BAB I TINJAUAN PUSTAKA
2.1. HIV/AIDS
2.1.1. Cara Penularan
Nasronudin (2007) menyatakan bahwa masuknya virus HIV ke dalam tubuh manusia atau transmisi HIV yaitu secara vertikal, transeksual dan horizontal. Nasution (2000) AIDS adalah HIV yang terdapat dalam darah dan cairan tubuh seseorang yang tertular, walaupun orang tersebut belum menunjukkan keluhan atau gejala penyakit. HIV dapat menular kepada siapapun melalui cara-cara tertentu tanpa melihat status, kebangsaan, ras, jenis kelamin, agama, tingkat pendidikan, kelas ekonomi maupun orientasi seksual (Nasution, 2000).
Tiga cara penularan HIV yang paling sering terjadi adalah : a. Hubungan seksual
Ada beberapa cara untuk melakukan hubungan seksual, yaitu vaginal (lewat vagina). Anal (menggunakan dubur), oral (menggunakan mulut) dan mano- genital (menggunakan tangan). Dari keempat cara tersebut, risiko terbesar untuk dapat tertular HIV adalah apabila melakukan hubungan seksual secara anal dan vaginal. 80% sampai dengan 90% kasus HIV ditemukan pada mereka yang melakukan kegiatan seksual secara anal. Hal ini disebabkan karena lapisan kulit di sekitar dubur cukup tipis, sehingga dapat mengakibatkan luka yang mengeluarkan darah dan dapat terjadi kontak antar cairan tubuh.
Transfusi darah/produk darah yang tercemar HIV merupakan risiko tinggi penularan HIV yaitu mencapai lebih dari 90%. Namun demikian, kasus penularan HIV melalui transfusi darah ini hanya dijumpai 3-5% dari total kasus penularan HIV sedunia. Selain itu, pemakaian jarum suntik yang tidak steril ataupun pemakaian jarum suntik secara bersama terutama seperti yang dilakukan oleh para pecandu narkotik. Cara ini mengandung 0,5% - 1% dan telah ditemukan pada 5-10% dari total kasus sedunia.
c. Secara vertikal
Secara vertikal maksudnya yaitu dari ibu hamil kepada bayi yang dikandungnya, dimana penularan bisa saja terjadi pada waktu kehamilan, melahirkan ataupun sesudah melahirkan (ketika menyusui). Risiko penularan lewat cara ini adalah 25-40% dan telah ditemukan pada kurang dari 0,1% dari total kasus sedunia (Nasution, 2000).
Secara umum HIV dapat diisolasi dari darah, semen, cairan serviks, cairan vagina, ASI, air liur, serum, urine, air mata, cairan elveoler, cairan serebrospinal. Meskipun HIV pernah ditemukan pada air liur penderita namun tidak ada bukti secara empiris yang menunjukkan bahwa air liur dapat menularkan HIV. Demikian juga untuk cairan tubuh lain seperti, air mata, urine maupun keringat (Nasronudin, 2007). Sehingga HIV tidak menular melalui peralatan makan, pakaian, handuk, sapu tangan, toilet yang dipakai bersama-sama, berpelukan di pipi, berjabat tangan, hidup serumah (KPAN, 2011).
Transmisi yang terbukti dapat terjadi secara efisien adalah melalui darah, cairan semen, cairan vagina/serviks, dan ASI. Adapun pola penularan HIV di Asia memiliki pola seperti berikut (Susilowati, 2011)
Gambar 2.1. Pola Penularan HIV di Asia
Dari gambar dapat terlihat bahwa pada awalnya HIV/AIDS berada pada komunitas pekerja seks, kemudian para pelanggan yang merupakan populasi umum pria tertulas HIV/AIDS dan menularkan penyakit tersebut kepada wanita pasangannya atau istrinya. Diantara pelanggan pria juga terdapat diantaranya yang merupakan kelompok biseksual yang dapat melakukan hubungan seksual dengan perempuan juga dengan laki-laki, akibatnya penularan HIV/AIDS juga memasuki kelompok homoseksual. Para pengguna narkoba suntik yang terinfeksi dengan karena jarum suntik kemudian juga melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks dan juga pasangannya atau istrinya.
