BAB II. TINJAUAN PUSTAKA
B. Demam Berdarah Dengue
8. Cara Pengendalian DBD
Pencegahan dan pemberantasan penyakit DBD seperti juga penyakit
menular lainnya didasarkan pada usaha pemutusan rantai penularannya.
Pada dasarnya, metode pengendalian vektor DBD yang paling efektif
adalah dengan melibatkan Peran Serta Masyarakat, sehingga berbagai
macam metode pengendalian vektor cara lain merupakan upaya pelengkap
untuk secara cepat memutus rantai penularan.
commit to user
Beberapa metode pengendalian vektor DBD, yaitu:
a. Kimiawi
Pengendalian vektor cara kimiawi dengan menggunakan insektisida
merupakan salah satu metode pengendalian yang lebih populer di
masyarakat dibandingkan cara pengendalian lain. Sasaran insektisida
adalah stadium dewasa dan pra dewasa. Karena insektisida adalah
racun, maka penggunaannya harus mempertimbangkan dampak
terhadap lingkungan dan organisme bukan sasaran termasuk mamalia.
Di samping itu, penentuan jenis insektisida, dosis, dan metode aplikasi
merupakan syarat yang penting untuk dipahami dalam kebijakan
pengendalian vektor. Aplikasi insektisida yang berulang di satuan
ekosistem akan menimbulkan terjadinya resistensi serangga sasaran
(Depkes RI, 2007).
Dalam usaha pemutusan rantai penularan penyakit ini telah
dilakukan pengendalian baik terhadap stadium larva yaitu abatisasi
dengan menggunakan insektisida golongan organofosfat temefos dan
fogging terhadap nyamuk dewasa dengan malathion yang dilaksanakan
secara rutin setiap 1-2 bulan sekali, sampai saat ini dinyatakan bahwa
kedua macam insektisida tersebut mulai resisten terhadap Aedesaegypti
commit to user
b. Biologi
Pengendalian vektor biologi menggunakan agen biologi seperti:
predator/pemangsa, parasit, bakteri, sebagai musuh alami stadium pra
dewasa vektor DBD. Jenis predator yang digunakan adalah ikan
pemakan jentik (cupang, tampalo, gabus, guppy), sedangkan larva
capung, Toxoryncites, Mesocyclops dapat juga berperan sebagai
predator walau bukan sebagai metode yang lazim untuk pengendalian
vektor DBD (Depkes RI, 2007).
Kerugian dari tindakan pengendalian biologis mencakup mahalnya
pemeliharaan organisme, kesulitan dalam penerapan dan produksinya
serta keterbatasan penggunaannya pada tempat-tempat yang
mengandung air dimana suhu, pH, dan polusi organik dapat melebihi
kebutuhan sempit agen, juga fakta bahwa pengendalian biologis ini
hanya efektif terhadap tahap imatur dari nyamuk vektor (WHO, 1999).
c. Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)
Pengendalian vektor DBD yang paling efisien dan efektif adalah
dengan memutus rantai penularan melalui pemberantasan jentik.
Pelaksanaannya di masyarakat dilakukan melalui upaya Pemberantasan
Sarang Nyamuk Demam Berdarah Dengue (PSN-DBD) dalam bentuk
kegiatan 3M yakni menguras tempat penampungan air secara teratur,
menutup tempat-tempat penampungan air dan mengubur barang-barang
commit to user
bekas yang dapat menjadi sarang nyamuk. Namun, pelaksanaan PSN
masih mengalami hambatan karena tidak semua masyarakat mau
melakukan PSN (Yudhastuti dan Vidiyani, 2005). Selain itu kesibukan
masyarakat yang semakin tinggi menyebabkan pelaksaaan PSN kurang
dapat berjalan dengan baik.
C. Hubungan Jenis Tempat Penampungan Air (TPA) dan Kejadian Demam
Berdarah Dengue
Aedes aegypti sebagai vektor utama DBD menyukai tempat
perkembangbiakan yang tidak terkena sinar matahari langsung dan tidak
berhubungan langsung dengan tanah. Dari berbagi tempat perkembangbiakan,
bak mandi merupakan TPA yang paling banyak mengandung larva karena
volumenya lebih besar dari tempayan dan drum (Sungkar, 2010).
