• Tidak ada hasil yang ditemukan

Cara menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan

HANJAR 05 TATA KRAMA DAN ETIKA

3. Cara menjaga Kebersihan Diri dan Lingkungan

4. Sikap-sikap dalam pergaulan dinas;

5. Tata cara bergaul diluar kedinasan.

Metode Pembelajaran

1. Metode ceramah

Metode ini digunakan untuk menjelaskan materi tentang tata karma dan etika.

2. Metode brainstorming (curah pendapat)

Metode ini digunakan pendidik untuk mengeksplor pendapat peserta didik tentang materi yang akan disampaikan.

3. Metode diskusi

Metode ini digunakan pendidik untuk mendiskusikan materi yang di berikan oleh pendidik ke dalam sebuah kelompok.

4. Metode tanya jawab

Metode ini digunakan untuk tanya jawab tentang materi yang telah disampaikan.

5. Metode praktik

Metode ini digunakan pendidik untuk menugaskan peserta didik meresume materi yang telah diberikan.

Alat/Media, Bahan Dan Sumber Belajar

1. Alat/Media:

a. Whitebord;

b. Komputer/laptop;

c. LCD dan screen;

d. Slide.

2. Bahan:

a. Flipchart;

b. Alat tulis.

3. Sumber Belajar:

a. Bahan diskusi;

b. Modul tata krama Polri.

Kegiatan Pembelajaran

1. Tahap Awal : 10 menit

Pendidik melaksanakan apersepsi dengan kegiatan:

a. Pendidik menugaskan kepada peserta didik untuk melakukan refleksi materi sebelumnya;

b. Pendidik mengaitkan materi yang sudah disampaikan dengan materi yang akan disampaikan;

c. Menyampaikan tujuan pembelajaran pada modul ini.

2. Tahap Inti : 160 menit

a. Pendidik menyampaikan materi tentang tata krama dan etika;

b. Peserta didik memperhatikan, mencatat hal-hal yang penting, bertanya dan menjawab materi yang dijelaskan;

c. Peserta melakukan diskusi secara kelompok dengan topik tata cara berpakaian dan menjaga kebersihan;

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk mendiskusikan materi dan setiap kelompok mempresentasikan hasil diskusi, kemudian ditanggapi oleh kelompok lain dengan waktu masing-masing kelompok 15 menit (3 pok @15 menit);

e. Peserta didik mempraktikkan tata cara berpakaian dan menjaga kebersihan;

f. Peserta didik merespon secara aktif proses pembelajaran;

g. Pendidik menyimpulkan materi yang telah disampaikan.

3. Tahap akhir : 10 menit a. Cek penguatan materi

Pendidik memberikan ulasan dan penguatan materi secara umum.;

b. Cek penguasaan materi

Pendidik mengecek penguasaan materi dengan bertanya secara lisan dan acak kepada peserta didik;

c. keterkaitan mata pelajaran dengan pelaksanaan tugas

Pendidik menggali manfaat yang bisa diambil dari materi yang disampaikan.

d. Pendidik menugaskan peserta didik untuk meresume materi yang telah disampaikan.

Tagihan/Tugas

1. Peserta didik mengumpulkan laporan hasil diskusi kelompok.

2. Laporan hasil diskusi diserahkan kepada panitia atau koordinator pelatih dalam bentuk print out komputer paling lambat 1 (satu) hari setelah materi pelatihan selesai disampaikan.

3. Peserta mempraktikan tata cara berpakaian dinas.

Lembar Kegiatan

Lampiran form isian tata cara berpakaian dan menjaga kebersihan Polri.

Bahan Bacaan

TATA KRAMA DAN ETIKA

1. Pengertian yang berkaitan dengan tata krama a. Tata krama

Berbagai tafsiran mengenai tata krama seperti etiket, tata sopan santun, peraturan sopan santun, norma sopan santun, tata cara bertingkah laku yang baik, tata pergaulan, perilaku yang baik dan menyenangkan. Semua tafsiran itu dapat disimpulkan dalam satu pengertian. Tata krama terdiri dari kata ”tata” dan ”krama”, tata berarti adat, aturan,norma, peraturan. Krama berarti sopan santun, bahasa yang santun, kelakuan, tindakan, perbuatan dengan demikian tata krama adalah cara suatu perbuatan, tingkah laku dan tutur kata yang kita jalankan dalam pergaulan sehari-hari baik di lingkungan sendiri maupun dalam masyarakat umum.

