BAB III METODOLOGI PENELITIAN
A. HASIL PENELITIAN
2) Cara Meraih Kerukunan dan
Agar kerukunan dapat terwujud maka individu Betawi dituntut mengontrol diri. Caranya dengan membentuk niatan untuk senantiasa berbuat kebaikan, tujuan utamanya adalah agar tidak membuat perasaan orang lain menjadi terluka dan berbalik melukai perasaan mereka. Disini, orang Betawi yakin bahwa setiap perlakuan yang mereka terima dari orang lain merupakan produk respon searah dari perlakuan yang mereka berikan. Jika perlakuan baik diberikan maka orang lain pun akan membalas dengan perlakuan yang baik pula. Sebaliknya, jika menyakiti perasaan orang lain maka orang lain akan memperlakukan diri dengan cara yang serupa.
Tuntutan untuk mengontrol diri agar tidak membuat orang lain menjadi terluka atau merasa dirugikan muncul dalam sikap-sikap konkrit seperti: menghormati orang lain, menjunjung tinggi tata krama, tidak sombong (rendah hati), menghargai perasaan orang lain, menjunjung tinggi toleransi antar sesama manusia, mau bergaul tanpa mendiskriminasikan latar belakang SARA, memperlakukan orang lain dengan ramah serta tidak mengambil hak orang lain. Selain bertujuan untuk tidak membuat
perasaan orang lain terluka, berbuat kebaikan juga muncul dalam bentuk sikap yang lain, yaitu tolong-menolong. Sikap ini bertujuan untuk menumbuhkan tali persaudaraan (silaturahmi) yang dapat menciptakan kebersamaan.
Aktivitas budaya khas orang Betawi Condet tempo dulu sebagai petani salak turut menjadi media refleksi pembentuk falsafah hidup yang sarat dengan tuntutan tata cara berperlaku dalam nilai kerukunan. Falsafah-falsafahnya antara lain: “merunduk seperti orang mencari salak” dan “tumbuh seperti pohon salak”. Kedua falsafah ini menunjukkan bahwa rendah hati (tidak sombong) dan menghormati orang lain merupakan sikap yang paling utama bagi orang Betawi.
Bagi orang Betawi, menonjolkan atau menyombongkan diri tidak baik untuk dilakukan karena turut mengakibatkan hadirnya sebuah kendala atau kegagalan. Konsekuensi dari tuntutan sikap ini kemudian diasosiasikan dengan peluang untuk tersangkut duri jika seseorang tidak merunduk ketika memetik salak. Falsafah ini juga selalu mengingatkan setiap Orang Betawi Condet untuk tidak takabur (lupa akan eksistensialisme diri) dan selalu sadar bahwa diatas manusia ada Allah SWT.
“Tumbuh seperti pohon salak” juga memuat tuntutan untuk menciptakan kebersamaan. Sebutan lain bagi falsafah ini dikenal dengan “seiring jalan maju bersama”. Melalui falsafah
ini individu Betawi juga dituntut untuk memiliki kesediaan membantu meringankan beban orang lain tanpa mendiskreditkan asal-usulnya.
Falsafah lain yang bertujuan untuk mengontrol diri agar tidak melukai perasaan seseorang adalah “diam itu emas”. Falsafah ini bertujuan agar orang Betawi memiliki sikap untuk berusaha tidak menyakiti orang lain lewat ucapan. Konsekuensinya, setiap tutur kata yang akan terlontar harus dipikirkan terlebih dahulu supaya tidak menyinggung perasaan orang lain. Dalam perilaku, kemunculan falsafah ini terobservasi lewat kebiasaan orang Betawi mengucapkan “maaf-maaf” atau “maaf-maaf nih ya” yang muncul sebagai penekanan bahwa respon opini yang mereka munculkan memang benar-benar tidak bertujuan membanggakan gambaran tentang diri ataupun merendahkan orang lain.
