12. Layanan Komputer & Piranti Lunak
12.3. Catatan, Isu, dan Prospek Kelompok Layanan Komputer & Piranti Lunak
Lunak sebesar 1 satuan uang, baik akibat peningkatan konsumsi, investasi atau peningkatan ekspor, akan memicu peningkatan output sektor‐sektor industri hulu Layanan Komputer dan Piranti Lunak sebesar 1,725. Misalnya dilakukan investasi Layanan Komputer dan Piranti Lunak sebesar Rp. 1 miliar, maka diperlukan tambahan input produksi Layanan Komputer dan Piranti Lunak yang berasal dari sektor‐sektor hulunya sebesar Rp. 1,725 miliar. Dari 14 kelompok industri kreatif, kelompok Layanan Komputer dan Piranti Lunak berada pada urutan ke‐14 dalam peringkat backward linkage. Sektor‐sektor industri hulu yang paling terpengaruh terhadap perubahan output Layanan Komputer dan Piranti Lunak adalah sektor Jasa Perusahaan, Jasa Komunikasi, Bank.
Ke arah hilir, koefisien forward linkage kelompok Layanan Komputer dan Piranti Lunak sebesar 4,05. Peningkatan output Layanan Komputer dan Piranti Lunak sebesar 1 satuan uang, baik akibat peningkatan konsumsi, investasi atau ekspor, akan memicu peningkatan output sektor‐sektor industri hilir Layanan Komputer dan Piranti Lunak sebesar 4,05 satuan uang. Misalnya terjadi peningkatan konsumsi iklan sebesar Rp. 1 miliar, maka output sektor‐sektor industri hilir Layanan Komputer dan Piranti Lunak akan meningkat sebesar Rp. 4,05 miliar. Dari 14 kelompok industri kreatif, Layanan Komputer dan Piranti Lunak berada pada urutan ke‐9 dalam peringkat forward linkage. Sektor‐sektor industri hilir yang paling terpengaruh terhadap perubahan output Layanan Komputer dan Piranti Lunak adalah sektor Jasa Komunikasi, Jasa Perusahaan, Bangunan‐ Listrik‐Gas‐Air.
Rata‐rata backward linkage dan forward linkage menunjukkan bahwa keterkaitan kelompok Layanan Komputer dan Piranti Lunak dengan sektor industri lain, paling erat dengan sektor Jasa Perusahaan, Jasa Komunikasi, Bank.
Rekapitulasi linkage dapat dilihat pada tabel B 12‐4 berikut. Tabel B 12‐4 Linkage Kelompok Layanan Komputer dan Piranti Lunak
1 164 jasa perusahaan 0.557 159 jasa komunikasi 0.556 164 jasa perusahaan 0.548
2 159 jasa komunikasi 0.538 164 jasa perusahaan 0.540 159 jasa komunikasi 0.547
3 160 bank 0.092 147 bangunan & inst. listrik, ga 0.085 160 bank 0.064
AVERAGE BL AVERAGE FL TOTAL AVERAGE
12.3. Catatan, Isu, dan Prospek Kelompok Layanan Komputer &
Piranti Lunak
Peluang pasar layanan computer dan piranti lunak menurut Richard, mantan country manager PT Microsoft Indonesia, dan salah seorang ketua Asosiasi Piranti Lunak Indonesia (Aspiluki) ini yakin masih sangat besar. Ia lalu menunjuk pada kondisi geografis Indonesia. Menurut Richard, untuk mempersatukan wilayah Indonesia yang demikian luas, perlu dukungan jaringan TI yang baik. Selain itu, jumlah usaha kecil menengah (UKM) yang kini sekitar 25.000, mereka itu amat
berpotensi untuk diubah menjadi berorientasi TI lanjut pria yang sudah menggeluti bisnis TI sejak 1982 ini. Di masa depan, Richard memperkirakan pasar TI akan tersegmentasi. Jadi, akan ada pasar TI yang terdiri dari perusahaan‐perusahaan multinasional dan ada produk yang pas untuk perusahaan UKM. Aplikasi TI pada industri besar maupun UKM diharapkan akan meningkatkan efisiensi dan produktivitas.
Sementara menurut Ir. Syopiansyah Syampurnajaya, MSIS, dalam menuju era globalisasi, para pimpinan organisasi dalam mengambil keputusan (decision making) akan digantikan oleh peranan Sistem Informasi (SI) yang didukung oleh efektifitas pemanfaatan Teknologi Informasi. Oleh karena itu kebutuhan manajemen harus diimbangi dengan komponen ‐ komponen SI dan TI, yaitu piranti keras (hardware), piranti lunak (software), data, jaringan (networking), sumber daya manusia (human resources), dan prosedur (procedure).