Tata krama dalam kehidupan masyarakat merupakan aturan yang mengatur hubungan antara sesama manusia. Tata krama sangat dipengaruhi oleh adat istiadat (tradisi) dimana hal itupun dipengaruhi oleh budaya, kehidupan sosial, keadaan lingkungan dan sebagainya. Oleh karena itu, setiap daerah memiliki tata krama yang berbeda-beda bahkan bisa terjadi saling bertentangan. Namun materi yang akan kita

pelajari adalah aturan-aturan yang berlaku umum (nasional) yang dapat diterima disemua wilayah/daerah di Indonesia.

b. Pengertian etiket

Etiket sebagai bagian atau persamaan dari tata krama merupakan istilah dari hasil alih bahasa Perancis Etiquette kedalam bahasa indonesia yang artinya tata cara pergaulan yang baik antara sesama manusia. Etiket merupakan pedoman hidup yang benar dilihat dari sudut budaya, susila dan agama, yang tujuannya membina watak dan mental seseorang agar menjadi manusia yang baik. Seorang akan dihormati kalau nilai yang ada di dalam dirinya yakni pribadi mempesona mempunyai budi pekerti yang luhur, pandangan yang baik dan sopan santun dalam setiap pergaulan.

Dalam bergaul kita saling berhubungan dan saling membutuhkan. Seringkali dalam berhubungan itu ada yang berbeda satu dengan lain. Jika keperluan manusia itu sama, kemungkinan bekerja sama untuk memenuhi kebutuhan hidup akan terpenuhi. Tetapi jika keperluan manusia itu berbeda, kemungkinan terjadi perselisihan satu dengan yang lain, sehingga akan mengganggu keserasian dan kerukunan hidup. Untuk menghindari kerukunan itu, perlu adanya pedoman atau pegangan bersama dalam pergaulan, sehingga warga masyarakat dalam sepak terjangnya, geraknya, tingkah lakunya dan perbuatannya berpegang kepada ukuran yang sama. Pegangan dalam pergaulan tersebut adalah sopan santun, budi pekerti dan norma.

1) Sopan santun

Sopan santun adalah aturan perbuatan tingkah laku dan tutur kata yang baik, yang dilakukan dalam pergaulan antara manusia dengan manusia, saling menghormati dan menghargai baik sesama rekan, atasan dan bawahan.

2) Budi pekerti

Budi pekerti adalah perpaduan akal dan perasaan untuk menimbang baik dan buruknya tingkah laku atau perbuatan seseorang.

3) Norma

Norma adalah aturan atau ketentuan yang mengikat warga kelompok dalam masyarakat, dipakai sebagai

sesuai dan diterima.

Bangsa Indonesia terdiri atas berbagai suku bangsa, mempunyai berbagai adat kebiasaan yang menjadi dasar tata cara pergaulan. Dalam perkembangannya untuk menjadi satu bangsa perlu adanya tata cara pergaulan yang dapat diterima oleh semua suku bangsa menjadi sopan santun bangsa Indonesia yang dapat berubah sesuai perkembangan jaman. Orang yang mengenal etiket dalam pergaulan, maka orang itu memiliki sopan santun dan budi pekerti yang baik serta tidak lepas dari norma yang berlaku dalam masyarakat.

Seorang anggota Polri wajib memiliki tata cara dan kebiasaan yang berlaku dalam lingkungannya. Ia wajib pula mengetahui tata cara pergaulan dalam pergaulan dengan masyarakat umum, sebab anggota Polri wajib mengetahui dan mentaati ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi setiap golongan kepangkatan dalam pergaulan di lingkungan dinas maupun di luar hubungan dinas.

c. Pengertian etika

Istilah Etika berasal dari bahasa Yunani kuno yaitu ta etha yang merupakan bentuk jamak dari kata ethos. Kata ethos sendiri memiliki banyak arti yaitu kebiasaan, ahlak, watak, perasaan, sikap, cara berfikir. Namun, dalam bentuk jamaknya (ta etha) artinya adalah adat kebiasaan. Arti dalam bentuk jamak tersebutlah yang menjadi latar belakang terbentuknya kata “etika” dimana istilah tersebut sudah dipakai oleh seorang filsuf Yunani bernama Aristoteles (384 – 322 SM) untuk menunjukan filsafat moral. Dengan demikian, jika kita beranjak dari asal usul kaa tersebut maka pengertian etika adalah Ilmu tentang apa yang biasa yang dilakukan atau ilmu tentang ada kebiasaan. Dengan demikian, kita bisa membatasi diri pada asal-usul kata etika ini yang berarti, ilmu tentang apa yang biasa dilakukan atau ilmu tentang adat kebiasaan.

Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia terdapat tiga pengertian tentang etika yaitu:

1) Etika adalah ilmu pengetahuan tentang asas-asas atau nilai-nilai akhlak atau moral (Poerwadarminta, 1953);

2) Etika adalah kumpulan asas-asas atau nilai-nilai akhlak atau moral (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1988);

3) Etika diartikan ilmu tentang apa yang baik dan apa

yang buruk dan tentang hak kewajiban moral/akhlak (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1988);

4) Etika diartikan sebagai nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1988).

Jika kita membandingkan apa yang diartikan dalam kamus-kamus sebagaimana diatas, ada perbedaan yang mencolok dari masing-masing kamus. Etika yang diartikan dalam kamus Bahasa Indonesia keluaran Poerwadarminta 1953 hanya memberikan satu arti yaitu etika sebagai ilmu.

Sementara pengertian etika yang dijelaskan dalam kamus baru (Departemen Pendidikan dan Kebudayaan,1988) membedakan tiga arti sebagaimana huruf b, c dan d diatas sehingga penggunaan kata etika sangat bergantung kepada konteks kalimat yang akan digunakan, contohnya, “dalam dunia bisnis etika merosot terus”. Penggunaan kata etika dalam kalimat tersebut memakai arti kata etika yang dimaksud pada poin d yaitu etika yang berarti nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat.

Disamping pengertian etika yang telah dikemukakan dari dua kamus sebagaimana diatas, Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi 1998 memberikan pengertian yang berbeda namun secara substansi hampir sama dengan pengertian etika dalam kamus Departemen Pendidikan dan Kebudayaan tahun 1988, sehingga dapat disimpulkan bahwa pengertian etika yang digunakan di Indonesia tetap mengacu kepada tiga pengertian sebagaimana yang disebutkan pada poin b, c, dan d yaitu:

Pertama, kata etika bisa dipakai dalam arti “nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya”.

Contoh jika orang berbicara tentang “etika suku-suku indian”

atau “etika agama Budha” atau “etika agama Protestan”

maka yang dimaksud dengan kata “etika” tersebut bukanlah mengartikan “ilmu” melainkan “nilai-nilai mengenai benar dan salah yang dianut suatu golongan atau masyarakat”.

Singkatnya, arti tersebut dapat dirumuskan sebagai “sistem nilai”.

Kedua, kata etika dipakai dalam arti “kumpulan asas atau nilai moral” yang dalam hal ini diartikan sebagai kode etik.

Contoh penggunaan kata “etika rumah sakit Indonesia” yang digunakan oleh Departemen Kesehatan Republik Indonesia

“kode etik” yang berarti “kumpulan asas dan nilai-nilai moral”.

Ketiga, kata etika yang mempunyai arti “ilmu tentang yang baik dan yang buruk”. Pengertian etika disinilah yang menunjukan etika sebagai suatu ilmu atau sama artinya dengan filsafat moral.

d. Pengertian moral

Kata moral berasal dari bahasa latin yaitu Mos dalam bentuk tunggal dan Mores dalam bentuk jamak yang berarti kebiasaan atau adat. Moral dilihat dari etimologinya sama dengan etika sekalipun bahasa asalnya berbeda, keduanya berarti adat kebiasaan, Jadi moral adalah nilai-nilai dan norma-norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok. Misalnya, perbuatan seseorang tidak bermoral itu dimaksudkan bahwa kita menganggap perbuatan orang itu melanggar nilai-nilai dan norma-norma etis yang berlaku dalam masyarakat. Jika kita melihat arti dari kata moral diatas, maka kita tidak melihat adanya perbedaan dengan arti kata etika yaitu “nilai-nilai dan norma-norma moral yang menjadi pegangan bagi seseorang atau suatu kelompok dalam mengatur tingkah lakunya”. Faktanya memang kata moral dan etika memiliki arti yang sama, meskipun kata moral dan etika berangkat dari asal usul yang berbeda.

