesuai Keputusan Menteri Pekerjaan Umum Nomor 134/KPTS/M2011 tentang Perubahan Keputusan Menteri PekerjaanUmum Nomor 363/KPTS/M/2009 tentang Pembentukan TimPengarusutamaan Gender Kementerian Pekerjaan Umum sebagai tindak lanjut dari Instruksi Presiden RI Nomor 9 Tahun 2000 tentangPengarusutamaan Gender dalam Pembangunan Nasional. Beberapa hal yang telah dilakukan oleh Direktorat Bina Program sebagai koordinator pelaksana pengarusutaman gender Direktorat Jenderal Cipta Karya adalah:

III 25 1. Melakukan penyusunan program dan anggaran pembangunan subbidang

Cipta Karya yang responsif gender (ARG) tahun 2010-2014

2. Melaksanakan pembangunan subbidang Cipta Karya yang responsif gender 3. Integrasi Pengarusutamaan Gender Direktorat Jenderal Cipta Karya ke dalam

pemrograman dan penganggaran yang telah didokumentasikan ke dalam Gender Analysis Pathway (GAP) dan Gender Budget Statement (GBS) yang harus disusun oleh unit organisasi setara Eselon 3 maupun Satker kegiatan strategis bidang Cipta Karya yang memiliki kegiatan yang sangat jelas bernapaskan gender.

4. Menyusun panduan pelaksaanaan pada lingkup Direktorat Jenderal Cipta Karya, unit Eselon 3 yang memiliki kegiatan terkait gender adalah Subdit Kebijakan dan Strategi, Subdit Program dan Anggaran, serta Subdit Evaluasi Kinerja. Subdit Kebijakan dan Strategi bertanggung jawab terhadap perumusanKebijakan dan Strategi Bidang Cipta Karya yang Responsif terhadap Pengarusutamaan Gender serta integrasi Pengarusutamaan Gender ke dalam Renstra Direktorat Jenderal Cipta Karya, Subdit Program dan Anggaran bertanggung jawab terhadap penjabaran pemrograman dan penganggaran kegiatan responsif gender di lingkup Direktorat Jenderal Cipta Karya, sedangkan Subdit Evaluasi Kinerja bertanggung jawab terhadap Monev kegiatan responsif gender di lingkup Direktorat Jenderal CiptaKarya.

Dokumen terkait