Telur diletakkan satu-persatu di dinding bak mandi 1-2 cm di atas
permukaan air. Air di dalam tempat tersebut adalah air jernih dan terlindung
dari cahaya matahari langsung. Tempat air di dalam rumah lebih disukai
daripada di luar rumah, dan tempat air yang lebih dekat rumah lebih disukai
daripada yang lebih jauh dari rumah. Telur nyamuk tersebut dapat bertahan
sampai 6 bulan (Sungkar, 2005).
Jumlah larva Aedes aegypti di dalam tempat berkembangbiak dipengaruhi
oleh kasar-halusnya dinding TPA, warna TPA, dan kemampuan TPA
menyerap air. Pada jenis TPA yang licin, berwarna terang, dan tidak
commit to user
menyerap air seperti keramik, jumlah telur yang diletakkan lebih sedikit
sehingga larva yang terbentuk juga sedikit. Berdasarkan penelitian yang
dilakukan oleh Sungkar (1994) jumlah larva yang ditemukan pada beberapa
jenis TPA seperti keramik, plastik, semen dan drum yang berwarna gelap
berturut-turut adalah 68, 120, 244, dan 330 ekor. Sedangkan pada jenis TPA
yang sama dengan warna yang terang berturut-turut adalah 29, 73, 156, dan
232 ekor. Chan et al. (1971) juga melaporkan bahwa di daerah perkotaan
habitatnyamuk Aedes aegypti dan Aedes albopictus sangat bervariasi. Akan
tetapi, 90% di antaranya adalah wadah-wadah buatan manusia dimana tempat
perindukan nyamuk paling banyak menempati TPA yang terbuat dari logam
(45,2%) sedang yang paling sedikit yang terbuat dari keramik (5%).
Menurut Christopher (1960), dinding TPA yang kasar diperlukan untuk
mengatur sikap nyamuk betina pada waktu bertelur dan untuk melekatkan
telur. Pada dinding TPA yang kasar, nyamuk dapat berpegangan erat
sehingga dapat dengan mudah mengatur posisinya pada waktu melekatkan
telur. Bila dinding TPA licin maka nyamuk Aedes aegypti tidak dapat
berpegangan erat dan tidak dapat mengatur tubuhnya dengan baik sehingga
telur disebarkan pada permukaan air. Telur yang tersebar tersebut sebagian
besar tenggelam dan hanya 20% yang menetas karena embrio mati terendam
air sebelum embrio matang.
commit to user
Untuk perkembangan embrio di dalam telur diperlukan kadar air tertentu
yang diperoleh dengan cara imbibisi. Pada TPA yang tidak menyerap air
maka imbibisi tidak terjadi sehingga embrio mati kekeringan. Sebaliknya bila
telur terendam air sebelum embrio matang maka terjadi edema yang diikuti
dengan kematian embrio sehingga telur tidak menetas (Sungkar, 1994).
Jumlah larva Aedes aegypti juga dipengaruhi oleh ukuran TPA dan jumlah
air yang terdapat di dalamnya. TPA yang besar dan banyak berisi air lebih
banyak mengandung larva bila dibandingkan TPA yang kecil dan jumlah
airnya sedikit. Pada TPA yang berisi air dengan tinggi permukaan 2,5 cm; 5
cm; dan 7,5 cm, ternyata 60 % telur diletakan pada wadah dengan permukaan
air lebih tinggi (Sungkar, 2005).
Penelitian yang dilakukan oleh Fathi et al. (2005) juga menyebutkan
bahwa keberadaan tempat penampungan air sangat berperan dalam kepadatan
vektor nyamuk Aedes, karena semakin banyak tempat penampungan akan
semakin banyak tempat perindukan dan akan semakin padat populasi nyamuk
Aedes. Semakin padat populasi nyamuk Aedes, maka semakin tinggi pula
risiko terinfeksi virus DBD dengan waktu penyebaran lebih cepat sehingga
jumlah kasus penyakit DBD cepat meningkat yang pada akhirnya
mengakibatkan terjadinya Kejadian Luar Biasa.
Dengan demikian, pemutusan rantai vektor DBD dapat dilakukan dengan
menggunakan jenis/bahan TPA yang baik sehingga diperlukan studi lebih
commit to user
lanjut untuk mengetahui asosiasi jenis Tempat Penampungan Air (TPA) dan
kejadian DBD.
Dalam dokumen
Asosiasi Antara Jenis Tempat Penampungan Air Dan Kejadian Demam Berdarah Dengue Di Wilayah Kota Surakarta
(Halaman 30-36)