BAB IV. HASIL PENELITIAN
A. Macam-macam Kritik Sosial dalam
2. Cerpen Koran
Cerpen Koran menceritakan tentang kecintaan tokoh Udin kepada koran, koran bagi Udin merupakan teman setia dan menjadi pusat informasi, berita apa saja nyaris tidak pernah luput dari jangkauannya. Namun kecintaan Udin kepada koran mulai terganggu ketika setiap membaca berita di koran didapatnya berita-berita yang tidak mengenakkan dan menyedihkan bagi Udin. Setiap kali Udin membaca koran didapatnya berita yang tidak mengenakkan yang dialami keluarga dan sahabat-sahabat dekatnya. Tercermin dalam kutipan berikut;
Guru SD bernama Maman Jumadi 30 tahun, dikeroyok massa setelah salah satu muridnya mengadu telah diperlakukan tidak senonoh... Bapak dari tiga anak tersebut saat ini meringkuk di Polres Bogor.(Koran: 32)
Sampai halaman empat, aku terpaku. Mendadak bayangan Japra dengan tato-tato di sekujur lengan dan punggungnya, melintas. Japra yang lebih suka membeli rokok daripada membeli koran.
Dan kemarin, dalam keributan antara preman Tanah Abang, jagoan bongkaran itu tewas dibacok! (Koran: 34)
...salah seorang buronan yang diduga terkait jaringan pemboman di Makasar, berinisial MS. sehari-hari dikenal sebagai tukang parkir di Muara Angke...(Koran: 35)
Halaman sembilan... Tuhan...
Emak, dan adik-adikku. Nama mereka semua tercantum dalam daftar korban tanah longsor, dua hari yang lalu.(Koran:39)
Kutipan di atas menunjukkan berita-berita yang terdapat di dalam koran setiap kali Udin membaca koran. Setiap kali membaca koran Udin mendapati berita yang tidak mengenakkan, mulai dari Maman teman sekolah dulu mencabuli muridnya sendiri, Japra teman dekatnya yang diberitakan tewas setelah dibacok dalam keributan antar preman, Muhammad Sani juga teman dekatnya yang diberitakan terkait jaringan teroris dan yang terakhir yang benar-benar berita yang sangat menyesakkan hati Udin ketika Emak dan adik-adik Udin tercantum dalam daftar korban tanah longsor.
Secara garis besar cerpen Koran mengandung kritik sosial tentang orang yang membaca koran akan mengalami trauma dan tidak akan membaca koran lagi apabila terdapat berita yang tidak mengenakkan yang menimpa sahabat atau
keluarganya. Seseorang akan takut untuk membaca koran lagi yang di dalamnya masih banyak informasi-informasi positif yang dibutuhkan kita.
Selain uraian di atas dalam cerpen Koran juga juga terdapat kritik sosial lainnya seperti uraian berikut.
a. Kritik Terhadap Ketidakadilan
Ketidakadilan pemerintah dalam memberikan kebijakan pun muncul dalam cerpen Koran. Tercermin dalam kutipan berikut.
“Ya, demo. Lalu apa lagi? Paling berita harga BBM, tarif listrik, dan tarif telepon yang naik serentak! Korupsi yang susah diberantas! Mana ada berita yang enak dibaca? Isinya kesengsaraan semua begini kok!” protes Bang Sani.(Koran:30)
Kuraih koran pemberian Mas Parjo. Kubaca perkembangan kebijaksanaan Amerika Serikat terhadap warga muslim di sana, lalu komentar beberapa anggota DPR soal naiknya harga-harga menyusul kenaikan BBM, telepon, dan tarif listrik, sedang para konglomerat yang utangnya trilyunan malah dibiarkan bebas. Sungguh ajaib keadilan yang diberikan aparat pemerintah pada rakyatnya.(Koran:34)
Kutipan di atas menunjukkan ketidakadilan pemerintah dalam mengeluarkan kebijakan. Kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan, seperti kenaikan BBM, telepon, tarif listrik. Semata-mata hanya menambah beban rakyat kecil saja dan yang menjadi korban hanya rakyat kecil. Berbeda dengan perlakuan terhadap konglomerat atupun koruptor yang dibiarkan bebas menghabiskan uang rakyat. Rasa keadilan pun sirna terutama kepada rakyat kecil.
b. Kritik Terhadap Masalah Kejahatan
Kejahatan merupakan suatu tindakan seseorang atau kelompok yang melawan hukum yang ada atau disebut dengan tindakan kriminal. Tindakan kriminal dapat diuraikan dalam beberapa contoh misalnya tindakan pemerkosaan, pembunuhan, korupsi Permasalahan sosial yang di sajikan dalam kumpulan cerpen “Emak Ingin Naik Haji” merupakan salah satu cara yang digunakan pengarang untuk menyampaikan kritik terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat, kritik terdadap tindakan kejahatan dalam kumpulan cerpen tersebut adalah sebagai berikut.
