• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA

D. Cara Kerja Penelitian

A. Perbanyakan dan Pemeliharaan larva S. litura

Perbanyakan serangga uji dilakukan dengan mengumpulkan larva S. litura dari persawahan tanaman tomat, Klaten kemudian dilakukan pemeliharaan. Toples yang telah diisi pakan disiapkan yang telah diisi pakan (daun tomat), kemudian larva S. litura diletakkan di atas pakan lalu toples ditutup dengan penutup toples atau kain kasa. Pemeliharaan serangga uji dilakukan dengan mengganti pakan setiap hari dan kotoran dibersihkan dengan menggunakan kuas. Berikut merupakan gambar toples pemeliharaan ulat grayak dan lapangan tempat pengambilan ulat grayak:

A B

Sumber : Dok. Pribadi

Gambar 3.1 Ulat grayak diambil di persawahan tanaman tomat, Klaten (A), toples pemeliharaan ulat grayak (B)

Setiap hari dilakukan pengamatan perkembangan S. litura. Saat

S. litura telah menjadi pupa, pupa diletakkan dalam wadah toples lain

yang lebih besar dan beralaskan kertas saring. Setelah ± 11 hari pupa yang telah menjadi imago (ngengat) diberi pakan madu 10% yang diserapkan pada kapas. Pakan madu 10% dibuat dengan cara menyiapkan 2 ml akuades, lalu disiapkan 10% madu dari 2 ml akuadest yaitu 0,2 mg. Madu 0,2 mg dilarutkan dalam 2 ml akuades, dan siap digunakan sebagai pakan imago. Apabila imago sudah menghasilkan telur, maka telur segera dipindahkan ke toples lain. Langkah pertama, kertas saring diletakkan pada bagian bawah toples, kemudian telur diletakkan di bagian atas kertas saring dan toples ditutup dengan kain kasa. Perkembangan larva diikuti setiap hari dan sebagian larva yang siap ganti kulit menjadi instar kedua diletakkan dalam toples terpisah dari larva-larva lain. Larva instar ketiga digunakan untuk pengujian (Asmaliyah dan Musyafa. 2010).

Sumber : Dok. Pribadi

B. Pembuatan ekstrak buah Bintaro

Untuk pembuatan ekstrak buah bintaro terlebih dahulu dilakukan pengambilan buah tanaman bintaro sebanyak 3 kg dari lapangan. Kemudian buah dicuci bersih menggunakan akuades dan diletakkan di wadah lalu dikeringkan selama 72 jam menggunakan oven dengan suhu 60°C atau di bawah sinar matahari sampai buah bintaro kering. Setelah kering, buah dipotong-potong kecil ± 5 cm dan dihaluskan dengan menggunakan blender selama 5 menit sampai berbentuk serbuk. Serbuk halus kemudian dimaserasi dengan menggunakan pelarut organik yaitu metanol 96% (polar), dengan perbandingan 1:2 selama 72 jam, setiap 24 jam pelarut metanol 96% diganti dengan yang baru. Setelah dilakukan perendaman, rendaman disaring dengan menggunakan corong gelas yang dilapisi kertas saring. Filtrat diletakkan di wadah mangkuk kaca. Kemudian siapkan kotak kaca/kardus, kipas angin dan penutup (kasa). Selanjutnya mangkuk kaca yang berisi filtrat diletakkan di dalam kaca/kardus. Kipas angin diletakkan di dekat kaca/kardus yang berfungsi untuk mempercepat penguapan pelarut metanol. Pengeringan dilakukan hingga ekstrak berbentuk seperti pasta. Ekstrak yang dihasilkan kemudian disimpan dalam lemari es (≤ 4°C) hingga saat digunakan (Ningrum, 2012). Berikut merupakan gambar buah bintaro yang digunakan, buah bintaro dalam bentuk serbuk (simplisia) dan ekstrak buah bintaro:

C. Uji fitokimia senyawa alkaloid dan flavonoid pada ekstrak metanol buah bintaro

Uji fitokimia senyawa alkaloid dan flavonoid dilakukan di laboratorium Chemix Pratama, Bantul dengan menggunakan metode gravimetri. Analisis gravimetri adalah analisis kuantitatif dengan proses isolasi dan pengukuran berat suatu unsur atau senyawa tertentu. Bagian terbesar dari analisis gravimetri meliputi transformasi unsur atau radikal senyawa murni stabil yang dapat segera diubah menjadi bentuk yang dapat ditimbang dengan teliti. Berat unsur dihitung berdasarkan rumus sanyawa dan berat atom-atom serta unsur-unsur yang menyusunnya. Pemisahan unsur-unsur atau senyawa yang dikandung dilakukan dengan beberapa cara seperti: metode pengendapan, metode penguapan, metode elektroanalisis atau berbagai