e. Pengertian immoral

Untuk mengartikan kata immoral kita harus bertolak dari istilah-istilah Inggris, karena jika kita berangkat dari Bahasa Indonesia maka kita akan mengalami kesulitan dalam mengartikannya. Kamus Bahasa Inggris (Concise Oxford Dictionary) dijelaskan immoral sebagai “Opposed To Morality; Morally Evil” yang berarti “bertentangan dengan moralitas yang baik” atau “secara moral buruk” atau “tidak etis”. Sementara itu pada kamus yang sama juga mengartikan kata amoral yang diterangkan sebagai Unconcerned With, Out Of The Sphere Of Moral, non moral”

yang berarti “tidak berhubungan dengan konteks moral” atau

“diluar suasana etis”. Pada kamus Bahasa Inggris diatas perbedaan antara arti immoral dan amroal sangatlah jelas, sehingga kita tidak sulit ketika mengartikan atau membedakan arti kedua kata tersebut. Lain halnya jika kita berangkat dari kamus Bahasa Indonesia, maka kita akan menghadapi kesulitan dalam mengartikan kata immoral dan amoral tersebut.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Poerwadarminta,

1953) tidak terdapat kata amoral ataupun immoral, namun dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia yang baru hanya terdapat kata amoral dan tidak terdapat kata immoral. Amoral yang diartikan dalam kamus tesebut adalah “tidak bermoral, tidak berakhlak” dengan contoh “memeras para pensiunan adalah tindakan amoral”. Dari pengertian tersebut menjelaskan bahwa amoral dalam Kamus Bahasa Indonesia berbeda artinya dengan amoral dalam Kamus Bahasa Inggris dan amoral dalam Kamus Bahasa Indonesia lebih cenderung mengartikan arti kata immoral dalam Kamus Bahasa Inggris. Dengan demikian penggunaan kata amoral dalam Bahasa Indonesia adalah salah kaprah sehingga dalam konteks materi mata pelajaran ini, kita tetap menggunakan pengertian yang benar dan berlaku secara Internasional yaitu sesuai dengan yang diartikan dalam Kamus Bahasa Inggris.

f. Perbedaan etika dengan etiket

Ada beberapa perbedaan sangat penting antara etika dan etiket. Di sini kita akan mempelajari sepintas empat macam perbedaan.

1) Etiket menyangkut cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia. Di antara beberapa cara yang mungkin, etiket menunjukkan cara yang tepat, artinya, cara yang diharapkan serta ditentukan dalam suatu kalangan ter-tentu. Misalnya, jika saya menyerahkan sesuatu kepada atasan, saya harus menyerahkannya dengan mengguna-kan tangan kanan. Dianggap melanggar etiket, bila orang menyerahkan sesuatu dengan tangan kiri. Tetapi etika tidak terbatas pada cara dilakukannya suatu perbuatan, etika memberi norma tentang perbuatan itu sendiri.

Etika menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan ya atau tidak. Mengambil barang milik orang lain tanpa izin, tidak pernah diperbolehkan.

"Jangan men-curi" merupakan suatu norma etika.

Apakah orang men-curi dengan tangan kanan atau tangan kiri di sini sama sekali tidak relevan. Norma etis tidak terbatas pada cara perbuatan dilakukan, melainkan menyangkut perbuatan itu sendiri.

2) Etiket hanya berlaku dalam pergaulan. Bila tidak ada orang lain hadir atau tidak ada saksi mata, maka etiket tidak berlaku. Misalnya, ada banyak peraturan etiket yang mengatur cara kita makan. Dianggap melanggar

etiket, bila kita makan sambil berbunyi atau dengan meletakkan kaki di atas meja, dan sebagainya. Tapi kalau saya makan sendiri, saya tidak melanggar etiket, bila makan dengan cara demikian. Sebaliknya, etika selalu berlaku, juga kalau tidak ada saksi mata. Etika tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain.

Larangan untuk mencuri selalu berlaku, entah ada orang lain, hadir atau tidak. Barang yang dipinjam selalu harus dikembalikan, juga jika pemiliknya sudah lupa.

3) Etiket bersifat relatif. Yang dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan, bisa saja dianggap sopan dalam ke-budayaan lain. Contoh yang jelas adalah makan dengan tangan atau tersendawa waktu makan. Lain halnya dengan etika. Etika jauh lebih absolut. "Jangan mencuri", "jangan berbohong", "jangan membunuh"

merupakan prinsip-prinsip etika yang tidak bisa ditawar-tawar atau mudah diberi "dispensasi". Memang benar, ada kesulitan cukup besar mengenai keabsolutan prinsip-prinsip etis yang akan dibicarakan lagi dalam buku ini. Tapi tidak bisa diragukan, relativitas etiket jauh lebih jelas dan jauh lebih mudah terjadi.