Kecendurangan (trend) TI menuju pada pemanfaatan komputer dan teknologi terkait professional di bidangnya untuk integrasi suatu data, gambar dan suara sehingga menghasilkan suatu informasi secara komprehensif. Implementasinya berupa penerapan aplikasi multimedia, aplikasi program berorientasi obyek (object oriented) dan berbasis web (web based) melalui media internet, dan penerapan paket aplikasi terpadu/ terintegrasi (integration software package).
Prospek TI menuju era globalisasi memiiki peluang yang sangat besar karana informasi merupakan suatu komoditas terpenting. Adanya penggunaan PC (personal computer), komputer saku (Personal Pocket Computer), telepon genggam (handphone) serta teknologi VoIP (Voice over IP) dan WAP (wireless application protocol) akan mempermudah pemakai dalam penggunan surat elektronik (e‐ mail), melakukan konfrensi jarak jauh (tele/videoconfrence), transaksi perdagangan (e‐business), transaksi perbangkan (Internet Banking) serta mempermudah dalam perdagangan ekspor/ impor dengan penerapan EDI (Electronic Data Interchange). Pimpinan organisasi/perusahaan akan memilih suatu aplikasi piranti lunak (application sofware) yang terintegrasi ke semua fungsi yang ada di organisasi, antara lain ERP/software package (perusahaan korporasi), SimPerTi (pendidikan), SIMDA (pemerintahan).
Dengan penerapan teknologi jaringan dengan cakupan dunia atau Wide Area Network (WAN) dan pemanfaatan media internet untuk pelaksanaan belajar mengajar (Cyber Education/Virtual University) tanpa adanya kendala waktu, tempat, geografis, dan fasilitas. Demikian halnya dengan adanya pelaksaan otonomi daerah, promosi potensi daerah melalui media internet (Cyber City) dapat dengan mudah diterapkan secara efektif dan biaya yang efisien. Akibatnya perekonomian di daerah tersebut dapat terus ditingkatkan. Tinggal ditunggu peran lebih lanjut dari pemerintah, para pelaku, yang didukung oleh pihak institusi pendidikan dan media.
Sementara Wigrantoro Roes Setiyadi di Galery ICT menulis bahwa di tengah persaingan bisnis global produk perangkat ICT, ada pertanyaan yang layak dijawab, apakah industri perangkat ICT Indonesia masih punya prospek, baik di pasar dalam negeri, regional, maupun global? Statistik menunjukkan bahwa
lebih dari 90% investasi operator telekomunikasi dalam membangun jaringan berupa perangkat yang diperoleh dari impor.
Namun demikian, harapan tinggallah harapan, kebijakan yang sudah cukup bagus, dalam implementasinya tidak dapat menolong industri dalam negeri. Di mana yang perlu diperbaiki? Pertama, mari kita bicara manusianya. Mentalitas pengusaha produsen perangkat ICT dalam negeri, dinilai masih belum memiliki keterampilan bersaing, begitu ada regulasi proteksi terlena. Di pihak lain, manusia pengguna juga belum bisa memberi apresiasi kepada produk‐produk dalam negeri. Masih lebih suka dengan produk luar negeri, dengan berbagai macam alasan. Kedua, mari kita bicara sistem pasar. Sstem Pasar Indonesia merupakan pasar terbuka bagi siapa saja. Meski ada regulasi yang bernuansa proteksi, namun karena ketersediaan barang‐barang produk luar negeri yang lebih berkualitas ditambah dengan strategi pemasaran yang lebih bagus dibandingkan produsen dalam negeri, serta masih sedikitnya apresiasi orang Indonesia terhadap produk sendiri, maka lambat laun, pangsa pasar perangkat ICT produk dalam negeri semakin kecil dan mengencil. Ketiga, mari kita berbicara sumber investasi. Dari semua perusahaan telekomunikasi yang ada di Indonesia, tidak ada satupun yang sepenuhnya dimiliki oleh investor Indonesia. Jadi dapat disimpulkan bahwa masih atau tidak adanya prospek perangkat ICT Indonesia ataupun layanan piranti lunak dan pemrograman sebenarnya ditentukan oleh kita sendiri, bukan oleh globalisasi yang seringkali dituduh jadi biang keladi runtuhnya industri.