DIVISI MUSKULODIVISI MUSKULO
CERVICAL SYNDROME
Definisi
Sekumpulan gejala berupa nyeri tengkuk, nyeri yang menjalar, rasa kesemutan yang menjalar, spasme otot yang disebabkan karena perubahan struktural kolumna vertebra servikalis akibat perubahan degeneratif pada diskus intervertebralis, atau pada ligamentum flavum. Nyeri servikal dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti : proses infeksi, perubahan degeneratif, trauma, tumor dan kelainan sistemik . Salah satu penyebab nyeri servikal adalah radikulopati. Berbagai keadaan yang menyebabkan perubahan struktur anatomi tulang leher dapat menimbulkan keluhan radikulopati. 34% dari populasi mengalami nyeri servikal, 14% diantaranya mengalami lebih dari 6 bulan. Lebih sering pada populasi usia diatas 50 tahun.
Gejala Klinis
Nyeri di tengkuk
Nyeri menjalar sampai ke lengan Kesemutan
Keterbatasan gerak
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi : posisi kepala tertekuk menjauhi sisi yang sakit Palpasi : Nyeri tekan, kekakuan, spasme otot
Movement : Nyeri gerak (+) Tes sensorik & motorik
Spesial Tes : Spurling (+), Distraksi (+)
Pemeriksaan Penunjang
Foto polos servikal : penting untuk mendeteksi adanya subluksasi, fraktur, maupun proses degeneratif.
CT SCAN : dapat memberikan visualisasi yang baik komponen tulang servikal dan sangat membantu bila ada proses akut.
MRI : sebagai pemeriksaan penunjang pilihan untuk regio servikal. Dapat mendeteksi kelainan pada ligamentum, diskus, medula spinalis, radiks saraf dan tulang vertebra.
EMG : membantu mengetahui apakah gangguan neurogenik atau tidak, menentukan level dari iritasi radiks, membedakan lesi radiks dan lesi saraf perifer, membedakan adanya iritasi atau kompresi radiks.
Diagnosis
Neurologi
- Myelopati servikal
- Tumor (spinal, Pancoast) - Syringomelia
- Motor neuron disease - Herpes zozter
- Brachial plexopahty
- Peripheral nerve entrapment (median, ulnar, radial) Muskuloskeletal - Shoulder disease - Spondylosis servikal - Nyeri myofacial - Penyakit inflamasi - Infeksi - Tumor - Tendinitis Lain-lain – Iskemia jantung Tujuan tatalaksana Mengurangi nyeri Mengoptimalkan ROM Meningkatkan fungsi Memperbaiki postur Menjaga stabilitas sendi
Tatalaksana Farmakologis Analgetik NSAID Muscle relaksan Vitamin B12
Non Farmakologis
Non operatif
- Edukasi pasien meliputi penjelasan penyakit, resiko penyakit, proper body, memodifikasi aktivitas / pembatasan aktivitas, home exercise
- Modalitas terapi panas seperti diathermy (shortwave, microwave, ultrasound) atau dingin untuk mengurangi spasme, TENS untuk mengatasi nyeri, traksi servikal apabila tidak ada kontraindikasi
- Terapi latihan terdiri dari latihan peregangan (Stretching), dan latihan penguatan otot (Strengthening exercise)
- Ortosis servical berupa Soft Cervical Collar untuk immobilisasi leher & mengurangi kompresi radiks saraf (24 jam/hari selama seminggu, selanjutnya pemakaian jika beraktivitas saja mulai pada minggu kedua) Tindakan bedah : Jika terapi konservatif tidak ada perubahan yang berarti
selama 6 bulan.