A B

C

Sumber : Dok. Pribadi

Gambar 3.3 Buah Bintaro yang digunakan (A), buah bintaro dalam bentuk simplisia (B), ekstrak buah bintaro (C)

macam metode lainnya. Pada prakteknya, dua metode pertama yang penting yaitu metode pengendapan dan metode penguapan. Metode gravimetri memakan waktu yang cukup lama, adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu faktor-faktor koreksi dapat digunakan. Adapun beberapa tahap dalam analisis gravimetri adalah sebagai berikut:

A. Memilih pelarut sampel

Pelarut yang dipilih harus sesuai sifatnya dengan sampel yang akan di larutkan. Misalnya : HCl, H2SO4 dan HNO3 digunakan untuk melarutkan sampel dari logam-logam.

B. Pengendapan analit

Pengendapan analit dilakukan dengan memisahkan analit dari larutan yuang mengandungnya dengan membuat kelarutan analit semakin kecil dan pengendapan ini dilakukan dengan sempurna. Misalnya : Ca+2 + H2C2O4  CaC2O4 (endapan putih)

C. Pengeringan endapan

Pengeringan dilakukan dengan panas yang disesuaikan dengan analitnya dan dilakukan dengan sempurna.

D. Menimbang endapan

Zat yang ditimbang haruslah memiliki rumus molekul yang jelas. Biasanya reagen R ditambahkan berlebih untuk menekan kelarutan endapan

Dalam menentukan keberhasilan metode gravimetri ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi, yaitu:

A. Proses pemisahan hendaknya cukup sempurna sehingga kuantitas analit yang tak terendapkan secara analitis tidak dapat terdeteksi (biasanya 0,1 mg atau kurang dalam menentukan penyusunan utama dalam suatu makro)

B. Zat yang ditimbang hendaknya mempunyai susunan yang pasti dan hendaknya murni, atau sangat hampir murni. Bila tidak akan diperoleh hasil yang galat.

(Day dan Underwood, 2002)

D. Aplikasi ekstrak buah bintaro pada ulat grayak

Pengujian dilakukan dengan metode pencelupan daun (leaf

dipping methods). Larva S. litura yang telah mencapai instar ketiga

dan dalam keadaan sehat disiapkan, lalu diletakkan dalam wadah toples plastik kemudian dilaparkan (aklimatisasi) selama 1-2 jam terlebih dahulu sebelum dilakukan pengujian. Kemudian daun tomat yang akan diberi perlakuan disiapkan, lalu direndam dalam ekstrak. Daun tomat yang digunakan adalah daun tomat yang tidak terkontaminasi pestisida dan diambil dari persawahan tanaman tomat di Klaten, usia daun tomat yang digunakan random atau tidak ada batasan. Pada pengujian digunakan 5 konsentrasi ekstrak yaitu 0%, 1%, 1,5%, 2%, 2,5%. Tahap pertama daun tomat direndam pada

masing-masing konsentrasi larutan ekstrak selama 3 menit dan dikeringanginkan pada suhu ruang. Daun tomat yang dikenai perlakuan diletakkan dalam toples kecil. Untuk setiap toples, diletakkan 10 g daun tomat dan sepuluh larva S. litura instar 3, dengan pengulangan sebanyak tiga kali untuk tiap konsentrasi. Setiap larva diberi makan dengan daun tomat yang telah direndam pada ekstrak buah bintaro. Setiap 24 jam daun tomat diganti dengan yang baru dengan perlakuan dan cara yang sama. Kotoran dalam toples-toples dibersihkan setiap hari dengan menggunakan kuas. Pengamatan dilakukan terhadap jumlah larva S. litura yang mati dan siklus hidup. Pengamatan dilakukan pada waktu yang sama setiap harinya selama 4 x 24 jam (96 jam) hingga memasuki stadium larva selanjutnya (Fadlilah, 2012). Berikut merupakan gambar ekstrak buah bintaro dalam 20 ml air dan pakan ulat grayak:

Sumber : Dok. Pribadi

Gambar 3.4 Ekstrak buah bintaro yang telah dilarutkan dalam 20 ml air (A) daun tomat sebagai pakan ulat grayak (B)

Dokumen terkait