Populasi Umum Pria
Laki-laki seks laki-laki
Wanita Pekerja Seks
Bayi Populasi Umum Wanita
Pelanggan
2.1.2. Perjalanan Infeksi
Klasifikasi klinik HIV/AIDS pada orang dewasa menurut WHO seperti tertuang dalam Pedoman Nasional Perawatan, Dukungan dan Pengobatan bagi ODHA (Depkes, 2003) dan Nasronudin (2007) adalah sebagai berikut:
Stadium Gambaran Klinis Skala Aktivitas
I 1. Asimptomatis
2. Limfadenopati generalisata
Penampilan/aktivitas fisik skala I: asimptomatis, aktivitas normal
II 1. Berat badan menurun <10% 2. Kelainan kulit dan mukosa ringan (dermatitisseboroik prugigo, onikomikosis) 3. Herpes zoster dalam 5 tahun terakhir 4. Infeksi saluran nafas bagian atas (sinusitis bakterialis)
Penampilan/ aktivitas fisik skala II: siptomatis, aktivitas normal
III 1. Berat badan menurun >10%
2. Daire kronis yang berlangsung lebih dari 1 bulan
3. Demam berkepanjangan lebih dari 1 bulan 4. Kandidiasis orofaringeal
5. Oral hairy leukoplakia 6. TB paru dalam tahun terakhir 7. Infeksi bakterialis yang berat seperti
pneumonia, piomiositis
Penampilan/aktivitas fisik skala III: Pada umumnya lemah, aktivitas ditempat tidur <50% per hari dalam bulan terakhir
IV 1. HIV wasting syndrome (berat badan turun >10% ditambah diare kronik >1 bulan atau demam >1 bulan yang tidak disebabkan penyakit lain)
2. Pneumonia pneumocystis carinii 3. Toksoplasmosis otak
4. Daire kristosporidiosis lebih dari 1 bulan 5. Kriptokokosis ekstrapulmonal
6. Retinitis virus sitomegalo
7. Heroes simplek mukokutan >1 bulan 8. Leukosenfalopati multifocal progresif 9. Mikosis diseminata
10. Kandidiasis di esophagus, trakea, bronkus, dan paru
11. Mikobabakteriosis atipikal diseminata 12. Sepsemia salmonellosis non tifoid 13. Tuberkolosis di luar paru
14. Limfoma 15. Sarkoma Kaposi 16. Ensefalopati HIV
Pada saat seseorang terinfeksi HIV maka diperlukan waktu 5-10 tahun untuk sampai ke tahap AIDS. Setelah virus masuk ke dalam tubuh manusia, maka selama 2- 4 bulan keberadaan virus tersebut belum bisa terdeteksi dengan pemeriksaan darah meskipun virusnya sendiri sudah ada di dalam tubuh manusia. Tahap ini disebut sebagai periode jendela. Sebelum masuk tahap AIDS, orang tersebut dinamai HIV positif karena dalam darahnya terdapat HIV. Pada keadaan ini maka kondisi fisik yang bersangkutan sudah aktif menularkan virusnya ke orang lain jika dia mengadakan hubungan seks atau menjadi donor darah.
Sejak masuknya virus dalam tubuh manusia maka virus ini akan merusak sel darah putih (yang berperan dalam sistem kekebalan tubuh) dan setelah 5-10 tahun maka kekebalan tubuh akan hancur dan penderita masuk dalam tahap AIDS dimana terjadi berbagai infeksi misalnya infeksi jamur, virus-virus lain, kanker, dan sebagainya. Penderita akan meninggal dalam waktu 1-2 tahun kemudian karena infeksi tersebut. Menurut Suyono dkk (2006) dan Nasronudin (2007) secara klinik, gambaran yang terlihat dalam perjalanan penyakit HIV/AIDS terbagi dalam 3 tahap urutan yaitu tahap infeksi akut atau primer, tahap infeksi asimtomatis atau dini, tahap infeksi simtomatis atau menengah dan tahap sakit HIV berat atau penderita dalam tahap AIDS.
Tahap infeksi akut atau primer (primary infection) keadaan setelah beberapa minggu dari saat infeksi terjadi dan belum muncul gejala secara spesifik. Periode ini terjadi sekitar 6 minggu setelah terpapar virus HIV. Pada tahap ini biasanya akan muncul keluhan berupa demam, rasa letih atau lemah, nyeri otot dan sendi, sakit pada tenggorokan dan adanya pembesaran kelenjar getah bening. Terdapat satu masa
transisi virus antigenemia yaitu antigen virus tidak dapat dideteksi di dalam serum darah pengidap sebelum terbentuknya zat anti terhadap virus HIV (Nasronudin, 2007).
Tahap selanjutnya disebut tahap infeksi dini atau asimtomatis dimana pada tahap ini justru penderita tidak merasakan keluhan yang muncul pada tahapan pertama diatas. Tahapan ini berlangsung sekitar 6 minggu sampai dengan beberapa bulan bahkan beberapa tahun setelah infeksi terjadi. Pada tahapan ini sedang terjadi internalisasi HIV ke intraseluler. Pada tahapan ini penderita HIV biasanya masih dapat beraktivitas secara normal (Nasronudin, 2007).
Tahapan ketiga merupakan infeksi tahapan simtomatis. Keluhan akan lebih spesifik dengan kadar berat ringannya tergantung dari masing-masing penderita. Berat badan biasanya menurun sekitar 10%, sariawan biasanya muncul secara berulang, mungkin juga akan ditemukan peradangan pada sudut mulut, sering ditemukan infeksi bakteri pada saluran nafas bagian atas. Biasanya penderita masih dapat beraktivitas normal meskipun sudah merasa terganggu dengan keadaan tubuhnya. Dalam tahap ini terjadi reaktivasi virus HIV dengan munculnya kembali antigen HIV dan turunnya jumlah limfosit T4. Ada juga yang menyebut sebagai fase AIDS Related Complex yaitu suatu keadaan yang ditandai dengan tanda-tanda konstitusional yang menetap sekurang-kurangnya tiga bulan dan hasil laboratorium minimal satu macam tanpa gejala infeksi oportunisti. Tanda-tanda lain yang ditemui adalah peningkatan suhu badan 38ºC berlangsung terus-menerus, kelelahan sampai hilangnya aktivitas dan keluarnya keringat pada malam hari (Nasronudin, 2007).
Tahap keempat yang merupakan tahap sakit HIV berat (severe HIV atau
fullblown AIDS) atau berarti penderita telah masuk dalam tahap AIDS. Pada tahapan ini terjadi penurunan berat badan lebih dari 10%, diare terjadi lebih dari 1 bulan, panas yang tidak diketahui penyebabnya dan terjadi lebih dari 1 bulan, kandidiasis oral, tuberkolosis paru dan pneumonia bakteri. Beberapa infeksi oportunistik sangat sering terjadi pada tahapan ini (Nasronudin, 2007).