Komplikasi
Kelemahan saraf progresif Nyeri radukular servikal residual Sindrom nyeri kronik
Disabilitas Mielopati
Daftar Pustaka
1. DePalma MJ, Slipman CW. Common Neck Problem. In : Braddom RL (ed). Physical Medicine and Rehabilitation, fourth edition, Elsevier Saunders publishing, Philadelphia; 2011: 787-816
2. Lipetz JS, Lipetz DI. Disorders of the Cervical Spine. In : Frontera WR, DeLisa JA (eds). Delisa’s Physical Medicine & Rehabilitation, 5th ed. Lippincort William & Wilkins, Philadelphia: 2010.p 811-36
3. McKenzie R. The Cervical And Thoracic Spine Mechanical Diagnosis And Therapy. Spinal Publications Ltd. New York.1990. p 608-71
OSTEOPOROSIS
Definisi
Osteoporosis adalah suatu kelainan tulang yang ditandai dengan penurunan kekuatan tulang sehingga meningkatkan predisposisi seseorang terhadap risiko fraktur.
Menurut kriteria World Health Organization, diagnosis osteoporosis didasarkan pada pengukuran kepadatan mineral tulang (BMD=bone mineral density) dan kandungan mineral tulang (BMC= bone mineral content):
Normal : nilai BMD atau BMC >-1 SD
Massa tulang rendah (osteopenia) : nilai BMD atau BMC -1 s/d -2,5 SD Osteoporosis : nilai BMD atau BMC ≥-2,5 SD
Osteoporosis berat (established osteoporosis): nilai BMD atau BMC >-2,5 SD dengan adanya satu atau lebih fraktur.
Gejala
Osteoporosis adalah silent disease sampai terjadi fraktur.
Rasa sakit dan deformitas biasanya didapatkan di lokasi fraktur.
Fraktur vertebra sering terjadi dengan trauma kecil, seperti batuk, mengangkat, atau membungkuk.
Nyeri punggung akut mungkin berhubungan dengan fraktur kompresi vertebra dengan nyeri lokal ke daerah fraktur atau sesuai distribusi radikuler. Nyeri punggung akut atau kronis pada pasien osteoporosis dengan riwayatfraktur vertebra mungkin berhubungan dengan fraktur baru, kejang otot, atau sebab lain.
Pada fraktur vertebra dapat ditemukan kyphosis yang progresif, sesak nafas, dispepsia-mungkin berkembang karena penyempitan rongga perut.
Penyebab
Berkaitan dengan usia : kondisi postmenopause, proses penuaan
Berkaitan dengan endokrin : hipogonadisme, hipertiroid, hiperparatiroidisme, kelebihan hormon adrenal kortikal, diabetes mellitus tipe 2
Genetika : osteogenesis imperfect, Ehlers-Danlos Syndrom, Homocystinuria, Imobilisasi
Kelainan hematologi : Multiple myeloma, mastositosis sistemik, Thalassemia Obat-obatan : glukokortikoid, hormon tiroid, Cyclosporine, obat
anticonvulsant, Aromatase inhibitor, terapi defisiensi androgen (pria) Miscellaneous : rheumatoid arthritis
Faktor Risiko
Usia lanjut Perempuan
Berat badan kurang Ras Kaukasia dan Asia Defisiensi estrogen
Riwayat fraktur sebelumnya Gaya hidup tidak aktif Intake kalsium rendah Merokok
Alkoholisme
Obat-obatan seperti glukokortikoid, hormon tiroid yang berlebihan, siklosporin, obat anti kejang, inhibitor aromatase, terapi defisiensi androgen pada pria.
Pemeriksaan Fisik
Pada pemeriksaan pasien osteoporosis, penting untuk mendiagnosa penyebab yang bisa diobati dan bersifat reversibel, dan menilai faktor resiko terjadinya fraktur osteoporosis.
Didapatkan temuan sugestif dari penyebab sekunder osteoporosis (misalnya, hipertiroidisme dan sindrom Cushing).
Pemeriksaan daerah yang sebelumnya mengalami fraktur (misalnya, vertebra, hip, dan pergelangan tangan) untuk menilai deformitas dan keterbatasan fungsi. Pengukuran tinggi badan harus dilakukan dan dievaluasi ulang pada kunjungan berikutnya
Keterbatasan Fungsional
Pada fraktur vertebra, keterbatasan fungsional awal berhubungan dengan nyeri akut dan kesulitan mobilisasi. Keterbatasan kronis berhubungan dengan berkurangnya tinggi badan, nyeri punggung kronis, kesulitan dalam mobilisasi, distensi perut, dan sesak nafas.