Tuntutan menjaga kerukunan juga muncul dalam bentuk falsafah “jangan kematian obor”. Falsafah ini mengartikan bahwa tali silaturahmi yang terjalin antar sesama manusia (saudara maupun orang lain) harus dijaga kelestariannya jangan sampai terputus. Cara yang lazim digunakan untuk menjaga agar tidak “kematian obor” adalah bertamu. Bagi orang Betawi, esensi kegiatan bertamu bukanlah sekedar aktivitas bertandang semata tetapi juga sebagai media silaturahmi. Maka
dari itu, orang Betawi akan menghormati siapa saja orang yang memiliki itikad baik untuk menjalin sebuah hubungan silaturahmi dengan dirinya. Begitu pula sebaliknya, kehadiran orang Betawi ke rumah seseorang hakekatnya merupakan bentuk penghormatan seorang Betawi kepada sang pemilik rumah. Sebagai sarana silaturahmi, aktivitas bertamu bisa dilakukan disela-sela rutinitas harian. Selain itu, mengunjungi kerabat dan tetangga dalam rangka beramah tamah, silaturahmi dan saling memaafkan menjadi hal yang wajib untuk dilakukan saat hari besar keagamaan seperti Idul Fitri dan Idul Adha.
3) Dampak Perasaan
Orang Betawi akan merasa bangga jika mampu merealisasikan tuntutan nilai kerukunan dalam relasi sosialnya dengan orang lain. Sebaliknya diri akan merasa malu, merasa bersalah dan tidak pantas menjadi orang Betawi Condet Balekambang ketika diri melakukan perbuatan yang merugikan serta menyakiti perasaan orang lain.
4) Media Sosialisasi
Orang tua, pranata pendidikan (madrasah, pesantren), aktivitas keagamaan (pengajian), dan Main Pukul (Silat Betawi) menjadi media yang berperan dalam sosialisasi nilai kerukunan. Orang tua menekankan pada anak-anaknya untuk senantiasa berbuat kebaikan pada orang lain, dengan cara: berbaur tanpa
membedakan latar belakang SARA dan tidak menyakiti perasaan orang lain. Sementara itu, pranata pendidikan berbasis agama mengajarkan untuk berbuat kebaikan pada orang lain tanpa mengharap pamrih. Terakhir, Main Pukul menekankan bahwa diri harus menjadi pribadi yang baik. Main Pukul bukanlah ilmu untuk pamer kekuatan kemudian menindas orang lain, fungsinya justru untuk melindungi orang tua, saudara perempuan dan orang-orang lain yang tertindas.
c. Nilai Gengsi
Tabel 6.
Substansi Nilai Gengsi
Eksistensi yang diinginkan
Cara meraih Keyakinan yang mempengaruhi Dampak perasaan Media Sosialisasi Ingin nama baik/reputasin ya terjaga sebagai seorang muslim a. Melaksanaka n tuntutan nilai keselamatan dan kerukunan, dengan cara: Mengamalkan akidah secara lurus tanpa toleransi serta tidak menunjukkan diri sebagai orang yang berperilaku diluar ajaran agama, termasuk berbuat baik pada orang lain b. Tidak menunjukkan diri sebagai orang yang melarat dan merendahkan diri dengan mengemis atau memulung c.Jika harga diri
direndahkan oleh orang lain maka
diperbolehkan melawan (prinsip elu
jual guwa beli)
Baik-buruk seseorang ditentukan oleh kualitas keimanan yang ia miliki Condet telah tersohor reputasinya sebagai daerah tempat tinggal pemeluk fanatis agama Islam. Muncul tuntutan dalam diri untuk menjaga nama baik daerahnya. Jika melakukan perbuatan yang dilarang agama maka orang akan memberikan penilaian buruk pada diri Status sebagai pemeluk Islam merupakan harga diri, setiap pemeluk Islam dituntut untuk mencerminkan perilaku seorang muslim a. Jika diri kompeten: merasa bangga, mendapat nama baik b. Jika diri inkompeten : merasa malu dan tidak pantas menjadi orang Betawi Condet Balekamba ng Orang tua dan Main Pukul (Silat Betawi)