commit to user
1) perkosaan
Kritik terhadap tindakan pemerkosaan tercermin dalam kutipan cerpen ‘Koran’ berikut ini:
Guru SD bernama Maman Jumadi 30 tahun, dikeroyok massa setelah salah satu muridnya mengadu telah diperlakukan tidak senonoh... Bapak dari tiga anak tersebut saat ini meringkuk di Polres Bogor.(Koran:32)
Kutipan di atas menunjukkan tokoh Udin merasa trenyuh dan kaget setelah dia membaca head-line sebuah surat kabar tentang kabar pencabulan ataupun pemerkosaan yang dilakukan oleh seorang Guru kepada anak didiknya yang bukan lain adalah teman Udin sendiri, si Maman. Kutipan di atas mengkritik perbuatan seorang guru yang tak sepatutnya dilakukan, bukankah guru itu digugu dan ditiru. Kritik terhadap perkosaan ditujukan kepada para pelaku tindak asusila tersebut.
2) korupsi
Korupsi, kolusi, dan nepotisme biasanya dilakukan oleh para pejabat atau pengusaha. Keadaan keuangan yang relatif kuat memungkinkan mereka untuk
melakukan perbuatan-perbuatan yang oleh hukum dan masyarakat
dikualifikasikan sebagai tindak kejahatan. Kritik terhadap penyelewengan uang untuk kepentingan pribadi atau orang lain (korupsi). Tercermin dalam kutipan cerpen ‘Koran’ berikut:
“Ya, demo. Lalu apa lagi? Paling berita harga BBM, tarif listrik, dan tarif telepon yang naik serentak! Korupsi yang susah diberantas! Mana ada berita yang enak dibaca? Isinya kesengsaraan semua begini kok!” protes Bang Sani.(Koran:30)
Koruptor menganggap dirinya kebal terhadap hukum karena kuatnya kekuasaan dan keuangan yang dimilikinya. Oleh sebab itu mereka susah diberantas. Siapa yang salah pemerintah kah, atau aparat penegak hukum yang begitu susahnya memberantas koruptor-koruptor tersebut.
Banyaknya uang rakyat yang dikorupsi berdampak bertambahnya kesengsaraan rakyat kecil.
3) terorisme
...salah seorang buronan yang diduga terkait jaringan pemboman di Makasar, berinisial MS. sehari-hari dikenal sebagai tukang parkir di Muara Angke...(Koran:35)
MS? Tukang parkir Muara Angke? Muhammad Sani, Bang Sani? Bom? Kapan pula lelaki itu ke Makasar?(Koran:35)
Kutipan dalam cerpen Koran di atas menunjukkan tokoh Udin terkejut setelah membaca berita di koran bahwa temannya Muhammad Sani terlibat jaringan terorisme di Makasar.
Terorisme merupakan salah satu tindakan kejahatan yang melanggar hukum. Yang tidak sedikit kerugian materiil maupun moril yang ditimbulkan akibat adanya terorisme. Agama yang menjadi kedok untuk melancarkan aksinya. Yang tidak lagi memperdulikan korbannya, banyak manusia tidak berdosa yang menjadi korban mereka.
Kritik ditujukan kepada teroris maupun komplotannya agar kembali ke jalan yang benar, jangan agama yang menjadi tameng melancarkan aksinya. Kepada pemerintah agar memberantas jaringan-jaringan terorisme sampai pada sel-selnya agar tidak meresahkan masyarakat.
4) pembunuhan
Kritik terhadap pembunuhan tercermin dalam cerpen ‘Koran’ ditunjukkan dalam kutipan sebagai berikut.
Dan kemarin, dalam keributan antara preman Tanah Abang, jagoan bongkaran itu tewas dibacok!(Koran: 34)
Kutipan di atas terlihat adanya beberapa tindak kejahatan yaitu pembunuhan, bentrok antara kelompok preman satu dengan kelompok preman yang lain. Kutipan di atas mengkritik terjadi bentrokan maupun kerusuhan yang sering kali memakan korban baik korban luka maupun korban yang tewas. Kerusuhan bukan hanya merugikan diri sendiri tetapi juga merygikan orang lain.
5) kritik terhadap masalah pelanggaran norma-norma di masyarakat
Masalah pelanggaran norma-norma di masyarakat dalam cerpen Koran diungkapkan untuk memberikan kritikan terhadap adanya pelacuran.
commit to user
Kritik sosial yang terefleksi melalui masalah-masalah sosial dalam cerpen Koran adalah pelacuran. Kritik terhadap maraknya pelacuran terlihat dalam cerpen Koran. Seperti tampak dalam kutipan berikut:
”Rokok apa rokok, Pra?” Mang Usup Nyamber. Maklum, wilayah kekuasaan Japra memang terkenal sama pelacur kelas teri yang biasa memberi servis dengan harga miring, big sale istilah kerennya, terutama setiap tanggung bulan.(Koran:31)
Kutipan di atas menggambarkan maraknya wanita tuna susila yang menjajakan dirinya dengan harga yang murah yang terutama setiap tanggung bulan.