Keterbatasan fungsional setelah fraktur hip terkait dengan fungsi mobilisasi, kebutuhan jangka panjang penggunaan alat bantu, dan menurunnya kemandirian. 50% orang dengan fraktur hip membutuhkan alat bantu permanen.
Fraktur pergelangan tangan biasanya sembuh sepenuhnya, tetapi beberapa orang mengalami nyeri kronis, deformitas, dan keterbatasan fungsional.
Pengukuran kepadatan tulang adalah standar untuk penilaian risiko, diagnosis, dan observasi pasien dengan osteoporosis.
Teknik yang tersedia meliputi foton tunggal absorptiometri, dual-energi x-ray absorptiometry, kuantitatif computed tomography, dan ultrasonografi kuantitatif.
Pemeriksaan laboratorium untuk menyingkirkan diagnosis banding osteoporosis dan untuk menyingkirkan osteomalasia, meliputi darah lengkap, fungsi hati dan ginjal, protein urin, dan konsentrasi hormon thyroid-stimulating.Tujuan tatalaksana
Mencegah terjadinya fraktur
Stabilitas massa tulang atau peningkatan massa tulang Mengurangi gejala dari fraktur dan deformitas
Mengoptimalkan fungsi fisik
Tatalaksana Farmakologis
Kalsium : 1200-1500 mg / hari
Vitamin D 800 sampai 1000 IU per hari
Terapi sulih hormon (hormon replacement therapy) Kalsitonin (Miacalcin nasal spray) 200 unit 1x/hari
Teriparatide (Forteo) 20 µg subkutan setiap hari selama 2 tahun
Bifosfonat (Alendronate, Risendronate, Ibandronate, dll)harus diberikan pada waktu perut kosong dengan segelas penuh air putih untuk memaksimalkan penyerapan, dan pasien tidak boleh berbaring selama setidaknya 60 menit untuk menghindari efek samping esophagitis. Pasien dengan riwayat refluks tidak boleh diberikan obat-obat ini.
Nonfarmakologis
Diet makanan tinggi kalsium, seperti susu dan produk susu, khususnya yogurt.
Stop merokok Pencegahan jatuh
Rehabilitasi
Upaya rehabilitasi osteoporosis harus dimulai jauh sebelum terjadi fraktur. Evaluasi kondisi rumah pasien untuk memastikan aman dan mengurangi
Peralatan khusus, seperti parallel bar di kamar mandi, alat bantu jalan (tongkat atau walker)
Latihan untuk meningkatkan kekuatan, fleksibilitas, dan keseimbangan, yang dapat membantu mencegah jatuh, dan meningkatkan kepadatan tulang.
Tindakan Bedah
Tindakan bedah dan stabilisasi adalah pengobatan terpilih untuk fraktur hip dan beberapa fraktur lain.
Potensi Komplikasi Pengobatan
Komplikasi pengobatan dapat berhubungan baik dengan tindakan bedah, fase penyembuhan, maupun obat yang digunakan untuk mencegah atau mengobati osteoporosis.
Kebanyakan fraktur osteoporosis terjadi pada pasien usia lanjut dan mengakibatkan hilangnya fungsi, kemandirian dan kebutuhan untuk perawatan jangka panjang.
Komplikasi pasca operasi dan tindakan anestesi berupa imobilisasi lama, pneumonia, infeksi saluran kemih, konstipasi, dan masalah pernapasan. Komplikasi terapi sulih hormon meliputi: resiko kanker payudara, penyakit
jantung, tromboemboli, dan kanker endometrium. Komplikasi obat osteoporosis: gejala gastrointestinal, esofagitis, dll.
Daftar Pustaka
1. David M. Slovik, Jonas Sokolof, DO. Osteoporosis. In : Frontera WR, Silver JK, Rizzo TD (eds). Essentials of Physical Medicine and Rehabilitation 2nd ed. Saunders publishing, Philadephia; 2008 : 753-60
2. Sinaki M. Osteoporosis. In : Braddom RL (ed). Physical Medicine and Rehabilitation, fourth edition, Elsevier Saunders publishing, Philadelphia; 2011: 913-34