4) Jika kita berbicara tentang etiket, kita hanya memandang manusia dari segi lahiriah saja, sedang etika menyangkut manusia dari segi dalam. Bisa saja orang tampil sebagai "musang berbulu ayam", dari luar sangat sopan dan halus, tapi di dalam penuh kebusukan. Banyak penipu berhasil dengan maksud jahat mereka, justru karena penampilannya begitu halus dan menawan hati, sehingga mudah meyakinkan orang lain. Tidak merupakan kontradiksi, jika seseorang selalu berpegang pada etiket dan sekaligus bersikap munafik. Tapi orang yang etis sifatnya tidak mungkin bersikap munafik, sebab seandainya dia munafik, hal itu dengan sendirinya berarti ia tidak bersikap etis. Di sini memang ada kontradiksi. Orang yang bersikap etis adalah orang yang sungguh-sungguh baik. Sudah jelaslah kiranya bahwa perbedaan terakhir ini paling penting di antara empat perbedaan yang dibahas tadi.

Untuk lebih jelasnya, kita dapat melihat perbedaan antara etika dan etiket pada kolom sebagai berikut:

ETIKA ETIKET

a. Berhubungan dengan moral a. Berhubungan dengan sopan santun

b. Menyangkut masalah apakah suatu perbuatan boleh dilakukan ya atau tidak

b. Menyangkut suatu cara suatu perbuatan harus dilakukan manusia

c. Tidak tergantung pada hadir tidaknya orang lain

Contoh:

Barang yang dipinjam selalu harus dikembalikan juga jika pemiliknya sudah maka etiket tidak berlaku contoh:

Cara kita makan dianggap melanggar etiket bila kita makan sambil berbunyi atau bersendawa

d. Bersifat relatif

yang dianggap tidak sopan dalam satu kebudayaan bisa saja dianggap sopan dalam kebudayaan lain

contoh:

makan dengan tangan atau tersendawa waktu makan

e. Menyangkut manusia dari segi dalam (batiniyah).

e. Memandang manusia dari segi lahiriahnya saja

Setelah mempelajari perbedaan antara etika dan etiket ini, barangkali tidak sulit untuk disetujui bahwa konsekuensinya cukup besar, jika dua istilah ini dicampuradukkan tanpa berpikir lebih panjang. Bisa sampai fatal dari segi etis, bila orang menganggap etiket saja apa yang sebenar-nya termasuk lingkup moral. Juga tentang istilah-istilah lain yang kita pakai dalam konteks ini haruslah jelas kita maksudkan etika atau etiket. Misalnya, jika kita berbicara tentang

"susila", "kesusilaan", "tata krama", "budi pekerti", kita mengambil istilah-istilah ini dari lingkup etika atau dari

ini kita tidak akan menggunakan kata seperti

"kesusilaan". Di sisi lain, istilah yang jelas termasuk lingkup etika janganlah diperlakukan seolah-olah termasuk lingkup etiket. Menurut pendapat kami, hal itu dilakukan oleh Kamus Besar Bahasa Indonesia (edisi 1988) tentang kata "moralitas" yang dijelaskan sebagai "sopan santun, segala sesuatu yang berhubungan dengan etiket atau adat sopan santun".

Padahal, sesuai dengan pemakaian internasional sudah menjadi kebiasaan umum memasukkan

"moralitas" ke dalam lingkungan etika, bukan lingkup etiket.

2. Cara berpakaian dinas

Sebagai anggota Polri hendaklah berpakaian tidak berlebih-lebihan sehingga memperlihatkan gejala-gejala menonjolkan diri atau sifat-sifat eksentrik (ingin lain dari pada yang lain). Kerapihan dalam berpakaian dinas harus diperhatikan:

a. Berpakaian dinas harian

1) Tutup kepala (pet) tidak boleh kusut;

2) Pakaian tidak boleh kusut atau disetrika;

3) Periksa kancing-kancing baju dan celana, jangan sampai ada yang terlepas;

4) Periksa tali-tali sepatu;

5) Kaos kaki harus hitam, tidak boleh menggunakan kaos kaki berwarna lain, sepatu di semir;

6) Periksa tanda pangkat, tanda induk kesatuan dan atribut-atribut lain, apakah sudah melekat dengan baik dan sesuai ketentuan seragam Polri.

b. Pakaian dinas harian sipil

1) Penuhi tiga syarat utamanya, sederhana, serasi dan sopan;

2) Sesuaikan dengan bidang tugas;

3) Padukan warna busana yang serasi, Prinsipnya warna celana atau rok atau pakaian bagian bawah adalah warna tua (gelap) sedangkan pakaian atas berwarna lebih terang (muda) alangkah baiknya apabila warna tersebut senada. (bawah hitam maka atasnya abu-abu, bawah merah hati maka atasnya merah muda dll);

4) Untuk melengkapi penampilan gunakan aksesoris

misalnya dasi atau syal. Upayakan dasi dan syal tidak menggunakan warna yang kontras (harus senada dengan warna pakaian yang dikenakan);

5) Apabila menggunakan safari atau stelan, maka modelnya harus sederhana (tidak ramai). Warna dan jenis bahan harus sama antara pakaian atas dan bawah.

3. Cara menjaga kebersihan diri dan lingkungan

Kebersihan diri dan lingkungan kerja sangat mempengaruhi penampilan seseorang serta suasana kerja. Ruang kerja yang kumuh membuat kita semakin malas untuk bekerja, begitu juga sebaliknya.

a. Kebersihan diri

1) Pakaian, sepatu dan perlengkapan lain

Usahakan selalu memakai pakaian yang bersih dan sudah disetrika, sepatu yang sudah disemir, serta tas dan peralatan lain yang juga bersih.

2) Badan

a) Usahakan untuk mandi dengan bersih, paling tidak dua kali sehari;

b) Selalu memakai Deodorant atau obat penghilang bau badan;

c) Dianjurkan untuk memakai parfum atau wewangian yang disesuaikan dengan jenis keringat dan waktu pemakaian;

d) Menjaga keidealan berat badan dengan tinggi badan (olah raga secara teratur dan menjaga pola makan).

3) Wajah

a) Senantiasa mencukur kumis dan jenggot dengan rapi (untuk siswa dilarang memelihara kumis dan jenggot, sehingga harus dicukur habis dengan rapi dan bersih);

b) Bagi polwan tidak boleh menggunakan Make Up yang berlebihan (tipis, minimalis dan natural) sehingga tidak terlihat menor (untuk siswa dilarang

c) Dilarang menggunakan perhiasan yang ada di bagian kepala atau wajah (anting dll);

d) Untuk menjaga kesehatan dan kesegaran wajah agar sedapat mungkin melakukan perawatan-perawatan yang standar dan bersifat umum (sering dibersihkan, menggunakan pelembab dll).

4) Mulut dan gigi

a) Usahakan untuk menggosok gigi setiap habis mandi dan selesai makan;

b) Hindari memakan makanan yang menimbulkan bau yang kurang sedap. Jikapun terpaksa memakan atau meminum makanan atau minuman yang berbau tidak sedap, maka kita harus membatasi jarak dalam berkomunikasi juga tidak banyak bicara;

c) Rawat dan periksakan gigi anda ke dokter gigi minimal 6 bulan sekali;

d) Bagi perokok, nikotin akan mengakibatkan terbentuknya karang gigi, maka hindari rokok atau bersihkan karang gigi sesering mungkin sehingga kondisi mulut, gigi dan gusu tetap terjaga.

5) Rambut

a) Memotong atau merapikan rambut secara teratur sesuai ketentuan (diperbolehkan diwarnai dengan warna hitam);

b) Cucilah rambut paling sedikit dua hari sekali dengan shampo yang sesuai dengan jenis rambut anda;

c) Senantiasa menyisir rambut dengan rapi.

6) Tangan, kuku dan kaki

a) senantiasa menjaga kebersihan kuku tangan dan kaki, potong dan rapikan kuku anda secara teratur;

b) Untuk polwan boleh menggunakan cat kuku dengan warna transparan;

c) Untuk menjaga kebersihan dan kesegaran kaki jangan gunakan kaos kaki yang sama selama dua hari berturut-turut karena dapat menimbulkan penyakit kutu air (gatal-gatal) dan dapat

c) Untuk menjaga kebersihan dan kesegaran kaki jangan gunakan kaos kaki yang sama selama dua hari berturut-turut karena dapat menimbulkan penyakit kutu air (gatal-gatal) dan dapat